BAB 29 — BANGKITNYA KEKUATAN KEGELAPAN SANG DAYANG PRABU KOLOSUKMA

2 dibaca

A

BANGKITNYA KEKUATAN KEGELAPAN SANG DAYANG PRABU KOLOSUKMA

Langit di atas Gunung Kerta mendadak menghitam.

Cahaya Darah Putih Wulandari yang sebelumnya memenuhi gua perlahan meredup.

Ki Patikmanungso menatap ke arah lorong tua di belakang altar.

“Semua mundur.”

Anto bertanya, “Ada apa, Guru?”

Ki Patikmanungso menggenggam erat keris Kyai Macan Lelana.

“Jangan sampai dia keluar.”

Terdengar suara langkah dari dalam kegelapan.

Tak... tak... tak...

Kemudian terdengar suara perempuan.

“Sudah terlalu lama aku tidur.”

Wulandari merasakan tubuhnya gemetar.

Putri Agreani berbisik:

“Siapa dia?”

Ki Aryo Pangalila menjawab dengan suara berat.

“Dayang Prabu Kolosukma.”


SANG DAYANG

Dari dalam lorong muncul seorang perempuan dengan pakaian kerajaan kuno.

Wajahnya pucat.

Di dahinya terdapat tanda hitam berbentuk bulan sabit.

Namun yang paling mengerikan adalah bayangan di belakangnya.

Bayangan itu tidak mengikuti gerak tubuhnya.

Bayangan itu bergerak sendiri.

Ki Patikmanungso berkata:

“Ribuan tahun lalu, Dayang Prabu Kolosukma menjadi penjaga ilmu kegelapan kerajaan.”

Anto bertanya:

“Kenapa dia bangkit sekarang?”

Ki Aryo menjawab:

“Karena Lencana Delapan Darah telah diaktifkan.”

Dayang itu tersenyum.

“Delapan trah...”

Ia memandang satu per satu.

“Anom.”

“Sasena.”

“Kerta Angkara.”

“Kolo Wisesa.”

“Wijaya.”

“Bogolono.”

“Banyu Angkoro.”

Kemudian matanya berhenti pada Jagatpati.

“Dan Jagatpati.”

Jagatpati justru terlihat ketakutan.

“Kau seharusnya tetap tidur.”

Dayang itu tertawa.

“Akulah yang dahulu membangunkan leluhurmu dari kegelapan.”


KEKUATAN KOLOSUKMA

Tiba-tiba tanah berguncang.

Kegelapan keluar dari tubuh Dayang tersebut.

Ki Aryo segera berkata:

“Jangan biarkan dia menyentuh Lencana Delapan Darah!”

Anto maju.

“Kalau begitu aku yang akan menghentikannya.”

Bayangan Macan Putih muncul.

Namun Dayang hanya mengangkat satu jari.

DUARRR!

Anto terpental.

Raka langsung membantu.

“Anto!”

Dayang itu tersenyum.

“Macan Putih...”

Ia menatap Anto.

“Masih selemah itu?”

Anto bangkit.

“Kau siapa sebenarnya?”

Dayang menjawab:

“Aku adalah tangan kanan Prabu Kolosukma.”

Kemudian ia membuka telapak tangannya.

Api hitam muncul.

“Pemilik Ajian Sewu Kala.”

Jagatpati terkejut.

“Sewu Kala?”

Ki Patikmanungso langsung pucat.

“Ilmu yang dapat mengendalikan bayangan...”

Dayang tersenyum.

“Bukan hanya bayangan.”

Ia mengangkat tangannya.

Seluruh gua dipenuhi sosok-sosok hitam.

“Aku mengendalikan ketakutan manusia.”


DARAH PUTIH MELAWAN KEGELAPAN

Wulandari maju.

Cahaya putih muncul dari tubuhnya.

“Jangan sentuh mereka.”

Dayang menatap Wulandari.

Kemudian tersenyum.

“Jadi kau...”

“Darah Putih.”

Wulandari terkejut.

Dayang melanjutkan:

“Keturunan yang dahulu mengkhianati Prabu Kolosukma.”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

“Kau akan mengetahuinya.”

Dayang mengangkat tangannya.

Kegelapan melesat menuju Wulandari.

Namun Wulandari mengaktifkan Cakra Wening.

Cahaya putih dan kegelapan bertabrakan.

WUUUUSSSHHH!

Seluruh gua berguncang.

Anto melihat sesuatu yang aneh.

Setiap kali kekuatan Wulandari bertabrakan dengan Dayang, tanda di tubuh Wulandari semakin jelas.

Ki Aryo berbisik:

“Ini bukan pertarungan biasa.”

Ki Patikmanungso mengangguk.

“Benar.”

Ia menatap Wulandari.

“Darah Putih dan Darah Kegelapan ternyata berasal dari satu sumber.”

Anto terkejut.

“Apa?”

Ki Patikmanungso membuka rahasia terakhir.

“Wulandari adalah keturunan penjaga Prabu Kolosukma.”

Wulandari terdiam.

Sementara Dayang tersenyum.

“Dan suatu hari nanti...”

Matanya berubah hitam.

“Kekuatan kegelapan itu akan bangkit di dalam tubuhmu sendiri.”

Wulandari memegang dadanya.

Jantungnya berdetak semakin keras.

DUG! DUG! DUG!

Cahaya putih di tubuhnya berubah menjadi putih keabu-abuan.

Anto berteriak:

“Wulandari!”

Dayang tertawa.

“Bangkitlah, pewaris Darah Putih...”

Di belakang Wulandari muncul dua bayangan sekaligus.

Macan Putih.

Dan...

Sosok Kolosukma.

Pertempuran Delapan Trah kini berubah menjadi perang antara Darah Putih dan Kekuatan Kegelapan Kolosukma.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk