PERANG DELAPAN TRAH
Lencana Delapan Darah berputar di udara.
Delapan lambangnya menyala seperti delapan mata yang sedang terbangun.
ANOM. SASENA. KERTA ANGKARA. KOLO WISESA. WIJAYA. BOGOLONO. BANYU ANGKORO. JAGATPATI.
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari seluruh penjuru Gunung Kerta.
Ki Aryo Pangalila menatap langit.
“Sudah dimulai.”
Anto berdiri bersama Raka dan Wulandari.
Di hadapan mereka berdiri Jagatpati dan Dayang Prabu Kolosukma.
Namun sesuatu yang aneh terjadi.
Satu per satu sosok mulai muncul dari balik kabut.
Seorang lelaki berjubah putih.
Seorang perempuan membawa pusaka keluarga Sasena.
Seorang pendekar bertubuh besar.
Dan seorang lelaki tua membawa tongkat.
Ki Patikmanungso terkejut.
“Mereka...”
Anto bertanya:
“Siapa mereka?”
Ki Aryo menjawab:
“Para pewaris Delapan Trah.”
BAB 36 — PARA PEWARIS
Lelaki berjubah putih memperkenalkan dirinya.
“Namaku Jaka Anom.”
Ia adalah pewaris Trah Anom.
Perempuan yang membawa pusaka kemudian maju.
“Namaku Sekar Sasena.”
Ia merupakan keturunan langsung Trah Sasena.
Raka melangkah maju.
“Aku Raka Angkara.”
Pewaris Kerta Angkara.
Kemudian seorang lelaki membawa tongkat bermata perak muncul dari kabut.
“Namaku Wira Wisesa.”
Pewaris Kolo Wisesa.
Seorang pendekar bertubuh besar kemudian menghentakkan kakinya.
“Bima Bogolono.”
Terakhir muncul seorang pemuda berpakaian biru.
“Jati Angkoro.”
Pewaris Banyu Angkoro.
Anto menatap mereka.
“Jadi kita semua...”
Ki Aryo mengangguk.
“Delapan darah telah berkumpul.”
Namun ada satu yang tidak ada.
Trah Jagatpati.
Jagatpati sendiri berdiri di sisi kegelapan.
BAB 37 — PENGKHIANATAN JAGATPATI
Jagatpati tertawa.
“Kalian terlambat.”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Api hitam membentuk lingkaran raksasa.
Ajian Sewugeni mencapai tingkat tertingginya.
Langit berubah merah.
Kudajati muncul sepenuhnya di belakang Jagatpati.
Dayang Prabu Kolosukma berdiri di sampingnya.
“Delapan trah telah berkumpul,” kata Jagatpati.
“Justru itu yang kuinginkan.”
Anto mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu?”
Jagatpati menunjuk Lencana Delapan Darah.
“Untuk membuka gerbang Kudajati, aku membutuhkan energi dari seluruh Delapan Trah.”
Ki Patikmanungso langsung memahami rencananya.
“Jadi sejak awal...”
“Benar.”
Jagatpati tersenyum.
“Aku sengaja membiarkan kalian berkumpul.”
BAB 38 — GERBANG KUDAJATI
Lencana Delapan Darah tiba-tiba retak.
KRAKK!
Tanah terbelah.
Dari bawah gunung muncul cahaya merah.
Angin berputar semakin kencang.
Sebuah gerbang batu kuno muncul dari dalam tanah.
Kudajati berdiri di depannya.
“Sudah waktunya.”
Jagatpati mengangkat tangannya.
Para pewaris mulai kehilangan tenaga.
Anto berlutut.
Raka juga mulai melemah.
Wulandari mencoba menggunakan Wening Kala.
Namun kekuatannya tersedot menuju gerbang.
“Wulandari!” teriak Anto.
“Aku tidak apa-apa!”
Ki Aryo berteriak:
“Jangan biarkan gerbang terbuka!”
Tetapi Jagatpati sudah tertawa.
“Terlambat!”
Gerbang mulai terbuka.
Sedikit demi sedikit.
Di baliknya terlihat dunia gelap yang dipenuhi api.
BAB 39 — RAHASIA KI ARYO PANGALILA
Saat semua orang hampir kehilangan harapan, Ki Aryo Pangalila maju.
Ia membuka jubahnya.
Di dadanya terdapat sebuah tanda yang sama dengan lambang Trah Anom.
Anto terkejut.
“Ki Aryo?”
Ki Aryo berkata:
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku hanya seorang dukun.”
Ki Patikmanungso menatapnya.
“Kau masih menyimpannya...”
Ki Aryo mengangguk.
“Selama puluhan tahun.”
Kemudian ia menatap Anto.
“Anto, dengarkan aku.”
“Apa?”
“Untuk menutup gerbang Kudajati...”
Ki Aryo menunjuk Anto dan Wulandari.
“Macan Putih dan Darah Putih harus menyatukan kekuatannya.”
Anto mengangguk.
“Bagaimana caranya?”
Ki Aryo tersenyum.
“Kalian harus mempercayai satu sama lain.”
Wulandari mengulurkan tangannya.
Anto menggenggamnya.
Cahaya putih muncul.
Aura Macan Putih bangkit.
Raka dan para pewaris lainnya ikut mengangkat tangan.
Delapan kekuatan mulai bersatu.
Jagatpati tiba-tiba panik.
“TIDAK!”
Ki Patikmanungso berteriak:
“Sekarang, Anto!”
Anto mengangkat tangan.
Di belakangnya muncul seekor Macan Putih raksasa.
Wulandari berdiri di sampingnya dengan aura putih-hitam.
Gerbang Kudajati mulai bergetar.
Dan untuk pertama kalinya...
Kudajati terlihat ketakutan.
Namun sebelum gerbang itu tertutup sepenuhnya, terdengar suara dari balik kegelapan:
“Anto Wijaya...”
Anto menatap gerbang.
“Apa?”
Suara itu menjawab:
“Kau belum mengetahui siapa ayahmu sebenarnya.”
Gerbang tiba-tiba tertutup.
Semua terdiam.
Anto menatap Ki Patikmanungso.
“Guru...”
Ki Patikmanungso menundukkan kepala.
Anto semakin penasaran.
Siapa sebenarnya ayah Anto Wijaya?
Dan mengapa Kudajati begitu mengenal darah keluarganya?














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!