”...ampunilah aku, Aurelion, karena aku telah berdosa.”
Doa itu terasa berbeda pagi ini, dengan cara yang sama seperti doa-doa terasa berbeda ketika seseorang sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya bahkan sebelum selesai mengucapkannya.
Di luar masih gelap. Dua jam sebelum fajar, mungkin sedikit kurang. Lucyna menyusuri koridor kamarnya, lalu melewati koridor berikutnya sambil mendekap bungkusan kain kecil di dadanya; roti dan susu, dengan susu yang mungkin sudah tidak hangat lagi. Langkahnya berhati-hati di atas batu, bukan karena seseorang pernah menyuruhnya untuk tidak bersuara, melainkan karena ada tempat-tempat di dalam sebuah bangunan yang mengajarkanmu untuk diam hanya dengan keberadaan mereka.
Dia belum pernah mengunjungi penjara bawah tanah sebelumnya.
Tangga yang menurun itu lebih sempit daripada yang dibayangkannya. Udaranya lebih dingin dan lebih pengap, jenis dingin yang sudah lama tidak bergerak dan tidak tertarik untuk bergerak lagi. Jarak antar obor di sepanjang dinding terlalu lebar untuk memberikan banyak penerangan. Lucyna menuruni tangga perlahan.
Althea.
Hanya itulah pikiran yang dibawanya ke bawah sana.
Sel di ujung koridor diterangi sebuah obor yang terpasang di dinding luar jeruji. Althea duduk bersandar pada dinding di seberang, rambut hitamnya menjulur panjang menyentuh tembok, punggungnya menempel pada batu, kedua kaki terjulur di hadapannya. Kepalanya menoleh ke arah suara langkah kaki bahkan sebelum Lucyna benar-benar muncul dari balik koridor.
Mereka saling memandang melalui jeruji.
Sepanjang perjalanan turun, Lucyna telah menyusun berbagai kalimat di dalam kepalanya. Namun, kini dia berdiri di sini, menggenggam roti dan secangkir susu sambil menatap wanita di balik jeruji besi, dan semua kalimat itu mendadak kehilangan tempatnya. Garis-garis hitam menjalar naik di leher Althea, menyusuri punggung kedua tangannya, lalu menghilang di balik kain pada pergelangan tangannya yang dirantai. Rantainya longgar, tetapi tetaplah rantai. Memar-memar lama di sepanjang rahang dan tulang selangkanya mulai memudar, jenis memar yang telah selesai melakukan kerusakannya dan perlahan memutuskan untuk pergi. Dan Althea sedang tersenyum. Senyum yang tenang, tanpa dibuat-buat, jenis senyum milik seseorang yang telah menghabiskan banyak waktu untuk memutuskan akan menjadi seperti apa dirinya di dalam ruangan semacam ini, dan akhirnya telah menentukan pilihannya.
“Berikan itu padaku,” kata Althea. “Aku agak lapar.”
Lucyna menyodorkan roti dan susu melalui celah di antara jeruji. Tangannya stabil. Dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa demikian.
“Terima kasih, Sayang.” Althea mengambil roti itu dan mematahkan sebagian kecilnya tanpa tergesa-gesa.
Dia makan dalam diam selama beberapa saat. Kemudian sesuatu berubah di wajahnya, seolah sebuah kenangan baru saja tiba, lembut dan sedikit menggelitik. “Aku jadi teringat saat kau masih kecil.” Dia memandangi roti di tangannya. “Kali ini kau tidak memasukkan pasir ke dalamnya, kan?”
Lucyna mengembuskan napas panjang dan perlahan, jenis embusan yang membawa keluar sesuatu yang sudah lama ditahan oleh tubuhnya. “Itu kan karena aku menjatuhkannya.” Setelah beberapa saat, Lucyna melanjutkan, “Rasanya enak ga?”
“Ya.” Althea menggigit rotinya sekali lagi. “Enak kok.”
Dia menghabiskan roti itu dan meminum susunya perlahan, tanpa tergesa-gesa, seolah ini hanyalah pagi biasa dan cangkir tersebut baru saja disodorkan kepadanya melintasi sebuah meja biasa.
Setelah beberapa saat, Lucyna berkata, “Katanya kau seorang iblis.” Itu bukan tuduhan. Itu adalah pertanyaan yang dibentuk menyerupai pernyataan, jenis pertanyaan yang lebih ingin mengetahui bagaimana mereka bisa sampai di titik ini daripada mencari jawaban atas sesuatu yang lain.
Althea menurunkan cangkirnya. Dia mempertimbangkan perkataan itu dengan ketenangan yang sama seperti ketika tadi memandangi rotinya. “Memang,” jawabnya.
“Tidak, kau bukan.” Lucyna menatapnya melalui jeruji. “Iblis tidak minum susu.”
Althea tertawa kecil, jenis tawa yang sedikit mengejutkan dirinya sendiri. “Lalu apa yang diminum iblis?”
“Darah, atau mungkin jiwa.” Lucyna menjaga suaranya tetap datar. “Kau tidak meminum keduanya.”
“Aku akan meminumnya,” kata Althea, “kalau kau tidak segera pulang.” Dia mengatakannya dengan ringan, tetapi yang dimaksudnya adalah agar Lucyna pulang. “Sebentar lagi pagi. Aku akan sangat kehausan, haus akan darah.”
Dia berhenti sejenak, memutar cangkir kosong di tangannya.
“Tapi sebelum kau pergi.” Althea mengangkat wajah. “Menurutmu, mana yang lebih berat, satu pon baja atau satu pon bulu?”
Lucyna mengerjap. “Apa?”
“Jawab aku.”
“Keduanya memiliki berat yang sama.”
Althea tersenyum. “Salah.” Dia terdiam sesaat. “Timbangannya lebih berat.”
“Itu tidak masuk akal.”
“Masuk akal kok,” kata Althea, “kalau kau mengembannya terlalu lama.”
Lucyna memandangnya sejenak. Sesuatu mengencang di wajahnya, ujung dari kedua matanya, perlahan dan hati-hati, seperti sesuatu yang menegang ketika seseorang telah lama bersabar dan sedang memutuskan apakah dia masih sanggup bersabar sedikit lebih lama.
“Kau selalu berbicara kepadaku seolah aku anak kecil.”
“Kau memang masih anak-anak, Lucy.” Senyum itu tak menghilang. “Sekarang pergilah.”
Lucyna berbalik. Dia menggenggam cangkir kosong itu dengan kedua tangan. Dia menyusuri koridor tanpa menoleh ke belakang, langkahnya tenang dan nyaris tanpa suara di atas batu. Setelah berjalan beberapa langkah, dia berkata, tidak keras dan seolah bukan benar-benar ditujukan kepada siapa pun, “Tidak, aku bukan anak kecil.”
Di belakangnya, suara Althea terdengar samar, begitu samar hingga jarak di antara mereka mungkin saja telah menciptakan suara itu sendiri. “Aku tahu.” Lucyna tidak yakin apakah dia benar-benar mendengarnya. Dia terus berjalan.
Lucyna muncul dari penjara bawah tanah dengan cangkir kosong itu masih di tangannya.
Udara di atas tanah terasa berbeda setelah dinginnya koridor di bawah sana, sedikit lebih hangat, tetapi entah bagaimana justru lebih sulit untuk dihirup. Dia berjalan dengan alur seperti biasanya, tanpa tergesa-gesa, langkahnya pelan di atas batu. Waktu yang dihabiskannya bersama Althea di bawah sana masih terasa belum selesai, seperti percakapan yang terasa menggantung meskipun semua hal telah diucapkan dan tak satu pun darinya merupakan hal yang tepat.
Gang-gang Sanctum masih nyaris kosong. Fajar belum tiba. Langit baru menyimpan bayangan pucatnya, jenis cahaya yang menjanjikan sesuatu tanpa benar-benar memberikannya. Dari suatu tempat di dekat pusat Citadel, kidung pagi telah dimulai, mengalun samar, halus, dan terlalu indah untuk pagi seperti ini. Lucyna melewati deretan jendela sempit dengan kaca yang masih gelap, sementara kabut tetap menggantung di antara pilar-pilar putih dan menara-menara yang menjulang di atasnya.
Dia masih menggenggam cangkir itu ketika langkahnya terhenti.
Di dekat altar luar, beberapa suster sedang membentangkan kain putih panjang di atas batu. Mereka bergerak hati-hati, membiarkan kain itu menangkap udara ketika direntangkan. Lilin-lilin Vein di sepanjang tepi altar telah dinyalakan. Cahaya biru pucatnya membuat seluruh halaman terasa lebih dingin daripada suhu sebenarnya.
Salah seorang suster mengangkat wajah. “Lucyna, kau biasanya tidak datang sepagi ini. Bukankah biasanya kau pergi ke Hospitium terlebih dahulu?”
Lucyna sedikit tersentak. Pikirannya rupanya belum benar-benar berjalan bersamanya. “Eh, iya, a-aku...” Dia mengangkat cangkir itu. Kata yang hendak diucapkannya tidak kunjung tiba. “Cangkir.” Dia mendengar sendiri betapa anehnya kata itu terdengar. “Maksudku—“
“Kau baik-baik saja?”
“Tidak.” Dia terdiam selama setengah detik. “Eh, maksudku, aku baik-baik saja, Suster. Terima kasih.”
Suster itu tersenyum dan tidak bertanya lebih jauh.
Lucyna kembali melangkah menuju pintu masuk Citadel. Sebelum masuk, dia melirik ke seberang halaman, ke arah panggung di kejauhan yang masih terlihat kosong, dengan kain putih di sekelilingnya bergerak samar tertiup udara pagi. Dia hanya memandangnya sesaat sebelum berbalik dan masuk.
Dia mendapati pintunya sedikit terbuka.
Melalui celah pintu, Vier terlihat berdiri di depan cermin, merapikan jatuhnya mantel dengan ketelitian seseorang yang telah belajar membiarkan tangannya melakukan sesuatu yang berguna ketika pikirannya menolak untuk bekerja sama. Jubah upacara putihnya terpasang rapi di kedua bahu, tepian bersulam emas menangkap cahaya lilin di dalam ruangan. Dari ambang pintu, dia tampak sepenuhnya tenang.
Vier menyadari gerakan di pintu. “Permisi?” Dia menoleh, lalu mengendur ketika melihat siapa yang datang. “Oh, Lucy. Aku tidak tahu itu kau.” Matanya beralih ke cangkir di tangan Lucyna. “Kau sudah selesai... sarapan?”
“Maaf, a-aku seharusnya mengetuk pintu.” Dia melangkah masuk. “Eh, tidurmu nyenyak?”
“Apa maksudmu? Tentu saja.” Dia tersenyum. “Kemarilah, Lucy.”
Lucyna menyeberangi ruangan dan meletakkan cangkir itu di meja kecil di samping cermin. Kemudian dia berbalik menghadap Vier dan meletakkan kedua tangan di bahunya, membenahi kerah jubahnya serta merapikan jahitan yang sebenarnya tidak terlalu perlu dirapikan.
“Kau tidak pergi ke Hospitium,” kata Vier.
“Kenapa kau bersikap seperti ini?” Lucyna tidak mengangkat wajah dari apa yang sedang dikerjakan tangannya.
“Seperti apa?”
Barulah dia mendongak dan menatap Vier secara langsung. “Aku tahu kau tidak tidur.”
“Aku sudah cukup tidur, Lucy. Jangan khawatir.” Senyumnya tidak menghilang.
“Kita berdua sebenarnya tidak perlu melihatnya,” katanya pelan.
Vier memandang cermin. Pantulan mereka saling balas menatap, keduanya berdiri berdekatan, dengan cahaya lilin mengisi ruang di antara bahu mereka. “Iman tidak bekerja seperti itu, Sayang.” Suaranya lembut, seperti biasanya ketika dia benar-benar bersungguh-sungguh.
“Kalau begitu...” Lucyna mempertahankan tatapannya. “Apa itu iman?”
Vier menjawab dengan senyuman alih-alih kata-kata. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh puncak kepala Lucyna, seperti yang dilakukannya ketika adiknya masih kecil, sebuah gestur lama yang telah bertahan melewati waktu. “Kau akan mengetahuinya,” katanya. “Suatu hari nanti.”
Lucyna tidak menjawab. Dia menyelesaikan urusan dengan kerah jubah Vier, lalu berbalik merapikan ruangan tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya, memindahkan beberapa benda di rak dan meluruskan sesuatu yang sebenarnya sudah lurus.
“Kau tidak harus datang,” kata Vier. “Kalau memang tidak mau.”
“Tidak.” Lucyna berjongkok untuk mengambil sesuatu dari lantai. “Aku akan ikut denganmu.” Dia berhenti sejenak. “Vier, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Tentu.”
“Menurutmu, mana yang lebih berat, satu pon baja atau satu pon bulu?” tanyanya.
Vier mengerjap. “Apa? Baja. Tentu saja.”
“Tapi berat keduanya sama.”
“Hanya ketika ditimbang,” katanya. “Di tangan, baja punya tujuan.”
Lucyna hanya menatapnya.
“Kenapa?” tanya Vier.
Lucyna tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa.”
Vier mengambil rapier dari meja dan menyarungkannya di pinggang. Dia berjalan menuju pintu, lalu berhenti di ambangnya. “Sebaiknya kau bersiap-siap. Aku akan menunggu di luar.” Dia melirik ke belakang sekali. “Oh, jangan lupa cangkirmu.”
Lucyna mengangguk sambil tersenyum.
Dia tetap berdiri sejenak setelah Vier pergi. Kemudian dia berjalan menuju meja, mengambil cangkir itu, menggenggamnya selama beberapa saat, lalu meletakkannya kembali. Dia membiarkannya di sana.
Diberkatilah Vein yang menerangi jalan kita.
Koridor di luar telah menjadi lebih terang. Lucyna berjalan menyusurinya, melewati pintu utama Citadel, lalu keluar menuju pagi. Sinar matahari menyentuh wajahnya untuk pertama kalinya hari itu, menghadirkan kehangatan yang nyata, kehangatan yang tidak menuntut apa pun dan datang tanpa perlu diminta.
Diberkatilah Vein yang memurnikan jiwa kita.
Vier menunggunya di kaki tangga. Di sekeliling mereka, Sanctum telah bersiap membentuk prosesi. Para suster berjalan berpasangan sambil membawa lilin doa, para kesatria bergerak dalam formasi teratur, sementara anak-anak digandeng oleh orang tua mereka. Kain putih terlihat di dekat panggung di depan, berkibar ditiup angin pagi. Lonceng-lonceng telah mulai berbunyi.
Mereka berjalan bersama menuju alun-alun eksekusi. Kerumunan bergerak dengan alur yang sama di sekeliling mereka, dan para kesatria yang berpapasan menundukkan kepala sedikit ketika Vier melintas. Dia tidak membalas pandangan mereka. Bukan karena meremehkan mereka, melainkan karena pikirannya berada di tempat lain, di suatu tempat yang tidak dibiarkannya terbaca dari wajahnya.
Lucyna meliriknya.
“Apa?” Vier menyadarinya.
Lucyna menggelengkan kepala dan terus berjalan.
Angin menggerakkan kain jubah mereka. Kidung menguat ketika mereka mendekati alun-alun, suara-suara bergabung dari berbagai arah dan berpadu menjadi satu. Panggung itu kini terlihat sepenuhnya, masih kosong, kain putih yang mengelilinginya tampak terang di bawah sinar matahari pagi. Kerumunan telah memenuhi semua sisi alun-alun, dan suara mereka mengalun rendah, suara khas orang-orang yang sedang menunggu sesuatu yang memang datang untuk mereka saksikan.
Lalu kuda-kuda itu tiba.
Suara rantai terdengar lebih dahulu, besi beradu dengan besi, ritmenya berpadu dengan derap tapak kuda. Para kesatria yang berbaris membuka jalan. Dari kereta, dua penjaga menurunkan Althea.
Althea berjalan dengan rantai di pergelangan tangannya, membawa dirinya dengan ketenangan yang sama seperti senyumnya di dalam sel. Tanpa dibuat-buat, sekadar hadir. Kedua tangannya yang berurat hitam tampak jelas di antara besi belenggu. Kerumunan menyaksikannya mendekat. Sebagian terlihat ketakutan. Sebagian lainnya menunjukkan sesuatu yang tidak memiliki nama yang lebih pantas. Althea dituntun menaiki tangga panggung. Kedua kesatria yang mengawalnya turun kembali, meninggalkannya sendirian di bawah cahaya pagi, dengan kain putih yang bergerak di sekelilingnya dan lilin-lilin di tepi altar yang menyala biru pucat.
Lucyna memandang Althea. Kemudian dia menoleh kepada Vier.
Vier membalas tatapannya. Tak satu pun dari mereka berbicara.
Imam Agung menaiki panggung.
Kidung terus mengalun di bawah suaranya ketika dia berbalik menghadap alun-alun. Nyala lilin tetap bertahan. Angin berembus lembut.
“Lihatlah, sebuah penyimpangan. Black Vein.” Suaranya menggema jelas melintasi keheningan. “Dia tak lagi tersentuh oleh Aurelion. Terlahir di luar kasih karunia-Nya.”
Lonceng terakhir berhenti berbunyi.
Kemudian hanya tersisa suara langkah kaki, berat dan terukur, disertai bunyi zirah yang telah lama digunakan dan bilah pedang yang telah lama dibawa. Para kesatria dalam barisan bergeser untuk membuka jalan. Kerumunan terdiam.
“Algojo Agung.” Imam Agung menyambut kedatangannya.
Zenon menaiki tangga panggung.
Tubuhnya begitu besar hingga panggung itu seolah menyusut karena kehadirannya. Zirah penuh bekas luka dan pedang eksekusi raksasa yang dibawanya terasa seperti sesuatu yang berasal dari skala peristiwa berbeda. Dia berhenti di hadapan Althea dan menatapnya. Seluruh alun-alun terdiam sepenuhnya. Lucyna mengamati keduanya, sang algojo dan wanita yang dijatuhi hukuman mati. Untuk sesaat, satu-satunya hal yang bergerak di seluruh alun-alun eksekusi hanyalah kain putih dan asap lilin doa yang naik lurus ke udara.
“Laksanakan kehendak-Nya.” Suara Imam Agung memotong keheningan.
Algojo itu tidak bergerak. Dia berdiri dengan mata tertuju pada wajah Althea, kemudian perlahan, dengan tatapan yang menyerupai sebuah keputusan yang dibuat di hadapan semua orang yang menyaksikannya, dia menurunkan pedangnya. Imam Agung segera menyadarinya.
“Algojo.” Peringatan itu menggema melintasi panggung.
Kemudian Zenon melepaskan pedangnya. Bilah raksasa itu menghantam batu dengan bunyi dentang logam yang berat, seolah suara itu menembus lebih dalam daripada sekadar keheningan alun-alun.
Dia mundur selangkah.
Lalu berbalik dan meninggalkan panggung tanpa sepatah kata pun, tanpa memandang Imam Agung, tanpa memandang siapa pun. Setelah itu, keheningan pun pecah.
“SESAT!
“BIDAH!”
“HENTIKAN DIA!”
Lucyna menyaksikan pria itu membelakangi panggung dan berjalan pergi, sementara suara-suara di belakangnya melebur menjadi kebisingan yang tak lagi dipedulikannya.
Imam Agung mengangkat tangan.
“Biarkan dia pergi.”
Keheningan yang menyusul tidak tahu harus berbuat apa terhadap dirinya sendiri. Lucyna tanpa sadar menoleh kepada Vier, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak mampu membaca ekspresi kakaknya. Wajah Vier tidak tertutup seperti ketika dia sedang berusaha mengendalikan sesuatu. Wajah itu hanya berada di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau Lucyna.
Vier bergerak. Satu langkah, lalu dua, kemudian tiga.
Lucyna meraih lengannya, tetapi tangannya hanya menangkap udara kosong. Kata yang dibutuhkannya tidak kunjung datang. Dia berdiri, menyaksikan Vier berjalan, sementara para kesatria membuka jalan tanpa perlu diminta. Dari atas panggung, Althea memperhatikan kedatangannya dengan ketenangan yang sama seperti ketika dia menyaksikan segala sesuatu pagi itu. Senyumnya masih tertinggal di sudut ekspresinya.
Lucyna tidak mampu bergerak.
Imam Agung tidak mengatakan apa-apa.
Vier menaiki panggung dan berhenti di hadapan Althea. Seluruh alun-alun menahan napas.
Mereka saling memandang.
“Kau seharusnya tidur, Sayangku,” kata Althea.
Rahang Vier mengencang. Tangannya bergetar sekali sebelum dia perlahan mulai melepaskan sarung tangan putih yang dikenakannya.
Dia melangkah mendekat. Mengangkat satu tangan dengan gerakan lambat, hampir ragu-ragu, sama sekali tidak menyerupai cara dia biasanya bergerak. Tangannya terulur ke arah kepala Althea, tetapi jari-jarinya berhenti tepat sebelum menyentuhnya. Tangannya bergeser, bergerak ke samping wajah wanita itu, dan bertahan di sana selama sesaat tanpa benar-benar menyentuh kulitnya.
Kemudian dia menarik tangannya kembali.
Jentikan jarinya nyaris tidak terdengar.
Api yang muncul darinya juga tidak mengeluarkan suara keras. Warnanya merah pucat, hampir putih di bagian tengah, begitu presisi seperti biasanya, hanya menyentuh apa yang memang diarahkan untuk disentuhnya. Api itu menyambar pipi Althea dan menjalar ke luar, stabil dan terukur. Vier sudah berbalik sebelum kobaran itu selesai melahapnya.
Dia menuruni tangga panggung tanpa menoleh ke belakang.
“Tidak...” Kata itu keluar dari tenggorokan Lucyna, kecil dan patah. “Tidak.” Seluruh tubuhnya mulai gemetar. Tatapannya masih terpaku pada panggung. “Tidak.” Nama itu mulai terucap, tetapi tidak pernah selesai. “Alt... Vie...”
Vier tidak menoleh.
Sarung tangan putih yang dilepaskannya tergeletak di atas batu panggung, tertinggal di belakangnya. Tanpa menyadari bahwa dia telah memilih untuk membakar kekasihnya sendiri, Vier telah lebih dahulu membakar dirinya sendiri.
Untuk sesaat, alun-alun itu terhening. Bahkan kobaran api seolah mereda, menyisakan gemerisik bara yang mulai padam di tengah udara pagi. Lucyna tidak mampu mengalihkan pandangan dari panggung. Di suatu tempat di sampingnya, seseorang mulai berdoa dengan suara rendah, hingga lantunan Imam Agung yang sudah dikenalnya terangkat di atas keheningan, memberikan kerumunan sesuatu untuk diikuti.
”Biarlah mereka yang tidak murni dikembalikan ke dalam api,
dan biarlah api mengembalikannya ke dalam kasih karunia-Nya.”
Doa itu berasal dari Imam Agung, tetapi kata-katanya terdengar kabur bagi Lucyna. Dia hanya menatap abu di atas panggung yang perlahan terurai dan terbawa angin.
Kerumunan mulai bergerak. Anak-anak dituntun pulang oleh orang tua mereka, para kesatria kembali ke pos masing-masing, dan para suster berjalan mendekati lilin-lilin untuk memadamkan nyalanya. Tak lama kemudian, alun-alun itu hanya menyisakan kain putih yang masih terbentang dan lilin-lilin dengan api biru yang perlahan mulai menghilang.
Semua orang bergerak, kecuali dirinya. Lucyna tetap berlutut. Satu-satunya bagian tubuhnya yang masih bergerak hanyalah rambut cerahnya, yang bergoyang pelan ditiup angin. Tubuhnya membeku, seolah dia telah lupa bagaimana caranya bergerak.
Kemudian Imam Agung menghampirinya. Dia berhenti di hadapannya, membungkuk, lalu meletakkan tangan di bahu Lucyna.
“Bangunlah... Anakku.” Suaranya lembut. “Dia tidak lagi menderita.”
Lucyna tetap terbeku selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. Tidak ada tekanan dalam ekspresi Imam Agung, tidak ada kebencian. Hanya senyum lega yang sederhana.
“Akhirnya dia tersenyum,” katanya, meskipun perkataan itu tidak ditujukan kepada Lucyna.
Barulah Lucyna berbicara. “Dia selalu tersenyum, Bapak,” gumamnya.
Imam Agung menjawab, “Itulah yang membuatnya menjadi orang baik. Semoga jiwanya beristirahat dalam kedamaian abadi di hadapan-Nya.” Kemudian dia mengulurkan sepasang sarung tangan putih. “Ini... dia meninggalkan benda ini.”
Lucyna menerimanya tanpa berkata-kata.
“Pulanglah, Anakku,” kata Imam Agung sebelum berbalik.
Dia berjalan menjauh, sementara Lucyna masih tetap berada di sana. Sisa-sisa abu yang terakhir melayang pergi sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya. Kini, hanya sarung tangan putih yang tersisa di tangannya. Dia menggenggamnya erat selama beberapa saat.
Matahari terus naik, sementara angin perlahan mereda.
Namun, dia tetap berlutut.
Di kejauhan, salah seorang suster yang sedang menyapu halaman berhenti dan memandang ke arahnya.
“Kenapa Lucyna masih di sana?”
Lucyna terus menatap panggung, menggenggam sarung tangan putih milik kakaknya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak tahu doa apa yang seharusnya dibisikkan. Dia tidak tahu persis apa yang harus dimintanya.
Suatu hari nanti.
Kata-kata kakaknya terus bergema di dalam pikirannya.
Apakah hari itu adalah hari ini?
Pertanyaan itu menetap di dalam dirinya.
Kemudian terdengar benturan dahsyat dari suatu tempat yang jauh.
GRUAGHHH!
Lucyna menoleh.
Angin mendadak bertiup kencang. Salah satu kuda meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya dengan begitu tiba-tiba hingga suaranya membelah alun-alun. Seorang kesatria meneriakkan sesuatu yang tak mampu ditangkap Lucyna. Kemudian suara lain menyusul. Semakin banyak orang mulai bergerak tergesa-gesa. Sesuatu telah terjadi.
Tangannya mengerat pada sarung tangan yang digenggamnya, lalu dia mendorong tubuhnya untuk berdiri. Kali ini, suara dunia di sekelilingnya terdengar lebih keras daripada pikirannya sendiri. Dia melangkah perlahan ke arah sumber suara. Kemudian dia melihat kesatria pertama yang terluka sedang dibawa melintasi halaman berbatu putih. Seorang lainnya menyusul.
Darah menodai perban yang melilit bahunya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya, meskipun tak seorang pun menjawab. Semua orang bergerak dengan tergesa-gesa.
Lucyna mempercepat langkah.
Jalanan yang sempat kosong setelah eksekusi kini kembali dipenuhi pergerakan. Para kesatria bergegas melewatinya. Para suster yang membawa kain dan obat-obatan melintasi gang di depan. Sesuatu telah terjadi di balik kawasan dalam.
Semakin dekat dia melangkah, semakin jelas terlihat jendela-jendela yang pecah, dinding-dinding retak, serta gerobak-gerobak yang roboh. Lebih banyak kesatria terluka tampak di depan, beberapa digotong, sementara yang lain bertumpu berat pada rekan mereka ketika berusaha melewati jalan yang rusak.
Lucyna memperlambat langkahnya.
Dia mengenali jalan ini.
Rumah di ujung jalan itu dahulu merupakan milik Zenon. Namun, saat itu, dia bahkan tidak tahu apakah bangunan tersebut masih layak disebut rumah. Asap masih mengepul dari kerangka bangunannya yang hancur. Bangunan di depan telah menjadi reruntuhan, dan para kesatria Sanctum bergerak di antara puing-puing, mencari siapa pun yang mungkin masih selamat.
Lalu dia melihatnya.
Jauh di kejauhan, sosok bertubuh besar berjalan menjauh. Tak seorang pun berani menghentikannya lagi. Namun, ada sosok lain yang mengikuti di belakangnya, sekadar... mengikuti. Dalam sekejap mata, keduanya telah menghilang.
Lucyna masih memandangi jalanan kosong itu selama beberapa saat, sampai erangan seseorang di dekatnya menarik kembali perhatiannya.
Seorang kesatria muda duduk bersandar pada dinding yang retak, satu tangannya menekan sisi tubuh sementara darah merembes di sela-sela jarinya. Kesatria lain sedang dibaringkan di atas sisa-sisa gerobak yang hancur, sementara dua suster berjuang menghentikan pendarahan di kakinya. Terlalu banyak orang yang terluka dan terlalu sedikit tangan yang bisa membantu mereka.
Dua suster lainnya sedang merawat seorang kesatria beberapa langkah dari sana, begitu kewalahan hingga tak sempat menyadari semua yang terjadi di sekeliling mereka.
Sebelum sempat menyadarinya sendiri, Lucyna sudah bergerak. Dia menyelipkan sarung tangan putih itu dengan hati-hati di bawah lengannya, lalu berlutut di samping kesatria muda yang bersandar pada dinding.
Sebuah gumaman lolos dari bibir kesatria itu, tetapi Lucyna tidak bisa memahami apa yang berusaha dikatakannya.
“Hei, tenanglah... biar kulihat.”
Tangannya bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul. Dia menekan kain terlipat pada luka di dada kesatria itu, memberikan tekanan lembut dengan kedua tangan sementara darah merembes menembus kain. Vein putih keemasan di bawah kulitnya mulai bercahaya lembut. Cahaya merekah dari telapak tangannya dan menyebar melalui kain yang berlumuran darah, membawa kehangatan tenang yang meredakan gemetar di tubuh kesatria muda itu.
Pendarahannya melambat, tetapi belum berhenti.
Kesatria muda itu terbatuk, darah mengalir dari sudut mulutnya. Pada saat yang sama, rasa sakit tajam merekah di bawah tulang rusuk Lucyna. Dia menarik napas perlahan, lalu ikut terbatuk. Garis tipis dari merah darah menodai bibirnya. Dia menghapusnya dengan punggung tangan, kemudian menekan kain itu lebih kuat.
Rasa sakit di bagian belakang kepalanya mulai meningkat, awalnya kecil, kemudian semakin tajam, seperti denyut yang perlahan berubah menjadi bilah pisau. Lucyna tetap memusatkan perhatian pada kesatria yang bersandar di dinding. Namun, rasa sakit di balik tengkoraknya semakin parah setiap kali dia mendorong lebih banyak cahaya keluar dari tubuhnya. Pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekelilingnya terdengar semakin jauh. Kesatria itu mencoba berbicara, tetapi kata-katanya tak lagi terdengar jelas. Darah kembali merembes dari bibir Lucyna tanpa disadarinya.
Salah seorang suster yang sedang membantu korban lain akhirnya menoleh. Ekspresinya berubah ketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Lucyna dan kesatria muda itu.
Dia berlari menghampiri mereka.
“Lucyna?!”
Lucyna menekan satu tangan ke belakang kepalanya. Tidak ada darah yang menempel pada jari-jarinya, tetapi rasa sakit itu tetap tak tertahankan. Kemudian dia kembali memandang wajah kesatria muda tersebut dan menyadari sesuatu.
Helmnya.
Dia belum memeriksa helm itu.
Lucyna tidak sanggup melakukannya. Kedua tangannya gemetar.
Suster lain berlutut di sampingnya. Tanpa perlu menunggu isyarat dari Lucyna, dia juga memahami apa yang harus dilakukan dan membantu melepaskan helm kesatria muda itu.
Ketika helm tersebut terangkat, bagian belakang kepalanya telah remuk ke dalam. Sisa-sisa yang ada di dalam kepalanyanya telah tertekan hingga menyentuh bagian dalam helm.
Suster itu menatap Lucyna tepat di matanya.
“Lucyna...” katanya, “...berhenti...”
Lucyna masih berusaha menggunakan Vein-nya sekali lagi. Keinginan untuk menyelamatkan orang itu tetap ada. Keinginan itu selalu ada. Namun, Vein di dalam tubuhnya tidak lagi menjawab, atau mungkin justru menjawab terlalu kuat. Rasa sakit di belakang kepalanya akhirnya meledak. Pandangannya samar perlahan menjadi gelap.
Kemudian dia terjatuh, masih menggenggam sarung tangan putih milik kakaknya di bawah lengannya.
Di balik pandangannya yang perlahan memudar, hanya ada kegelapan dan suara-suara jauh yang tak lagi mampu dipahaminya. Segalanya mengabur dan menjauh sampai suara-suara itu pun akhirnya lenyap ke dalam kesunyian.
Waktu berlalu di balik angin.
Kemudian seseorang mengangkatnya dengan lembut.
Membawanya pergi.
Kain putih menyentuh kulitnya, terasa akrab bahkan di tengah kesadarannya yang samar. Di balik rasa sakit, dia menangkap aroma kayu cedar dan dupa yang mulai memudar, disertai jejak samar bunga lili putih.
Aroma aula doa tua.
Aroma rumah.
Aroma yang dikenalnya sejak masih kecil.
Denyut jantung yang stabil terdengar lembut di dekat telinganya, disertai kehangatan tenang dari lengan yang mendekapnya.
Untuk sesaat yang singkat, rasa sakit itu terasa lebih jauh.
Aman.
Dia ingin membuka mata, memastikan orang itu masih berada di sana, mengatakan sesuatu. Apa saja. Namun, tubuhnya terasa berat, dan kata-kata itu tak pernah keluar. Di suatu tempat di balik kegelapan pandangannya, dia merasakan tangan-tangan yang berhati-hati membenahi sarung tangan putih di bawah lengannya, memastikan dia tidak melepaskannya.
Kemudian terdengar derit pintu kayu yang sudah dikenalnya. Udara hangat menyentuh wajahnya. Aroma kayu cedar semakin kuat.
Kelopak matanya terbuka sedikit, cukup untuk membiarkan dunia masuk. Cahaya sore menumpahkan sinarnya melalui jendela, sementara langit-langit kamar di atasnya adalah tempat yang dikenalnya.
Sebuah tangan lembut masih menopang kepalanya, kemudian perlahan menurunkannya ke atas ranjang. Kepalanya menyentuh bantal, lalu selimut dibentangkan di atas tubuhnya untuk menghangatkannya. Sarung tangan yang tadi tersangkut di lekukan lengannya dipindahkan ke atas dadanya. Kehangatan lengan yang telah membawanya pergi perlahan digantikan oleh kehangatan tempat tidurnya.
Aroma kayu cedar masih tertinggal, tetapi perlahan mulai menjauh.
Dia mencoba membuka mata sekali lagi. Kali ini, dia melihat seseorang sedang meninggalkan ruangan melalui pintu.
Sosok itu berdiri dengan satu tangan di sisi tubuh dan tangan lainnya bertumpu pada kusen pintu. Sebilah rapier tipis menangkap cahaya senja di sampingnya, sementara ujung jubah putihnya bergerak lembut diterpa udara dari koridor.
“V—“
Bibirnya bergerak, tetapi suara yang keluar terputus sebelum matanya kembali terpejam, tepat ketika pintu perlahan ditarik hingga tertutup.
Sarung tangan itu terbaring di atas dadanya.
Di meja di sampingnya, cangkir kosong itu masih berada di tempat yang tadi ditinggalkannya.
Hanya sarung tangan, cangkir, dan keheningan yang tersisa di dalam ruangan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!