RAHASIA DELAPAN TRAH
Pertarungan antara Anto Wijaya dan Jagatpati belum berakhir.
Cahaya putih dari tubuh Anto beradu dengan api hitam Ajian Sewugeni milik Jagatpati.
Namun tiba-tiba...
BRAKKK!
Tanah di bawah mereka retak.
Ki Patikmanungso berteriak dari kejauhan.
“BERHENTI!”
Anto dan Jagatpati sama-sama mundur.
Ki Aryo Pangalila kemudian berjalan keluar dari balik pepohonan.
“Waktunya sudah tiba.”
Anto menatapnya.
“Waktunya untuk apa?”
Ki Aryo mengeluarkan sebuah kitab tua yang sampulnya telah menghitam dimakan usia.
“Untuk membuka rahasia Delapan Trah.”
Jagatpati yang mendengar perkataan itu langsung terdiam.
“Jangan buka kitab itu, Aryo.”
Ki Aryo tersenyum.
“Kenapa takut, Jagatpati?”
DELAPAN TRAH
Kitab itu dibuka.
Di halaman pertamanya terdapat delapan lambang keluarga.
ANOM.
SASENA.
KERTA ANGKARA.
KOLO WISESA.
WIJAYA.
BOGOLONO.
BANYU ANGKORO.
JAGATPATI.
Anto menatap lambang-lambang tersebut.
“Jadi... selama ini ada delapan trah?”
Ki Patikmanungso mengangguk.
“Delapan trah itu sudah ada jauh sebelum kita lahir.”
Putri Agreani bertanya:
“Apa hubungan mereka dengan Macan Putih?”
Ki Aryo menjawab:
“Delapan trah tersebut dahulu merupakan penjaga keseimbangan kekuatan di tanah Jawa.”
TRAH ANOM
“Trah pertama adalah Anom.”
Menurut kitab kuno, Trah Anom merupakan penjaga ilmu kesaktian dan pengetahuan gaib.
Mereka dikenal sebagai penjaga ilmu.
Namun setelah terjadi perang besar, Trah Anom menghilang.
Tidak ada yang mengetahui apakah keturunan mereka masih hidup.
Anto bertanya:
“Apakah mereka masih ada?”
Ki Aryo menutup kitab sebentar.
“Menurut legenda... salah satu dari mereka masih hidup.”
TRAH SASENA
Putri Agreani langsung menatap Ki Aryo.
“Kalau Sasena?”
Ki Aryo menjawab:
“Trah Sasena adalah penjaga darah bangsawan dan pusaka.”
Keluarga Sasena Bagaskoro ternyata bukan keluarga biasa.
Mereka selama berabad-abad menjaga pusaka yang berhubungan dengan keluarga Wijaya.
Putri Agreani terkejut.
“Jadi keluargaku menjaga keluarga Anto?”
Ki Patikmanungso mengangguk.
“Lebih tepatnya... menjaga rahasia mereka.”
TRAH KERTA ANGKARA
Ki Aryo membalik halaman.
Lambang ketiga berbentuk matahari hitam.
“Kerta Angkara.”
Trah ini dikenal sebagai keturunan yang memiliki ilmu sangat kuat.
Namun mereka memiliki satu kelemahan.
Keserakahan.
Dahulu sebagian anggota Trah Kerta Angkara menggunakan ilmu mereka untuk menguasai wilayah dan harta.
Karena itulah mereka berselisih dengan Trah Wijaya.
TRAH KOLO WISESA
Lambang keempat berbentuk roda hitam.
“Kolo Wisesa.”
Ki Patikmanungso berkata:
“Trah ini memiliki ilmu yang berkaitan dengan waktu dan takdir.”
Anto mengerutkan dahi.
“Takdir?”
“Ya. Mereka dipercaya mampu membaca kemungkinan masa depan.”
Namun Trah Kolo Wisesa menghilang setelah sebuah perang besar.
TRAH WIJAYA
Kemudian Ki Aryo berhenti pada halaman kelima.
Di sana terdapat lambang macan putih.
Anto langsung terdiam.
“Wijaya...”
Ki Patikmanungso berkata:
“Trah Wijaya adalah penjaga Ajian Macan Putih.”
Anto akhirnya mengetahui alasan mengapa dirinya selalu mengalami mimpi tentang macan putih.
Ia bukan sekadar pewaris ilmu.
Ia adalah pewaris utama Trah Wijaya.
Namun Ki Aryo mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
“Anto bukan satu-satunya pewaris Wijaya.”
Anto menoleh.
“Maksudmu?”
Ki Aryo tersenyum.
“Masih ada satu orang lain yang membawa darah Wijaya.”
TRAH BOGOLONO
Halaman keenam menunjukkan lambang kepala raksasa.
“Bogolono.”
Trah ini terkenal sebagai penjaga kekuatan fisik dan ilmu perang.
Mereka dahulu menjadi prajurit bagi para penjaga Delapan Trah.
Namun setelah perang besar, Trah Bogolono menghilang ke daerah pegunungan.
TRAH BANYU ANGKORO
Lambang ketujuh berbentuk pusaran air.
“Banyu Angkoro.”
Trah ini memiliki hubungan dengan ilmu air dan penyembuhan.
Mereka dipercaya sebagai penyeimbang kekuatan gelap.
Putri Agreani bertanya:
“Kalau semua trah memiliki tugas masing-masing, lalu siapa yang menghancurkan keseimbangannya?”
Semua mata tertuju kepada lambang terakhir.
TRAH JAGATPATI
Lambang kedelapan berwarna hitam pekat.
JAGATPATI.
Anto menatap Jagatpati.
“Jadi namamu sendiri adalah nama salah satu trah?”
Jagatpati tersenyum.
“Benar.”
Ki Aryo berkata:
“Trah Jagatpati dahulu bukan trah jahat.”
Anto terkejut.
“Jadi bagaimana bisa berubah?”
Ki Aryo membuka halaman terakhir.
“Karena leluhur mereka membuat perjanjian dengan kekuatan yang disebut Kudajati.”
Jagatpati mengepalkan tangan.
“Diam!”
Api hitam kembali muncul di sekeliling tubuhnya.
Ajian Sewugeni kembali bangkit.
Ki Patikmanungso segera berdiri di depan Anto.
“Jangan terpancing!”
Jagatpati tertawa.
“Kalian sekarang sudah mengetahui semuanya.”
Ia menatap Anto.
“Delapan trah akan kembali berkumpul.”
Kemudian ia berkata dengan suara dingin:
“Dan ketika delapan darah bertemu...”
Api hitam di tangannya membesar.
“...akan lahir kekuatan yang mampu mengubah seluruh tanah Jawa.”
Jagatpati menghilang ke dalam kabut.
Anto menatap kitab tua tersebut.
“Guru...”
Ki Patikmanungso menjawab:
“Ya.”
“Kalau begitu kita harus menemukan keturunan tujuh trah lainnya.”
Ki Aryo tersenyum.
“Sayangnya...”
Ia menunjuk halaman terakhir.
“Mereka sudah mulai mencari Anto terlebih dahulu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!