EMPAT DARAH YANG TERBANGUN

2 dibaca

A

EMPAT DARAH YANG TERBANGUN

Gemuruh dari bawah Watu Wening semakin keras.

Duum... duum... duum...

Tanah bergetar di bawah kaki Sekar.

Ia hampir terjatuh, tetapi Raka segera menarik lengannya.

“Jangan sentuh batunya lagi!”

Sekar menatap Raka dengan ketakutan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Raka tidak langsung menjawab.

Matanya tertuju pada retakan yang semakin melebar.

Dari dalam celah batu keluar kabut hitam tipis.

Adi Laksana justru melangkah mendekat.

“Jadi selama ini benar...”

Raka berdiri menghadang.

“Jangan mendekat, Adi.”

Adi tersenyum sinis.

“Kenapa? Takut aku menemukan sesuatu yang selama ini kalian sembunyikan?”

“Bukan sesuatu.”

Raka menatapnya tajam.

Seseorang.

Senyum Adi perlahan menghilang.

“Apa maksudmu?”

Tiba-tiba taling sukmo di tangan Sekar terasa panas.

Ssshhh...

Sekar meringis.

“Panas!”

Cahaya samar keluar dari benda tersebut.

Kemudian terdengar suara perempuan dari dalam hutan.

“Sekar...”

Sekar menoleh.

“Siapa?”

Raka ikut menoleh.

Namun kali ini ia juga mendengarnya.

Suara itu kembali terdengar.

“Sekar Kinasih Pratiwi...”

Kabut bergerak.

Di antara pepohonan muncul sosok perempuan berpakaian putih.

Sekar mengenalinya.

Perempuan yang selama ini muncul dalam penglihatannya.

“Ibu...?”

Raka terkejut.

“Jangan panggil dia begitu.”

Sekar menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kau belum tahu siapa dia.”

Perempuan itu tersenyum.

“Raka... masih saja kau menyembunyikan kebenaran.”

Raka terdiam.

Adi memperhatikan mereka dengan penuh rasa ingin tahu.

“Jadi kalian saling mengenal?”

Perempuan itu menoleh kepada Adi.

Tatapannya berubah dingin.

“Kau tidak seharusnya berada di sini.”

Adi tertawa.

“Aku justru sudah menunggu tempat ini bertahun-tahun.”

Ia memberi isyarat kepada kedua anak buahnya.

“Ambil Sekar.”

Dua orang itu maju.

Raka langsung bergerak.

Dalam sekejap ia berdiri di depan Sekar.

“Tidak ada yang menyentuhnya.”

Salah satu anak buah Adi menyerang.

Raka menghindar.

Buk!

Tubuh lelaki itu terjatuh ke tanah.

Sekar mundur ketakutan.

“Raka!”

“Lari ke belakang Watu Wening!”

“Tapi—”

“Sekarang!”

Sekar berlari.

Namun baru beberapa langkah, taling sukmo kembali bergetar.

Sekar berhenti.

Di hadapannya muncul tiga bayangan.

Seorang pemuda.

Seorang perempuan.

Dan seorang lelaki tua.

Ketiganya berdiri berjajar.

Suara mereka terdengar bersamaan.

“Empat darah telah bangun.”

Sekar terdiam.

“Siapa kalian?”

Bayangan itu perlahan menghilang.

Tetapi sebelum lenyap, lelaki tua tersebut berkata:

“Carilah tiga lainnya.”

Sekar membeku.

Tiga lainnya.

Berarti selama ini dirinya bukan satu-satunya.

Ada tiga orang lain yang memiliki warisan leluhur.

Namun sebelum Sekar sempat berpikir lebih jauh—

Watu Wening pecah.

BRAAAK!

Semua orang terdiam.

Dari dalam batu muncul sebuah benda tua.

Bukan emas.

Bukan harta.

Melainkan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci.

Raka menatapnya dengan wajah pucat.

“Tidak mungkin...”

Adi tersenyum.

“Itu yang selama ini kucari.”

Ia berjalan menuju kotak tersebut.

Tetapi ketika tangannya hampir menyentuhnya—

Taling sukmo milik Sekar menyala terang.

Adi terpental.

“AAARGH!”

Tubuhnya jatuh beberapa meter.

Sekar sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.

Raka menatapnya.

“Sekar... ternyata warisanmu sudah jauh lebih kuat daripada yang kami kira.”

Sekar menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu aku punya kekuatan apa.”

Perempuan berpakaian putih tadi kembali muncul di belakangnya.

Kali ini hanya Sekar yang bisa melihat.

Ia berbisik:

“Warisanmu bukan untuk menyerang.”

Sekar menatapnya.

“Lalu untuk apa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Untuk membuka jalan yang telah dikunci leluhurmu.

Sekar menatap kotak tua itu.

Di permukaannya terdapat simbol empat bagian.

Dan tepat di tengahnya terdapat tulisan kuno:

KINASIH

Sekar terkejut.

Itu adalah nama yang pernah disebut ibunya.

Nama leluhur yang mewariskan taling sukmo.

Namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ibunya memanggil.

“SEKAR!”

Sekar menoleh.

Ibunya berdiri di ujung hutan.

Wajahnya penuh ketakutan.

Ia melihat kotak tersebut.

Kemudian berteriak:

“JANGAN BUKA KOTAK ITU!”

Semua orang terdiam.

Sekar memandang ibunya.

“Kenapa, Bu?”

Ibunya menangis.

“Karena kalau kotak itu terbuka...”

Ia menarik napas panjang.

“...rahasia keluarga kita selama puluhan tahun akan terbongkar.”

Sekar menatap kotak itu.

Tangannya perlahan mendekat.

Klik.

Kunci kotak bergerak sendiri.

Dan dari dalamnya terdengar suara seorang anak kecil menangis.

“Ibu...”

Sekar membeku.

Karena suara itu...

terdengar persis seperti suaranya sendiri ketika masih kecil.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk