AJIAN GUNTUR SAKETI

4 dibaca

A

AJIAN GUNTUR SAKETI

Hujan turun semakin deras di atas Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening.

Langit yang sejak sore tampak kelabu kini berubah menjadi hitam pekat. Awan menggulung di atas atap pesantren seperti pusaran raksasa yang sedang menutupi seluruh langit Desa Weningjati.

Sesekali kilat menyambar dari balik bukit.

Namun, yang membuat suasana malam itu terasa mengerikan bukanlah hujan atau petir.

Melainkan suara ketukan dari pintu gerbang pesantren.

Tok… tok… tok…

Tiga ketukan.

Berhenti.

Kemudian terdengar suara seorang pemuda dari balik gerbang.

“Gus Rahman…”

Sekar yang duduk di ruang utama langsung menegang.

Suara itu sangat dikenalnya.

Suara yang selama ini selalu muncul ketika dirinya berada dalam bahaya.

Suara yang beberapa kali menyelamatkannya dari kegelapan.

Suara milik—

“Raka…” bisik Sekar.

Mahendra yang berdiri di dekat jendela segera menoleh.

“Jangan langsung percaya.”

Sekar menatapnya dengan wajah pucat.

“Tapi itu suara Raka.”

“Justru itu yang berbahaya,” jawab Mahendra. “Kalau dia benar-benar Raka, mengapa dia memanggil Gus Rahman dari luar? Bukankah Ki Kusumo membawa kita ke sini karena tempat ini dilindungi?”

Laras yang duduk di lantai dengan kedua tangan memegangi dadanya tampak gelisah. Sejak mereka tiba di pesantren, tubuhnya masih sering bergetar. Cahaya tipis berwarna keemasan sesekali muncul di sela-sela jemarinya, lalu menghilang seperti nyala lilin tertiup angin.

Di luar, suara itu kembali terdengar.

“Sekar… buka pintunya.”

Sekar bangkit setengah berdiri.

“Dia memanggil namaku.”

Gus Rahman yang sejak tadi duduk bersila di hadapan tungku kecil segera mengangkat tangannya.

“Jangan bergerak.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang terdiam.

Gus Rahman menatap pintu kayu di ujung ruangan. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya berubah tajam.

“Suara itu memang milik Raka Wening,” ucapnya perlahan. “Tetapi sesuatu yang berdiri di luar bukanlah Raka.”

Sekar menelan ludah.

“Bagaimana Gus bisa yakin?”

“Karena manusia yang masih memiliki sukma tidak akan mampu melewati batas pesantren ini tanpa izin.”

Gus Rahman mengambil segenggam garam kasar dari wadah tanah liat di sampingnya. Ia menaburkannya membentuk garis melingkar di lantai.

“Dan sesuatu yang berada di luar sana…” lanjutnya, “tidak memiliki sukma yang utuh.”

Dari luar terdengar suara tawa kecil.

Bukan tawa Raka.

Tawa itu terdengar seperti suara seseorang yang sedang belajar menirukan manusia.

“Hehehe…”

Laras menutup telinganya.

“Suara itu… ada di dalam kepalaku.”

Sekar segera mendekati Laras.

“Laras?”

Laras memejamkan mata. Napasnya memburu.

“Aku melihat sesuatu.”

“Apa yang kamu lihat?” tanya Mahendra.

“Gerbang pesantren…” jawab Laras dengan suara bergetar. “Ada seseorang berdiri di sana. Tubuhnya seperti Raka, tapi kepalanya…”

Laras tiba-tiba terdiam.

“Bicaralah,” desak Mahendra.

“Kepalanya menghadap ke belakang.”

Ruangan mendadak sunyi.

Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.

Sekar memandangi pintu dengan dada berdebar. Ia berusaha menggunakan mata batinnya, tetapi sejak memasuki pesantren, pandangannya seperti tertutup kabut putih. Ada sesuatu yang melindungi tempat itu dari penglihatan gaib.

Namun malam itu, kabut dalam pandangannya mulai terbelah.

Di balik pintu, Sekar melihat bayangan seseorang.

Tinggi.

Kurus.

Mengenakan pakaian gelap yang basah oleh hujan.

Rambutnya menutupi wajah.

Bayangan itu berdiri membelakangi gerbang.

Kepalanya perlahan berputar.

Terlalu jauh.

Terlalu cepat.

Hingga wajahnya menghadap ke arah pesantren, sementara tubuhnya tetap membelakangi pintu.

Sekar tersentak dan mundur.

“Itu bukan Raka…”

Bayangan tersebut tiba-tiba mengangkat tangan.

Jari-jarinya panjang dan kurus. Kukunya hitam seperti terbakar.

Kemudian ia mengetuk pintu lagi.

Tok… tok… tok…

“Sekar…”

Kali ini suara itu berubah.

Bukan suara Raka.

Bukan pula suara manusia.

Suara itu terdengar berat dan berlapis, seperti banyak mulut berbicara bersamaan dari dalam sumur.

“Tiga darah telah berkumpul… tinggal satu.”

Laras mendadak menjerit.

Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya, membuat lampu minyak di ruangan padam seketika.

Dalam kegelapan, terdengar suara sesuatu menggaruk-garuk pintu.

Kreeeek… kreeeek…

Mahendra segera meraih keris Wulang Geni yang terselip di pinggangnya. Bilah keris itu tidak mengeluarkan api, tetapi permukaannya mulai memerah seperti besi yang dipanaskan.

“Gus Rahman,” ujar Mahendra, “mereka sudah menemukan tempat ini.”

Gus Rahman tidak menjawab.

Ia menatap lantai.

Garis garam yang tadi dibuatnya mulai berubah warna.

Dari putih menjadi abu-abu.

Kemudian hitam.

“Bukan mereka yang menemukan kita,” kata Gus Rahman.

Ia mengangkat wajahnya.

“Sejak awal, ada sesuatu yang sudah mengikuti kalian.”

Sekar merasakan tengkuknya meremang.

“Apa maksud Gus?”

Gus Rahman menunjuk ke arah Laras.

“Ketika darah ketiga terbangun, jejaknya terbuka. Dan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut akhirnya mengetahui tempat kalian berada.”

Laras menggeleng kuat-kuat.

“Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah memanggil mereka.”

“Tidak semua pintu terbuka karena dipanggil,” jawab Gus Rahman. “Ada pintu yang terbuka karena pemiliknya sudah tidak mampu menahannya.”

Tiba-tiba suara derap kaki terdengar dari halaman pesantren.

Banyak.

Teratur.

Seperti sekelompok orang sedang berjalan melewati hujan.

Mahendra mendekati jendela dan mengintip dari celah tirai.

Wajahnya seketika berubah.

“Ada orang-orang di halaman.”

Sekar ikut melihat.

Di bawah hujan, belasan sosok berdiri mengelilingi halaman pesantren. Mereka mengenakan pakaian hitam dan membawa senjata. Sebagian memakai seragam aparat, sebagian lainnya mengenakan jubah gelap dengan lambang kepala kerbau di bagian dada.

Di barisan paling depan berdiri seorang pria dengan jas panjang hitam.

Wajahnya terlihat jelas meski diterpa hujan.

Darmo Pentinggi.

Di sampingnya berdiri beberapa anggota kepolisian yang membawa senjata api. Namun mereka tidak tampak seperti aparat yang sedang menjalankan tugas resmi. Mata mereka kosong, wajah mereka pucat, dan di leher masing-masing tergantung kalung dengan lambang kepala kerbau.

Darmo menatap bangunan utama pesantren.

Kemudian ia tersenyum.

“Gus Rahman,” serunya dari halaman. “Tidak perlu menyembunyikan mereka. Kami hanya ingin membawa pulang apa yang memang menjadi milik kami.”

Gus Rahman berdiri perlahan.

“Milik kalian?”

Suara Gus Rahman terdengar menembus dinding dan hujan.

“Darah manusia bukan milik siapa pun, Darmo.”

Darmo tertawa kecil.

“Darah itu bukan darah biasa.”

“Justru karena bukan darah biasa, kalian ingin mengorbankannya kepada sesuatu yang bahkan tidak mampu kalian kendalikan.”

Senyum Darmo menghilang.

“Kau masih sama seperti dahulu, Gus. Selalu merasa paling tahu tentang batas antara dunia manusia dan dunia gaib.”

“Dan kau masih sama,” balas Gus Rahman. “Masih mengira kekuasaan duniawi dapat menundukkan sesuatu yang lebih tua daripada kerajaan, agama, bahkan ingatan manusia.”

Darmo melangkah mendekati serambi.

Di belakangnya, tanah halaman pesantren mulai retak. Dari celah retakan itu keluar asap hitam tipis yang bergerak melawan arah angin.

“Dengarkan baik-baik,” ujar Darmo. “Aku tidak datang untuk berdebat. Aku datang untuk mengambil empat darah.”

Sekar mengepalkan tangan.

“Raka masih bersama mereka?”

Darmo menoleh ke arah suara Sekar.

Senyumnya kembali muncul.

“Raka?”

Ia mengucapkan nama itu seolah sedang menikmati sesuatu yang pahit.

“Raka Wening tidak berada di pihak kami.”

Sekar terdiam.

“Lalu di mana dia?”

Darmo tidak segera menjawab.

Ia menatap ke arah langit. Kilat menyambar di belakangnya, menerangi wajahnya yang tampak semakin pucat.

“Pertanyaan yang lebih tepat adalah…” katanya, “apakah Raka masih berada di pihak kalian?”

Mahendra maju selangkah.

“Jangan bermain teka-teki!”

Darmo mengangkat tangannya.

Dari barisan orang-orang berjubah hitam, seorang pria membawa benda panjang yang dibungkus kain merah. Ia menyerahkan benda itu kepada Darmo.

Darmo membuka kain tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah tongkat pendek berwarna hitam dengan ukiran kepala kerbau. Kedua mata kerbau pada ujung tongkat menyala merah.

Begitu benda itu muncul, dada Sekar terasa sesak.

Taling sukmo yang melingkar di pergelangan tangannya bergerak sendiri.

Seolah-olah ada sesuatu yang menariknya dari arah halaman.

Laras tiba-tiba memegangi lehernya.

“Dia memanggilku…”

“Siapa?” tanya Sekar.

Laras menatap ke luar jendela.

“Yang berkepala kerbau.”

Suara gemuruh terdengar dari bawah tanah.

Bukan suara guntur.

Gemuruh itu berasal dari dalam bumi.

Seluruh bangunan pesantren berguncang. Genting-genting berjatuhan dari atap. Lampu minyak yang baru dinyalakan kembali bergetar hebat.

Dari kejauhan terdengar suara lenguhan.

Panjang.

Dalam.

Seperti suara kerbau raksasa yang sedang mengerang dari dasar bumi.

Para santri yang berada di bangunan belakang mulai berteriak. Beberapa orang berlari menuju masjid, sementara yang lain mengumandangkan azan dan membaca ayat-ayat perlindungan.

Gus Rahman segera mengambil tongkat kayu miliknya.

“Mahendra, bawa Sekar dan Laras ke ruang bawah masjid.”

Mahendra menggeleng.

“Bagaimana dengan Gus?”

“Aku akan menahan mereka.”

“Tidak mungkin Gus menghadapi seluruh pasukan Darmo sendirian.”

Gus Rahman menatap Mahendra dengan tenang.

“Aku tidak sendirian.”

Dari arah lorong, terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Berat.

Seseorang muncul dari balik kegelapan.

Tubuhnya tinggi dan tegap. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna cokelat tua. Rambutnya memutih, dan di tangan kanannya terdapat tongkat kayu yang ujungnya dililit kain putih.

Ki Kusumo.

Sekar langsung mendekat.

“Ki…”

Ki Kusumo tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada gerbang pesantren.

“Darmo sudah membuka jalan,” ucapnya.

Gus Rahman mengangguk.

“Dan dia membawa lambang pemanggil.”

“Bukan hanya lambang pemanggil,” jawab Ki Kusumo. “Itu adalah pecahan dari tongkat pengikat.”

Mahendra menatap benda di tangan Darmo.

“Apa maksudnya?”

Ki Kusumo memejamkan mata sejenak.

“Dahulu, ketika para leluhur berusaha mengurung iblis berkepala kerbau, mereka memecah benda pengikat menjadi empat bagian. Setiap bagian disimpan oleh penjaga dari garis darah berbeda.”

Sekar menatap taling sukmo di tangannya.

“Empat bagian…”

“Benar,” ujar Ki Kusumo. “Tetapi salah satu bagian telah jatuh ke tangan manusia yang tamak.”

“Darmo?” tanya Laras.

“Darmo hanya pewaris keserakahan,” jawab Ki Kusumo. “Orang yang memberinya benda itu jauh lebih tua.”

Mendadak terdengar suara dari luar.

“Ki Kusumo!”

Darmo mengangkat tongkat hitamnya.

“Aku tahu kau berada di dalam sana.”

Ki Kusumo berjalan mendekati pintu.

“Jangan keluar, Ki,” kata Sekar.

Ki Kusumo menoleh.

“Sekar, dengarkan aku. Malam ini bukan hanya tentang melindungi kalian. Malam ini adalah malam ketika ajian lama harus dibangunkan.”

Mahendra memperhatikan wajah Ki Kusumo.

“Ajian apa?”

Ki Kusumo menggenggam tongkatnya lebih erat.

“Ajian Guntur Saketi.”

Udara di dalam ruangan mendadak berubah.

Sekar merasakan bulu kuduknya berdiri. Dari tubuh Ki Kusumo muncul tekanan yang tidak terlihat, tetapi terasa seperti hawa panas bercampur dingin. Api kecil di tungku tiba-tiba menyala biru.

Laras menatap Ki Kusumo dengan mata melebar.

“Ajian Guntur Saketi… bukankah itu ilmu yang sudah dilarang?”

“Ilmu tidak pernah benar-benar terlarang,” jawab Ki Kusumo. “Yang berbahaya adalah hati orang yang menggunakannya.”

Gus Rahman memandang Ki Kusumo dengan serius.

“Sudah puluhan tahun kau tidak menggunakannya.”

“Karena selama ini tidak ada alasan yang cukup.”

Ki Kusumo menatap ke arah pintu.

“Sekarang alasannya sudah datang.”

Darmo mengangkat tongkat kepala kerbau tinggi-tinggi.

“Keluar, Ki Kusumo! Atau aku akan membakar pesantren ini bersama semua orang di dalamnya.”

Ki Kusumo membuka pintu utama.

Hujan langsung menerpa serambi.

Angin kencang berembus masuk, membawa aroma tanah basah dan bau busuk seperti bangkai yang lama terkubur.

Sekar, Mahendra, dan Laras berdiri di belakang Gus Rahman. Mereka melihat Ki Kusumo melangkah keluar sendirian.

Darmo tersenyum lebar.

“Akhirnya penjaga tua itu keluar dari persembunyiannya.”

Ki Kusumo berhenti di tengah halaman.

“Darmo Pentinggi,” ucapnya. “Kau masih memiliki kesempatan untuk meletakkan benda itu dan pergi.”

Darmo tertawa.

“Kesempatan?”

Ia menoleh kepada para pengikutnya.

“Dengar, orang tua ini masih mengira dunia berjalan berdasarkan aturan leluhur.”

Salah seorang anggota kelompok berjubah hitam maju.

“Bunuh dia!”

Belasan orang bergerak serentak.

Sebagian mengangkat senjata api. Sebagian lainnya mengeluarkan golok dan tombak pendek yang telah dilumuri cairan hitam.

Gus Rahman segera mengangkat tangannya.

“Jangan tembak!”

Namun perintah itu terlambat.

Tiga senjata api meletus hampir bersamaan.

DOR! DOR! DOR!

Peluru melesat menembus hujan.

Ki Kusumo tidak bergerak.

Ia hanya menancapkan tongkatnya ke tanah.

DUG!

Tiba-tiba udara di hadapannya bergetar.

Peluru-peluru itu berhenti di udara, tepat beberapa jengkal dari tubuhnya.

Benda-benda kecil itu berputar, lalu jatuh ke tanah dengan suara berdering.

Para anggota kelompok Darmo mundur ketakutan.

Darmo sendiri mengerutkan dahi.

“Ilmu penahan peluru…”

Ki Kusumo mengangkat wajahnya.

“Bukan.”

Ia menarik napas panjang.

Langit di atas pesantren tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh.

GROOOOMMM…

Suara itu begitu keras hingga jendela-jendela pesantren bergetar.

Awan hitam berputar tepat di atas halaman. Kilat biru menyala di antara gumpalan awan, tetapi tidak menyambar tanah.

Ki Kusumo menutup matanya.

Kedua tangannya menggenggam tongkat.

Kemudian ia mulai mengucapkan mantra dengan suara rendah.

“Guntur kang turah saka langit…”

Angin berhenti.

Hujan seolah menggantung di udara.

“Guntur kang nggegirisi jagad…”

Tanah di bawah kaki Ki Kusumo mulai retak membentuk lingkaran.

“Dudu kanggo murka…”

Kilat menyambar di belakangnya.

“Dudu kanggo pamrih…”

Cahaya putih kebiruan mengalir dari langit menuju tongkat kayu di tangannya.

“Ananging kanggo ngukum pepeteng…”

Darmo mundur satu langkah.

“Tidak mungkin…”

Ki Kusumo membuka matanya.

Mata lelaki tua itu kini memancarkan cahaya biru pucat.

“Ajian Guntur Saketi…”

Seluruh halaman pesantren mendadak dipenuhi suara guntur.

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya ke arah langit.

“GUMEBYARNA BUMI!”

Kilat raksasa menyambar ujung tongkatnya.

Ledakan cahaya membelah halaman.

Gelombang tenaga menghantam para pengikut Darmo. Mereka terpental ke belakang seperti daun kering diterjang badai. Senjata-senjata mereka terlempar, jubah-jubah hitam berkibar liar, dan beberapa di antara mereka jatuh menjerit karena tubuhnya terasa lumpuh.

Tanah bergetar.

Pohon-pohon tua di sekitar pesantren bergoyang keras.

Atap bangunan utama hampir terangkat oleh tekanan energi.

Sekar memegangi tiang kayu agar tidak terjatuh. Mahendra menancapkan Wulang Geni ke lantai. Laras berlutut sambil menutup telinga.

Namun Darmo masih berdiri.

Di hadapannya muncul bayangan kepala kerbau raksasa. Bayangan itu membentuk perisai hitam yang menahan gelombang Ajian Guntur Saketi.

Kedua kekuatan tersebut bertabrakan di tengah halaman.

Cahaya biru dan asap hitam saling melilit.

Darmo menyeringai.

“Ki Kusumo… kau memang masih kuat. Tapi kau lupa satu hal.”

Ki Kusumo menatapnya.

“Apa?”

“Guntur hanya menguasai langit.”

Darmo mengangkat tongkat kepala kerbau.

“Aku menguasai sesuatu yang berada di bawah bumi.”

Tanah halaman pesantren tiba-tiba pecah.

Dari bawah retakan, muncul dua tanduk besar berwarna hitam.

Tanduk itu perlahan naik, diikuti kepala raksasa yang terbungkus asap. Mata merah menyala di antara hujan. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi-gigi panjang yang dipenuhi lendir hitam.

Suara lenguhan menggelegar dari dalam bumi.

MOOOOOOOHHH…!

Para santri berteriak ketakutan.

Sekar melihat wujud itu dengan mata batinnya.

Kepala kerbau tersebut bukan sekadar bayangan. Di balik tubuhnya yang mengerikan, terdapat ribuan wajah manusia yang menempel dan berteriak tanpa suara.

Wajah-wajah itu tampak seperti orang-orang yang pernah dikorbankan.

Laras menangis.

“Itu bukan iblis biasa…”

Ki Kusumo masih berdiri di tengah halaman.

“Tidak,” ucapnya. “Itu adalah wadah dari banyak sukma yang dipaksa menyatu.”

Darmo mengangkat kedua tangannya.

“Bangkitlah, Sang Pemilik Kekayaan!”

Bayangan kepala kerbau itu mengarahkan wajahnya kepada Darmo.

Untuk sesaat, Darmo terlihat sangat percaya diri.

Namun tiba-tiba mata merah makhluk itu beralih dari Darmo menuju bangunan pesantren.

Menuju Sekar.

Taling sukmo di pergelangan Sekar menyala terang.

Cahaya dari dadanya ikut bangkit.

Makhluk itu mengeluarkan suara berat.

“Darah pertama…”

Sekar mundur.

Mahendra berdiri di depannya.

“Jangan mendekat!”

Makhluk itu mengabaikan Mahendra.

“Darah kedua…”

Keris Wulang Geni di tangan Mahendra menyala merah.

Laras menjerit ketika cahaya keemasan muncul dari tubuhnya.

“Darah ketiga…”

Kemudian bayangan itu berhenti.

Matanya menatap ke arah hutan di belakang pesantren.

Suara lenguhannya berubah menjadi tawa.

“Darah keempat…”

Sekar menoleh ke arah hutan.

Di antara pepohonan yang basah oleh hujan, berdiri seseorang.

Tubuhnya terlihat samar di balik kabut.

Mengenakan pakaian gelap.

Rambutnya basah.

Wajahnya tertunduk.

Namun Sekar mengenali bentuk tubuh itu.

“Raka…”

Mahendra segera mengangkat Wulang Geni.

“Jangan mendekat!”

Sosok di hutan mengangkat kepalanya perlahan.

Kilat menyambar.

Wajahnya terlihat jelas.

Itu memang Raka Wening.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Matanya tidak lagi berwarna hitam.

Kedua matanya berwarna merah pekat.

Di dadanya, tanda warisan keempat menyala seperti bara.

Raka menatap Sekar tanpa ekspresi.

Kemudian ia berkata dengan suara yang terdengar asing:

“Sekar…”

Darmo tersenyum penuh kemenangan.

“Lihatlah. Darah keempat akhirnya datang.”

Raka melangkah keluar dari balik pepohonan.

Setiap kali kakinya menginjak tanah, rumput di sekitarnya menghitam.

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya kembali, tetapi wajahnya mendadak berubah tegang.

“Tidak…”

Gus Rahman menatap Raka dengan napas tertahan.

“Ki, apa yang terjadi?”

Ki Kusumo tidak menjawab.

Raka berhenti beberapa meter dari gerbang pesantren.

Di belakang tubuhnya, muncul bayangan besar berbentuk kepala kerbau.

Namun kali ini bayangan itu tidak berada di belakang Darmo.

Bayangan itu menyatu dengan tubuh Raka.

Sekar merasakan dadanya seperti diremas.

“Raka… apa yang mereka lakukan kepadamu?”

Raka mengangkat wajahnya.

Untuk sesaat, matanya kembali normal.

Sekar melihat kesedihan yang sangat dalam di sana.

Bibir Raka bergerak pelan.

“Sekar…”

Suara itu terdengar seperti suara Raka yang sebenarnya.

“Tolong…”

Sekar hendak berlari, tetapi Mahendra segera menahannya.

“Jangan!”

Raka tiba-tiba mencengkeram kepalanya sendiri.

Tubuhnya membungkuk. Urat hitam menjalar dari leher menuju wajahnya. Dari mulutnya keluar suara geraman yang bukan milik manusia.

“Pergi…”

Raka memukul tanah dengan kedua tangannya.

Ledakan energi hitam menyebar ke segala arah.

“Sekar, pergi!”

Kemudian kepalanya terangkat.

Bayangan kepala kerbau di belakangnya membuka mulut.

Suara Raka dan suara iblis keluar bersamaan.

“Karena malam ini… salah satu dari empat darah harus mati.”

Ki Kusumo menggenggam tongkatnya kuat-kuat.

Cahaya biru kembali berkumpul di langit.

Darmo mengangkat tongkat kepala kerbau sambil tertawa.

Dan di antara kilat, hujan, serta jeritan para santri, Sekar menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kemungkinan Raka menjadi pengkhianat.

Raka mungkin bukan pengkhianat.

Raka mungkin sedang dijadikan wadah oleh iblis berkepala kerbau.

Namun sebelum Sekar sempat bergerak, Raka menghilang dari tempatnya.

Dalam sekejap, ia sudah berdiri tepat di hadapan gerbang pesantren.

Matanya merah menyala.

Tangannya terangkat.

Ki Kusumo berteriak:

“SEMUA MENJAUH!”

Raka menghantamkan telapak tangannya ke tanah.

Retakan besar menjalar menuju bangunan utama.

Dari dalam tanah terdengar suara ribuan sukma menjerit.

Sekar memandang Raka dengan air mata yang mengalir tanpa disadari.

“Raka…”

Raka menoleh.

Untuk sepersekian detik, kesadaran manusia itu kembali muncul di wajahnya.

Ia berbisik sangat pelan:

“Jangan percaya… kepada orang yang membawa cahaya putih…”

Sekar membeku.

Di belakangnya, Gus Rahman perlahan menoleh ke arah Ki Kusumo.

Mahendra menatap Laras.

Laras menatap Sekar.

Sementara Ki Kusumo berdiri diam, wajahnya tidak terbaca.

Raka kembali meraung.

Bayangan kepala kerbau di belakangnya membesar hingga menutupi langit.

Dan di lantai ruang utama pesantren, garis perlindungan yang dibuat Gus Rahman mendadak padam.

Di tengah kegelapan, muncul tulisan seperti digores oleh kuku dari bawah tanah:

SATU DARAH ADALAH PENGKHIANAT. SATU PENJAGA TELAH BERBOHONG. DAN AJIAN GUNTUR SAKETI TIDAK AKAN MAMPU MENAHAN FAJAR.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk