Perasaan aneh itu masih mengikuti Vael saat dia berjalan melintasi tempat tersebut, begitu berat hingga dia menyadarinya jauh sebelum mampu memahami apa artinya. Tak ada suara langkah kaki yang mengikutinya, tetapi langkahnya melambat di bawah tekanan sunyi yang terus membuntutinya melewati debu.
“Kau tinggal lebih lama.” Suara sosok tua itu kembali terdengar, meski Vael tidak langsung menjawab.
“Aku hanya mengamati,” jawab Vael.
“Mengamati apa?”
Pandangan Vael sedikit bergeser. “Titik kehancuran.”
Keheningan panjang terbentang di antara mereka. Sosok tua di belakangnya tidak menyela, membiarkan angin memenuhi ruang kosong tersebut.
“Lalu?”
Vael mengambil beberapa langkah lagi, sementara ingatan tentang daging yang berubah itu masih terasa segar di tangannya.
“Itu tidak penting.” Jawaban itu terdengar datar, tetapi tidak sepenuhnya kosong. Ada kelelahan hampa di dalamnya, seperti seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Lalu kenapa kau berhenti?”
Langkah Vael melambat. “Karena itu terulang.”
“Apa yang terulang?”
Mata Vael menyipit. “Hasil akhirnya.” Dia kembali berjalan. “...pilihan yang berbeda.” Sebuah jeda. “...dengan akhir yang sama.”
“Namun,” balas suara itu, “kau tetap memilih.”
Vael berhenti. Kali ini, dialah yang lebih dahulu berbalik. Dia menatap pria itu secara langsung, mempertahankan tatapannya lebih lama daripada sebelumnya. Ada sesuatu yang keliru dengan kehadiran orang asing tersebut. Wajahnya tidak terasa asing bagi Vael. Yang terasa janggal adalah betapa tak tersentuhnya pria itu dibandingkan segala sesuatu di sekeliling mereka, seolah waktu telah melewati dunia tanpa pernah benar-benar menyentuhnya.
“Kau sudah tahu.” Kesadaran itu muncul dengan tenang.
Pria tua tersebut tidak menyangkalnya. “Ya.” Jawaban itu datang tanpa keraguan.
Mata Vael tak pernah beranjak darinya. “Sebelum itu terjadi.”
“Ya.”
Mata Vael menyipit lagi. “Dan kau tidak melakukan apa-apa.” Tak ada tuduhan dalam suaranya, hanya bobot sunyi yang tersirat di balik kata-kata tersebut.
Pria itu terus mengamatinya sebelum akhirnya menjawab.
“Aku melakukan suatu hal,” katanya tenang. “Aku menunggu.”
Tatapan Vael menajam. “Itu sama saja.”
Pria tua itu menggeleng sekali. “Tidak,” jawabnya tenang. “Itu berbeda.”
Vael tidak menjawab.
“Kau bertindak... seolah semuanya seharusnya berbeda,” lanjut pria itu. “Aku bertindak untuk melihat apa yang masih tersisa.”
Untuk sesaat, sesuatu berkelip di dalam benak Vael. Bukan sebuah ingatan, melainkan sesuatu yang lebih tua dan jauh lebih samar. Dia terus mengamati pria itu tanpa mengalihkan pandangan.
“Lalu, apa dirimu sebenarnya?”
Kali ini, pertanyaan itu mengandung kesungguhan yang nyata. Pria tersebut tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia melangkah mendekat dengan tenang, tanpa tergesa-gesa, hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah.
“Seseorang yang tetap tinggal.”
Vael tidak berkedip. “Melalui apa?”
Pandangan pria tua itu beralih melewati Vael, tertuju pada sesuatu yang jauh melampaui tanah tandus di hadapan mereka, sebelum akhirnya dia menjawab.
“Semuanya.”
Vael terus mengamatinya, lebih lama daripada sebelumnya. Kali ini, dia tidak segera mengalihkan pandangan. “Kalau begitu, kau salah.” Kata-kata Vael terucap lirih, membelah kabut di antara mereka.
Pria tua itu memberikan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Kalau begitu, buktikan.”
Vael tidak menjawab lagi. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, dia juga tidak berpaling.
Mereka tetap berdiri dalam keheningan selama beberapa saat, hingga suara lain akhirnya menjangkau mereka dari seberang tanah tandus. Suara itu terdengar jauh dan asing, dentingan logam yang berulang-ulang menghantam logam lain di suatu tempat di hadapan mereka.
Vael berhenti ketika suara itu terdengar lagi. Irama logam yang teratur tersebut terasa begitu ganjil di tengah tanah tandus.
“Suara seperti itu seharusnya tidak ada di sini, bukan?.”
Suara di belakangnya terdengar.
Vael tidak langsung menoleh. “Tapi suara itu ada.”
Vael kembali melangkah. Tanah di bawah kaki mereka perlahan mulai berubah. Permukaan tanah tandus yang retak berganti dengan pola-pola yang tercetak lebih jelas di tanah, samar pada awalnya, lalu berulang begitu sering hingga terasa disengaja untuk diciptakan. Jejak-jejak itu tak lagi menyerupai bekas acak yang ditinggalkan para pengelana, melainkan jalur teratur dari sesuatu yang dibangun untuk melewati rute yang sama berulang kali.
“Pergerakan,” gumam Vael sambil menunduk, mengamati jejak-jejak di bawah kakinya. Pola itu berulang terlalu konsisten untuk sekadar berasal dari para pengelana yang berkeliaran tanpa tujuan.
Sebuah punggung bukit menunggu di kejauhan.
Sesuatu yang hidup menunggu di baliknya.
Tempat itu belum bisa disebut kota, tetapi juga tak lagi menyerupai reruntuhan. Asap mengepul dari bangunan-bangunan yang baru separuh selesai, sementara kerangka besi dan mesin-mesin kasar memenuhi udara dengan dentingan logam yang teratur, menyebar ke seluruh penjuru permukiman. Orang-orang di bawah bergerak dengan keteraturan dan tujuan yang jelas, mengangkut material, mengoperasikan mesin, dan melanjutkan pekerjaan tanpa henti.
Vael mengamati mereka. “Mereka membangun kembali,” gumamnya saat memandang bangunan-bangunan di bawah.
“Tidak,” jawab suara di belakangnya. “Mereka mengganti.”
Di bawah sana, salah seorang pekerja tiba-tiba ambruk karena kelelahan. Tak seorang pun di dekatnya menunjukkan kegelisahan. Sosok berpakaian jauh lebih bersih daripada yang lain menghampiri pria yang terjatuh itu, berhenti hanya untuk meliriknya sebelum memberikan isyarat kecil yang tampak meremehkan.
Dua orang lainnya segera menyeret tubuh tersebut pergi tanpa perlawanan, memperlakukannya bukan seperti manusia, melainkan seperti bagian mesin lain yang telah berhenti berfungsi.
“Efisien,” komentar sosok di belakang Vael.
Vael tidak berkata apa-apa. Tak jauh dari sana, salah satu mesin berdenyut samar di balik selubung besinya. Vein mengalir di dalamnya melalui arus yang terkendali, bukan melalui ritual ataupun penyembahan.
Vael melangkah maju.
“Tunggu.” Suara sosok di belakangnya kini terdengar lebih berat daripada sebelumnya, cukup untuk membuat Vael berhenti.
“Kenapa?”
“Karena tempat seperti ini tidak membiarkan orang pergi begitu saja.”
Vael kembali memandang para pekerja, para penjaga, dan bangunan-bangunan yang berulang di seluruh permukiman dengan keteraturan yang disengaja.
“Tempat ini memiliki... gerakan,” gumamnya pelan.
Pria tua di belakangnya tidak menjawab, dan tak lama, suara dari sosok tersebut menghilang sepenuhnya.
Vael tidak begitu menghiraukan, ia menuruni punggung bukit dan berjalan menuju besi serta asap di bawah tanpa keraguan. Sebelumnya, tanah tandus selalu terasa kosong baginya.
Tempat ini tidak.
Namun, Vael tetap melangkah masuk ke dalam sangkar itu.
Suara-suara menjangkau Vael sebelum bangunan-bangunan itu terlihat jelas. Dentingan logam yang berulang dari suatu tempat di hadapan mereka. Derap langkah kaki yang berat. Para pekerja saling berseru ketika memindahkan material melintasi permukiman dengan koordinasi yang teratur. Saat memasuki bagian terluar permukiman, Vael mendapati aktivitas di sekelilingnya terus berlangsung tanpa jeda. Para pekerja berlalu-lalang sambil membawa kerangka besi, perkakas, dan bagian-bagian mesin yang belum selesai, sementara asap terus mengepul dari kawasan industri yang lebih dalam.
Tak seorang pun menghentikan Vael pada awalnya. Tak seorang pun mempertanyakan kehadirannya. Orang-orang di sini telah terbiasa dengan sesuatu yang muncul begitu saja, lalu menghilang dengan cara yang sama mudahnya.
Vael mengamati para pekerja saat melintasi permukiman. Rantai-rantai di tempat ini berbeda dari yang ada di tanah tandus. Rantai itu bukan untuk menghukum, melainkan mengarahkan. Mata rantai besi melilit pergelangan tangan para pekerja dan menghubungkan mereka dengan kerangka-kerangka besar di sisi mereka, memastikan setiap gerakan tetap terukur dan berkesinambungan.
Tak ada sesuatu pun yang dibiarkan menyimpang di sini.
“Pengekangan yang terstruktur.”
Sebuah peluit memekik tajam, memotong kebisingan permukiman. Para pekerja langsung bereaksi, menghentikan gerakan dan menyusun diri kembali dengan irama terkondisi yang sama seperti yang telah diamati Vael sejak kedatangannya. Dia sendiri tidak ikut bergerak bersama mereka.
Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya sebelum seorang pria berpakaian jauh lebih bersih daripada para pekerja menjauh dari mesin-mesin dan menghampirinya.
“Kau tidak terdaftar untuk bertugas.” Suaranya tetap tenang dan terkendali.
Vael memandangnya sebelum menjawab. “Tidak.”
Pria itu terus mengamatinya. Perhatiannya lebih tertuju pada ketenangan yang menyelimuti Vael daripada sosok Vael itu sendiri.
“Kau seharusnya tidak berada di sini.”
Vael tidak menjawab. Di sekeliling mereka, aktivitas permukiman kembali berlangsung dengan ketepatan yang lebih terjaga, sementara pria itu melangkah sedikit mendekat.
“Dari mana asalmu?”
“Dari pergerakan.”
Pria itu mengernyit, tak menyukai jawaban tersebut. “Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban.”
Pria itu mengembuskan napas perlahan. “Kau bukan pekerja.”
“Bukan.”
“Bukan pedagang.”
“Bukan.”
“Lalu, apa dirimu?”
Vael tidak langsung menjawab. Pandangannya melewati pria itu, menuju sistem yang berjalan, rantai-rantai, dan para pekerja.
“Aku hanya berada di sini.”
Ekspresi pria itu tidak berubah, tetapi sesuatu dalam sikap tubuhnya bergeser. Kesabarannya berkurang, digantikan oleh niat yang lebih jelas. Dua penjaga kemudian mengambil posisi di belakangnya, dengan sikap siaga.
Ia menghela napas, lalu menghembuskannya dengan perkataan. “Kau membutuhkan peran. Di sini, segala sesuatu diberi peran.”
“Kalau begitu, berikan satu kepadaku.” Vael menjawab tanpa keraguan, tanpa menolak ataupun tunduk pada gagasan tersebut.
Pria itu mengamatinya sesaat, jelas tidak menduga jawaban seperti itu. “Kau tidak takut.”
Vael tidak menjawab.
“Bagus,” kata pria itu, dengan secercah persetujuan yang nyaris tak terlihat. “Kita lihat berapa lama itu bertahan.”
Dia berbalik dan memberikan isyarat.
“Bawa dia masuk.”
Para penjaga maju dan mengarahkan Vael menuju bagian yang lebih dalam dari permukiman. Vael mengikuti mereka tanpa perlawanan, sementara sistem di sekelilingnya terus bergerak tanpa gangguan.
Para penjaga membawanya semakin jauh ke kawasan industri. Lapisan struktur besi menjulang semakin tinggi di atas mereka, sementara para pekerja, mesin, dan jalur pengangkutan sempit berhimpitan dalam sebuah sistem yang dirancang untuk memastikan segala sesuatu bergerak ke arah yang sama.
Akhirnya, mereka membawanya ke salah satu fasilitas bagian dalam, menjauhi kebisingan kawasan kerja menuju area yang jauh lebih sunyi dan dijaga lebih ketat daripada bagian lainnya. Setelah melewati beberapa belokan di koridor logam yang sempit, sebuah pintu terbuka dan Vael diantar masuk sendirian.
Ruangan itu kecil dan terasa tidak wajar bersihnya jika dibandingkan dengan permukiman di luar. Dinding-dinding logam polos mengurung seluruh ruangan, tanpa jendela dan hampir tanpa suara, selain dengung mekanis samar dari suatu tempat jauh di dalam bangunan.
Vael duduk menunggu tanpa dibelenggu.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Pria yang sama masuk sebelum menutupnya dengan tenang di belakangnya. Dia berhenti di hadapan Vael, mengamatinya dalam diam selama sesaat.
“Kau cepat beradaptasi.”
Vael tidak merespons.
“Kebanyakan orang panik. Kau tidak.”
Vael menatapnya.
“Kebanyakan orang ingin pergi.”
Mata pria itu menyipit.
“Dan kau tidak?”
“Tidak.” Tak ada pembangkangan dalam jawabannya. Ketenangan pun tidak. Hanya ketiadaan dorongan ke arah mana pun.
Pria itu mulai berjalan perlahan mengelilinginya, mengamati Vael dari berbagai sisi.
“Kau bukan bagian dari Sanctum, bukan juga seorang penjarah ataupun pemburu teknologi.” Bukan sebuah pertanyaan. “Kau juga tidak bertingkah seperti orang-orang Aurex.”
Dia berhenti di belakang Vael. “Jadi, apa dirimu?”
“Kehadiran.”
Jawaban itu datang dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tanpa bentuk dan tanpa kegunaan yang jelas. Pria itu terdiam di belakangnya, seolah sedang memutuskan apakah jawaban tersebut layak dipahami.
“Itu tidak akan membantumu di sini.”
Sebuah bunyi klik pelan terdengar dari pintu di belakang mereka, tetapi pria itu tidak menoleh.
“Kita belum selesai.”
Bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya, dia sudah mengetahui bahwa seseorang telah masuk dari suara langkah kaki yang mendekat.
“Oh, kalian sudah mulai tanpa aku?” Suara itu membawa keluwesan yang langsung terasa berbeda dari suasana ruangan tersebut.
Barulah pria itu berbalik menoleh. “Ini area terbatas.” Nada suaranya berubah lebih dingin.
“Kalau begitu, batasi dengan lebih baik.” Jawaban itu datang santai dari seorang wanita yang berdiri di ambang pintu, bersandar ringan pada bingkai logam seolah tempat itu miliknya. Matanya menyapu ruangan dengan cepat sebelum akhirnya tertuju pada Vael. “Kau orang baru.” Suaranya terdengar begitu santai.
Vael menatapnya. “Ya.”
Wanita itu tersenyum tipis, tampaknya lebih terhibur oleh cara Vael menjawab daripada oleh jawabannya sendiri.
“Menarik.”
Pria itu melangkah ke antara mereka. “Pergi,” sahutnya.
Wanita itu mengembuskan napas pelan. “Kau selalu begini.”
Namun, dia tidak pergi. Sebaliknya, dia melangkah masuk tanpa diundang, seolah tak pernah membutuhkan izin siapa pun. Namanya Lunaria.
“Kau tidak terlihat seperti pekerja.”
Dia mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Vael.
“Sebenarnya, kau tidak terlihat seperti apa pun.”
Kepalanya miring saat mengamati Vael, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak ada di sana. Vael tidak menanggapinya. Wanita itu tersenyum kecil. “Aku suka itu.”
Pria tersebut melangkah maju. “Cukup.”
Dua penjaga muncul di ambang pintu.
Wanita itu melirik mereka sekilas. “Tenanglah.” Dia sedikit mengangkat tangan, mengukur jarak di antara mereka.
Udara di dalam ruangan berubah secara ganjil ketika para penjaga bergerak mendekatinya. Persepsi jarak mereka bergeser, cukup untuk merusak ketepatan gerakan. Penjaga pertama menerjang dengan cepat, tetapi tangannya hanya meraih udara kosong sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi.
Lunaria melewati mereka nyaris tanpa usaha. Penjaga kedua sempat ragu selama sesaat, terusik oleh sesuatu yang tak mampu dilacaknya dengan tepat. Ketika akhirnya bereaksi, Lunaria sudah berada lebih dekat dengan Vael.
Pria itu tak lagi terlihat tenang.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Lunaria tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Vael, mengamatinya dengan lebih saksama dan mendalam, seolah berusaha membaca sesuatu yang sama sekali tidak memberikan respons.
“Tidak ada.” Dia melirik pria itu sambil tersenyum. “Untuk saat ini.”
Vael menatapnya sedikit lebih lama kali ini. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak selaras.
“Kau tidak berada di tempatmu.” Suara Vael terdengar lirih, memotong keheningan di antara mereka.
Lunaria berhenti.
Senyum tipis masih bertahan di wajahnya, tetapi cara dia memandang Vael sedikit berubah. Rasa ingin tahu santai yang sebelumnya terpancar darinya telah menghilang, digantikan oleh perhatian yang lebih tenang saat dia terus mengamati Vael.
“Dan kau bisa melihatnya,” gumamnya, nyaris dengan kekaguman yang tulus.
Pria itu memberikan isyarat tajam. Para penjaga kembali bergerak, kali ini dengan lebih berhati-hati.
Lunaria mundur selangkah. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya. “Kita lanjutkan ini nanti.” Matanya tetap tertuju pada Vael. “Kalau bisa, jangan menghilang.”
Kemudian, dalam gerakan yang tak sepenuhnya terlihat, dia lenyap.
Ruangan itu kembali sunyi, tetapi bentuk keheningannya telah berubah. Pria tersebut memandang pintu, lalu Vael, seolah sedang menentukan mana di antara keduanya yang sebenarnya menjadi masalah.
“Kau membawa masalah.”
“Mereka bergerak.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!