ANAK YANG HILANG
“Ibu...”
Suara itu keluar dari dalam kotak kayu.
Sekar membeku.
Tangannya yang semula hendak membuka kotak perlahan ditarik kembali.
Hutan Weningjati mendadak sunyi.
Bahkan angin yang sejak tadi berembus kencang seolah berhenti.
Sekar menatap kotak tua di hadapannya.
“Suara siapa itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Ibunya berdiri beberapa meter dari sana dengan wajah pucat.
“Sekar...” suara ibunya bergetar. “Jangan sentuh kotak itu.”
Sekar menoleh.
“Tapi kenapa, Bu?”
Ibunya tidak menjawab.
Air matanya mulai mengalir.
Raka memperhatikan perempuan itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Bu...” Raka melangkah mendekat. “Apa sebenarnya yang terjadi?”
Ibu Sekar menatap Raka.
“Kamu juga tidak seharusnya datang ke sini.”
Raka terdiam.
“Jadi Ibu sudah tahu?”
“Sejak awal.”
Sekar semakin bingung.
“Tahu apa?”
Ibunya memandang Sekar lama.
Kemudian berkata pelan,
“Bahwa suatu hari kamu akan menemukan kotak itu.”
Sekar kembali melihat kotak kayu.
“Kenapa ada suara anak kecil di dalamnya?”
Ibunya menggeleng.
“Karena yang ada di dalam kotak itu bukan sekadar benda.”
Sekar menelan ludah.
“Lalu apa?”
Ibunya melangkah perlahan.
“Kenangan.”
RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN
Ibu Sekar berlutut di depan kotak tersebut.
Tangannya gemetar ketika menyentuh permukaannya.
“Dulu, sebelum kamu lahir, keluarga kita pernah mengalami kejadian yang tidak pernah boleh diketahui orang lain.”
Sekar diam mendengarkan.
“Seorang anak hilang.”
“Siapa?”
Ibunya memejamkan mata.
“Namanya... Kinasih.”
Sekar terkejut.
“Kinasih?”
Nama itu pernah ia dengar.
Nama leluhur yang disebut ibunya pada malam sebelumnya.
“Bukankah Kinasih itu leluhur kita?”
Ibunya mengangguk.
“Begitulah yang selama ini dipercaya keluarga.”
“Berarti Kinasih memang pernah hidup di desa ini?”
“Bukan hanya pernah hidup.”
Ibunya menatap kotak tersebut.
“Dia pernah menghilang.”
Sekar merasa dadanya semakin sesak.
“Bagaimana bisa?”
“Ketika berusia sekitar sepuluh tahun, Kinasih masuk ke hutan Weningjati.”
“Sendirian?”
“Tidak.”
Ibunya menatap Raka.
“Dia bersama seseorang.”
Raka langsung mengerutkan kening.
“Siapa?”
Ibu Sekar menjawab,
“Seorang anak laki-laki bernama Wening.”
Raka terdiam.
Nama itu membuat wajahnya berubah.
“Wening...?”
Ibu Sekar mengangguk.
“Dari situlah nama Desa Weningjati dipercaya berasal.”
Sekar melihat Raka.
“Kamu tahu tentang dia?”
Raka tidak menjawab.
Sekar mendekat.
“Raka?”
Akhirnya Raka berkata,
“Aku pernah mendengar cerita tentang seorang anak bernama Wening.”
“Siapa dia?”
“Tidak ada yang tahu pasti.”
Raka memandang hutan.
“Konon, Wening bukan anak biasa.”
SUARA DARI DALAM KOTAK
Tiba-tiba terdengar suara lagi.
“Ibu...”
Sekar menoleh cepat.
Kali ini suaranya lebih jelas.
Suara seorang anak perempuan.
Sekar merasa wajahnya seperti kehilangan darah.
“Itu...”
Ibunya langsung berdiri.
“Jangan dengarkan.”
“Tapi suaranya—”
“Sekar!”
Bentakan itu membuat Sekar terdiam.
Ibunya jarang sekali membentaknya seperti itu.
Namun beberapa detik kemudian, suara tersebut kembali terdengar.
“Tolong aku...”
Sekar memejamkan mata.
Tanpa sadar air matanya jatuh.
Ia merasa suara itu sangat dekat dengan dirinya.
Seolah-olah ia pernah mendengarnya.
Seolah-olah suara itu merupakan bagian dari masa kecilnya.
Sekar memegang kepalanya.
“Aku pernah mendengar suara ini.”
Ibunya langsung pucat.
“Tidak.”
“Aku ingat.”
“Sekar, kamu masih kecil waktu itu.”
Sekar menatap ibunya.
“Waktu apa?”
Ibunya terdiam.
“Bu...”
“Tidak ada apa-apa.”
“Jangan bohong.”
Sekar mulai menangis.
“Selama ini Ibu selalu bilang aku tidak pernah masuk hutan. Tapi kenapa aku merasa pernah berada di sini?”
Ibunya tidak sanggup menjawab.
Raka memperhatikan keduanya.
Kemudian ia berkata,
“Ingatan Sekar mungkin bukan hilang.”
Ibu Sekar menatap Raka.
“Jangan.”
“Dia berhak tahu.”
“Belum waktunya.”
Raka menggeleng.
“Kalau kita terus menyembunyikannya, Adi Laksana akan menemukannya lebih dulu.”
Nama itu membuat suasana berubah.
Sekar menatap mereka.
“Apa hubungan Adi Laksana dengan semua ini?”
Tidak ada jawaban.
Sekar mengepalkan tangannya.
“Jawab aku!”
Raka akhirnya berkata,
“Adi tidak hanya mencari taling sukmo.”
“Lalu?”
“Dia sedang mencari sesuatu yang lebih besar.”
“Apa?”
“Pintu.”
PINTU DI BAWAH WATU WENING
Raka menunjuk Watu Wening.
“Di bawah batu itu terdapat ruang tua.”
Sekar menatap batu yang retak.
“Ruang?”
“Menurut cerita leluhur, ada tempat yang disebut Pawon Wening.”
“Apa itu?”
“Tempat para penjaga leluhur dahulu menyimpan benda-benda yang berhubungan dengan empat warisan.”
Sekar mengingat kata-kata ibunya.
Empat warisan.
“Jadi kotak ini berasal dari sana?”
Raka mengangguk.
“Seharusnya kotak itu tidak pernah keluar.”
Sekar memandang ibunya.
“Tapi Ibu tahu tentangnya.”
Ibunya menghela napas.
“Karena ayahmu pernah membawanya.”
Sekar terkejut.
“Ayah?”
Untuk beberapa saat ibunya hanya diam.
Nama ayah Sekar selalu menjadi sesuatu yang jarang dibicarakan di rumah.
Sekar bahkan tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas tentang banyak hal dari masa lalu keluarganya.
“Kenapa Ayah membawa kotak ini?”
Ibunya menatap tanah.
“Karena ayahmu ingin menyelamatkanmu.”
Sekar terdiam.
“Dari apa?”
“Dari orang-orang yang mengejar darah keluarga kita.”
MALAM KETIKA SEKAR HILANG
Ingatan Sekar tiba-tiba terasa berputar.
Kabut.
Pohon besar.
Suara ibunya.
Kemudian seorang anak perempuan kecil berlari di antara pepohonan.
Sekar memejamkan mata.
“Aku melihat sesuatu...”
Raka mendekat.
“Apa?”
“Seorang anak perempuan.”
“Seperti apa?”
“Dia...”
Sekar membuka mata.
“Dia memakai baju merah.”
Ibunya langsung menutup mulut.
Sekar melihat reaksi tersebut.
“Itu aku, bukan?”
Ibunya tidak menjawab.
“Bu!”
Air mata ibunya jatuh.
“Iya.”
Sekar terdiam.
“Berarti aku pernah berada di hutan ini.”
Ibunya mengangguk.
“Waktu umur tujuh tahun.”
Sekar menatap hutan.
“Apa yang terjadi?”
“Kamu hilang selama satu malam.”
Sekar membeku.
“Satu malam?”
“Ibu dan ayahmu mencarimu ke mana-mana.”
“Lalu?”
“Keesokan paginya kamu ditemukan di dekat Watu Wening.”
Sekar mencoba mengingat.
Tetapi kepalanya kembali sakit.
“Aku ditemukan siapa?”
Ibunya menjawab dengan suara hampir tidak terdengar.
“Wening.”
Raka langsung menoleh.
“Wening?”
Ibunya mengangguk.
“Anak itu membawa Sekar kembali.”
Sekar merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
“Kalau begitu... siapa Wening sebenarnya?”
Ibunya memandangnya.
“Tidak ada seorang pun yang tahu.”
BAYANGAN DI BALIK POHON
Tiba-tiba terdengar suara ranting patah.
Krek.
Raka langsung menoleh.
“Jangan bergerak.”
Sekar berdiri di samping ibunya.
Di antara pepohonan terlihat sebuah bayangan.
Seorang anak kecil.
Berdiri diam.
Sekar menatapnya.
“Wening?”
Bayangan itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan.
Menunjuk ke arah belakang Sekar.
Sekar perlahan menoleh.
Adi Laksana berdiri di sana.
Namun kali ini dia sendirian.
Tidak ada anak buah.
Tidak ada senjata.
Hanya senyum dingin di wajahnya.
“Sekarang kamu sudah tahu sedikit tentang masa lalumu.”
Raka maju.
“Pergi dari sini.”
Adi tertawa.
“Justru kalian yang harus mendengarkan.”
Ia menatap Sekar.
“Anak yang hilang itu bukan sekadar korban.”
Sekar menatap tajam.
“Maksudmu?”
Adi menjawab,
“Ketika kamu hilang selama satu malam, kamu melihat sesuatu di bawah Watu Wening.”
Sekar menggeleng.
“Aku tidak ingat.”
“Memang.”
Adi tersenyum.
“Karena ingatan itu sengaja dikunci.”
Ibunya langsung berdiri di depan Sekar.
“Jangan percaya dia.”
Adi menatapnya.
“Suatu hari Sekar akan tahu siapa yang sebenarnya berbohong.”
Sekar melihat ibunya.
Kemudian melihat Adi.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya.
Adi berbalik.
Sebelum pergi, ia berkata,
“Buka kotak itu, Sekar.”
Sekar diam.
“Di dalamnya ada jawaban tentang malam ketika kamu hilang.”
Adi berjalan menuju kabut.
“Tapi ingat...”
Ia berhenti.
“Tidak semua jawaban ingin ditemukan.”
Kemudian tubuhnya menghilang di balik pepohonan.
KOTAK ITU TERBUKA
Sekar kembali menatap kotak kayu.
Tangannya gemetar.
Ibunya memegang bahunya.
“Jangan.”
Sekar menggeleng.
“Aku harus tahu.”
“Sekar...”
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan pertanyaan.”
Ia mengusap air matanya.
“Aku ingin tahu siapa diriku.”
Raka berdiri di sampingnya.
“Kalau kamu membuka kotak itu, mungkin tidak ada jalan untuk kembali.”
Sekar menatap Raka.
“Kalau aku tidak membukanya, aku akan terus hidup dalam kebohongan.”
Raka terdiam.
Sekar menyentuh tutup kotak.
Klik.
Kunci terbuka.
Perlahan...
Sekar mengangkat tutupnya.
Tidak ada emas.
Tidak ada senjata.
Hanya sebuah kain putih tua.
Dan di atas kain itu terdapat sebuah foto kecil.
Sekar mengambilnya.
Foto hitam putih.
Di dalam foto terlihat seorang anak perempuan kecil berdiri di depan Watu Wening.
Sekar menatap foto itu.
Wajahnya pucat.
Karena anak perempuan itu...
adalah dirinya sendiri.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mengejutkan.
Di samping Sekar kecil berdiri seorang anak laki-laki.
Wajahnya samar.
Namun di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:
“Sekar dan Wening — malam pertama pintu terbuka.”
Sekar membalik foto tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari dalam hutan.
“Sekar...”
Sekar menoleh.
Bayangan anak kecil tadi sudah tidak ada.
Namun di tanah tempat ia berdiri terdapat sebuah benda.
Sebuah keris kecil tua.
Sekar mendekat.
Ketika tangannya menyentuh keris itu—
seluruh hutan berubah gelap.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sekar melihat sesuatu yang selama ini terkunci dalam ingatannya.
Malam ketika ia berusia tujuh tahun.
Malam ketika ia menghilang.
Malam ketika Wening membawa Sekar masuk ke sebuah pintu di bawah Watu Wening.
Sekar mendengar suara dirinya sendiri saat masih kecil:
“Kalau aku masuk ke sini, apakah aku bisa bertemu Ibu?”
Lalu suara seorang anak laki-laki menjawab:
“Bisa. Tapi setelah itu, kamu tidak boleh mengingat aku.”
Sekar membuka mata.
Napasnya tersengal.
Ia menatap Raka dengan ketakutan.
“Raka...”
“Apa?”
Sekar menggenggam foto itu erat-erat.
“Aku pernah masuk ke dalam pintu itu.”
Raka terdiam.
Dan dari bawah Watu Wening...
terdengar suara ketukan.
Tok...
Tok...
Tok...
Seolah-olah ada seseorang yang masih berada di balik pintu.
Menunggu Sekar kembali.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!