BAB 40 — RAHASIA AYAH ANTO WIJAYA

4 dibaca

A

ANTO WIJAYA: PEWARIS AJIAN MACAN PUTIH

BAB 40 — RAHASIA AYAH ANTO WIJAYA

Gunung Kerta akhirnya kembali tenang.

Gerbang Kudajati telah tertutup.

Namun ucapan dari balik gerbang masih terngiang di kepala Anto.

“Kau belum mengetahui siapa ayahmu sebenarnya.”

Anto menatap Ki Patikmanungso.

“Guru... selama ini siapa ayahku?”

Ki Patikmanungso terdiam cukup lama.

Wulandari berdiri di samping Anto.

Putri Agreani juga menunggu jawaban.

Akhirnya Ki Patikmanungso berkata:

“Namanya Raden Wijaya Angkara.”

Anto terkejut.

“Raden?”

Ki Patikmanungso mengangguk.

“Ayahmu adalah keturunan langsung bangsawan Trah Wijaya.”

Raka ikut terdiam.

“Wijaya Angkara...”

Ia seperti mengingat sesuatu.

“Aku pernah mendengar nama itu.”

Ki Aryo Pangalila berkata:

“Dia bukan hanya bangsawan.”

Anto menatapnya.

“Lalu?”

Ki Aryo menjawab:

“Dia adalah penjaga terakhir Gerbang Kudajati.”


BAB 41 — HILANGNYA RADEN WIJAYA ANGKARA

Puluhan tahun sebelumnya...

Raden Wijaya Angkara mengetahui bahwa Jagatpati sedang mencari cara membangkitkan Kudajati.

Ia bersama Ki Patikmanungso berusaha menghentikannya.

Namun malam itu terjadi pengkhianatan.

Seseorang dari salah satu Delapan Trah memberikan rahasia keluarga Wijaya kepada Jagatpati.

Raden Wijaya akhirnya menghilang.

Tidak ada makam.

Tidak ada jasad.

Tidak ada kabar.

Anto menatap gurunya.

“Jadi ayahku meninggal?”

Ki Patikmanungso menggeleng.

“Aku tidak pernah menemukan jasadnya.”

Anto terdiam.

Berarti masih ada kemungkinan ayahnya hidup.


BAB 42 — PESAN DARI MASA LALU

Putri Agreani tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kayu tua.

“Ini ditemukan keluargaku bertahun-tahun lalu.”

Anto membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah surat.

Tulisan pada surat tersebut sudah hampir pudar.

Namun satu kalimat masih bisa dibaca:

“Untuk anakku, Anto.”

Tangan Anto gemetar.

Ia membaca surat itu.

“Jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti kekuatan Macan Putih telah memilihmu.”
“Jangan percaya kepada semua orang yang mengaku sebagai sahabatmu.”
“Jagatpati bukan satu-satunya musuhmu.”

Anto berhenti.

Di bagian bawah surat terdapat sebuah simbol.

Mata hitam di dalam lingkaran.

Ki Aryo Pangalila langsung berubah serius.

“Itu...”

“Apa, Ki?”

Ki Aryo menjawab:

“Lambang Trah Kolo Sukma.”

Anto mengerutkan dahi.

“Trah itu tidak ada dalam Delapan Trah.”

“Benar.”

Ki Aryo menatap Dayang Prabu Kolosukma yang masih berdiri jauh di belakang mereka.

“Karena Kolo Sukma adalah trah yang telah dihapus dari sejarah.”


BAB 43 — TRAH KESEMBILAN

Semua orang terkejut.

Ki Patikmanungso berkata:

“Dahulu sebenarnya bukan delapan trah.”

Anto menatapnya.

“Berapa?”

“Sembilan.”

Suasana langsung sunyi.

Ki Aryo membuka kitab tua.

Di halaman paling belakang terdapat satu lambang yang sengaja ditutup tinta hitam.

KOLO SUKMA.

“Trah kesembilan,” kata Ki Aryo.

“Mereka adalah penjaga ilmu kegelapan.”

Wulandari merasakan tubuhnya dingin.

“Dan aku?”

Ki Aryo menatapnya.

“Kau membawa darah dari garis keturunan penjaga yang pernah memberontak terhadap Kolo Sukma.”

Dayang Prabu Kolosukma tersenyum.

“Karena itu kau bisa menggunakan Darah Putih sekaligus Wening Kala.”

Wulandari menatapnya.

“Jadi aku bukan keturunan Kolo Sukma?”

Dayang menjawab:

“Kau adalah keturunan dari orang yang mengalahkan mereka.”


BAB 44 — AYAH ANTO MASIH HIDUP?

Tiba-tiba Lencana Delapan Darah kembali bergetar.

Cahaya merah muncul di tengahnya.

Kemudian terdengar suara laki-laki.

“Anto...”

Anto membeku.

Suara itu sangat familiar.

“Ayah?”

Ki Patikmanungso langsung menatap lencana.

Suara tersebut kembali terdengar.

“Jangan cari aku.”

Anto berteriak:

“Ayah! Di mana Ayah?”

Tidak ada jawaban.

Hanya satu kalimat terakhir:

“Carilah makam Prabu Kolosukma.”

Lencana kemudian pecah menjadi dua.

Anto menggenggam pecahan tersebut.

Ki Aryo berkata:

“Kalau pesan itu benar...”

Ki Patikmanungso menyelesaikan kalimatnya.

“Raden Wijaya Angkara mungkin masih hidup.”

Anto menatap ke arah hutan.

“Aku akan menemukannya.”

Wulandari berdiri di sampingnya.

“Aku ikut.”

Raka juga maju.

“Begitu juga aku.”

Putri Agreani tersenyum.

“Kalau begitu perjalanan kita belum selesai.”

Dari kejauhan, Dayang Prabu Kolosukma mengamati mereka.

Ia tersenyum misterius.

Karena hanya dia yang mengetahui satu rahasia terakhir:

Raden Wijaya Angkara bukan tawanan Jagatpati.

Ia sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Sebuah pusaka bernama Macan Putih Sukma.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk