PINTU DI BAWAH WATU WENING

3 dibaca

A

PINTU DI BAWAH WATU WENING

Ketukan itu terdengar lagi.

Tok...

Sekar menahan napas.

Tok...

Suara itu berasal dari bawah Watu Wening.

Tok...

Tiga kali.

Sama persis seperti ketukan yang pernah ia dengar ketika berusia tujuh tahun.

Ingatan yang selama ini terkubur perlahan kembali muncul.

Kabut.

Hujan.

Tangisan seorang anak kecil.

Dan seorang anak laki-laki yang menggenggam tangannya.

Sekar memejamkan mata.

“Wening...”

Raka langsung menatapnya.

“Kamu ingat namanya?”

Sekar membuka mata.

“Sedikit.”

“Apa yang kamu ingat?”

Sekar menatap batu besar di hadapannya.

“Aku pernah masuk ke tempat ini.”

Ibunya langsung menangis.

“Sekar...”

“Aku ingat sekarang.”

Sekar berjalan mendekati Watu Wening.

“Aku pernah berdiri di sini waktu kecil.”

Tangannya menyentuh permukaan batu.

Seketika tubuhnya menggigil.

“Ada pintu di bawah batu ini.”

Raka menatap ibunya.

“Jadi selama ini benar.”

Ibu Sekar mengangguk pelan.

“Pintunya memang ada.”

Sekar menoleh.

“Kenapa Ibu tidak pernah menceritakannya?”

Ibunya mengusap air mata.

“Karena setelah malam itu, ayahmu bersumpah bahwa kamu tidak boleh mengetahui apa pun tentang tempat ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bukan hanya melihat pintu itu.”

Ibunya berhenti.

“Kamu membuka sesuatu di dalamnya.”


MALAM KETIKA SEKAR BERUSIA TUJUH TAHUN

Sekar kembali mendapatkan penglihatan.

Namun kali ini jauh lebih jelas.

Ia melihat dirinya sendiri ketika masih kecil.

Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun berlari di tengah hujan.

“Ibu!”

Anak kecil itu menangis.

Di belakangnya terdengar suara seseorang memanggil.

“Sekar!”

Seorang anak laki-laki muncul dari balik pohon.

Usianya tidak jauh berbeda.

Rambutnya basah.

Pakaiannya sederhana.

Dia mengulurkan tangan.

“Jangan menangis.”

Sekar kecil menatapnya.

“Kamu siapa?”

Anak laki-laki itu tersenyum.

“Namaku Wening.”

Sekar kecil menghapus air matanya.

“Aku tersesat.”

“Aku tahu.”

“Bisa antar aku pulang?”

Wening mengangguk.

“Tapi jalan pulangnya bukan dari sini.”

“Lalu lewat mana?”

Wening menunjuk ke arah Watu Wening.

“Lewat sana.”

Sekar kecil mengikuti.

Mereka berjalan menembus kabut.

Di depan Watu Wening terdapat sebuah celah sempit yang sebelumnya tidak terlihat.

Wening menyentuh batu.

Krek...

Batu itu bergerak.

Di bawahnya muncul tangga batu menuju kegelapan.

Sekar kecil ketakutan.

“Aku takut.”

Wening menggenggam tangannya.

“Jangan takut.”

“Di bawah sana ada apa?”

Wening menjawab,

“Tempat yang tidak boleh ditemukan orang jahat.”

Sekar kecil menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena di sana ada rahasia empat warisan.”


KEMBALI KE MASA SEKARANG

Sekar tersentak.

Ia terjatuh berlutut.

Raka segera memegang bahunya.

“Sekar!”

Sekar terengah-engah.

“Aku ingat.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Wening membawaku masuk.”

Raka terdiam.

“Ke bawah Watu Wening?”

Sekar mengangguk.

“Dia bilang ada rahasia empat warisan.”

Ibunya memejamkan mata.

“Seharusnya kamu tidak pernah mengingat itu.”

Sekar berdiri.

“Kenapa?”

Ibunya tidak menjawab.

“Bu!”

Akhirnya ibunya berkata,

“Karena setelah kamu keluar dari tempat itu, kamu berubah.”

Sekar mengerutkan kening.

“Berubah bagaimana?”

“Kamu tidak lagi seperti anak kecil biasa.”

Sekar diam.

Ibunya melanjutkan.

“Sejak malam itu, kamu mulai melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.”

“Mata batin?”

Ibunya mengangguk.

“Bukan hanya mata batin.”

Sekar menatap taling sukmo.

“Lalu apa?”

“Taling sukmo-mu terbuka malam itu.”


EMPAT WARISAN

Raka berjalan mendekati Watu Wening.

Ia membersihkan lumut pada permukaannya.

Di bawah lumut terdapat empat garis yang membentuk simbol seperti empat arah.

“Empat warisan,” katanya.

Sekar berdiri di sampingnya.

“Ceritakan semuanya.”

Raka menggeleng.

“Aku hanya tahu sebagian.”

“Setidaknya ceritakan yang kamu tahu.”

Raka menarik napas.

“Empat warisan bukan empat benda.”

“Lalu?”

“Empat warisan adalah empat garis keturunan yang dahulu dipercaya memiliki kemampuan berbeda.”

Sekar memperhatikan simbol itu.

“Termasuk keluargaku?”

“Ya.”

“Dan tiga lainnya?”

“Belum semuanya ditemukan.”

Sekar menatap Raka.

“Kamu salah satunya?”

Raka terdiam.

Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.

“Aku tidak tahu.”

Sekar menggeleng.

“Kamu pasti tahu.”

Raka akhirnya berkata,

“Ada alasan kenapa aku bisa melihat tempat ini.”

Sekar menunggu.

“Karena keluargaku juga pernah menjaga Watu Wening.”

Sekar terkejut.

“Jadi keluargamu salah satu dari empat warisan?”

Raka menatapnya.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Belum ada bukti.”

Sekar hendak bertanya lagi.

Namun suara dari bawah batu kembali terdengar.

Tok...

Kali ini lebih keras.

TOK!

Sekar mundur.

Sebuah suara anak kecil terdengar.

“Sekar...”

Sekar membeku.

Suara itu sama seperti yang ia dengar dari dalam kotak.

“Wening?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar:

“Aku masih menunggu.”


PINTU TERBUKA

Retakan pada Watu Wening semakin lebar.

Tanah di sekitar mereka bergetar.

Ibu Sekar berteriak,

“Jangan biarkan pintunya terbuka!”

Raka segera mendekati batu.

“Aku akan menutupnya.”

“Terlambat!”

Sebuah cahaya muncul dari celah.

Sekar melihat tangga batu di bawah tanah.

Persis seperti yang ia lihat dalam ingatannya.

Tangga itu turun jauh ke dalam kegelapan.

Di sisi kanan dan kiri terdapat ukiran kuno.

Empat simbol.

Sekar mendekat.

“Ini tempat yang sama.”

Ibunya menarik tangannya.

“Kita pergi.”

“Aku harus masuk.”

“Tidak!”

“Aku harus tahu apa yang terjadi malam itu.”

Ibunya memegang wajah Sekar.

“Sekar, dengarkan Ibu.”

“Apa?”

“Di bawah sana ada sesuatu yang pernah membuat ayahmu mempertaruhkan nyawanya.”

Sekar terdiam.

“Ayah pernah masuk?”

Ibunya mengangguk.

“Bersama beberapa orang.”

“Dan?”

“Mereka tidak semuanya kembali.”

Sekar terdiam.

“Berapa orang?”

Ibunya menatap tangga.

“Empat.”

Sekar merasakan tubuhnya dingin.

“Empat orang?”

Ibunya mengangguk.

“Empat penjaga masuk.”

“Hanya satu yang kembali?”

Ibunya menatap Sekar.

“Tidak.”

Sekar mengerutkan kening.

“Lalu?”

Ibunya menjawab pelan.

“Tidak seorang pun kembali sebagai manusia yang sama.”


LANGKAH PERTAMA

Sekar menatap tangga.

Rasa takut ada di dalam dirinya.

Tetapi rasa ingin tahu jauh lebih besar.

Ia menyalakan lampu dari ponselnya.

“Aku turun.”

Raka menggeleng.

“Aku ikut.”

Ibunya langsung berkata,

“Tidak!”

Raka menoleh.

“Kalau Sekar masuk sendirian, lebih berbahaya.”

Ibu Sekar memandang keduanya.

Akhirnya ia menghela napas.

“Jangan terlalu jauh.”

Sekar mengangguk.

Mereka turun.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

Udara semakin dingin.

Suara dari atas semakin jauh.

Tik... tik... tik...

Air menetes dari langit-langit.

Dinding batu dipenuhi akar tua.

Setelah puluhan anak tangga, Sekar berhenti.

Di dinding sebelah kiri terdapat tulisan kuno.

Ia menyentuhnya.

Aneh.

Sekar tiba-tiba mampu membaca tulisan tersebut.

“DARAH AKAN MEMBUKA PINTU.”

Raka melihatnya.

“Kamu bisa membacanya?”

Sekar mengangguk.

“Aku tidak tahu bagaimana.”

Mereka melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah ruangan.

Di tengah ruangan terdapat empat tiang batu.

Masing-masing memiliki simbol berbeda.

Sekar mendekat.

Pada salah satu tiang terdapat simbol yang sama dengan taling sukmo miliknya.

“Ini warisan keluargaku.”

Raka mengangguk.

“Sepertinya.”

Di tiang kedua terdapat simbol seperti mata.

Tiang ketiga seperti api.

Tiang keempat seperti air.

Sekar menatap keempatnya.

“Jadi ini empat warisan?”

Raka menjawab,

“Bisa jadi.”

Namun sebelum mereka sempat mendekat—

sebuah suara terdengar dari belakang.

“Bukan.”

Sekar dan Raka langsung menoleh.

Seorang anak laki-laki berdiri di ujung lorong.

Tubuhnya terlihat samar.

Wajahnya masih seperti anak kecil.

Sekar mengenalinya.

“Wening...”

Anak itu tersenyum.

“Kamu akhirnya kembali.”

Sekar maju satu langkah.

“Kenapa aku pernah datang ke sini?”

Wening tidak menjawab.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Wening menatap Raka.

“Dia belum boleh tahu.”

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Wening menjawab,

“Karena kalau Sekar mengetahui semuanya sekarang...”

Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin.

“...orang yang memburunya akan menemukan pintu kedua.”

Sekar terkejut.

“Pintu kedua?”

Wening menunjuk ke belakang Sekar.

Sekar perlahan menoleh.

Di dinding yang sebelumnya kosong...

muncul sebuah pintu batu.

Dan di tengah pintu itu terdapat ukiran nama:

KINASIH.

Sekar mendekat.

Tangannya menyentuh tulisan tersebut.

Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari balik pintu.

“Sekar...”

Sekar menangis.

Suara itu sangat familiar.

Suara yang pernah ia dengar dalam mimpi.

“Siapa?”

Suara itu menjawab:

“Aku adalah orang yang selama ini kamu kira sudah mati.”

Sekar membeku.

Raka menatap pintu.

Ibu Sekar yang baru tiba di ujung tangga langsung berteriak:

“JANGAN BUKA!”

Namun sudah terlambat.

Pintu batu mulai bergerak.

KREEEKKK...

Debu berjatuhan.

Dari celah pintu keluar cahaya putih.

Sekar berdiri tepat di depannya.

Dan sebelum pintu terbuka sepenuhnya—

taling sukmo di lehernya tiba-tiba terangkat sendiri.

Cahaya memenuhi ruangan.

Empat tiang batu menyala bersamaan.

Kemudian suara tua menggema dari seluruh ruangan:

“WARISAN PERTAMA TELAH TERBANGUN.”

Sekar menatap Raka.

“Warisan pertama?”

Raka tidak menjawab.

Karena dari balik pintu terdengar suara langkah.

Seseorang sedang berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Kemudian sebuah tangan perempuan muncul dari balik cahaya.

Sekar mundur.

Tangannya gemetar.

Perempuan itu perlahan keluar.

Wajahnya masih tertutup rambut panjang.

Namun ketika ia mengangkat kepalanya—

Sekar melihat wajah yang sangat dikenalnya dari foto keluarga.

Wajah perempuan yang selama ini dianggap sebagai leluhurnya.

Kinasih.

Perempuan itu tersenyum.

“Sekar...”

Air mata Sekar jatuh.

“Tidak mungkin...”

Kinasih mendekat.

“Sudah waktunya kamu mengetahui kebenaran.”

Sekar menggeleng.

“Bukankah kamu sudah meninggal?”

Kinasih tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah mati.”

Ruangan mendadak dipenuhi suara bisikan.

Raka menatap Kinasih dengan wajah tegang.

“Kalau begitu... siapa yang selama ini dikuburkan atas nama Kinasih?”

Kinasih tidak menjawab.

Ia hanya menatap Sekar.

Kemudian berkata:

“Yang dikuburkan bukan aku.”

Sekar membeku.

Dan tepat saat itu, dari jauh di atas Watu Wening terdengar suara ledakan.

DUUUMM!

Ibu Sekar menoleh ke arah tangga.

Wajahnya berubah pucat.

“Adi Laksana...”

Kinasih tersenyum.

“Dia sudah membuka jalan menuju pintu kedua.”

Sekar menatapnya.

“Pintu kedua ada di mana?”

Kinasih mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah dinding belakang.

“Di tempat yang paling dekat dengan rumahmu.”

Sekar terdiam.

Kemudian Kinasih berbisik:

“Di bawah rumah keluargamu.”

Lampu ponsel Sekar tiba-tiba padam.

Kegelapan menelan seluruh ruangan.

Dan dalam kegelapan itu...

terdengar suara seseorang tertawa.

“Akhirnya... aku menemukanmu, Sekar.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk