KI KUSUMO DAN TIGA DARAH

1 dibaca

A

KI KUSUMO DAN TIGA DARAH

Hujan turun deras di atas hutan Weningjati.

Petir menyambar langit.

BRAKKK!

Watu Wening berguncang hebat.

Empat cahaya yang sebelumnya mengelilingi batu itu mulai padam satu demi satu.

Sekar masih berusaha bertahan.

Mahendra berada di sebelahnya dengan Wulang Geni.

Laras berdiri di sisi lain.

Sementara Raka berada paling belakang.

Namun salah satu dari mereka telah melepaskan ikatan.

Dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa.

Makhluk berkepala kerbau tertawa dari balik retakan Watu Wening.

“Kalian saling mencurigai…”

“Bagus.”

Kabut hitam semakin tebal.

Sekar menatap Raka.

Kemudian Mahendra.

Kemudian Laras.

“Siapa yang mengkhianati kita?”

Tidak ada jawaban.

Laras menggeleng.

“Bukan aku.”

Mahendra menggenggam Wulang Geni.

“Aku juga tidak.”

Raka menatap Sekar.

“Aku tidak pernah mengkhianatimu.”

Namun Sekar melihat sesuatu.

Di tangan salah satu dari mereka…

terdapat simbol hitam.

Sekar belum sempat memastikan siapa pemiliknya ketika—

WHUSSSHH!

Sebuah benda melesat dari balik pepohonan.

Menghantam tanah tepat di depan makhluk berkepala kerbau.

DUARRR!

Makhluk itu meraung.

“SIAPA?!”

Kabut hitam terbelah.

Seorang laki-laki tua berjalan keluar.

Mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap.

Di tangannya terdapat tongkat kayu tua.

Rambutnya putih.

Janggutnya panjang.

Namun langkahnya tetap tegap.

Ia berhenti di depan Watu Wening.

Kemudian berkata dengan tenang:

“Sudah cukup.”

Semua orang terdiam.

Darmo menatap laki-laki tersebut.

Wajahnya berubah pucat.

“Tidak mungkin…”

Laki-laki itu menoleh.

“Masih ingat aku, Darmo?”

Darmo mundur.

“Ki Kusumo…”


Ki Kusumo

Sekar menatap laki-laki tua itu.

“Siapa dia?”

Kinasih tersenyum tipis.

“Orang yang selama ini menjaga batas antara dunia manusia dan dunia yang tidak seharusnya terbuka.”

Ki Kusumo mengetukkan tongkatnya ke tanah.

DUG!

Seketika tanah di sekitar mereka memancarkan cahaya putih.

Makhluk berkepala kerbau meraung.

“Manusia tua!”

Ki Kusumo menatapnya.

“Jangan panggil aku manusia tua.”

Ia mengangkat tongkatnya.

“Aku masih cukup kuat untuk mengurungmu kembali.”

Makhluk itu menggeram.

“KAU TIDAK AKAN MAMPU!”

Ki Kusumo tersenyum.

“Kalau sendirian, mungkin tidak.”

Tatapannya berpindah kepada Sekar.

“Namun empat darah tidak seharusnya bertarung sendiri.”

Sekar menatapnya.

“Kalau begitu bantu kami.”

Ki Kusumo mengangguk.

“Tapi aku datang terlambat.”

Sekar bertanya,

“Kenapa?”

Ki Kusumo menatap empat orang tersebut.

“Karena salah satu dari kalian sudah berada di pihak mereka.”

Semua terdiam.


Tiga yang Harus Diselamatkan

Ki Kusumo mengangkat tangan.

Seketika tiga cahaya putih menyelimuti tubuh Sekar, Mahendra, dan Laras.

Raka tidak terkena cahaya itu.

Sekar terkejut.

“Kenapa Raka tidak ikut?”

Ki Kusumo tidak menjawab.

Darmo justru tertawa.

“Sekarang kau tahu.”

Sekar menoleh.

Darmo menunjuk Raka.

“Dialah pengkhianatnya.”

Raka membeku.

“Bohong.”

Darmo tersenyum.

“Benarkah?”

Ia mengeluarkan sebuah benda hitam dari sakunya.

Sebuah simbol yang sama dengan tanda di dada Raka.

Sekar menatap Raka.

“Raka…”

Raka menggeleng.

“Sekar, dengarkan aku.”

Namun Ki Kusumo tiba-tiba berkata,

“Jangan percaya siapa pun.”

Raka menatap Ki Kusumo.

“Bahkan aku?”

Ki Kusumo menjawab dingin.

“Terutama kau.”

Raka terdiam.

Sekar semakin bingung.

Makhluk berkepala kerbau kembali meraung.

Ki Kusumo segera mengambil keputusan.

“Kita tidak punya waktu.”

Ia mengangkat tongkat.

“Sekar!”

Sekar menoleh.

“Bawa Mahendra dan Laras!”

“Ke mana?”

“Pondok.”

“Pondok apa?”

“Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening.”

Ki Kusumo menatap mereka bertiga.

“Di sana kalian akan terlindungi.”

Sekar menggeleng.

“Aku tidak mau meninggalkan Raka.”

Ki Kusumo menatapnya cukup lama.

“Kalau kau tetap di sini…”

Ia menunjuk Watu Wening.

“…kalian semua akan menjadi persembahan.”


Jalan Menuju Pondok

Ki Kusumo menghantamkan tongkatnya ke tanah.

DUGGG!

Cahaya putih membentuk jalan di antara pepohonan.

“Pergi!”

Sekar menarik tangan Mahendra.

“Laras!”

Laras segera mengikuti.

Mereka bertiga berlari menuju jalan bercahaya.

Sekar menoleh untuk terakhir kalinya.

Raka masih berdiri di depan Watu Wening.

Tatapannya tertuju kepada Sekar.

“Sekar!”

Sekar berhenti.

“Apa?”

Raka berteriak:

“Jangan percaya apa pun yang mereka katakan tentangku!”

Sekar ingin kembali.

Namun Ki Kusumo berdiri di belakangnya.

“Jangan.”

“Dia temanku!”

“Dan mungkin juga musuhmu.”

Sekar menatap Raka dengan air mata.

Kemudian berbalik.

Mereka bertiga menghilang ke dalam hutan.


Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening

Setelah menempuh perjalanan panjang melalui hutan, Sekar akhirnya melihat cahaya lampu.

Sebuah pondok pesantren berdiri di balik pepohonan.

Bangunannya sederhana.

Masjid berada di tengah kompleks.

Beberapa santri masih terlihat berjaga meskipun malam telah larut.

Begitu Ki Kusumo tiba, seorang lelaki tua berjubah sederhana keluar dari masjid.

“Ki Kusumo?”

Ki Kusumo mengangguk.

“Gus Rahman.”

Lelaki itu melihat Sekar, Mahendra, dan Laras.

Wajahnya langsung berubah serius.

“Jadi mereka sudah ditemukan.”

Ki Kusumo menjawab,

“Ya.”

Gus Rahman memandang Sekar.

“Darah pertama?”

Sekar terkejut.

“Bagaimana Anda tahu?”

Gus Rahman tidak menjawab.

Ia hanya berkata,

“Masuklah.”

Mereka bertiga dibawa menuju sebuah ruangan kecil di belakang masjid.

Pintu ditutup.

Kemudian Gus Rahman menyalakan beberapa lampu.

“Selama kalian berada di sini…”

Ia menatap mereka.

“Jangan keluar setelah azan Subuh.”

Mahendra bertanya,

“Kenapa?”

Gus Rahman menjawab,

“Karena malam ini bukan hanya manusia yang mencari kalian.”


Pesan dari Ki Kusumo

Ki Kusumo meletakkan tongkatnya.

“Darmo akan datang.”

Sekar menatapnya.

“Bagaimana dengan Raka?”

Ki Kusumo diam.

“Jawab aku.”

Ki Kusumo akhirnya berkata,

“Raka masih berada di Watu Wening.”

Sekar berdiri.

“Kita harus kembali.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Ki Kusumo menatapnya tajam.

“Karena kalau kau kembali sekarang…”

“Darmo akan mendapatkan empat darah sekaligus.”

Sekar mengepalkan tangan.

“Kalau Raka memang bukan pengkhianat?”

Ki Kusumo menjawab,

“Kalau dia tidak bersalah…”

Ia berhenti sejenak.

“…dia akan menemukan jalan menuju kita.”

Mahendra menatap Ki Kusumo.

“Dan kalau dia memang pengkhianat?”

Ki Kusumo menatapnya.

“Maka dia tidak boleh menemukan jalan masuk.”

Ruangan kembali sunyi.

Di luar, suara angin terdengar melewati pepohonan.

Kemudian—

TOK…

Semua menoleh.

TOK… TOK…

Seseorang mengetuk pintu pondok.

Gus Rahman berdiri.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ketukan terdengar sekali lagi.

TOK… TOK… TOK…

Sekar merasakan taling sukmo bergetar.

Laras memegang dadanya.

Mahendra menggenggam Wulang Geni.

Ki Kusumo mematikan lampu.

“Jangan buka pintu.”

Suara dari luar akhirnya terdengar.

Suara seorang laki-laki.

“Sekar…”

Sekar membeku.

Itu suara Raka.

“Sekar, aku datang.”

Ki Kusumo menggeleng.

“Jangan.”

Sekar berbisik,

“Kalau benar Raka?”

Ki Kusumo menatap pintu.

“Kalau benar dia…”

Tiba-tiba suara Raka dari luar berubah.

Menjadi suara berat.

Suara yang sama dengan makhluk berkepala kerbau.

“MAKA AKU AKAN MASUK SENDIRI.”

Pintu pondok bergetar hebat.

BRAKKK!

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.

“Semua mundur!”

Dan dari luar terdengar tawa.

“TIGA DARAH SUDAH TERKUMPUL.”

“TINGGAL SATU.”

Sekar menatap Ki Kusumo.

“Raka…”

Ki Kusumo menggenggam tongkatnya erat.

“Bukan.”

Ia menatap pintu.

“Yang datang bukan Raka.”

Di luar pondok…

sepasang mata merah menyala dalam kegelapan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk