Arti yang Menolak Mati

1 dibaca

A

Langit kelabu pucat terbentang tanpa ujung di atas tanah tandus, begitu kosong hingga dunia terasa seperti telah lama ditinggalkan. Vael melintasi tanah yang retak dalam keheningan, sementara debu berterbangan di atas sisa-sisa peradaban yang telah menyerah kepada waktu. Dia berjalan tanpa tergesa-gesa, tak dipandu oleh apa pun selain kelanjutan sederhana dari satu langkah menuju langkah berikutnya.

Langkahnya tidak berat, tetapi juga tidak ringan. Seolah tubuhnya bergerak tanpa perlu mengetahui alasannya. Angin membawa aroma samar karat dan pembusukan. Di kejauhan, reruntuhan sebuah kota berdiri seperti tulang belulang yang menolak dikuburkan. Vael tidak memandang ke sana. Apa pun makna reruntuhan itu pada masa lalu, tak ada lagi yang mampu menjangkaunya.

Seorang pria terbaring di tepi jalan. Tubuhnya terlalu kurus, kulitnya meregang erat di atas tulang-tulangnya, seolah bahkan gagasan tentang makanan pun telah meninggalkannya. Matanya masih terbuka. Masih hidup. Nyaris tidak. Jemarinya bergerak-gerak ketika melihat Vael.

“...tolong...” Kata itu nyaris tak terbentuk. Lebih menyerupai embusan napas daripada suara. Vael berhenti beberapa langkah darinya. Dia memandang pria itu, secukupnya. Cukup untuk memahami bahwa pria itu akan mati.

Vael hanya menatapnya. Hanya ada satu hal yang perlu diputuskan: dia bisa menolong pria itu, atau terus berjalan meninggalkannya. Bibir pria itu kembali bergetar, tetapi kali ini hanya udara yang keluar dari mulutnya. Vael perlahan mendekat, lalu berjongkok. Mata pria itu berjuang untuk memusatkan pandangan, dan selama sesaat, kelegaan tampak di sana.

Vael menempelkan tangannya ke dada pria itu dan merasakan sisa-sisa gerakan yang berdenyut lemah di bawah telapak tangannya. Dia mengepalkan tangannya, menekan dada pria tersebut. Tak lama kemudian, irama yang berjuang di balik tulang rusuk pria itu pun berhenti. Sensasi itu seharusnya tak berarti apa-apa baginya. Namun, entah mengapa, rasanya begitu akrab, seperti kembali ke suatu tempat yang tak lagi dia ingat pernah dikunjungi.

Di bawah telapak tangan sosok tersebut, denyut terakhir nadinya berkelip. Lalu meredup.

Vael tidak menarik tangannya sampai kelipan terakhir di ujung keplannya benar-benar lenyap. Setelah itu, yang tersisa hanyalah berat tubuh.

Jalanan kembali sunyi. Angin bergerak melewati debu. Entah di suatu tempat yang jauh, logam mengerang di bawah reruntuhan dunia yang sekarat. Vael perlahan berdiri, lalu kembali berjalan. Setelah beberapa langkah, sesuatu bergeser. Dunia di sekelilingnya ikut bergeser. Rasa sakit datang tiba-tiba, tajam, seolah sesuatu di dalam kepalanya berusaha muncul ke permukaan tanpa memiliki wujud. Vael berhenti tanpa memahami alasannya. Tekanan tajam memilin sesuatu di balik matanya, begitu mendadak hingga dunia di sekelilingnya kabur selama sesaat yang terpecah.

Mata seorang anak kecil, terbuka lebar, gemetar, memantulkan kekerasan yang seharusnya tak pernah disaksikannya. Aroma logam dari darah segar menggantung pekat di udara, tetapi tangisan itu kecil, suara ketakutan yang tertahan. Lalu, sebuah tangan. Jauh lebih kecil daripada tangannya sendiri, licin oleh sesuatu yang hangat, menggenggam jemarinya dengan kekuatan putus asa yang nyaris menyakitkan. Bukan permohonan untuk ditolong, melainkan saksi bisu atas sosok bagaimana ia menjadi dirinya.

Sensasi itu bertahan cukup lama untuk terasa nyata sebelum perlahan memudar. Saat Vael berhasil memusatkan pandangan, rasa sakit itu sudah memudar, kembali tenggelam ke dalam keheningan dingin yang menyelimutinya. Vael tetap tak bergerak selama beberapa saat. Apa pun yang tadi muncul dari dalam dirinya kini tak lagi terasa sepenuhnya miliknya, hanya sisa sesuatu yang jauh, yang sempat menemukan jalan pulang kepadanya karena sebuah kekeliruan.

“...déjà vu.” Kata itu terucap lirih, tanpa pemahaman yang sungguh-sungguh. Hanya ada keakraban samar dari sesuatu yang belum selesai.

Sebuah denyut samar bergerak sekali di balik pakaiannya, lalu hampir seketika menghilang. Vael sempat terdiam merasakan sensasi itu, tetapi tidak berusaha meraihnya, seolah mengakuinya sama sekali tak lebih berarti daripada mengabaikannya. Tak lama kemudian, sensasi itu pun lenyap.

Vael kembali berjalan di bawah langit tak berwarna, sementara tanah tandus membentang tanpa ujung di hadapannya, begitu sunyi.

“Kau melihatnya sekarat.” Suara itu menjangkaunya dari arah jalan di depan, lirih dan nyaris tanpa bobot, tetapi cukup tajam untuk membelah keheningan di sekelilingnya.

Vael berhenti berjalan.

Sesosok pria berdiri di tengah jalan. Diam, seolah dia telah berada di sana jauh sebelum Vael tiba. Pakaiannya telah usang dimakan waktu dan perjalanan, begitu biasa hingga Vael mungkin saja melewatinya tanpa mengingat wajahnya kemudian. Hanya satu hal yang merusak kesan itu. Sesuatu yang panjang terletak di sisi tubuh orang asing tersebut, tersembunyi di balik lipatan kain lapuk, begitu sunyi dengan cara yang terasa ganjil. Sebuah pedang yang disarungkan.

“Kau melihatnya,” ujar orang asing itu, suaranya sekering tanah tandus di sekeliling mereka. “Kau melihatnya menderita, lalu memilih untuk terus berjalan.”

Vael membalas tatapannya. Matanya hanya memantulkan langit pucat. “Tidak,” jawab Vael, suaranya memudar terbawa angin dingin. “Aku menghentikannya.”

Keheningan kembali terbentang di antara mereka, begitu dingin hingga pertanyaan itu tetap tak terjawab.

“Benarkah?”

Vael masih terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ketidakpastian melintas dalam dirinya, sesaat saja, seperti bayangan yang perlahan memudar.

“Dia sedang sekarat.” Jawaban itu keluar lirih dari mulut Vael, tanpa rasa bersalah, pembenaran, atau apa pun yang mungkin membuatnya lebih mudah dipahami.

Sosok di hadapannya mengamatinya dalam diam sebelum akhirnya kembali berbicara. “Dan kau berhak memilih sendiri arti kematian baginya?” Tak ada penghakiman dalam kata-kata itu. Entah mengapa, justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat. Vael tidak berpaling.

“Semuanya berakhir.”

Jeda kembali menyusul. Angin terasa semakin dingin. Sosok itu memejamkan mata sejenak, seolah mengakui sesuatu yang tak terlihat. “Tapi kau masih hidup.”

Vael mengernyit. Reaksi itu muncul dan menghilang begitu cepat hingga nyaris terasa asing baginya. Beberapa detik kemudian, Vael melangkah maju dan melewati pria itu. Sosok tersebut tidak menyingkir. Dia hanya tetap berdiri di sana ketika Vael terus berjalan menuju tanah tandus pucat di hadapan mereka, sementara jarak di antara keduanya semakin melebar seiring setiap langkah.

Lalu suara itu kembali terdengar. “Kau tidak menyangkalnya.” Suara itu tertinggal di belakang Vael, tenang dan jauh di bawah desau angin.

Setelah beberapa langkah lagi, Vael berhenti. Dia tidak menoleh. “Tidak ada yang perlu disangkal,” ujarnya. Kata-kata itu terucap lirih, terdengar biasa saja.

“Kebanyakan orang,” ujar sosok itu, “akan berbohong.” Sosok itu melanjutkan. “Bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri mereka sendiri.”

Angin melewati ruang di antara mereka, membawa debu yang tak pernah benar-benar mengendap.

“Itu tidak mengubah apa pun,” jawab Vael dengan tetap tenang.

Langkah kaki yang lambat menggesek debu di belakangnya. Ketika sosok itu kembali berhenti, dia masih menjaga jarak beberapa langkah, tak berusaha mendekat sepenuhnya.

“Namun,” katanya, “orang-orang tetap melakukannya.”

Vael sedikit memiringkan kepala, mengamati pemikiran itu alih-alih bereaksi terhadapnya. “Kenapa?” Pertanyaan itu tidak mengandung tantangan. Ia hadir dengan kekosongan tenang yang sama seperti segala hal lain yang ditanyakannya.

Sosok itu membiarkan waktu berlalu sebelum menjawab. “Karena,” ujarnya akhirnya, “jika tidak… mereka harus menghadapi diri mereka sendiri.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Vael menatap lurus ke depan. “Lalu apakah itu?”

“Hidup.”

“Itu tidak memiliki makna.” Jawaban itu keluar seketika, seolah Vael tak perlu memikirkannya.

Sosok itu mengamatinya. “Tidak.” Sebuah jeda. “Justru maknanya terlalu banyak.”

Angin terhenti. Atau mungkin hanya terasa demikian.

Vael menoleh kebelakang, akhirnya membiarkan pandangannya tertuju pada pria itu. Waktu telah mengukir banyak hal yang tak berusaha disembunyikan pada wajah orang asing tersebut, menandai kehidupan yang telah berjalan terlalu jauh. Namun, bobot sesungguhnya justru terletak pada matanya. Mata itu begitu tenang hingga terasa mengusik, tanpa kilatan liar yang biasa menyertai sebuah gerakan. Matanya tidak kosong seperti milik Vael. Mata itu telah menetap, seperti badai yang akhirnya menemukan kedamaiannya.

“Kalau begitu, semuanya tidaklah bermakna.”

Sosok itu tidak menyetujui ataupun menyangkalnya. “Atau,” katanya, “kau hanya menolak untuk memilih salah satunya.”

Kata-kata itu tertinggal di suatu tempat dalam diri Vael lebih lama daripada seharusnya, membawa keakraban samar dari sesuatu yang diyakininya telah lama hilang. Sesaat kemudian, perasaan itu pun lenyap. Vael mengalihkan pandangan ke cakrawala kosong. “Memilih tidak mengubah hasil akhirnya.”

“Tentu saja tidak.” Jawaban itu datang seketika. “Memilih hanya mengubah dirimu.”

Sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya. “Kalau begitu, siapa dirimu?” tanya Vael. Pertanyaan itu melayang ke udara tanpa arah atau konteks, tetapi pria itu memahami bobot di baliknya.

“Seseorang yang memilih,” jawabnya. Tak ada secercah kebanggaan dalam suaranya, juga tak ada penyesalan. Hanya sebuah kenyataan yang dingin dan keras.

Vael mengamatinya selama sesaat sebelum mengalihkan pandangan kembali ke cakrawala. “Kalau begitu, kau masih terperangkap.”

Sosok itu tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat. “Mungkin.” Dia tidak membantah. “Atau mungkin,” lanjutnya, “aku hanya menerima sangkar itu.”

Vael tidak mengajukan sanggahan, tetapi untuk sekali ini, dia juga tidak berbalik untuk pergi. Angin menyapu celah di antara keduanya, lalu melanjutkan perjalanan tanpa akhir melintasi dataran. Namun, Vael tetap tertambat di tempatnya. Setelah sekian lama, dia tidak mengikuti angin. Dia tetap berdiri di tempatnya.


Suara menjangkau Vael sebelum sumbernya menampakkan diri, begitu samar hingga bisa lenyap ditelan angin jika bukan karena ketegangan yang tersembunyi di baliknya. Vael berhenti sesaat, sementara sosok di belakangnya tetap berdiri. Kemudian, dia kembali melangkah melintasi tanah tandus yang retak dengan kecepatan stabil yang sama seperti saat menghadapi segala hal lainnya. Semakin dekat dia, semakin jelas suara itu terdengar, berubah menjadi campuran suara orang-orang, logam, dan bunyi perlawanan yang mulai runtuh.

Pecahan batu muncul dari hamparan tanah tandus di hadapannya, sisa bangunan terlupakan yang separuh terkubur di bawah debu yang beterbangan. Vael berhenti di balik reruntuhan dan memandang ke arah sosok-sosok yang berkumpul di atas tanah.

Empat orang. Mungkin lima. Mereka mengelilingi seorang pria yang berlutut, tubuhnya nyaris tak sanggup tegak di bawah beban rantai yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Orang-orang lainnya memperlihatkan kelelahan usang dari mereka yang terlalu lama bertahan hidup hanya dengan kekerasan. Rantai-rantai yang mereka bawa menyeret tanah setiap kali mereka bergerak, seolah besi itu telah lama menjadi bagian dari diri mereka.

“Chainbound.” Suara di belakang Vael akhirnya memecah keheningan, tepat ketika salah seorang pria kembali menyentak rantainya, memaksa sosok yang berlutut itu merunduk lebih dalam ke tanah.

“Berdiri.”

Tawanan itu tidak menjawab. Tubuhnya justru roboh ke samping, menghantam tanah dan memancing gelak tawa singkat dari orang-orang di sekelilingnya. Tawa itu menghilang hampir secepat kemunculannya.

“Dia tidak akan bertahan lama.”
“Ya mungkin tidak perlu.”

Sosok lain maju dan mengangkat gagang senjatanya. Sasarannya bukan tengkorak pria itu, melainkan bagian tubuh yang lebih rendah, dengan tekanan terukur yang dimaksudkan untuk mempertahankan penderitaan, bukan mengakhirinya.

Sebelum pukulan itu jatuh, Vael melangkah keluar dari balik batu tanpa berusaha menyembunyikan kehadirannya. Salah seorang pria langsung menoleh, genggamannya pada rantai di sisi tubuhnya mengencang.

“Ada orang.”

Yang lainnya mengikuti arah pandangannya. Keheningan menyelimuti kelompok itu ketika mereka menatap sosok berjubah tudung yang berdiri sendirian di tengah debu.

“Pergilah.” Peringatan itu terdengar rendah dan tajam. Vael berhenti beberapa langkah dari mereka, lalu memandang rantai-rantai, tubuh yang berlutut, dan ketenangan akrab dari orang-orang yang sudah yakin akan apa saja yang boleh mereka lakukan.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat mereka saling melirik dengan bingung sebelum gelak tawa kembali menyebar di antara kelompok tersebut.

“Kenapa?” salah seorang mengulanginya. “Ya karena kami bisa.” Jawaban itu datang tanpa keraguan, diucapkan seolah hal tersebut selalu cukup untuk menjadi alasan.

Vael memiringkan kepala, mengerutkan dahinya. “Itu bukan sebuah alasan.”

Tawa mereka perlahan mereda, menyisakan suara rantai yang diseret pelan di atas tanah.

“Lalu apa kalau bukan alasan?”

Pandangan Vael beralih kepada pria yang berlutut. Dada pria itu hanya naik turun tipis, nyaris tak terlihat.

“Tidak ada gerakan,” jawab Vael lirih. Tak seorang pun memahami maksudnya.

“Apa?”

Vael melangkah maju sebagai ganti jawaban. Sebuah rantai langsung terangkat.

“Peringatan terakhir.”

Vael terus berjalan. Rantai itu melesat ke arahnya dengan kecepatan brutal, tetapi mendadak berhenti, ditahan oleh tangannya.

Untuk pertama kalinya, ketidakpastian muncul di wajah orang-orang yang mengelilinginya. “Ap—“

Vael bergerak sebelum kata-kata itu selesai meninggalkan mulut pria tersebut. Menarik rantai yang ia genggam.

Satu tubuh roboh ke dalam debu, disusul tubuh lainnya tak lama kemudian. Keyakinan yang tersisa pada orang-orang itu segera berubah menjadi keputusasaan. Rantai-rantai menyapu udara dengan liar dalam ayunan panik, tetapi Vael hanya menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit, membiarkan besi-besi itu melintas tanpa menyentuhnya. Sementara itu, para pemegang rantai jatuh satu demi satu ke tanah dengan benturan berat dan tumpul.

Saat semuanya berakhir, angin kembali bergerak melintasi tanah tandus, membawa debu yang perlahan menyelinap di antara tubuh-tubuh yang berserakan. Namun, perhatian Vael tidak tertuju pada mereka yang telah terjatuh. Pandangannya justru menetap pada sosok yang masih berlutut dan berjuang lemah di atas tanah.

Vael mendekat ketika pria itu perlahan mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya yang kosong seolah siap tenggelam kembali ke dalam tanah tandus di sekelilingnya kapan saja.

“...tolong...” Kata itu nyaris tak terdengar, tenggelam di balik napas yang tersengal.

Vael berdiri di hadapannya dalam diam sebelum akhirnya berbicara. “Kau akan mati...” Pernyataan itu tidak mengandung kekejaman maupun penghiburan, hanya kepastian tenang dari sebuah pengamatan.

Pria itu terbatuk lemah dan kembali menundukkan kepala, tepat ketika langkah kaki terdengar mendekat dari belakang mereka.

Sosok itu berhenti di samping tubuh-tubuh yang berserakan, mengamatinya dalam diam sebelum kembali berbicara.

“Kau memilih.”

Vael tidak berbalik. “Mereka tidak bergerak.” Jawaban itu datang seketika.

“Dan dia?” Pertanyaan itu menggantung di atas pria yang berlutut di antara mereka.

Sementara angin bergerak lembut melewati pecahan batu, seolah tanah tandus itu sendiri sedang menunggu jawabannya. Vael hanya berdiri.

Pria tersebut nyaris tak sadar lagi. “...tolong...” Suaranya kini terdengar lebih lemah, begitu tipis hingga bisa lenyap ditelan angin.

Vael memandangnya tanpa bergerak. Denyut yang memudar, tubuh yang semakin melemah, dan pilihan yang kembali muncul sekali lagi.

Keakraban dari semua itu menetap jauh di dalam dirinya, meski dia tetap tak memahami alasannya.

“Kau ragu.” Suara di belakangnya tetap tenang.

Mata Vael tak beranjak dari pria lemah itu. “Tidak.” Ia menghela napasnya. “Aku sedang berpikir.” Kata-kata itu terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

“Itu hal baru...” Kata sosok pria tua dibelakangnya.

Tawanan itu terbatuk hebat di atas tanah.

“Jika kau meninggalkannya,” ujar sosok tua itu akhirnya, “dia akan menderita. Dan jika kau mengakhirinya,” lanjutnya, “dia tidak akan menderita lagi.”

Jari-jari Vael mendadak bergerak-gerak. Sebuah ingatan muncul tanpa peringatan.

Sebuah tangan yang jauh lebih kecil, menggenggam jemarinya begitu erat hingga terasa menyakitkan. Suara gemetar yang hancur di sekitar satu kata. ”...jangan.”

Sensasi itu lenyap hampir seketika, menyisakan tekanan samar di suatu tempat di balik matanya. Vael sedikit mengernyit. “...kenapa?” Kali ini, pertanyaan itu tidak ditujukan kepada pria yang sekarat.

Sosok tua di belakangnya menjawab tanpa ragu. “Kenapa tidak?”

Vael kembali menundukkan pandangan. “Mengakhiri itu mudah.”

Pria yang berlutut itu bernapas tak beraturan di bawah rantai.

“Meninggalkan juga mudah. Yang ini tidak.”

Vael berjongkok di hadapan tawanan itu dan meraih rantai yang melilit pergelangan tangannya. Pria itu tersentak lemah saat disentuh. Besi mengerang di bawah genggaman Vael sebelum mata rantainya akhirnya putus dan jatuh ke atas debu. Terbebas dari beban itu, sang tawanan roboh ke depan, bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar. Namun, kerusakan yang telah ditimbulkan tetap ada. Vael kemudian mundur selangkah.

“Kau memilih dengan cara berbeda.”

“Tidak.” Vael mengamati pria itu, yang masih berjuang menarik napas di atas tanah. “Aku menyingkirkan sesuatu.”

Sosok di belakangnya mempertimbangkan jawaban itu. “Dan apa yang akan dilakukannya sekarang?”

Pria itu nyaris tak sadar, nyaris tak hidup, tetapi masih bernapas.

“Dia akan melanjutkan hidup.” Tak ada kepastian dalam kata-kata itu. Hanya kemungkinan.

“Itu kejam.”

Vael tidak mengalihkan pandangan dari sosok rapuh di hadapannya. “Mengakhiri juga kejam. Begitu pula meninggalkannya. Setiap pilihan di sini hanya mengubah bentuk kekejaman.”

Pria itu bergerak lemah di atas tanah. Masih hidup, masih berusaha. Vael mengamatinya lebih lama daripada sebelumnya.

“Kau berubah,” ujar sosok tua itu.

Vael tidak menjawab. Setelah beberapa saat, dia berbalik dan kembali berjalan, meninggalkan tawanan itu di belakangnya. Vael terus melangkah setelah itu, kecepatannya tetap sama di bawah langit pucat tanah tandus, sementara keheningan di antara dirinya dan sosok tersebut memanjang lebih lama daripada sebelumnya. Dia tidak pernah menoleh ke arah pria yang ditinggalkannya, meskipun di suatu tempat di belakangnya, sesuatu masih berjuang lemah di atas tanah.

Nyaris.

“Kau meninggalkannya.” Suara itu kembali mengikutinya.

Vael tidak berhenti. “Ya.” Sederhana. Tanpa keraguan.

“Kenapa?”

“Dia masih bisa bergerak.” Jawabannya hanyalah sebuah pernyataan dari Vael.

“Itu sudah cukup?”

Vael terus berjalan. “Untuk saat ini.”

Lalu angin berubah arah, dan dari suatu tempat di belakangnya terdengar suara yang akhirnya membuat Vael berhenti. Kepalanya sedikit menoleh ketika suara itu terdengar sekali lagi.

Basah, patah, salah.

Jauh di belakangnya, pria yang ditinggalkan Vael di atas tanah masih bergerak, tetapi tidak seperti sebelumnya. Tubuhnya menyentak hebat di atas tanah sementara sesuatu di bawah kulitnya menggeliat dengan cara yang tak lagi tampak manusiawi.

Tangan-tangan mencakar tanah. Sesuatu di bawah kulitnya bergeser.

“Vein-nya gagal,” ujar sosok tua itu lirih. “Tubuhnya tidak mampu menahannya.”

Napas pria itu berubah menjadi tersengal-sengal ketika suara dalam dan patah mulai memaksa keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya menyentak, sementara sesuatu di bawah kulitnya terus bergeser dari tempatnya. Sulur-sulur Vein berwarna coklat perlahan menyebar di sekujur tubuhnya ketika Vael mengamatinya dalam diam.

“Itu bukan perubahan,” lanjut sosok tua tersebut. “Itu penolakan.”

Tubuh pria itu kembali menyentak ketika sesuatu di bawah kulitnya bergeser dari tempatnya, disusul suara robekan basah dari suatu tempat jauh di dalam tubuhnya. Keheningan hanya bertahan sesaat sebelum dia kembali bergerak, kali ini perlahan. Kepalanya terangkat secukupnya agar Vael bisa melihat apa yang tersisa di balik matanya.

Rasa lapar.

Vael tidak mundur ataupun bersiap menghadapi serangan. Dia hanya mengamati.

“Kau membiarkannya hidup,” kata sosok tua itu lagi.

Makhluk itu berkedut. Tubuhnya tidak stabil, tak sempurna, terus hancur bahkan ketika masih hidup. Lalu ia menerjang. Cepat. Terlalu cepat untuk sesuatu yang sedemikian rusak.

Vael tetap berdiam diri hingga saat terakhir yang memungkinkan, kemudian perlahan mengangkat tangannya. Makhluk itu berhenti tepat di hadapannya, seolah sesuatu di dalam tubuhnya mendadak mulai melawan gerakannya sendiri. Tubuh yang hancur dilahap Vein itu gemetar tak terkendali ketika Vael melangkah mendekat dalam diam.

“Kau bisa mengakhirinya tadi.”

Vael tidak menjawab. Tangannya perlahan terulur hingga jemarinya menyentuh makhluk itu. Untuk pertama kalinya, makhluk tersebut mundur.

Sesuatu berkelip lemah di dalam matanya yang tak stabil. Bukan ingatan atau pengenalan, melainkan sesuatu yang lebih kecil daripada itu. Sesuatu yang masih manusiawi. Sepercik ingatan. Lalu, lenyap.

Tubuh itu terkejang, semakin hancur. Tangan Vael tidak menjauh.

“Aw...” Suara Vael tetap lirih di tengah jeritan makhluk itu, sementara tubuh sosok yang rusak menggeliat hebat di bawah telapak tangannya. Kemudian jemari Vael sedikit mengencang, hanya perubahan tekanan yang kecil, dan jeritan itu mendadak terhenti.

Tubuh itu berkedut sekali lagi sebelum akhirnya berhenti. Sesaat kemudian, angin kembali bergerak melintasi tanah tandus, membawa keheningan bersamanya. Vael berdiri di sana selama beberapa saat sebelum menurunkan tangannya. Tubuh itu ambruk di kakinya, tak lagi bergerak.

“Kali ini, kau mengakhirinya.”

Vael tidak langsung menjawab. Dia tetap berdiri di sana untuk beberapa lama, perhatiannya masih tertuju pada tubuh di kakinya sementara angin berembus pelan melewati tanah tandus.

“Ia tak bergerak, kemudian ia bergerak.” Sebuah jeda. “Lalu ia hancur.”

“Itulah dunia,” sosok tua itu tetap menjawab meskipun tak ada yang butuh tanggapan darinya.

Vael tidak memberikan jawaban lagi. Dia hanya berbalik dan kembali berjalan. Langkahnya kini terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Di belakangnya, mayat itu tertinggal di bawah debu, sementara ingatan tentang penderitaan yang masih tersisa di kepalanya terus menetap, dan untuk pertama kalinya, Vael tak lagi mampu mengabaikannya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk