TUJUH DARAH YANG TERPISAH
Malam semakin pekat.
Setelah Jagatpati menghilang, Anto masih berdiri di depan kitab tua peninggalan Delapan Trah.
Satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya.
Siapa pewaris tujuh trah lainnya?
Ki Patikmanungso menutup kitab tersebut.
“Jangan terburu-buru, Anto. Tidak semua pewaris akan menjadi kawanmu.”
“Kenapa, Guru?”
“Karena sebagian dari mereka mungkin sudah berada di pihak Jagatpati.”
Anto terdiam.
Wulandari kemudian mendekati mereka.
“Kalau begitu kita harus mencari mereka sebelum Jagatpati menemukannya.”
Putri Agreani mengangguk.
“Tapi ada masalah.”
“Apa?” tanya Anto.
Putri Agreani menunjuk kitab.
“Delapan trah tidak semuanya memiliki tanda yang sama. Untuk menemukan mereka, kita membutuhkan Lencana Delapan Darah.”
Ki Aryo Pangalila tersenyum tipis.
“Dan aku tahu di mana lencana itu disimpan.”
BAB 18 — PUSAKA DI GUNUNG KERTA
Menurut Ki Aryo, Lencana Delapan Darah disembunyikan di sebuah tempat bernama Gunung Kerta.
Namun perjalanan menuju tempat itu tidak mudah.
Gunung tersebut dipercaya dijaga oleh ilmu kuno yang membuat siapa pun yang memiliki niat buruk tersesat.
Anto, Wulandari, Putri Agreani, dan Ki Patikmanungso akhirnya berangkat.
Sebelum pergi, Ki Patikmanungso memberikan sebuah keris kepada Anto.
“Jangan gunakan ini kecuali keadaan benar-benar terdesak.”
Anto menerima keris itu.
“Namanya apa, Guru?”
“Kyai Macan Lelana.”
Anto menatap keris tersebut.
Di bilahnya terdapat ukiran seekor macan putih.
BAB 19 — SOSOK DI BALIK KABUT
Setelah berjalan berjam-jam, rombongan tiba di tengah hutan.
Kabut turun begitu cepat.
Wulandari berhenti.
“Anto...”
“Ada apa?”
“Aku merasa kita sedang diawasi.”
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pepohonan.
“Kalian terlambat.”
Anto langsung bersiap.
Seseorang keluar dari balik kabut.
Seorang pemuda mengenakan pakaian hitam.
Ki Patikmanungso langsung mengenalinya.
“Mustahil...”
Anto bertanya:
“Guru, siapa dia?”
Ki Patikmanungso menjawab pelan.
“Dia keturunan Trah Kerta Angkara.”
Pemuda itu tersenyum.
“Namaku Raka Angkara.”
Raka menatap Anto.
“Dan aku datang bukan untuk menjadi temanmu.”
Anto mengangkat tangan.
“Kalau begitu apa tujuanmu?”
Raka menjawab:
“Menguji apakah kau benar-benar layak disebut pewaris Macan Putih.”
BAB 20 — UJIAN MACAN PUTIH
Raka menyerang lebih dahulu.
Gerakannya sangat cepat.
Anto menangkis serangan demi serangan.
Namun Raka memiliki kekuatan luar biasa.
DUK!
Anto terlempar beberapa meter.
Wulandari hendak membantu.
“Jangan!” teriak Anto.
Ia bangkit perlahan.
“Aku bisa menghadapinya.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Pertarungan kembali dimulai.
Kali ini Anto tidak menggunakan kekuatan penuh.
Ia mengingat pesan gurunya.
Kekuatan bukan tentang menghancurkan lawan.
Anto mulai membaca gerakan Raka.
Ketika Raka menyerang untuk terakhir kalinya, Anto menghindar dan menjatuhkannya tanpa melukainya.
Raka terdiam.
Kemudian ia tertawa.
“Jadi memang benar.”
Ia berdiri.
“Kau berbeda dari leluhurmu.”
Anto bertanya:
“Apakah kau mau bergabung dengan kami?”
Raka menatap langit.
“Aku belum bisa menjawab.”
Kemudian ia menunjuk puncak Gunung Kerta.
“Di sana kalian akan menemukan jawaban yang lebih besar.”
BAB 21 — JAGATPATI MEMANGGIL KEKUATAN GELAP
Di tempat lain, Jagatpati sedang duduk di ruangan rahasianya.
Di hadapannya berdiri Ki Aryo Pangalila.
“Kau sudah tahu mereka menuju Gunung Kerta,” kata Ki Aryo.
Jagatpati tersenyum.
“Biarkan.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin mereka menemukan Lencana Delapan Darah.”
Ki Aryo mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
Jagatpati berdiri.
“Karena lencana itu bukan hanya bisa menemukan para pewaris.”
Ia mengangkat tangan.
Api hitam dari Ajian Sewugeni menyala.
“Lencana itu juga bisa membuka gerbang Kudajati.”
Ki Aryo terdiam.
“Kalau gerbang itu terbuka...”
Jagatpati tertawa.
“...maka tidak ada lagi yang mampu menghentikanku.”
BAB 22 — LENCANA DELAPAN DARAH
Anto dan rombongan akhirnya mencapai puncak Gunung Kerta.
Di dalam sebuah gua tua, mereka menemukan sebuah altar batu.
Di atasnya terdapat sebuah benda berbentuk lingkaran dengan delapan lambang.
Anto mendekatinya.
Begitu tangannya menyentuh lencana tersebut—
WUSSSHHH!
Cahaya putih memenuhi gua.
Delapan lambang menyala satu per satu.
ANOM.
SASENA.
KERTA ANGKARA.
KOLO WISESA.
WIJAYA.
BOGOLONO.
BANYU ANGKORO.
Kemudian lambang terakhir menyala merah.
JAGATPATI.
Anto terkejut.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gua.
“Delapan darah telah terbangun.”
Ki Patikmanungso memandang Anto dengan wajah serius.
“Ini bukan sekadar lencana.”
“Apa maksudnya, Guru?”
Ki Patikmanungso menjawab:
“Lencana ini baru saja memberi tahu keberadaan kita kepada Jagatpati.”
Dari kejauhan terdengar suara tawa.
“Hahahaha...”
Api hitam muncul di pintu gua.
Jagatpati berdiri di sana.
“Terima kasih, Anto Wijaya.”
Anto mengepalkan tangannya.
Jagatpati tersenyum.
“Sekarang aku tahu di mana kalian semua berada.”
Dan di belakang Jagatpati...
berdiri sosok besar dengan mata merah menyala.
Kudajati telah datang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!