DARAH KETIGA: SOSOK DI BALIK KABUT
Di Tempat yang Tak Pernah Tercatat
Jauh dari Desa Weningjati, di sebuah gedung tua yang berdiri di balik kompleks pemerintahan, sebuah ruangan bawah tanah diterangi cahaya lampu minyak.
Tidak ada papan nama.
Tidak ada dokumen resmi mengenai keberadaan ruangan itu.
Namun malam itu, beberapa orang berpakaian rapi berkumpul di sekeliling sebuah meja batu.
Sebagian memakai pakaian pemerintahan.
Sebagian lainnya mengenakan seragam kepolisian.
Di ujung meja duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Wajahnya tenang.
Rambutnya mulai memutih.
Seragam kepolisian yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan.
Namanya—
Darmo Pentinggi.
Seorang pejabat tinggi kepolisian yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki pengaruh besar.
Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah benda yang ditutupi kain hitam.
Darmo perlahan membuka kain tersebut.
Semua orang menunduk.
Di bawah kain terdapat patung kecil berbentuk makhluk mengerikan.
Tubuhnya menyerupai manusia.
Namun kepalanya—
kepala kerbau.
Tanduknya panjang dan bengkok.
Mulutnya terbuka memperlihatkan gigi-gigi tajam.
Matanya dibuat seolah sedang menatap siapa pun yang berada di depannya.
Seorang pria berbisik,
“Paduka sudah bergerak.”
Darmo menatap patung itu.
“Belum.”
Ia tersenyum tipis.
“Dia belum benar-benar bangun.”
Pria itu bertanya,
“Lalu kapan?”
Darmo mengangkat sebuah benda tua.
Sebuah gulungan kulit dengan tulisan Jawa kuno.
“Ketika keempat darah berkumpul.”
Ruangan menjadi sunyi.
Darmo melanjutkan,
“Selama berpuluh-puluh tahun, keluarga kami mencari keturunan mereka.”
Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu.
“Sekarang kita sudah menemukan dua.”
Salah seorang bertanya,
“Sekar Kinasih Pratiwi?”
Darmo mengangguk.
“Darah pertama.”
“Mahendra Angkasa?”
“Darah kedua.”
Darmo tersenyum.
“Dan darah ketiga sudah mulai memanggil.”
Kekayaan dan Kekuasaan
Seorang pejabat yang duduk di sebelah Darmo terlihat ragu.
“Kalau benar makhluk itu dibangkitkan… apa yang kita dapatkan?”
Darmo menatapnya.
“Kau masih bertanya?”
Ia menunjuk patung berkepala kerbau.
“Tanah.”
“Kekayaan.”
“Kekuasaan.”
“Dan pengaruh yang tidak akan bisa diambil siapa pun dari kita.”
Pria itu menelan ludah.
“Bagaimana dengan rakyat?”
Darmo tertawa kecil.
“Rakyat hanya perlu percaya bahwa kita menyelamatkan mereka.”
Ia bersandar.
“Bencana, proyek, tanah, jabatan… semuanya bisa diatur.”
Seseorang bertanya,
“Dan iblis itu?”
Darmo menatap patung tersebut.
“Dia akan mendapatkan persembahannya.”
“Darah empat keturunan.”
“Sebagai gantinya…”
Darmo tersenyum.
“…kami mendapatkan apa yang kami inginkan.”
Tiba-tiba api lampu minyak padam.
Puff!
Kegelapan memenuhi ruangan.
Kemudian terdengar suara napas berat.
Haaahhh…
Huuuhhh…
Salah seorang pria mulai gemetar.
“Pak Darmo…”
Darmo tidak bergerak.
Dari sudut ruangan terdengar suara seperti kuku menggores lantai.
Krek…
Krek…
Krek…
Kemudian sebuah suara rendah terdengar.
“Darah…”
Semua orang membeku.
“Darah…”
Suara itu terdengar lagi.
“Bawakan kepadaku…”
Darmo justru tersenyum.
“Sebentar lagi.”
Rahasia Darmo Pentinggi
Lampu minyak kembali menyala.
Namun patung kepala kerbau itu telah berubah.
Salah satu matanya kini terlihat merah.
Darmo berdiri.
“Bertahun-tahun lalu leluhur kita gagal.”
Ia berjalan menuju dinding.
Di sana tergantung sebuah lukisan tua.
Lukisan itu menggambarkan empat orang berdiri mengelilingi batu besar.
Di tengahnya terdapat sosok berkepala kerbau.
“Empat keturunan menjaga pintu.”
Darmo menunjuk lukisan tersebut.
“Dan keluarga kami mencoba membukanya.”
“Gagal.”
“Dikorbankan.”
“Diusir.”
“Dihapus dari sejarah.”
Ia menatap lukisan itu dengan penuh kebencian.
“Tapi sekarang zaman sudah berubah.”
Darmo tersenyum.
“Kali ini…”
“Tidak akan ada yang menghentikan kita.”
Kembali ke Desa Weningjati
Di saat yang sama, Sekar masih berdiri menghadapi Mahendra.
Api merah mengelilingi tubuh pemuda itu.
Sosok perempuan bermata putih yang muncul di belakangnya semakin jelas.
Raka memegang bahu Sekar.
“Jangan mendekat.”
Sekar tidak menjawab.
Ia hanya menatap Mahendra.
“Mahendra masih ada di dalam sana.”
Kinasih mengangguk.
“Benar.”
“Lalu kita harus menyelamatkannya.”
“Bisa.”
Sekar menatap Kinasih.
“Bagaimana?”
Kinasih menunjuk dada Sekar.
“Gunakan darahmu.”
Sekar terkejut.
“Darahku?”
“Darah pertama memiliki kemampuan membuka.”
Kinasih kemudian menunjuk Mahendra.
“Darah kedua memiliki kemampuan membakar.”
“Dan darah ketiga…”
Kinasih berhenti.
Sekar menatap perempuan bermata putih.
“…memiliki kemampuan memanggil.”
Perempuan itu tiba-tiba tersenyum.
“Benar.”
Sekar merinding.
“Siapa kau?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia justru mengangkat tangan.
Kabut hitam keluar dari lantai.
Perlahan membentuk sosok lain.
Sosok berkepala kerbau.
Sekar mundur.
Raka berbisik,
“Tidak…”
Kinasih terlihat sangat ketakutan.
“Dia belum seharusnya bisa muncul.”
Sosok kepala kerbau itu membuka mulut.
Suara yang keluar mengguncang seluruh ruangan.
“EMPAT DARAH…”
Dinding bergetar.
“AKAN MENJADI JALANKU.”
Sekar menggenggam taling sukmo.
“Siapa yang memanggilmu?”
Sosok itu menatapnya.
Kemudian menjawab:
“Mereka yang menginginkan dunia bertekuk lutut.”
Darmo Menemukan Jejak Sekar
Di ruangan bawah tanah, sebuah alat komunikasi di atas meja Darmo tiba-tiba berbunyi.
“Pak.”
Darmo mengangkatnya.
“Ada apa?”
“Kami sudah menemukan lokasi perempuan itu.”
Darmo tersenyum.
“Sekar?”
“Benar.”
“Dan Mahendra?”
“Sudah terdeteksi juga.”
Darmo memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya wajahnya menunjukkan kegembiraan.
“Jangan bunuh mereka.”
“Kenapa?”
Darmo menjawab dingin.
“Karena kita membutuhkan darah mereka.”
Ia memandang patung kepala kerbau.
“Bawa mereka hidup-hidup.”
Kemudian ia terdiam.
“Tapi ada satu lagi.”
“Siapa?”
Darmo melihat catatan tua di atas meja.
Sebuah nama tertulis di sana.
RAKA WENING.
Darmo mengusap nama tersebut dengan jarinya.
“Cari pemuda bernama Raka Wening.”
“Kenapa?”
Tatapan Darmo berubah serius.
“Karena kalau catatan leluhurku benar…”
Ia tersenyum.
“…dia bukan penjaga.”
“Lalu siapa dia, Pak?”
Darmo menjawab pelan.
“Dia adalah orang yang mengetahui di mana darah keempat bersembunyi.”
Empat Darah
Di Desa Weningjati, Sekar merasakan sesuatu berubah.
Taling sukmo di lehernya tiba-tiba terlepas.
Benda itu melayang.
Kemudian terbelah menjadi empat cahaya.
Satu cahaya masuk ke tubuh Sekar.
Satu menuju Mahendra.
Satu menghilang ke dalam kabut.
Dan cahaya terakhir…
bergerak menuju Raka.
Raka membeku.
“Tidak…”
Sekar menatapnya.
“Raka?”
Raka mundur.
“Jangan lihat aku.”
“Kenapa?”
Raka memegang dadanya.
Di bawah pakaiannya, sebuah tanda lama mulai menyala.
Tanda yang selama ini tidak pernah diketahui Sekar.
Raka menatap Sekar dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sudah berusaha melupakan semuanya.”
Sekar mendekat.
“Melupakan apa?”
Raka akhirnya menjawab.
“Namaku…”
Ia menarik napas.
“Bukan hanya Raka Wening.”
Cahaya di dadanya semakin terang.
“Aku adalah…”
Sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya—
DUMMMMM!
Suara ledakan terdengar dari arah hutan.
Watu Wening memancarkan cahaya merah ke langit.
Burung-burung beterbangan.
Anjing-anjing desa menggonggong bersamaan.
Dan jauh di bawah tanah…
patung kepala kerbau milik Darmo tiba-tiba retak.
Dari dalam retakan itu keluar asap hitam.
Suara makhluk tersebut terdengar:
“DARAH KEEMPAT…”
“AKHIRNYA AKU MENEMUKANNYA.”
Darmo tersenyum.
“Permainan baru saja dimulai.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!