DARAH KEDUA: WULANG GENI

2 dibaca

A

DARAH KEDUA: WULANG GENI

Mahendra Angkasa berdiri kaku.

Cahaya merah yang keluar dari tubuhnya semakin jelas. Menjalar dari telapak tangan, naik ke lengan, lalu membentuk garis tipis seperti urat api di lehernya.

Sekar menatapnya dengan napas tertahan.

“Mahendra…”

“Jangan mendekat.”

Suara Mahendra bergetar.

“Kenapa?”

“Karena aku sendiri nggak tahu apa yang akan terjadi.”

Keris Wulang Geni masih melayang di antara mereka.

Api kecil menari di sepanjang bilahnya.

Kemudian—

TING!

Keris itu jatuh tepat di depan Mahendra.

Mahendra menatapnya.

Matanya berubah.

Bukan karena kesurupan.

Bukan pula karena ketakutan.

Melainkan karena sebuah ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba terbuka.

Ia melihat seorang perempuan.

Ibunya.

Perempuan itu berlutut di depan sebuah pintu batu.

Di tangannya terdapat benda yang sama.

Wulang Geni.

“Mahendra…”

Suara ibunya terdengar samar.

“Kalau suatu hari keris ini menemukanmu…”

Perempuan itu menangis.

“Jangan gunakan untuk membalas dendam.”

Gambar berubah.

Ayah Mahendra berdiri di tengah hutan.

Di belakangnya terdapat beberapa orang.

Salah satunya adalah—

Adi Laksana.

Mahendra tersentak.

“Tidak…”

Sekar mendekat.

“Apa yang kamu lihat?”

Mahendra memegang kepalanya.

“Aku pernah melihat dia.”

“Siapa?”

“Adi Laksana.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menatap Mahendra.

“Dari kapan?”

“Waktu aku masih kecil.”

Mahendra menarik napas.

“Dia ada di rumahku malam ketika orang tuaku menghilang.”


Orang yang Membakar Masa Lalu

Mahendra menatap Keris Wulang Geni.

Selama bertahun-tahun ia mengira orang tuanya hilang karena kecelakaan.

Ia tumbuh dengan satu pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.

Ke mana mereka pergi?

Sekarang jawabannya mulai muncul.

Dan jawaban itu jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan.

“Aku ingat…”

Mahendra berbisik.

“Malam itu rumah kami terbakar.”

Sekar mendengarkan.

“Bapak menyuruhku bersembunyi di bawah lantai.”

Mahendra menunjuk lantai ruangan.

“Di tempat seperti ini.”

Kinasih langsung menatapnya.

“Jadi keluargamu juga pernah menemukan ruang ini?”

Mahendra mengangguk.

“Bukan ruang ini.”

Ia menunjuk Keris Wulang Geni.

“Tapi pintu menuju tempat yang sama.”

Raka bertanya,

“Dan Adi Laksana?”

Mahendra mengepalkan tangan.

“Dia datang bersama beberapa orang.”

“Apa yang mereka cari?”

Mahendra menatap kosong ke depan.

“Wulang Geni.”

Sekar terdiam.

“Jadi…”

Mahendra mengangguk.

“Orang tuaku menyembunyikan keris ini dari mereka.”

Kinasih menutup mata.

“Berarti semuanya mulai terhubung.”

Sekar menoleh.

“Maksudmu?”

“Watu Wening.”

Kinasih memandang empat simbol di dinding.

“Wulang Geni bukan sekadar keris.”

“Lalu?”

“Dia adalah penanda.”

“Penanda apa?”

Kinasih menjawab perlahan.

“Bahwa darah kedua sudah bangun.”


Api di Dalam Darah

Tiba-tiba tubuh Mahendra tersentak.

DUK!

Ia jatuh berlutut.

“Mahendra!”

Sekar hendak menolong.

Namun api merah tiba-tiba menyambar lantai.

FWOOSH!

Sekar mundur.

Api itu tidak membakar kayu.

Tidak membakar batu.

Api tersebut hanya membentuk lingkaran di sekitar Mahendra.

Raka berteriak,

“Sekar! Jangan masuk!”

Mahendra menatap Sekar dari tengah lingkaran api.

“Sekar…”

“Apa?”

“Kalau aku kehilangan kendali…”

Mahendra menelan ludah.

“Bunuh aku.”

Sekar membeku.

“Apa?”

“Jangan biarkan mereka menggunakan tubuhku.”

“Jangan bicara begitu!”

“Sekar!”

Mahendra berteriak.

“Janji!”

Sekar menatapnya.

Tidak ada kebencian di mata Mahendra.

Hanya ketakutan.

Sekar perlahan menggeleng.

“Aku nggak akan membunuhmu.”

“Sekar—”

“Aku juga nggak akan membiarkan mereka mengambilmu.”

Cahaya putih kembali muncul dari tubuh Sekar.

Api merah di sekitar Mahendra tiba-tiba mengecil.

Keduanya saling memandang.

Dan untuk beberapa detik…

dua cahaya berbeda bertemu.

Putih dan merah.

Kemudian—

BRAK!

Sebuah simbol muncul di lantai.

Empat bagian.

Bagian pertama menyala putih.

Bagian kedua menyala merah.

Dua bagian lainnya masih gelap.

Raka berbisik,

“Dua…”

Kinasih mengangguk.

“Dua sudah bangun.”


Panggilan dari Watu Wening

Tiba-tiba seluruh rumah bergetar.

Dari kejauhan terdengar suara kentongan.

Tong…

Tong…

Tong…

Namun tidak ada seorang pun di desa yang sedang memukul kentongan.

Sekar menoleh ke arah tangga.

“Suara apa itu?”

Kinasih menjawab,

“Watu Wening.”

Raka berdiri.

“Kita harus pergi.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Watu Wening memanggil setelah darah kedua bangun…”

Raka berhenti.

“Apa?”

Kinasih melanjutkan.

“Berarti pintu pertama sudah tidak bisa ditutup.”

Sekar menatapnya.

“Dan kalau dibiarkan?”

Kinasih memandang keempat simbol.

“Yang berada di balik pintu akan mulai mencari jalan keluar.”

Mendadak terdengar suara perempuan menangis dari lantai atas.

“Ibu…”

Sekar langsung mengenali suara itu.

Suara anak kecil.

Suara dirinya sendiri.

“Ibu…”

Sekar berlari menuju tangga.

Raka mengejarnya.

“Sekar!”

Mereka sampai di ruang tengah.

Rumah dalam keadaan gelap.

Lampu berkedip.

Sekar berdiri di tengah ruangan.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian suara itu terdengar lagi.

“Sekar…”

Sekar menoleh ke jendela.

Di luar berdiri seorang anak perempuan.

Usianya sekitar tujuh tahun.

Memakai pakaian putih.

Wajahnya pucat.

Sekar tidak bergerak.

Anak itu mengangkat tangan.

“Jangan biarkan dia masuk.”

Sekar berbisik,

“Siapa?”

Anak itu menunjuk ke belakang Sekar.

Perlahan Sekar menoleh.

Di ujung ruangan berdiri—

ayahnya.

Namun kali ini wajahnya tidak lagi tersenyum.

Ia hanya berdiri diam.

Menatap Sekar.

Kemudian berkata,

“Anakku…”

Sekar mundur.

“Bukan…”

Sosok itu tersenyum.

“Kau akhirnya mengingatku.”

Sekar menggenggam taling sukmo.

“Aku tahu kau bukan ayahku.”

Senyum sosok itu hilang.

“Bagus.”

Kemudian wajahnya kembali berubah menjadi bayangan hitam.

“Tapi kau masih belum tahu…”

Ia melangkah maju.

“…siapa ayahmu sebenarnya.”


Rahasia Sang Ayah

Sekar terdiam.

“Jangan.”

Sosok itu tertawa pelan.

“Ayahmu bukan orang yang selama ini kau kenal.”

Raka berdiri di depan Sekar.

“Pergi.”

Bayangan itu menatap Raka.

“Kau masih menjaga dia?”

Raka mengeraskan suara.

“Selama aku masih bisa berdiri.”

Bayangan itu tersenyum.

“Wening juga pernah mengatakan hal yang sama.”

Raka langsung terdiam.

Untuk pertama kalinya wajahnya berubah.

“Jangan sebut namanya.”

“Kenapa?”

Bayangan itu mendekat.

“Karena kau tahu apa yang terjadi pada Wening.”

Raka mengepalkan tangan.

Sekar menatapnya.

“Raka…”

Raka tidak menjawab.

“Raka, apa yang dia maksud?”

Diam.

Sekar mulai mendesak.

“Apa yang terjadi pada Wening?”

Raka menunduk.

Kemudian berkata pelan,

“Wening bukan hanya penjaga Watu Wening.”

Sekar menunggu.

“Dia adalah…”

Raka berhenti.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari luar.

DOR!

Pintu depan rumah terbuka.

Beberapa orang masuk.

Adi Laksana berdiri di depan mereka.

Wajahnya tenang.

Di tangannya terdapat sebuah benda kecil berwarna hitam.

Ia menatap Mahendra.

“Sudah waktunya.”

Mahendra berdiri.

“Adi…”

Adi tersenyum.

“Akhirnya kau ingat.”

Mahendra mengepalkan tangan.

“Kau membunuh orang tuaku.”

Adi tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

“Tidak.”

“Bohong!”

“Orang tuamu mati karena memilih menjaga sesuatu yang bukan milik mereka.”

Mahendra maju.

Namun Sekar menahannya.

Adi memandang Sekar.

“Dan sekarang…”

Tatapan Adi berpindah ke taling sukmo.

“…kau juga sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur.”

Sekar menatapnya tajam.

“Aku nggak takut.”

Adi tersenyum.

“Bukan kau yang harus takut.”

Ia menunjuk Mahendra.

“Dia.”

Api merah kembali muncul di tubuh Mahendra.

Namun kali ini…

api tersebut tidak terkendali.

Mata Mahendra berubah merah.

Keris Wulang Geni terangkat sendiri dari lantai bawah.

WHOOSH!

Api menjalar ke seluruh bilahnya.

Mahendra berteriak.

“Sekar!”

Sekar berlari kepadanya.

“Mahendra!”

Namun sebelum Sekar berhasil menyentuhnya—

Mahendra mengangkat tangan.

Api besar meledak memenuhi ruangan.

DUAAAAAR!

Semua orang terpental.

Dalam kobaran api itu, terdengar suara Mahendra yang berbeda.

Lebih dalam.

Lebih tua.

Lebih menyeramkan.

“WULANG GENI TELAH BANGUN.”

Sekar membuka matanya.

Di depannya berdiri Mahendra.

Namun sorot matanya bukan lagi milik Mahendra.

Dan di belakangnya…

muncul sosok perempuan berambut panjang dengan wajah tertutup rambut.

Perempuan itu berbisik:

“Darah ketiga…”

Sekar membeku.

“Siapa?”

Perempuan itu perlahan mengangkat wajah.

Dan untuk pertama kalinya Sekar melihat matanya.

Matanya berwarna putih seluruhnya.

“Sebentar lagi…”

Ia tersenyum.

“…akan bangun.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk