BAB 30 — WULANDARI DILIPUTI KEGELAPAN

1 dibaca

A

WULANDARI DILIPUTI KEGELAPAN

Gua Gunung Kerta berguncang semakin hebat.

Di belakang Wulandari, dua kekuatan yang berlawanan terus beradu.

Di sisi kanan muncul cahaya putih.

Di sisi kiri muncul bayangan hitam.

Anto menatap sahabatnya dengan cemas.

“Wulandari! Lawan kekuatan itu!”

Wulandari memegangi kepalanya.

“Aku... tidak bisa...”

Suara lain terdengar dari dalam pikirannya.

“Serahkan dirimu kepadaku...”

Wulandari jatuh berlutut.

Putri Agreani segera berlari mendekatinya.

“Wulandari!”

Namun sebelum Putri Agreani menyentuhnya, sebuah gelombang energi membuatnya terpental.

Ki Patikmanungso berteriak:

“Jangan mendekat!”

“Kenapa, Guru?”

“Kekuatan Kolosukma sedang mencoba menguasai sukma Wulandari.”


BAB 31 — SUKMA WULANDARI

Di dalam pikirannya, Wulandari berdiri di sebuah istana tua.

Istana itu gelap dan kosong.

Di ujung ruangan duduk seorang perempuan mengenakan mahkota hitam.

Dayang Prabu Kolosukma.

“Siapa kau?” tanya Wulandari.

Perempuan itu tersenyum.

“Bagian dari masa lalumu.”

“Aku tidak mengenalmu.”

“Kau memang tidak mengenalku.”

Ia berdiri.

“Tetapi darahku mengalir dalam tubuhmu.”

Wulandari mundur.

“Aku bukan bagian dari kegelapan.”

Dayang tersebut mendekat.

“Justru karena kau memiliki Darah Putih, kau mampu membawa kekuatan kegelapan tanpa kehilangan dirimu.”

Wulandari terdiam.

“Jadi aku harus memilih?”

“Ya.”

“Antara cahaya dan kegelapan?”

Dayang itu menggeleng.

“Tidak.”

Ia menunjuk dada Wulandari.

“Pilihanmu adalah apakah kau akan dikendalikan oleh kekuatan itu...”

“...atau mengendalikannya.”


BAB 32 — KEKUATAN BARU

Di dunia nyata, tubuh Wulandari tiba-tiba berdiri.

Matanya masih terpejam.

Jagatpati tersenyum.

“Bagus...”

Namun Ki Aryo Pangalila justru terlihat khawatir.

“Ini tidak seperti yang kita perkirakan.”

Jagatpati menoleh.

“Apa maksudmu?”

Ki Aryo menunjuk Wulandari.

“Dia tidak sedang dikuasai.”

Jagatpati terdiam.

“Dia sedang...”

Ki Aryo menyelesaikan kalimatnya.

“...menguasai kegelapan itu.”

Wulandari membuka matanya.

Mata kirinya memancarkan cahaya putih.

Mata kanannya memancarkan cahaya hitam.

Semua orang terdiam.

Anto mendekatinya.

“Wulandari?”

Wulandari menatap Anto.

“Aku masih Wulandari.”

Kemudian ia mengangkat tangannya.

Cahaya putih dan energi hitam menyatu.

DUARRR!

Kegelapan yang memenuhi gua langsung terpecah.

Dayang Prabu Kolosukma bahkan mundur beberapa langkah.

“Mustahil...”

Wulandari berkata:

“Aku tidak akan menjadi budak kegelapan.”


BAB 33 — AJIAN WENING KALA

Ki Patikmanungso mengenali kekuatan tersebut.

“Ajian Wening Kala...”

Anto bertanya:

“Apa itu?”

“Ilmu yang hanya bisa muncul ketika Darah Putih mampu berdamai dengan kekuatan gelap.”

Wulandari kini memiliki kemampuan baru.

Ajian Wening Kala

Kekuatan yang mampu:

menetralisir ilmu hitam,

membentuk perlindungan energi,

memutus ikatan dengan kekuatan gaib,

dan mengembalikan ilmu gelap kepada sumbernya.

Tetapi ada satu kelemahan.

Ki Patikmanungso berkata:

“Kalau hatinya dipenuhi kebencian, kegelapan akan mengambil alih.”

Wulandari mengangguk.

“Aku akan mengendalikannya.”


BAB 34 — JAGATPATI MENANTANG ANTO

Jagatpati akhirnya maju.

“Sudah cukup!”

Api hitam Ajian Sewugeni kembali membara.

“Aku tidak peduli dengan Wulandari.”

Tatapannya tertuju kepada Anto.

“Yang kuinginkan adalah darah Wijaya.”

Anto maju.

“Kalau begitu hadapi aku.”

Raka berdiri di samping Anto.

“Kali ini kita bertarung bersama.”

Jagatpati tertawa.

“Kalian berdua?”

Api hitam memenuhi tubuhnya.

“Aku memiliki Sewugeni.”

Dari belakangnya muncul bayangan Kudajati.

“Dan aku memiliki kekuatan Kolosukma.”

Dayang Prabu Kolosukma tersenyum.

Namun Wulandari berdiri di depan Anto.

“Jangan lupa...”

Cahaya putih dan hitam berputar di sekelilingnya.

“Aku juga ada di sini.”

Anto menatap Wulandari.

Kemudian tersenyum.

“Kalau begitu...”

Raka mengangkat tangannya.

Tiga kekuatan bersatu:

Macan Putih.

Darah Putih.

Wening Kala.

Di sisi lain:

Sewugeni.

Kudajati.

Kolosukma.

Ki Aryo Pangalila melihat semuanya dengan wajah serius.

“Pertempuran ini akan menentukan nasib Delapan Trah.”

Tiba-tiba Lencana Delapan Darah melayang ke udara.

Delapan lambangnya menyala bersamaan.

Dan dari langit terdengar suara gaib:

“PEWARIS DELAPAN TRAH TELAH DIPANGGIL.”

Pertarungan terbesar pun dimulai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk