Bab 4

1 dibaca

A

“Segera alihkan pengiriman produk kita dari Rotterdam ke Hamburg.” Vero menatap lekat Direktur Pemasaran Internasional Bhumi Organics dengan tatapan menusuk. “Saya tidak mau distribusi produk jadi terhambat dan membuat keuntungan kita turun.”

Aris, sang Direktur Pemasaran Internasional, mengangguk. Kening dan pelipisnya dipenuhi keringat sebesar biji jagung setelah mendapat teguran dari Vero. “Baik, Pak.”

Ucapan sang CEO belum berakhir. Meski nadanya tidak tinggi, tapi Vero bicara penuh penekanan. “Saya juga tidak mau mendengar solusi potongan harga mengikuti kompetitor. Produk kita berkualitas tinggi dan kita harus menjaga ekslusivitas itu dengan harga yang layak.”

“Baik.” Aris mengangguk lagi.

Kali ini, atensi Vero tertuju pada seorang wanita pertengahan tiga puluhan yang tersenyum kikuk ke arahnya. “Saya tidak mau mendengar kabar buruk, Bu Rania.”

Rania, Direktur Operasional & Hubungan Klien menelan ludah. Tatapannya tidak berani menatap langsung ke mata sang atasan. “Ada kabar baik, Pak.”

Senyum tipis yang bahkan tak tampak oleh mata orang lain merekah di bibir Vero. “Kabar apa itu?”

“Tiga jaringan supermarket retail terbesar di Asia Tenggara mengirimkan penawaran. Mereka minta kita memasok sayuran dan buah-buahan organik dengan volume besar. Mereka ingin 80 persen dari total kapasitas produksi greenhouse kita,” jelas Rania.

Jari-jari Vero kembali mengetuk meja. “Memasok sebesar itu untuk tiga klien, sangat beresiko. Meskipun mereka menawarkan kontrak panjang dan memberi kompensasi jika ada pembatalan mendadak, tetap saja akan ada celah hukumnya. Buat mereka setuju kita memasok 50 persen saja. Kalau mereka menolak, suruh mereka cari pemasok yang produknya penuh pestisida.”

Rania menulis catatan dengan gerakan tangan sangat cepat. “Baik, akan saya bicarakan pada mereka.”

Vero menghela napas. Lebih dari satu jam rapat dan mendengar beberapa hal buruk membuatnya sedikit sesak. Lelaki itu melonggarkan dasinya dan berdiri dari singgasana. “Sekian rapat kali ini.”

Rapat itu ditutup dengan langkah lebar Vero menuju pintu. Sementara jajaran direksi tiap departemen berdiri. Di belakang Vero, seorang lelaki muda mengikuti dengan setengah berlari. Di tangannya ada tablet dan mata berbingkai kacamata itu menatap layar.

“Setelah ini, bapak tidak ada agenda rapat. Jadi, bapak bisa melanjutkan peninjauan proposal juga tanda tangan laporan di ruangan. Selagi bekerja di dalam kantor, apa bapak mau saya pesankan sesuatu untuk makan siang?” Lelaki muda itu menekan tombol lift untuk atasannya.

“Minta Mbok Darmi kirimkan jus hijau dan roti lapis tomat.” Vero sedang tidak ingin makan berat.

Suasana lift mendadak sunyi saat benda itu membawa Vero dan sekretarisnya ke lantai teratas gedung. Lelaki itu menatap pintu lift yang tertutup dan mengingat kejadian beberapa hari lalu. Sosok itu, Lena, berdiri terpaku setelah ia mengucapkan satu kata provokatif sambil menyeringai.

“Rafa,” panggil Vero, memecah sunyi.

Rafa, sekretarisnya, menoleh dengan kening mengernyit. “Iya pak?”

“Carikan informasi kontak QCM Adhisti Textila,” pintanya.

Sudah empat hari berlalu sejak hari itu, tapi Vero belum menghubungi Lena. Mereka sama sekali tidak punya kontak masing-masing. Padahal mudah saja untuk mencari tahu. Tapi, tampaknya perempuan bagai elang pemangsa itu menunggu sang lelaki yang bergerak lebih dulu untuk menghubungi.

Pintu lift terbuka. Rafa membiarkan atasannya keluar terlebih dahulu. Ia pun mengekor sambil menyapa skretaris lain yang duduk di mejanya.

“Pak,” panggil Dista, sekretaris Vero yang lain. “Ada tamu.”

“Siapa?” Tanya Vero. Alisnya bertaut karena heran. Hari ini tidak ada janji dengan siapapun. Jika itu paman atau bibinya, pasti Dista sudah langsung menyebut nama mereka.

“Perempuan. Katanya calon istri bapak,” jawab Dista agak ragu. Wajahnya sedikit menunduk, takut mendapat amukan bosnya.

“Di mana dia?” Lelaki itu bertanya lagi.

“Di ruang tamu,” jawab Dista.

Vero mengubah arah langkahnya. Lelaki itu sempat memberi isyarat pada Rafa agar tidak mengikuti. Hal ini membuat dua sekretarisnya saling pandang. Mereka melempar tatapan tanya satu sama lain.

“Pak Vero punya pacar?” Bisik Dista.

“Nggak tau, aku juga heran kok ada yang ngaku-ngaku jadi calon istri?” Rafa membalas. Lelaki itu menatap punggung bosnya yang sedang membuka pintu ruangan khusus menerima tamu.

“Kamu kan sekretaris pribadi, harusnya tau.” Dista malah protes.

“Ya nggak sampai hal sepribadi itu aku harus tau, Dis.” Rafa mendengkus kesal.


Lena bersedekap sambil memandang ke arah luar jendela ruangannya. Di sana, di tempat para pekerja menjahit, sosok Kamala berjalan sambil membagikan es kopi. Senyumnya merekah lebar dengan suara yang dibuat-buat lembut. Aktingnya luar biasa, seolah sedang sangat memperhatikan para buruh,

“Semangat ya, kalian!” Seru Kamala.

Sebagian pekerja bersorak senang. Sebagian lagi menanggapi biasa saja. Para pekerja baru biasanya terperdaya oleh kebaikan palsu itu. Sementara yang sudah lama bekerja mengetahui apa yang ada di balik topeng senyuman Kamala.

Mengambil kesempatan, Lena membuka pintu ruangan. Ketukan stiletto warna hitamnya menggema. “Jangan sampai noda kopi mengotori area kerja. Mbak Marni, kumpulkan semua minuman itu dan simpan di ruang makan!”

Di ujung ruangan, tepatnya di depan tangga, Kamala yang hendak naik ke lantai atas menghentikan langkah. Ia memandang Lena dengan tatapan tidak suka. Rahangnya mengetat akibat menahan emosi yang tidak boleh diledakkan sekarang. Kamala harus menjaga reputasinya sebagai orang baik.

Alih-alih marah, perempuan itu mengukir senyum. “Iya, bisa diminum nanti,” ujarnya.

Sebelah alis Lena terangkat. Kakinya melangkah maju, mendekat ke arah adik se-ayahnya. “Seharusnya kamu tau soal aturan minuman dan makanan di area kerja.”

“Jangan terlalu kaku begitu, Kak,” tanggap Kamala. Ia menatap resah ke arah para pekerja yang bekerja sambil mencuri pandang ke arah dua saudari.

“Untuk urusan kualitas pasti harus kaku. Produk kita untuk merek ternama dan sebagai internal ambassador sekaligus pemimpin marketing perusahaan kamu harus tau soal itu.” Kini, Lena semakin dekat.

Kakinya berhenti melangkah tepat di depan sosok Kamala. Kepalanya sedikit menunduk, sebab sang adik memang lebih pendek. Tinggi sepatu mereka pun tidak sepadan. Tubuh Lena condong lebih dekat sebelum berbisik. “Selamat karena sekarang kamu bisa memiliki si brengsek Kavi seutuhnya.”

Bisikan itu membuat mata Kamala terbelalak. Ia memandang ngeri ke arah sang kakak yang menyeringai. Ekspresi Lena begitu menyeramkan, penuh dengan aura kelam dan jahat. Apalagi, saat perempuan itu mengangkat sebelah alisnya, sempurna sudah sosok antagonis dalam diri Lena.

“Mbak Marni! Ke ruangan saya sebentar.” Lena balik badan. Ia berjalan dengan kepala tegak, meninggalkan Kamala yang kini tangannya sedikit bergetar.

Di belakang Lena, sosok wanita berperawakan kecil berusia pertengahan tiga puluhan mengikuti. Mereka masuk ke dalam ruangan penuh sampel kain dan coretan desain bersama-sama.

“Ada apa, Bu?” Tanya Marni, mandor para pekerja.

Lena tidak langsung menjawab. Perempuan itu mengambil selembar kertas sketsa dan menyerahkannya pada Marni. “Saya mau buat ini.”

“Gaun sama satu setel jas?” Dua alis Mbak Marni bertaut. Ia menatap desain yang digambar Lena dengan seksama. Tiba-tiba matanya membulat. “Ini baju pengantin?”

“Betul. Ini proyek sampingan untuk Mbak Marni. Kerjakan setelah pulang kerja. Saya bayar mahal untuk ini.” Lena tersenyum kecil. “Tolong ukur saya sekarang.”

“Sebentar, ini gaunnya untuk—”

“Iya, untuk saya dan calon suami saya.” Lena mengangguk seraya merentangkan tangannya. “Ayo ukur sekarang.”

Wanita yang sudah belasan tahun bekerja di Adhisti Textila itu mendekat. Ia meraih meteran yang menggantung di leher. Sebelah tangannya mengambil pensil dan secarik kertas di atas meja kerja Lena.

“Bu Lena mau nikah sama Pak Kavi yang kayak mokondo itu?” Tanya Mbak Marni ceplas-ceplos.

Bukannya menjawab, Lena malah terbahak. “Nggak mau.”

“Tapi kan itu pacar Bu Lena. Saya heran, kenapa cewek cakep kayak Bu Lena ini bisa kecantol sama laki modelan begitu?” Gaya bicara Mbak Marni kini lebih seperti menggerutu. “Mbok yo cari yang sepadan.”

“Tenang, bukan si brengsek itu. Lagian, saya pacaran sama orang itu cuma buat main-main. Seru aja liat dia bulol. Sekarang, dia nggak asik lagi. Aku nemu seseorang yang lebih bermanfaat.” Lena tersenyum misterius.

“Nikah itu bukan main-main. Ini urusannya nggak sekadar perasaan loh, tapi juga janji yang diikat atas nama Tuhan.” Mbak Marni mengingatkan.

Lena menghela napas. “Memang, tapi menikah sama orang ini salah satu hal yang bisa menguntungkan untuk saya.”

Pikir Lena, pengaruh Vero bisa membalikkan keadaan di Adhisti Textila. Jadi, tidak ada salahnya menjalin ikatan itu. Bonusnya, si Vero ini tampan dan hot. Tidak akan memalukan kalau dibawa pergi ke acara fashion show atau kondangan. Urusan masa depan yang lebih jauh bisa dipikirkan nanti.

“Sing penting nggak sama cowok mokondo.” Mbak Marni mengakhiri sesi mengukur.

“Ini jauh dari kata mokondo, Mbak.” Lena tersenyum lebar. “Sekarang, saya pergi ngukur untuk baju calon suami. Titip pabrik dan semprot aja si anak mami kalau berulah.”

Lena membuka laci mejanya dan mengambil pita pengukur dari sana. Setelah memasukkannya ke dalam tas tangan warna hitam, ia langsung pergi. Suara ketukan sepatunya menggema lagi, membuat beberapa pekerja melirik padanya.

“Tumben pergi siang-siang gini?” Gumam salah seorang pekerja.

“Sebentar lagi istirahat makan siang kok. Bu Lena bukan pemalas kayak—” Mbak Marni melirik ke arah pintu salah satu ruangan di lantai atas.

Sementara itu, Lena meninggalkan pabrik. Ia membawa mobilnya mengarungi jalanan yang tidak seberapa padat. Matanya sesekali melirik ke arah GPS untuk memastikan dirinya berada di rute yang benar. “Hmm… agak minggir kota banget ini kantor,” gerutu Lena.

Namun, ia bisa apa. Dirinya yang berkepentingan sekarang. Vero sendiri yang bilang menyerahkan segala urusan tentang pernikahan padanya. Jadi, perempuan itu memulai dengan merancang dan membuat pakaian terlebih dahulu. Setelah itu, ia mungkin akan menemui WO guna merencanakan seperti apa perayaan pernikahannya.

Dengan kepala penuh rencana dan laju kendaraan cukup kencang, tidak terasa Lena tiba di kantor Bhumi Organics. Gedung lima belas lantai itu terlihat seperti greenhouse raksasa. Halamannya dipenuhi tanaman bunga warna-warni. Orang-orang yang sepertinya bekerja di sana, tampak santai duduk di rerumputan sambil menatap layar laptop.

Parkirannya luas, bukan di basement, tapi di gedung tersendiri yang terhubung dengan gedung utama kantor.

Seperti biasa, kehadiran Lena di tempat baru selalu menjadi pusat perhatian. Suara ketukan sepatunya menjadi salah satu faktor. Namun, penampilan perempuan itu yang memukau adalah faktor utamanya.

Hari ini, Lena memakai setelah seperti sleevless blazer set warna krem. Sebagian bahunya terekspos dengan potongan leher agak rendah. Bawahannya berupa celana kulot panjang. Penampilan itu disempurnakan dengan stiletto hitam dan tas tangan hitam. Selain itu, rambut panjangnya ditata sedikit bergelombang dan dibiarkan tergerai. Ketika Lena berjalan, rambutnya bergoyang bagai model shampo.

“Hai, saya datang untuk bertemu Pak Vero.” Lena tersenyum kecil saat mendatangi meja informasi.

“Apa sudah ada janji sebelumnya, Ibu?” Wanita muda yang berdiri di balik konter menyambut ramah.

Lena menyibak rambutnya. “Belum. Tapi, ini penting karena saya harus bicara langsung tentang rencana pernikahan kami.”

Mata wanita di depan Lena mengerjap. “Oh, calon istri Pak Vero?”

Lena tersenyum lagi. Kali ini, senyum yang jauh dari ramah. Ketakutan menyerang wanita itu dan dengan tangan sedikit bergetar memberikan kartu tamu untuk mengakses lift. “Silahkan ke lantai lima belas. Nanti di sana ada sekretaris Pak Vero.”

“Terima kasih.” Lena mengambil kartu itu dan berjalan mantap serta angkuh seperti biasa.

Di tempatnya berdiri, wanita muda tadi langsung mengetik berita besar di grup obrolan karyawan. “Hot news! Calon istri Pak Vero datang! Cantik banget bikin gemetar!”

Sementara itu, sesuai arahan, Lena menekan tombol lima belas pada lift. Beberapa kali benda itu berhenti dan orang-orang masuk. Mata mereka menunduk, menatap layar. Tidak lama kemudian, orang-orang di lift mencuri pandang ke arahnya.

Meski tidak nyaman, Lena tetap mengabaikan. Untungnya, di lantai sepuluh ke atas tidak ada yang menaiki lift. Ia pun melangkah keluar di lantai lima belas. Di dekat lift, seorang wanita muda tersenyum ramah ke arahnya.

“Saya Dista, sekretaris Pak Vero. Saat ini Pak Vero masih rapat. Ibu bisa menunggu di ruang tamu.” Dista mengantar Lena ke ruang tamu. Gadis itu bahkan membukakan pintu dan menarikkan kursi untunya. “Mau minum ap—”

“Kopi please. Tolong kopinya jangan pakai gula dan creamer,” potong Lena.

“Baik, mohon tunggu sebentar.” Dista pamit keluar. Namun, tidak lama ia kembali membawa pesanan Lena sebelum pergi lagi.

Di dalam ruangan itu, Lena tidak duduk. Ia berkeliling dan berhenti di depan jendela. Matanya menangkap pemandangan kota di kejauhan sana. Atensi perempuan itu baru teralihkan manakala pintu kembali terbuka. Namun, kali ini, sosok Vero berdiri sambil memasukkan tangan ke kantong celananya.

“Ada apa ke sini?” Cara bertanya lelaki itu sama sekali tidak ramah.

Lena merotasikan mata. Ia menghela napas dan berjalan cepat ke arah Vero. Perempuan tersebut menarik kerah sang lelaki, mengikis jarak di antara mereka. Aksi itu membuat mata Vero terbelalak, tidak pernah mengantisipasi bahwa Lena bukan hanya elang pemangsa, tapi juga kucing liar yang tidak bisa diprediksi langkahnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk