“Silahkan dinikmati. Secara khusus saya pesankan makanan pembuka ini karena bahan-bahannya dari perkebunan kami.” Senyum tipis membingkai wajah Vero. Lelaki itu menyuap makanan yang baru disajikan terlebih dahulu.
Di seberangnya, Lena—duduk menggantikan posisi Kamala—hanya bisa menatap tidak percaya. Bisa-bisanya Vero memesankan menu yang hanya sesuai dengan seleranya. Dari sekian banyak pilihan menu makanan pembuka di restoran itu, salad tomat menjadi pilihan. Ini gila, apalagi perempuan itu sangat tidak suka tomat.
Wajah Tuan Respati juga pias. Seperti sang putri sulung, tomat bukanlah sayuran favorit. Sebenarnya, keluarganya lebih suka langsung makan makanan utama. Jika harus menyantap makanan pembuka, sup krim akan menjadi pilihan. Meski Lena tidak pernah cocok dengan ‘keluarga’nya, satu hal kesamaan adalah selera makan mereka.
Melirik ke arah paman dan bibi Vero, mereka tampak makan salad dengan ekspresi santai. Tampaknya, mereka sudah biasa dengan hidangan tomat seperti ini.
“Lena, warna salad ini cocok dengan bibir, tas, dan sepatu kamu,” lanjut Vero setelah menelan makanannya. Sebelah alisnya terangkat dan tatapannya pada Lena menyimpan misteri.
Tidak seperti ayah beserta keluarga haramnya yang lantas terpaksa menelan makanan itu, Lena bergeming. Garpunya masih berada di tempat semula. Wajahnya mengarah pada sosok Vero yang tidak juga melepaskan pandangan terhadap perempuan itu.
Sementara dari arah samping istri sang ayah, Lena merasakan tatapan menusuk dari sang adik. Ia tahu, Kamala pasti menaruh dendam dan akan semakin sinis padanya. Namun, Lena sama sekali tidak peduli. Lantas, untuk memainkan egonya, Lena mulai beraksi lagi.
“Aku tidak suka tomat. Rasanya aneh, asam tidak tapi manis juga tidak. Aku juga tidak suka aromanya. Tomat itu sesuatu yang tidak jelas. Tomat adalah buah, tapi diperlakukan sebagai sayuran. Aneh bukan?” Kali ini, Lena menyeringai tipis. Ia konsisten, sama sekali tidak menyentuh alat makan dan membiarkan makanan di depannya tak tersentuh.
Tuan Respati yang duduk di sisi kiri menyenggol pelan siku sang putri. Hanya saja, Lena tidak mau berpura-pura menerima makanan yang ditentukan tidak adil sejak awal. Apa begitu cara CEO Bhumi Organics ingin menunjukkan kuasanya?
Di depan Lena, Vero terkekeh. “Pemikiran yang unik. Jadi, sayuran dan buah apa yang kamu suka?”
Mengabaikan orang lain di meja itu, Lena sedikit memajukan tubuhnya. “Aku suka sayuran dan buah yang sudah bertransformasi menjadi nutrisi untuk menghasilkan daging berkualitas pada hewan ternak.”
“Ngomong apa sih dia?” Terdengar gerutuan dengan suara kecil di tempat duduk yang sederet dengan Lena. Itu Kamala yang memang selalu sulit mencerna kata-kata kiasan maupun sindiran.
Atensi Lena beralih sejenak. Tubuhnya yang sedikit condong ke depan, memungkinkannya menatap tajam ke arah adik se-ayahnya. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dasar bodoh,” tanggap perempuan itu, mengejek Kamala.
Kamala mengernyit, tidak mengerti maksud Lena. Ia hanya menatap sok garang, tidak menakutkan malah lucu. Lena hampir tertawa, tetapi perempuan itu memilih untuk fokus pada lelaki di depannya.
“Pemakan daging. Aku akan pesan—” Belum selesai Vero bicara, Lena langsung menyela.
“Aku pesan menu pilihanku sendiri. Apa di meja ini tidak ada hak untuk memilih selera pribadi?” Perempuan itu mendengkus. Tatapan tajamnya begitu menusuk ke iris kelam milik Vero.
“Hak memilih, fair.” Tatapan itu diputus Vero. Sang lelaki meneguk air di gelas.
Suasana meja itu berubah menjadi lebih tegang sekarang. Bagaimana tidak, Vero menggenggam erat pegangan gelasnya. Ia sedikit terguncang sebab ada orang lain yang bisa menggoyahkan kendali situasi ini.
“Ngomong-ngomong, kesibukan Lena sehari-hari apa? Bantu Pak Respati mengelola pabrik?” Tante Hayu masuk ke dalam zona perang.
“Dia cuma dapat posisi penuh debu di perusahaan,” gumam Helen—istri Tuan Respati. Cara bicaranya begitu meremehkan. Anggukan Kamala melengkapi penghinaan yang dipikirnya akan membuat Lena merasa kecil.
“Lena yang mengawasi Quality Control produk,” jawab Tuan Respati sambil tersenyum ke arah Hayu dan Teja.
Bagi Lena, ayahnya terdengar seperti mendukung maksud istri dan anak keduanya untuk menghina Lena. Perempuan itu merotasikan mata, ingin mementahkan anggapan mereka. Saat ia baru menarik napas untuk bersuara, Vero lebih dulu bicara.
“Posisi yang strategis,” komentarnya. Tatapan lelaki itu kembali fokus pada Lena, seolah tidak ada orang lain yang duduk satu meja dengan mereka. “Quality Control Manager, artinya produk-produk dari Adhisti Textila ada dalam kendali kamu.”
Seringai tipis merekah lagi di bibir Lena. “Tentu saja. Aku bisa tahu permainan manipulasi bahan yang mengindikasikan adanya permainan dalam alokasi dana pengadaan bahan baku.” Kali ini, ia melirik ke arah Tuan Respati.
Vero paham sekarang. Ada tensi yang sangat kuat dalam keluarga Respati. Mereka tipikal keluarga yang sangat menjaga image, tapi sebenarnya sangat berantakan. Dua putri, di mana yang sulung seekor elang pemangsa, dan putri kedua merupakan burung dalam sangkar yang dipelihara hanya untuk bisa berkicau merdu.
Menarik.
“Soal lanjutan hubungan dua keluarga, bagaimana menurutmu, Vero?” Giliran Om Teja yang bersuara.
Sejak mulai makan, belum ada obrolan lanjutan tentang pertemuan ini. Vero dan Lena terlalu sibuk melempar obrolan yang sangat membingungkan.
“Lena adalah gadis yang menarik, Om.” Senyum palsu lelaki itu terukir. Ia menoleh untuk menatap pamannya. “Anehnya, kenapa Tante Hayu salah memperlihatkan foto? Hampir saja saya menolak perjodohan ini.”
Jawaban Vero berhasil membuat Kamala dan Helen terbelalak. Perkataan sang CEO Bhumi Organics seolah merendahkan sosok Kamala. Gadis itu tidak terima. Ia yang sejak kedatangan kakaknya menjadi seperti kerupuk yang tidak lagi renyah bicara lagi.
“Maksud Anda apa ya, Tuan Savero Laksamana?” Emosi perempuan itu tertahan. Matanya melotot, seperti akan keluar dari kelopak.
Vero tertawa kecil. “Maksudnya, kamu membosankan, Nona. Sementara kakak kamu jauh lebih menarik dan cocok menjadi seorang Nyonya besar. Bagaimana menurutmu, Lena?”
Di seberangnya, Lena meminum segelas air. Dua alisnya terangkat, senyum kecilnya merekah tapi tampak menyeramkan. “Selalu ada perempuan yang memang terlahir untuk menduduki posisi tinggi dan berpengaruh. Aku sadar, aku adalah salah satunya.”
“Saya suka kepercayaan diri kamu.” Vero meletakkan alat makan di samping piring. Ia mengelap bibirnya dengan serbet yang terhampar di pahanya. “Kapan kamu mau resmi menjadi Nyonya Laksamana?” Lanjutnya.
“Ada kesepakatan yang perlu didiskusikan sebelum kita memutuskan lebih jauh.” Lena bersandar sambil bersedekap. “Salah satunya adalah aku mau hidup memakai namaku sendiri, Kalena Nurin. Bukan Nona Respati atau Nyonya Laksamana.”
“Baik.” Vero mengangguk kecil.
Sementara Tuan Respati menyenggol kaki putri sulungnya. Ia mencoba agar Lena tidak menjadi lancang. Pertemuan ini, pernikahan ini, semuanya adalah bisnis. Sosok keluarga Laksamana yang sedikit lebih berpengaruh membuat Indra Respati yakin bahwa keluarganya perlu menundukkan sedikit kepala di depan mereka.
Sayang, putri sulungnya tidak menganggap hal itu penting. Duduk di meja ini, punya perusahaan yang masing-masing mengirim produk untuk dipasarkan secara internasional, itu artinya setara.
“Menikah dengan seorang Laksamana juga tidak boleh mengekangku bekerja untuk Adhisti Textila. Menikah dengan kamu juga berarti posisi di perusahaan sendiri harus lebih berpengaruh.” Kali ini, perempuan itu melirik ke arah Indra Respati. “Bukan begitu, Papa?”
Sang ayah mengerjapkan mata. Kepalanya dengan kaku mengangguk. Sementara istri dan anak keduanya semakin terbelalak. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Lena berhasil mengontrol Indra Respati. Semua rencana mereka agaknya kacau tanpa ada rencana cadangan untuk mengembalikan situasi.
“Licik juga,” gumam Vero. Kini lelaki itu mulai paham apa keinginan Lena sebenarnya.
Lelaki tersebut beranjak dari kursi. Semua orang langsung menatapnya, tampak gusar. “Baik kalau begitu, saya masih punya banyak urusan. Soal pernikahan, saya serahkan semuanya pada Lena.”
Lelaki itu pun pergi begitu saja. Orang-orang di meja hanya bisa menganga. Selang beberapa saat, Lena ikut beranjak. Perempuan itu menatap malas ke arah ‘keluarga’ dan pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa.
Lena melangkah lebar dengan ritme teratur. Namun, ia sebenarnya mengejar Vero. Perempuan itu ingin tahu mengapa sang CEO Bhumi Organics dengan mudahnya menerima situasi ini. Ia tahu, pastinya lelaki itu sudah mendapat informasi jika yang akan dijodohkan dengannya adalah Kamala, bukan dirinya.
Tiba di pintu lift, langkah Lena terpaku. Di dalam sana, Vero berdiri sambil menahan tombol pintu terbuka. Lelaki itu seperti tahu jika Lena akan menyusulnya.
“Masuk.” Bicaranya seperti memerintah.
Lena yang benci diperintah bergeming. Ia tetap berdiri sambil bersedekap. Perempuan itu mendengkus dan menatap tajam lelaki yang belum sampai satu jam lalu akan menjadi calon suaminya. “Kenapa kamu setuju dengan pertukaran calon istri ini?”
Vero menyeringai. “Seperti yang saya bilang tadi, adik kamu membosankan. Kamu lebih menarik.”
“Baik, aku terima alasan itu.” Lena mengangguk.
Kali ini, Vero melepas tombol penahan pintu. Saat perlahan pintu lift itu tertutup, ia kembali bicara. “Kamu juga hot.” Pintu tertutup tepat setelah tiga kata selesai terucap.
Di depan pintu lift, Lena terpaku. “Apa dia bilang tadi?” Tanyanya pada diri sendiri sambil mengernyit.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!