Suara adalah hal pertama yang kembali. Bukan sebagai kenyataan yang utuh, melainkan dalam kepingan-kepingan yang tercerai-berai; gesekan napasnya sendiri, siulan angin dari kejauhan yang menyusup di antara bebatuan mati, dan di suatu tempat di dekatnya, suara berirama lambat dari sesuatu yang diseret melintasi tanah. Ketika Zenon akhirnya memaksa matanya terbuka, langit di atasnya sama sekali tidak menawarkan ketenangan. Hamparan kelabu yang menyesakkan terbentang tanpa ujung, tanpa putih menyilaukan yang sepanjang hidupnya selalu digunakan Sanctum untuk menenggelamkannya.
Langit itu tampak rusak.
Dia mencoba bergerak, tetapi gagal. Tubuhnya terasa berat dengan cara yang melampaui rasa sakit, ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya, sesuatu yang belum mampu dipahaminya.
“...kenapa...” Kata itu nyaris tidak berhasil keluar dari bibirnya. “...aku masih hidup...”
Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang menjawab. Kemudian sebuah suara terdengar dari suatu tempat di dekatnya, datar hingga nyaris lenyap ditelan angin.
“Aku tidak tahu.”
Zenon perlahan memalingkan kepala. Gerakan itu cukup tajam untuk membuat dunia di sekelilingnya terasa miring. Tak jauh darinya, sesosok pria duduk di samping sisa-sisa api yang mulai padam. Bukan seorang penjaga, bukan pula penyelamat, hanya kehadiran yang tenang di tengah tanah tandus yang kosong. Vael berjongkok di dekat bara yang sekarat tanpa terlihat tertarik pada kehangatannya. Perhatiannya justru tertuju pada percikan-percikan kecil yang sesekali melayang ke udara kelabu. Bertahan hidup seolah bukan lagi persoalan baginya, seakan merawat api hanyalah sesuatu yang bisa dilakukannya sementara dunia terus runtuh di sekelilingnya.
Zenon menatapnya, berusaha menempatkan wajah itu di suatu sudut ingatannya, tetapi gagal setiap kali mencobanya.
“Kau...” Tenggorokannya tercekat di sekitar kata itu. “...kau ada di sana.”
Vael tidak langsung menjawab.
“Mungkin.”
Jawaban itu jatuh di antara ketidakpastian dan ketidakpedulian. Tangan Zenon bergerak secara naluriah menuju sisi tubuhnya, mencari bobot senjata yang biasanya berada di sana, sesuatu yang kini telah tiada. Meski begitu, jemarinya tetap mengepal.
“Kau... membawaku ke sini?”
Vael akhirnya menatapnya secara langsung. Tidak ada sikap waspada dalam ekspresinya. Namun, tidak ada pula sambutan hangat.
“Tidak,” jawabnya setelah beberapa saat. “Aku baru saja sampai.”
Zenon mengamatinya lebih lama kali ini, mencari sesuatu di balik jawaban itu. Sebuah kebohongan, alasan, apa pun yang bisa membuat semuanya masuk akal.
Namun, apa pun yang dicarinya tidak ada di sana.
“Lalu... kenapa aku belum mati?”
Vael kembali memandang api yang hampir padam. “Kau masih bernapas.”
Zenon mengembuskan napas perlahan melalui hidungnya, tidak teratur. Itu bukan jawaban, tetapi dia langsung memahami bahwa hanya itulah jawaban yang akan didapatkannya. Angin berubah arah, membawa abu melintasi tanah di antara mereka. Zenon memejamkan mata hanya selama sedetik, tetapi itu sudah cukup untuk membuat semuanya kembali sekaligus. Panggung eksekusi. Pedang algojo. Alina. Kayila.
Matanya terbuka tajam.
Langit kelabu masih terbentang di atasnya. Tanah tandus tetap sunyi. Dan Vael masih duduk di samping api seolah dirinya adalah seseorang yang tidak pernah menjadi bagian dari tempat mana pun.
“Mereka sudah mati.”
Kata-kata itu nyaris tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Vael tidak menjawab. Mungkin, karena tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Zenon mengembuskan napas perlahan. “...baguslah.”
Kata itu terasa salah begitu meninggalkan bibirnya, tetapi dia tidak menariknya kembali. Vael melirik ke arahnya sekali, singkat dan sulit dibaca. Namun, entah bagaimana, Zenon tetap merasa bahwa tatapan itu melihat sesuatu di dalam dirinya.
“...jangan.” Peringatan itu bahkan terdengar lemah di telinganya sendiri. “Aku tidak meminta belas kasihan,” gumam Zenon, suaranya begitu kasar hingga terasa seperti abu di lidah.
“Aku juga tidak bermaksud memberikannya.”
Nada suara Vael tetap datar, sama sekali tanpa kenyamanan yang telah dilatih Sanctum untuk diselipkan ke dalam setiap doa yang pernah didengar Zenon sepanjang hidupnya. Setelah itu, keheningan kembali menyelimuti mereka, begitu berat hingga Zenon nyaris berusaha meraih sisa harga diri yang sudah tidak lagi dimilikinya.
Namun, dia membiarkannya mati begitu saja.
Setelah sekian lama, Vael kembali berbicara tanpa menoleh kepadanya.
“Kau membenci mereka.”
Rahang Zenon mengencang, tetapi dia tidak menjawab. Dia memang tidak perlu melakukannya. Vael kembali menatapnya, kali ini lebih lama, dan ada sesuatu dalam tatapan itu yang tertinggal bahkan setelahnya. Bukan detailnya. Hanya bebannya.
“Itu tidak akan hilang.”
Zenon akhirnya memalingkan wajah ke arahnya.
“...bagus.”
Untuk pertama kalinya, mereka saling menatap tanpa jarak antara orang asing dan musuh di tengah-tengah mereka. Tak satu pun berpaling. Apa pun yang ada di antara keduanya, hal itu belum perlu dipahami sekarang.
Pada akhirnya, Vael berdiri.
Zenon mengawasinya tanpa bergerak. “...kau mau pergi?”
“Ya.”
“...kenapa?”
Vael terdiam sejenak, seolah baru mempertimbangkan pertanyaan itu karena seseorang telah mengajukannya. “Aku tidak pernah menetap.”
Jawaban itu seharusnya tidak memiliki arti apa-apa. Namun, entah bagaimana, justru sebaliknya.
“Dan bahkan jika aku menetap...” Vael melirik ke belakang, ke arah Zenon. “...itu tidak akan mengubah apa pun.”
Kata-kata itu tetap tertinggal bahkan setelah keheningan kembali. Bukan seperti sebuah peringatan, bukan pula kepasrahan. Hanya sisa dari sesuatu yang bahkan Vael sendiri tampaknya sudah tidak mampu menyelesaikannya.
Zenon mengamatinya dengan saksama.
“...siapa dirimu?”
“Vael.”
Dia berbalik dan mulai berjalan menembus kabut kelabu. Namun, setelah beberapa langkah, dia kembali berhenti tanpa menoleh.
“Kau harus pergi dari sini.”
Zenon tetap berada di tempatnya.
“Mereka akan datang lagi,” kata Vael pelan. “Dan lain kali...”
Suaranya merendah, hampa hingga terdengar seolah anginlah yang membawanya.
“Mereka tidak akan membiarkanmu terbangun lagi.”
Peringatan itu tetap bertahan lama setelah Vael menghilang di kejauhan yang kelabu. Zenon duduk sendirian di samping api yang semakin meredup, sementara abu melayang perlahan melintasi tanah tandus yang hancur di sekelilingnya.
Jauh di dalam dirinya, sesuatu telah mulai terurai. Bukan penyembuhan. Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!