DARAH YANG MEMANGGIL

2 dibaca

A

DARAH YANG MEMANGGIL

Ruangan di bawah rumah Sekar mendadak menjadi begitu sunyi.

Tidak ada suara angin.

Tidak ada suara jangkrik.

Bahkan suara napas mereka seolah hilang ditelan kegelapan.

Sekar berdiri terpaku di depan sosok laki-laki yang wajahnya begitu ia kenal.

Wajah ayahnya.

Wajah yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam ingatannya.

Laki-laki itu tersenyum.

Senyum yang dulu selalu membuat Sekar merasa aman.

Namun malam ini, senyum itu justru membuat seluruh tubuhnya merinding.

“Anakku…”

Suara itu terdengar lembut.

Terlalu lembut.

Sekar hampir melangkah maju.

“Ayah…”

Tangannya terangkat.

Namun sebelum jemarinya menyentuh sosok itu—

BRAK!

Raka langsung menarik tubuh Sekar ke belakang.

“Jangan!”

Sekar terkejut.

“Raka!”

“Jangan percaya wajahnya!”

Laki-laki di depan mereka masih tersenyum.

Kemudian kepalanya perlahan miring.

Senyumnya semakin lebar.

Terlalu lebar untuk ukuran manusia.

“Aku ayahmu, Sekar.”

Sekar menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau benar kau ayahku…”

Suara Sekar bergetar.

“Kenapa selama ini aku tidak pernah melihatmu?”

Sosok itu diam.

Kinasih yang berdiri di dekat Keris Wulang Geni langsung berbisik.

“Karena dia bukan sukma ayahmu.”

Sosok itu perlahan menoleh kepada Kinasih.

Untuk pertama kalinya senyumnya menghilang.

“Kinasih…”

Nada suaranya berubah.

Dingin.

“Sudah berapa lama kau bersembunyi?”

Kinasih tidak menjawab.

Ia justru mengangkat tangannya.

Cahaya dari Keris Wulang Geni semakin terang.

“Sekar,” kata Kinasih.

“Dengarkan aku baik-baik.”

Sekar menoleh.

“Jangan dengarkan suara yang memanggil darahmu.”

“Kenapa?”

“Karena darahmu bukan hanya warisan.”

Kinasih menarik napas panjang.

“Darahmu adalah kunci.”


Tiba-tiba dinding ruangan bergetar.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

DUM!

Satu suara dentuman terdengar dari balik pintu batu.

Kemudian sekali lagi.

DUM!

Mahendra yang sejak tadi memperhatikan Keris Wulang Geni langsung maju.

“Pintunya…”

Raka menoleh.

“Apa?”

Mahendra menunjuk ke dinding.

“Pintu kedua mulai terbuka.”

Di belakang mereka, pada dinding batu yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa, perlahan muncul garis berbentuk lingkaran.

Garis itu menyala merah.

Kemudian muncul sebuah tulisan kuno.

Sekar mendekat.

Empat simbol terlihat membentuk lingkaran.

Namun satu simbol jauh lebih terang daripada tiga lainnya.

Sekar memegang dadanya.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Dug… dug… dug…

Taling sukmo di lehernya tiba-tiba bergerak sendiri.

“Sekar…”

Suara itu kembali terdengar.

Bukan dari sosok yang menyerupai ayahnya.

Bukan dari Kinasih.

Bukan pula dari Raka.

Suara itu berasal dari balik pintu.

“Sekar…”

Sekar menutup telinganya.

“Siapa kamu?!”

Tidak ada jawaban.

Hanya terdengar bisikan.

“Pulanglah…”

Sekar mulai gemetar.

“Aku sudah di rumah.”

Bisikan itu berubah menjadi tawa kecil.

“Bukan rumahmu…”

Sekar membeku.

“Lalu rumah siapa?”

Tiba-tiba sosok menyerupai ayahnya menjawab.

“Rumah darahmu.”


Darah yang Terbangun

Kinasih langsung berteriak.

“Jangan biarkan dia menyentuhmu!”

Raka bergerak cepat.

Namun sosok itu lebih dahulu mengangkat tangan.

Bayangan hitam menyambar dari tubuhnya.

WHUSSS!

Raka terpental dan menghantam dinding.

“Raka!”

Sekar berlari hendak menolong.

Tetapi Mahendra menahannya.

“Jangan!”

“Aku harus menolong dia!”

“Lihat!”

Mahendra menunjuk lantai.

Bayangan hitam mulai menjalar seperti akar.

Membentuk pola lingkaran di sekitar Sekar.

Kinasih memejamkan mata.

“Kita terlambat…”

“Apa maksudmu?” tanya ibu Sekar.

Kinasih membuka mata.

“Darah pertama sudah benar-benar bangun.”

Sekar menatap kedua tangannya.

Cahaya putih mulai muncul dari telapak tangannya.

Awalnya kecil.

Kemudian semakin terang.

Sekar merasa panas.

Namun anehnya, panas itu tidak menyakitkan.

Justru terasa seperti sesuatu yang sudah lama berada di dalam dirinya.

Sesuatu yang baru saja terbangun dari tidur panjang.

“Aku…”

Sekar menatap tangannya.

“Apa yang terjadi padaku?”

Kinasih menjawab dengan suara pelan.

“Sekarang kau mulai mengingat.”

Sekar menggeleng.

“Aku tidak mengerti.”

“Dulu, saat kau berusia tujuh tahun…”

Kinasih berhenti.

Sekar menatapnya.

“Apa yang terjadi malam itu?”

Kinasih tidak menjawab.

Sebaliknya, sosok menyerupai ayah Sekar tertawa.

“Biar aku yang menceritakannya.”

Kinasih langsung menoleh.

“Diam!”

Sosok itu tersenyum.

“Dia berhak tahu.”

Kemudian ruangan berubah.


Malam Ketika Sekar Menghilang

Sekar melihat dirinya sendiri.

Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun.

Berdiri di tengah hutan.

Menangis.

Tangannya menggenggam tangan seorang anak laki-laki.

Wening.

Di depan mereka berdiri Watu Wening.

Namun malam itu berbeda.

Batu tersebut terbuka.

Dari celahnya keluar cahaya merah.

Sekar kecil menangis.

“Aku takut…”

Wening kecil menjawab.

“Jangan takut.”

“Siapa yang datang?”

Wening tidak menjawab.

Kemudian terdengar langkah kaki.

Tap…

Tap…

Tap…

Seseorang muncul dari balik pepohonan.

Seorang laki-laki dewasa.

Wajahnya tidak terlihat.

Sekar kecil berlari ke arahnya.

“Pak!”

Sekar dewasa tersentak.

“Pak…?”

Ia menatap Kinasih.

“Siapa laki-laki itu?”

Kinasih menunduk.

“Orang yang seharusnya tidak pernah menemukanmu.”

“Siapa?!”

Sebelum Kinasih menjawab—

bayangan di dalam penglihatan Sekar berubah.

Laki-laki itu berlutut di depan Sekar kecil.

Tangannya menyentuh kepala anak itu.

Kemudian ia berbisik.

“Suatu hari nanti…”

“Darahmu akan memanggilku kembali.”

Sekar kecil tiba-tiba pingsan.

Wening berteriak.

Dan penglihatan itu terputus.


Sekar tersadar.

Air mata mengalir di pipinya.

“Dia…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Dia yang membuatku lupa?”

Kinasih mengangguk perlahan.

“Bukan dia sendiri.”

Sekar menatapnya.

“Lalu siapa?”

Kinasih menunjuk sosok menyerupai ayahnya.

“Dia.”

Seketika sosok itu berubah.

Wajah ayah Sekar mulai retak.

Seperti kulit tanah kering.

Kemudian wajah itu runtuh menjadi bayangan hitam.

Tidak ada mata.

Tidak ada hidung.

Tidak ada mulut.

Hanya wajah kosong.

Sekar mundur.

“Apa kau…”

Bayangan itu menjawab.

“Aku adalah sesuatu yang telah menunggumu jauh sebelum kau dilahirkan.”


Di Tempat Lain

Pada saat yang sama, jauh dari rumah Sekar…

Adi Laksana berdiri di sebuah ruangan tua.

Di hadapannya terdapat peta Weningjati.

Beberapa titik diberi tanda merah.

Satu titik berada di rumah Sekar.

Satu di Watu Wening.

Dan satu lagi…

di sebuah tempat yang belum diketahui Sekar.

Mahendra Angkasa.

Adi tersenyum.

“Darah kedua akhirnya muncul.”

Seorang pria di belakangnya bertanya,

“Lalu bagaimana dengan Sekar?”

Adi menatap titik merah di rumah Sekar.

“Biarkan.”

“Bukankah kita harus menangkapnya?”

Adi menggeleng.

“Tidak.”

Ia mengambil sebuah benda tua dari meja.

Sebuah potongan logam dengan simbol api.

“Sekar akan datang kepada kita.”

Pria itu terdiam.

“Kenapa?”

Adi tersenyum tipis.

“Karena semakin dia mencari keluarganya…”

“Semakin dekat dia dengan empat warisan.”

Ia menatap simbol tersebut.

“Dan aku hanya perlu mengambil semuanya.”


Kembali ke Rumah Sekar

Di bawah rumah, cahaya dari tubuh Sekar semakin kuat.

Mahendra menatapnya dengan wajah serius.

“Sekar.”

Sekar menoleh.

“Apa?”

“Jangan lawan cahaya itu.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin itu bukan musuhmu.”

Sekar memandang tangannya.

“Kalau begitu apa?”

Mahendra menjawab,

“Mungkin itu cara darahmu melindungimu.”

Tiba-tiba Keris Wulang Geni terangkat sendiri.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Keris itu melayang di udara.

Api kecil muncul di sepanjang bilahnya.

Mahendra terkejut.

“Wulang Geni…”

Keris itu bergerak menuju Sekar.

Raka yang baru bangkit langsung berteriak.

“Sekar, mundur!”

Namun Sekar tidak bergerak.

Ia justru merasa seperti mengenal keris tersebut.

Tangannya terulur.

Ketika jemarinya menyentuh gagang keris—

DUARRR!

Cahaya memenuhi seluruh ruangan.

Semua orang menutup mata.

Dan sebuah suara terdengar.

Bukan suara manusia.

Bukan suara roh.

Melainkan suara seperti gema dari masa yang sangat jauh.

“Empat darah telah bangun.”

Sekar membuka mata.

Di hadapannya muncul tiga bayangan.

Satu laki-laki.

Satu perempuan.

Satu sosok tua.

Ketiganya berdiri menghadap Sekar.

Kemudian mereka berkata bersamaan:

“Yang pertama telah memilih.”

Sekar menggenggam Keris Wulang Geni.

“Lalu siapa yang kedua?”

Ketiga bayangan itu diam.

Kemudian perlahan semuanya menghadap Mahendra.

Mahendra membeku.

“Jangan…”

Raka menatap Mahendra.

“Mahendra?”

Mahendra mundur satu langkah.

“Jangan panggil namaku.”

Sekar menatapnya.

“Kenapa?”

Mahendra memejamkan mata.

Karena dari dalam tubuhnya…

muncul cahaya merah.

Dan simbol api di Keris Wulang Geni menyala semakin terang.

Kinasih berbisik:

“Darah kedua…”

Kemudian terdengar suara dari balik pintu batu.

“Telah ditemukan.”

Mahendra membuka mata.

Wajahnya berubah pucat.

“Tidak…”

Dari kejauhan, suara Adi Laksana terdengar seperti gema.

“Mahendra Angkasa…”

“Sudah waktunya kau pulang.”

Mahendra menatap Sekar.

Untuk pertama kalinya, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

“Sekar…”

“Jangan biarkan mereka membawaku.”

BERSAMBUNG

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk