PENGKHIANAT DI BALIK CAHAYA PUTIH

2 dibaca

A

PENGKHIANAT DI BALIK CAHAYA PUTIH

Retakan di tanah halaman Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening semakin melebar.

Dari dalamnya keluar asap hitam yang berputar seperti tangan-tangan kurus. Bau tanah basah bercampur aroma anyir memenuhi udara. Hujan masih turun deras, tetapi air yang menyentuh retakan itu langsung berubah menjadi uap.

Para santri berlarian menuju masjid.

Sebagian membaca ayat-ayat perlindungan dengan suara gemetar. Sebagian lagi membantu para santri kecil masuk ke ruangan dalam. Namun suara bacaan mereka perlahan tertelan oleh gemuruh dari bawah tanah.

Di tengah halaman, Raka Wening berdiri dengan tubuh yang dikuasai bayangan kepala kerbau.

Kedua matanya merah menyala.

Urat hitam menjalar dari leher hingga pelipis. Di belakangnya, wujud raksasa berkepala kerbau menjulang menembus kabut. Tanduknya seakan menggores awan, sementara dari mulutnya keluar asap pekat yang membentuk wajah-wajah manusia.

“Raka!” teriak Sekar.

Pemuda itu menoleh.

Untuk sesaat, cahaya merah di matanya meredup.

“Sekar…” bisiknya.

Suaranya kembali seperti dahulu.

Lembut.

Berat.

Penuh kesedihan.

“Jangan… percaya…”

Namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, bayangan kepala kerbau di belakang tubuhnya menggeram. Raka mendadak memegangi dadanya. Tubuhnya melengkung ke belakang, seolah ada sesuatu yang sedang merobek sukma dari dalam.

“AAARRRGGHH!”

Darmo Pentinggi mengangkat tongkat kepala kerbau.

“Raka! Tundukkan dirimu!”

Raka menoleh ke arah Darmo.

Bayangan hitam di belakangnya ikut bergerak.

Darmo tersenyum puas.

“Darah keempat telah menerima kekuatan leluhur. Sekarang, tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan kebangkitan ini.”

Ki Kusumo mengangkat tongkat kayunya.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Darmo.”

Darmo menatapnya dengan penuh kebencian.

“Kau sudah tua. Ajianmu mungkin mampu menahan pasukanku, tetapi tidak akan mampu menahan darah yang telah dibangunkan.”

Ki Kusumo menarik napas panjang.

Awan di atas pesantren kembali bergemuruh.

“Ajian Guntur Saketi bukan untuk menahan darah.”

Cahaya kebiruan mulai mengelilingi tubuhnya.

“Ajian itu untuk memutus hubungan antara manusia dan kegelapan.”

Darmo tertawa.

“Kalau begitu, putuskan!”

Ia menghantamkan tongkat kepala kerbau ke tanah.

DUGG!

Gelombang hitam menyebar dari halaman menuju bangunan pesantren. Tanah bergetar. Pintu-pintu kayu terbanting. Jendela-jendela pecah. Dari retakan tanah muncul tangan-tangan hitam yang berusaha meraih kaki para santri.

Gus Rahman segera maju.

Ia menancapkan tongkatnya di depan tangga masjid dan mengucapkan doa perlindungan. Cahaya putih membentuk dinding tipis di sekitar bangunan utama.

Gelombang hitam menghantam dinding itu.

BRAAAKKK!

Cahaya putih bergetar.

Gus Rahman terdorong beberapa langkah, tetapi tetap berdiri.

“Semua santri masuk ke masjid!” teriaknya. “Jangan ada yang keluar sebelum aku perintahkan!”

Ki Kusumo menoleh kepada Sekar.

“Bawa Mahendra dan Laras ke ruang bawah.”

Sekar menggeleng.

“Tidak! Raka masih bisa diselamatkan.”

“Sekar,” ujar Ki Kusumo dengan suara tegas, “yang berdiri di sana bukan hanya Raka.”

“Aku tahu!”

“Tidak,” balas Ki Kusumo. “Kau belum tahu seberapa dalam sesuatu itu telah masuk ke dalam dirinya.”

Sekar menatap Raka.

Pemuda itu kembali menunduk. Kedua tangannya mengepal. Dari sela-sela jarinya keluar asap hitam.

Namun di balik asap itu, Sekar melihat sesuatu.

Sebuah garis cahaya putih tipis.

Cahaya itu bergerak dari dada Raka menuju leher, seperti berusaha melawan sesuatu yang membelenggunya.

“Dia masih sadar,” kata Sekar. “Aku bisa melihatnya.”

Mahendra berdiri di samping Sekar.

“Kalau begitu, kita harus mengeluarkannya dari pengaruh iblis itu.”

Laras tiba-tiba menjerit.

“Jangan!”

Semua orang menoleh.

Laras berdiri dengan wajah pucat. Matanya tidak lagi memandang Raka, melainkan Ki Kusumo.

“Jangan dekati Raka.”

Sekar mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Laras menggeleng, napasnya tersengal.

“Aku melihat sesuatu ketika cahaya putih muncul.”

“Apa yang kamu lihat?” tanya Mahendra.

Laras memegangi kepalanya.

“Cahaya itu bukan hanya milik Raka.”

Ki Kusumo terdiam.

Gus Rahman menoleh kepadanya.

“Ki…”

Laras melanjutkan dengan suara bergetar.

“Ada tali… seperti benang putih. Benang itu menghubungkan Raka dengan seseorang di belakang kita.”

Sekar perlahan berbalik.

Di belakang mereka berdiri beberapa orang: Gus Rahman, Ki Kusumo, dan sejumlah santri senior yang membantu menjaga pintu masjid.

Namun ketika Sekar menggunakan mata batinnya, seluruh ruangan berubah.

Warna-warna di sekelilingnya memudar.

Hujan di luar tampak berhenti.

Suara guntur menjadi jauh.

Di antara semua orang yang berdiri di sana, hanya ada satu sosok yang memancarkan cahaya putih sangat terang.

Ki Kusumo.

Cahaya itu menjulur dari tubuhnya, melewati udara, lalu terhubung ke dada Raka.

Sekar mundur selangkah.

“Ki…”

Ki Kusumo menatapnya.

“Apa yang kau lihat?”

Sekar menunjuk benang cahaya tersebut.

“Benang itu…”

Ki Kusumo menundukkan wajah.

Untuk pertama kalinya, lelaki tua itu tidak langsung memberikan jawaban.

Darmo yang melihat perubahan wajah Sekar tertawa keras.

“Ah… akhirnya kau mulai mengerti.”

Ki Kusumo menoleh tajam.

“Diam, Darmo!”

“Bukankah kau yang mengatakan bahwa satu darah adalah pengkhianat?” teriak Darmo. “Mengapa kau tidak mengatakan bahwa salah satu penjaga telah mengikat darah keempat sejak dahulu?”

Sekar memandang Ki Kusumo dengan perasaan campur aduk.

“Ki… apa maksudnya?”

Ki Kusumo menggenggam tongkatnya.

“Tidak semua yang kau lihat melalui mata batin adalah kebenaran.”

“Lalu jelaskan!”

Sebelum Ki Kusumo menjawab, Raka tiba-tiba berteriak.

Tubuhnya terangkat beberapa jengkal dari tanah. Bayangan kepala kerbau di belakangnya membuka mulut lebar-lebar, lalu mengeluarkan suara yang mengguncang seluruh halaman.

“DARAH KEEMPAT TELAH TERIKAT!”

Benang putih di antara Raka dan Ki Kusumo berubah menjadi merah.

Ki Kusumo langsung mengangkat tongkatnya.

“Jangan dengarkan suara itu!”

Namun Raka menoleh ke arah Ki Kusumo.

Matanya kembali normal.

“Ki…”

Suaranya terdengar lemah.

“Kenapa kau mengikatku?”

Ki Kusumo membeku.

Sekar menatapnya.

Mahendra mengangkat Wulang Geni.

“Jawab, Ki!”

Laras mundur beberapa langkah.

“Benang itu semakin kuat…”

Darmo tertawa penuh kemenangan.

“Bukalah rahasia kalian di depan mereka semua!”

Ki Kusumo menghela napas.

“Aku tidak mengikat Raka untuk menguasainya.”

“Lalu untuk apa?” tanya Sekar.

“Untuk menahannya.”

“Menahan apa?”

Ki Kusumo memandang Raka dengan wajah penuh kesedihan.

“Ketika Raka masih kecil, sesuatu telah masuk ke dalam dirinya.”

Raka menunduk.

“Sejak kapan?”

“Sejak malam ketika Watu Wening pertama kali terbuka.”

Sekar terkejut.

“Malam ketika aku menghilang?”

Ki Kusumo mengangguk.

“Malam itu bukan hanya kau yang masuk ke dalam pintu. Raka juga berada di sana.”

Raka menatap Sekar.

“Aku ingat…”

Sekar mendekatinya satu langkah.

“Apa yang kau ingat?”

Raka memegangi kepalanya.

“Aku ingat kau menangis. Kau memanggil ibumu. Ada seseorang membawa obor. Kemudian… pintu batu itu terbuka.”

“Siapa yang membuka pintu?” tanya Mahendra.

Raka memejamkan mata.

“Seorang laki-laki.”

Sekar merasa dadanya sesak.

“Apakah kau mengenalnya?”

Raka menggeleng.

“Wajahnya tertutup kain hitam. Tetapi suaranya…”

Raka tiba-tiba membuka mata.

“Suara itu pernah kudengar lagi.”

“Di mana?” tanya Sekar.

Raka menatap Darmo.

“Di rumah orang tuaku.”

Senyum Darmo menghilang.

Mahendra segera menoleh kepada Darmo.

“Jadi kau mengenal orang yang membuka Watu Wening?”

Darmo tidak menjawab.

Raka melanjutkan.

“Malam itu, laki-laki tersebut mengatakan bahwa darah kami akan menjadi jalan bagi sesuatu yang besar. Dia ingin membawa Sekar, tetapi aku mencoba menghalanginya.”

Sekar menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu.”

Raka menekan dadanya.

“Aku hanya ingat sesuatu yang berkepala kerbau muncul dari balik pintu. Ia menatapku. Kemudian aku mendengar suara Ki Kusumo.”

Ki Kusumo menutup mata.

“Raka…”

“Ki datang terlambat,” lanjut Raka. “Ketika Ki menemukanku, aku sudah terbaring di dekat Watu Wening. Sekar sudah tidak ada. Dan sesuatu itu telah meninggalkan bekas di dalam tubuhku.”

Sekar menatap benang putih yang menghubungkan mereka.

“Jadi Ki mengikatmu agar iblis itu tidak menguasaimu?”

“Benar,” jawab Ki Kusumo.

Darmo segera menyela.

“Tidak sepenuhnya benar!”

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya ke arah Darmo.

“Jangan membuat keadaan semakin buruk.”

“Keadaan sudah buruk sejak kau menyembunyikan kebenaran!” bentak Darmo. “Kau tidak hanya mengikat Raka. Kau juga menggunakan darahnya untuk menjaga pintu tetap tertutup.”

Raka menatap Ki Kusumo.

“Benarkah?”

Ki Kusumo tidak menjawab.

Keheningan yang muncul terasa lebih mengerikan daripada suara guntur.

Sekar melangkah mendekati Ki Kusumo.

“Ki… apakah itu benar?”

Lelaki tua itu menatap Sekar lama sekali.

“Raka adalah penjaga keempat.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Ki Kusumo menundukkan kepala.

“Untuk menjaga Watu Wening tetap tertutup, diperlukan pengikat. Ketika Raka terluka oleh bayangan itu, aku menggunakan sebagian kekuatan darahnya untuk membuat segel.”

Raka menatap tangannya sendiri.

“Jadi selama ini…”

“Kau bukan tahanan,” kata Ki Kusumo cepat. “Kau adalah penjaga.”

“Tetapi aku tidak pernah memilihnya.”

Ki Kusumo terdiam.

Kalimat itu seperti menghantam sesuatu yang jauh lebih dalam daripada tubuh.

Darmo memanfaatkan kesempatan itu.

“Lihatlah, Raka! Mereka semua telah menggunakanmu. Keluargamu menyembunyikanmu. Ki Kusumo mengikatmu. Bahkan Sekar tidak pernah tahu bahwa keberadaannya berkaitan dengan penderitaanmu.”

Raka mengangkat wajahnya.

Bayangan hitam di belakangnya kembali bergerak.

Darmo tersenyum.

“Datanglah kepadaku. Aku dapat melepaskan ikatan itu.”

“Jangan percaya!” teriak Mahendra.

Darmo mengangkat tongkat kepala kerbau.

“Aku dapat memberimu kebebasan. Tidak ada lagi Ki Kusumo. Tidak ada lagi Watu Wening. Tidak ada lagi kewajiban menjadi penjaga.”

Raka menatap tongkat tersebut.

Bayangan hitam di belakangnya berbisik.

“Bebas…”

Suara itu masuk ke dalam kepala semua orang.

“Bebas dari rasa sakit…”

Raka menggertakkan gigi.

“Diam…”

“Bebas dari ingatan…”

Raka memegangi kepalanya.

“Diam!”

“Bebas dari Sekar…”

Sekar langsung berteriak.

“Raka, jangan dengarkan!”

Namun bayangan kepala kerbau semakin besar. Tanduknya menembus kabut. Mulutnya terbuka di belakang Raka, memperlihatkan kegelapan yang seolah tidak memiliki dasar.

“Bebas dari semua yang membuatmu lemah…”

Raka mengangkat kedua tangannya.

Energi hitam berkumpul di telapak tangannya.

Mahendra bersiap menyerang.

“Sekar, mundur!”

“Tidak!”

“Kalau dia menyerang, kau akan mati!”

Sekar menatap Raka.

“Raka masih ada di sana.”

“Dan sesuatu yang lain juga ada di sana!”

Raka mengangkat wajahnya.

“Sekar…”

Kali ini suaranya terdengar seperti dua suara yang bertumpuk.

“Aku tidak bisa menahannya.”

Sekar melangkah maju.

“Kalau begitu, biarkan aku membantumu.”

“Jangan mendekat!”

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

Raka membeku.

Kata-kata itu membuat bayangan di belakangnya berguncang.

Sekar terus berjalan mendekat.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Aku tidak tahu kenapa aku menghilang. Aku juga tidak tahu kenapa semua orang menyembunyikan kebenaran dariku.”

Cahaya putih mulai muncul dari dada Sekar.

“Tapi aku tahu satu hal.”

Taling sukmo di pergelangan tangannya berdenyut.

“Aku tidak akan membiarkan kau menghadapi semua ini sendirian.”

Bayangan kepala kerbau menggeram.

Darmo berteriak:

“Jangan biarkan dia mendekat!”

Para pengikut Darmo mengangkat senjata dan mulai menembaki halaman.

DOR! DOR! DOR!

Ki Kusumo segera mengayunkan tongkatnya.

Cahaya biru menyambar dari langit dan membentuk dinding petir di depan pesantren. Peluru-peluru itu terpental. Namun setiap kilatan membuat tubuh Ki Kusumo semakin melemah.

Gus Rahman menatapnya.

“Ki, jangan gunakan terlalu banyak tenaga!”

“Aku harus menahan mereka.”

“Kalau terus begitu, tubuhmu tidak akan sanggup!”

Ki Kusumo mengabaikan peringatan itu.

Ia menatap Sekar yang semakin dekat dengan Raka.

“Sekar, jangan sentuh bayangan itu!”

Sekar berhenti.

“Kenapa?”

“Karena ia akan menggunakan darahmu untuk berpindah.”

Darmo tersenyum.

“Dengar itu, Sekar? Bahkan penjagamu sendiri tahu bahwa kau adalah pintu.”

Raka mengangkat tangan.

Energi hitam di telapak tangannya berubah menjadi bentuk cakar.

“Sekar… pergi…”

Sekar melihat sesuatu di balik mata merahnya.

Raka sedang berjuang.

Sangat keras.

Di dalam tubuhnya, cahaya putih dan kegelapan saling bertarung.

Sekar memejamkan mata.

Ia tidak lagi melihat halaman pesantren.

Ia melihat sebuah ruangan tua.

Ruangan yang sama seperti dalam penglihatannya dahulu.

Empat benda tertutup kain berdiri di atas altar batu.

Di tengah ruangan, seorang laki-laki berjubah hitam berdiri membelakanginya.

Di hadapan laki-laki itu terdapat seorang anak kecil.

Raka.

Anak itu berlutut dengan tubuh penuh luka.

Di belakangnya berdiri Ki Kusumo muda.

Namun Ki Kusumo tidak sedang menyelamatkan Raka.

Ia sedang menggambar lingkaran dengan darah di lantai.

Sekar tersentak.

“Tidak…”

Dalam penglihatan itu, Ki Kusumo muda mengucapkan sesuatu.

“Dengan darah penjaga keempat, pintu akan tetap tertutup.”

Anak kecil Raka menangis.

“Ki… aku takut…”

Ki Kusumo meletakkan tangan di kepala Raka.

“Maafkan aku.”

Kemudian lingkaran darah menyala.

Raka menjerit.

Sekar membuka mata.

Ia kembali berada di halaman pesantren.

Ki Kusumo masih berdiri di hadapannya.

Sekar menatapnya dengan wajah pucat.

“Ki…”

Ki Kusumo langsung memahami apa yang telah dilihat Sekar.

“Penglihatan itu tidak lengkap.”

“Ki mengorbankan Raka!”

“Tidak!”

“Sekar!” teriak Raka. “Jangan percaya penglihatan itu!”

Sekar menoleh.

Raka tampak kesakitan.

“Penglihatan itu… dibuat oleh sesuatu yang ada di dalam diriku.”

“Tapi aku melihat Ki…”

“Kau melihat apa yang ingin ditunjukkan oleh iblis itu!”

Darmo tertawa.

“Betapa mudahnya manusia saling mencurigai.”

Sekar menatap Darmo.

“Kau juga tahu tentang penglihatan itu?”

Darmo mengangkat tongkatnya.

“Aku tahu lebih banyak daripada yang bisa kau bayangkan.”

“Siapa laki-laki berjubah hitam yang membuka pintu Watu Wening?”

Darmo diam.

Sekar melangkah maju.

“Jawab!”

Darmo menatap Sekar dengan sorot mata yang berubah.

Kemudian ia berkata pelan:

“Orang yang membuka pintu itu…”

Ia menoleh ke arah Ki Kusumo.

“…bukan orang asing bagi kalian.”

Ki Kusumo memejamkan mata.

Gus Rahman langsung berdiri di depannya.

“Darmo, cukup.”

“Tidak, Gus. Sudah waktunya mereka mengetahui siapa yang sebenarnya memulai semua ini.”

Darmo menunjuk Ki Kusumo.

“Laki-laki berjubah hitam itu adalah muridnya.”

Sekar membeku.

Mahendra mengerutkan dahi.

“Ki Kusumo memiliki murid?”

“Bukan hanya murid,” lanjut Darmo. “Dia adalah orang yang dahulu dipercaya menjaga empat darah. Namun dia mengkhianati sumpahnya. Dia membuka Watu Wening demi mendapatkan kekuatan yang berada di balik pintu.”

Laras menatap Ki Kusumo.

“Siapa namanya?”

Darmo tersenyum tipis.

“Namanya…”

Tiba-tiba langit menggelegar sangat keras.

GROOOOMMM!

Sebuah kilat menyambar tanah di antara Darmo dan Ki Kusumo. Ledakan itu membuat Darmo terpental beberapa meter.

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.

“Jangan sebut namanya!”

Darmo bangkit dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Kenapa? Karena kau takut mereka mengetahui bahwa orang itu masih hidup?”

Sekar merasakan hawa dingin merayap dari telapak kaki hingga kepalanya.

“Masih hidup?”

Darmo menatap Sekar.

“Ya.”

Ia tersenyum.

“Dan selama ini, dia berada jauh lebih dekat denganmu daripada yang kau kira.”

Tiba-tiba Raka menjerit keras.

Bayangan kepala kerbau di belakangnya terbelah menjadi dua. Salah satu bagian menempel pada tubuh Raka, sedangkan bagian lainnya melesat menuju halaman pesantren.

Bayangan itu bergerak cepat ke arah Sekar.

Mahendra segera mengayunkan Wulang Geni.

Api merah menyambar.

Namun bayangan tersebut melewati api dan menerjang Sekar.

Dalam sekejap, Sekar merasa tubuhnya membeku.

Taling sukmo di pergelangan tangannya terlepas dan melayang di udara.

Cahaya putih dari dadanya tertarik keluar.

“SEKAR!” teriak Mahendra.

Laras berusaha meraih tangannya, tetapi tubuhnya terpental oleh gelombang energi.

Ki Kusumo mengangkat tongkat.

“Jangan!”

Bayangan kepala kerbau membuka mulut tepat di depan wajah Sekar.

Di dalam mulut itu, Sekar melihat ribuan wajah manusia yang menjerit.

Salah satu wajah tampak sangat dikenalnya.

Wajah seorang laki-laki yang selama ini hanya muncul dalam mimpi.

Wajah ayahnya.

Sekar membeku.

“Ayah…?”

Wajah itu membuka mulut.

Namun suara yang keluar bukan suara ayahnya.

“Sekar…”

Bayangan tersebut berbisik.

“Sudah waktunya kau mengetahui siapa yang mengantarmu ke Watu Wening.”

Cahaya putih di tubuh Sekar semakin tertarik keluar.

Kemudian suara itu melanjutkan:

“Bukan Raka yang membuka pintu.”

Sekar berusaha melawan.

“Lalu siapa?”

Wajah ayahnya tersenyum dari dalam kegelapan.

“Kau sendiri, Sekar.”

Cahaya putih meledak.

Semua orang menjerit.

Ketika ledakan itu mereda, Sekar sudah tidak berada di halaman pesantren.

Ia berdiri di tempat lain.

Di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat tua.

Di hadapannya terdapat empat altar.

Satu altar menyala putih.

Satu altar menyala merah.

Satu altar menyala keemasan.

Altar keempat masih gelap.

Di tengah ruangan, seorang laki-laki berjubah hitam berdiri membelakanginya.

Sekar mengenali suara itu.

Suara yang pernah memanggilnya ketika kecil.

Suara yang pernah berjanji akan kembali.

Laki-laki itu perlahan berbalik.

Wajahnya masih tertutup kain hitam.

Namun dari balik kain tersebut terdengar suara yang membuat jantung Sekar seakan berhenti berdetak.

“Sekar…”

Ia mengangkat tangannya.

“Anakku…”

Sekar mundur.

“Tidak…”

Laki-laki itu melangkah maju.

“Sudah lama aku menunggumu pulang.”

Sekar menatapnya dengan air mata mengalir.

“Siapa kau?”

Laki-laki itu membuka kain yang menutupi wajahnya.

Sekar menjerit.

Karena wajah di balik kain tersebut adalah wajah seseorang yang selama ini diyakininya telah mati.

Ayah Sekar.

Namun di belakang tubuh ayahnya berdiri bayangan kepala kerbau.

Dan di lantai ruangan itu, tertulis dengan darah:

DARAH PERTAMA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MENJAGA PINTU. DARAH PERTAMA DICIPTAKAN UNTUK MEMBUKA SEMUANYA.

Di tempat lain, tubuh Sekar yang asli masih terbaring di halaman pesantren.

Ki Kusumo berlutut di sampingnya.

Mahendra berteriak memanggil namanya.

Laras menangis sambil memegangi dada.

Raka berusaha melawan bayangan yang menguasai tubuhnya.

Sementara Darmo berdiri di tengah hujan, tertawa seperti orang yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Pintu pertama telah terbuka…”

Ia mengangkat tongkat kepala kerbau.

“Sekarang, kebangkitan yang sebenarnya dimulai.”

Dan dari bawah tanah Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening, terdengar suara ketukan.

Tok… tok… tok…

Bukan dari pintu.

Melainkan dari dalam makam tua yang berada di bawah masjid.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk