JEJAK DI HUTAN WENINGJATI

2 dibaca

A

JEJAK DI HUTAN WENINGJATI

Pagi belum sepenuhnya datang ketika Sekar terbangun.

Udara di dalam kamar terasa dingin.

Terlalu dingin untuk ukuran pagi di Desa Weningjati.

Sekar membuka mata perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur.

Taling sukmo itu masih berada di sana.

Benda yang semalam ditemukan di halaman rumah.

Sekar duduk dan memperhatikannya.

Sejak memegang benda itu, ia terus mengalami mimpi yang sama.

Empat orang.

Empat jalan.

Dan sebuah tempat yang belum pernah ia datangi.

Watu Wening.

Sekar mengambil taling sukmo tersebut.

Anehnya, benda itu terasa hangat.

Kemudian terdengar suara sangat pelan.

“Sekar...”

Ia langsung melepaskannya.

Benda itu jatuh ke lantai.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Sekar berdiri dan membuka pintu kamar.

Ibunya sedang berada di dapur.

“Bu.”

Ibunya menoleh.

“Kamu sudah bangun?”

Sekar berjalan mendekat.

“Semalam aku melihat sesuatu lagi.”

Ibunya berhenti memasak.

“Apa?”

“Empat orang. Mereka berdiri di hutan.”

Wajah ibunya langsung berubah.

“Jangan pergi ke hutan.”

Sekar terdiam.

“Kenapa?”

“Karena sekarang bukan hanya kamu yang bisa melihat mereka.”

Ibunya mendekat dan menggenggam tangan Sekar.

“Mereka juga mulai bisa melihatmu.”

Sekar merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Siapa mereka?”

Ibunya menundukkan kepala.

“Orang-orang yang mencari warisan itu.”

“Adi Laksana?”

Ibunya tidak menjawab.

Tetapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.


HUTAN WENINGJATI

Menjelang siang, Sekar akhirnya keluar rumah.

Ia tidak mengatakan kepada ibunya ke mana dirinya pergi.

Namun bukan karena ingin membangkang.

Ada sesuatu yang terus menariknya menuju hutan.

Taling sukmo yang disimpan di dalam tas terasa semakin hangat setiap kali ia berjalan ke arah hutan Weningjati.

Sekar berhenti di depan jalan setapak.

Di sinilah batas desa berakhir.

Di depannya terbentang pepohonan tua.

Kabut tipis masih menggantung meskipun matahari sudah tinggi.

Sekar menarik napas.

“Cuma sebentar.”

Ia melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Suara desa perlahan menghilang.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada suara warga.

Bahkan suara burung pun mendadak lenyap.

Sekar berhenti.

“Kenapa sunyi sekali?”

Tiba-tiba taling sukmo di dalam tas bergerak sendiri.

Krek...

Sekar membuka tas.

Benda itu bergetar.

Kemudian bergerak menunjuk ke sebuah arah.

Sekar mengikuti arah tersebut.

Semakin jauh ia masuk ke hutan, semakin kuat rasa aneh di dadanya.

Sampai akhirnya ia melihat sebuah batu besar.

Batu itu ditumbuhi lumut.

Di permukaannya terdapat simbol yang sangat ia kenal.

Simbol yang sama dengan keris milik ibunya.

Sekar mendekat.

Tangannya menyentuh permukaan batu.

Seketika pandangannya berubah.

Ia melihat seorang perempuan berdiri di tempat yang sama.

Perempuan itu mengenakan pakaian putih.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

“Siapa kamu?”

Perempuan itu perlahan menoleh.

“Sekar...”

Sekar terkejut.

“Kenapa semua orang memanggil namaku?”

Perempuan itu berjalan mendekat.

“Kamu mencari jawaban.”

Sekar mengangguk.

“Aku ingin tahu siapa diriku.”

Perempuan itu tersenyum sedih.

“Kalau kau menemukan jawabannya, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”

Sekar hendak bertanya.

Namun tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Sekar!”

Pandangan Sekar kembali normal.

Ia menoleh.

Raka Wening berdiri beberapa meter di belakangnya.

Wajahnya terlihat serius.

“Kamu tidak seharusnya datang ke sini.”

Sekar menatapnya.

“Kenapa?”

Raka berjalan mendekat.

“Karena tempat ini sedang bangun.”

Sekar menunjuk batu besar.

“Ini Watu Wening?”

Raka diam.

Kemudian mengangguk.

“Iya.”

Sekar menatap batu itu.

“Lalu apa hubungannya dengan empat warisan?”

Raka menarik napas panjang.

“Empat warisan bukan sekadar ilmu.”

“Lalu?”

“Setiap warisan memiliki tugas.”

Sekar mengerutkan kening.

“Menjaga apa?”

Raka menatap ke dalam hutan.

“Menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan sesuatu yang berada di baliknya.”

Sebelum Sekar sempat bertanya lagi—

terdengar suara langkah.

Krek... krek... krek...

Raka langsung berdiri di depan Sekar.

“Jangan bergerak.”

Dari balik pepohonan muncul tiga orang.

Dua orang membawa senjata.

Sementara seorang lelaki berpakaian rapi berjalan di tengah.

Sekar langsung mengenalinya.

Adi Laksana.

Adi tersenyum.

“Akhirnya kita bertemu lagi, Sekar.”

Raka mengepalkan tangannya.

“Bagaimana kau menemukan tempat ini?”

Adi tertawa kecil.

“Aku tidak perlu menemukan.”

Ia menatap taling sukmo yang berada di tangan Sekar.

“Dia sendiri yang menunjukkan jalan.”

Sekar menggenggam benda itu.

Adi melangkah maju.

“Berikan taling sukmo itu kepadaku.”

Sekar menggeleng.

“Tidak.”

Senyum Adi menghilang.

“Kalau begitu, aku akan mengambilnya sendiri.”

Saat itu juga—

angin berembus sangat kencang.

Kabut memenuhi hutan.

Simbol di Watu Wening mulai bercahaya.

Raka menatap batu tersebut dengan wajah pucat.

“Tidak...”

Sekar menoleh.

“Apa?”

Raka menjawab dengan suara berbisik.

“Terlambat.”

Dari dalam tanah terdengar suara gemuruh.

DUUUMM...

Tanah di sekitar Watu Wening mulai retak.

Dan dari celah batu itu...

terdengar suara seseorang berbisik:

“Empat darah... telah kembali.”

Sekar membeku.

Adi justru tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya, ia tahu bahwa rahasia Weningjati benar-benar nyata.

Dan di bawah Watu Wening...

sesuatu telah terbangun.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk