TALING SUKMO
Malam di Desa Weningjati terasa semakin sunyi.
Setelah percakapan dengan ibunya tentang empat warisan leluhur, Sekar Kinasih Pratiwi tidak mampu memejamkan mata. Kata-kata ibunya terus berputar di kepalanya.
“Empat warisan akan kembali terbangun...”
Dan satu pertanyaan terus menghantuinya.
Apa sebenarnya warisan yang ada di dalam dirinya?
Sekar berdiri di depan jendela kamar. Dari balik kaca, kabut tipis menggantung di antara pepohonan.
Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.
Dari kejauhan terdengar suara seperti orang memanggil.
“Sekar...”
Tubuh Sekar menegang.
Ia menahan napas.
Suara itu terdengar lagi.
“Sekar... Kinasih...”
Sekar membuka jendela perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan desa yang kosong dan cahaya bulan yang tertutup awan.
Namun tiba-tiba matanya terasa panas.
Pandangan Sekar berubah.
Kabut yang sebelumnya samar mendadak terlihat jelas. Di antara pepohonan, ia melihat bayangan seseorang berdiri membelakanginya.
Seorang lelaki tua.
Rambutnya panjang dan tubuhnya mengenakan pakaian Jawa kuno.
Di tangannya terdapat sebuah benda seperti keris kecil.
Sekar mundur selangkah.
“Siapa kamu?”
Lelaki itu perlahan menoleh.
Wajahnya terlihat tua, tetapi matanya sangat tajam.
“Jangan takut, Sekar.”
Sekar membeku.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah hutan Weningjati.
“Yang kau cari bukan berada di rumahmu.”
Sekar menelan ludah.
“Lalu di mana?”
“Di tempat yang selama ini disembunyikan oleh darah keluargamu.”
Angin tiba-tiba berembus kencang.
Kabut bergerak memenuhi jalan.
Sekar mengedipkan mata.
Seketika lelaki itu menghilang.
“Tidak!”
Sekar berlari keluar kamar.
Namun ketika sampai di halaman, tidak ada seorang pun.
Hanya sebuah benda tergeletak di tanah.
Sebuah tali hitam tua dengan liontin kecil di ujungnya.
Sekar memungutnya.
Begitu benda itu menyentuh tangannya—
DUARR!
Kepalanya terasa seperti dihantam sesuatu.
Sekar melihat sebuah ruangan tua.
Di tengah ruangan terdapat seorang lelaki duduk bersila.
Di hadapannya terdapat empat benda yang diselimuti kain.
Kemudian terdengar suara berat.
“Empat jalan telah dipisahkan.”
“Empat darah telah disembunyikan.”
“Dan ketika taling sukmo kembali terbuka...”
Suara itu berhenti sejenak.
“...mereka akan saling menemukan.”
Sekar tersentak.
Ia kembali ke halaman.
Napasnya tersengal.
“Taling sukmo...”
Kata itu tiba-tiba muncul begitu saja dalam pikirannya.
Sekar tidak tahu apa artinya.
Tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasa benda yang baru ditemukannya bukanlah benda biasa.
Dari belakangnya terdengar suara ibunya.
“Sekar!”
Sekar menoleh.
Ibunya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.
Tatapannya langsung tertuju pada benda di tangan Sekar.
Wajahnya berubah ketakutan.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
Sekar mengangkat tali tersebut.
“Aku menemukannya di halaman.”
Ibunya berjalan mendekat.
Tangannya gemetar.
“Itu bukan sekadar tali.”
“Lalu apa?”
Ibunya terdiam cukup lama.
Kemudian berbisik,
“Itu taling sukmo.”
Sekar menatap ibunya.
“Apa maksudnya?”
Ibunya melihat ke arah hutan Weningjati.
“Taling sukmo adalah penghubung antara kesadaran manusia dan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.”
Sekar menggenggam benda itu semakin erat.
“Jadi... yang kulihat tadi?”
Ibunya tidak menjawab.
Karena dari kejauhan, terdengar suara kentongan dipukul tiga kali.
Tong...
Tong...
Tong...
Ibunya langsung menarik tangan Sekar.
“Masuk.”
“Tapi, Bu—”
“Sekarang!”
Untuk pertama kalinya Sekar melihat ketakutan yang sebenarnya di mata ibunya.
Mereka masuk ke rumah.
Pintu dikunci.
Jendela ditutup.
Tetapi sebelum tirai ditarik sepenuhnya, Sekar sempat melihat sesuatu di ujung jalan.
Sosok lelaki yang tadi dilihatnya berdiri di bawah pohon.
Kali ini dia tidak sendirian.
Di belakangnya berdiri tiga bayangan lain.
Sekar terdiam.
Empat sosok.
Empat arah.
Dan satu rahasia yang mulai terbuka.
Sementara itu, jauh di dalam hutan Weningjati...
Raka Wening berdiri di depan sebuah batu besar yang tertutup lumut.
Di tangannya terdapat benda yang bentuknya hampir sama dengan taling sukmo milik Sekar.
Raka menutup mata.
Ia merasakan sesuatu.
“Sudah dimulai...”
Tiba-tiba batu di hadapannya mengeluarkan suara retakan kecil.
Krek...
Raka membuka mata.
Di permukaan batu muncul sebuah simbol kuno.
Simbol yang sama dengan yang terdapat pada benda milik Sekar.
Raka menarik napas panjang.
“Sekar sudah membangunkan taling sukmanya.”
Namun dari balik pepohonan terdengar suara seseorang.
“Dan sekarang mereka tahu di mana dia berada.”
Raka langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya suara tawa pelan yang menghilang bersama kabut.
Di tempat lain, seseorang sedang mengamati Desa Weningjati dari kejauhan.
Adi Laksana.
Ia memegang sebuah foto lama.
Di dalam foto itu terdapat empat orang.
Salah satunya adalah leluhur Sekar.
Adi tersenyum tipis.
“Akhirnya... salah satu dari empat warisan itu mulai bangun.”
Ia meremas foto tersebut.
“Sekarang tinggal mencari tiga yang lainnya.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!