DARAH KEEMPAT: RAHASIA RAKA WENING

2 dibaca

A

DARAH KEEMPAT: RAHASIA RAKA WENING

Ledakan dari arah hutan Weningjati mengguncang seluruh desa.

DUMMMMM!

Kaca-kaca jendela bergetar.

Atap rumah Sekar bergemeretak.

Dari kejauhan terdengar suara warga berteriak dan anjing-anjing menggonggong tanpa henti.

Namun Raka justru berdiri diam.

Tatapannya tertuju pada cahaya yang muncul dari dadanya.

Sekar menatapnya.

“Raka…”

Raka tidak menjawab.

Tangannya perlahan meraba bagian dada.

Di balik pakaiannya, tanda berbentuk empat bagian semakin terang.

Mahendra yang masih dikelilingi sisa api merah memandang Raka.

“Jadi selama ini…”

Raka menatap Mahendra.

“Jangan.”

“Aku tahu sekarang.”

Mahendra menunjuk tanda di dada Raka.

“Kau darah keempat.”

Raka memejamkan mata.

“Aku tidak pernah menginginkannya.”

Sekar mendekat.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

Raka menatap Sekar cukup lama.

“Karena kalau kau tahu siapa aku sebenarnya…”

Ia berhenti.

“Mungkin kau akan membenciku.”

Sekar menggeleng.

“Aku tidak akan membencimu hanya karena darah keluargamu.”

Raka tersenyum pahit.

“Bukan darah keluargaku yang membuatku takut.”

“Lalu apa?”

Raka menatap ke arah hutan.

“Orang yang membawaku ke Watu Wening.”


Anak dari Watu Wening

Kabut mulai masuk melalui celah pintu.

Raka berjalan perlahan menuju jendela.

“Ketika aku masih kecil, aku tinggal di sebuah tempat yang bahkan tidak tercatat di peta.”

Sekar mendengarkan.

“Tempat itu berada tidak jauh dari Weningjati.”

Raka menelan ludah.

“Aku tidak tahu siapa orang tuaku.”

“Aku hanya tahu satu hal.”

“Sejak kecil, aku selalu mendengar suara seseorang memanggil namaku dari hutan.”

Sekar bertanya,

“Wening?”

Raka menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Raka menjawab pelan.

“Suara itu memanggilku…”

“Anak Watu.”

Sekar merinding.

Raka melanjutkan.

“Suatu malam, ketika usiaku sekitar delapan tahun, aku mengikuti suara itu.”

“Aku menemukan Watu Wening.”

“Di sana ada seorang perempuan.”

Sekar langsung teringat Kinasih.

“Siapa?”

Raka menatap Sekar.

“Kinasih.”

Sekar terkejut.

“Kinasih?”

Raka mengangguk.

“Dia mengatakan kepadaku bahwa suatu hari aku akan bertemu dengan seorang anak perempuan.”

Sekar mulai memahami sesuatu.

“Anak perempuan itu…”

Raka tersenyum kecil.

“Kamu.”


Malam Pertama

Sekar terdiam.

Ingatan masa kecilnya kembali muncul.

Hutan.

Kabut.

Watu Wening.

Wening kecil.

Dan seorang anak laki-laki.

Namun selama ini wajah anak laki-laki itu selalu kabur.

Sekarang wajah itu mulai jelas.

Raka.

Sekar mundur satu langkah.

“Jadi…”

“Benar.”

Raka menunduk.

“Aku ada di sana malam itu.”

“Tapi kenapa aku tidak mengingatmu?”

“Karena setelah malam itu…”

Raka menarik napas.

“Kinasih menghapus ingatanmu.”

Sekar terkejut.

“Kenapa?”

“Untuk melindungimu.”

“Dari siapa?”

Raka menatap pintu.

“Dari mereka.”


Orang-Orang Darmo

Suara kendaraan mulai terdengar dari luar desa.

Satu.

Dua.

Kemudian semakin banyak.

Lampu kendaraan menerangi jalan Weningjati.

Beberapa orang turun.

Sebagian mengenakan pakaian biasa.

Sebagian menggunakan seragam.

Mereka bergerak cepat menuju rumah Sekar.

Di dalam kendaraan paling belakang, Darmo Pentinggi duduk diam.

Seorang anak buahnya berkata,

“Pak, tim sudah masuk desa.”

Darmo melihat jam tangannya.

“Bagus.”

“Target?”

“Sekar dan Mahendra.”

“Bagaimana dengan Raka?”

Darmo tersenyum.

“Jangan disentuh dulu.”

“Kenapa?”

“Dia akan datang sendiri.”

Darmo membuka sebuah buku tua.

Di salah satu halaman terdapat gambar empat simbol.

Ia menyentuh simbol terakhir.

“Anak itu tidak pernah tahu…”

Tatapannya menjadi dingin.

“…siapa yang sebenarnya membesarkannya.”


Pengkhianatan Lama

Kembali di rumah Sekar.

Kinasih tiba-tiba terlihat gelisah.

Raka menatapnya.

“Kau tahu siapa yang membesarkanku.”

Kinasih diam.

“Jawab aku.”

Kinasih menatap Raka.

“Ya.”

“Siapa?”

“Orang yang sekarang memburumu.”

Raka membeku.

“Darmo?”

Kinasih mengangguk.

Sekar terkejut.

“Darmo yang membesarkan Raka?”

“Tidak sepenuhnya.”

Kinasih berjalan mendekati mereka.

“Ketika Raka ditemukan di dekat Watu Wening, Darmo adalah salah satu orang yang mencarinya.”

“Kenapa?”

“Karena dia tahu darah Raka berbeda.”

Raka mengepalkan tangan.

“Jadi aku…”

Kinasih memotong.

“Kau bukan milik Darmo.”

Raka menatapnya.

“Kau adalah darah yang disembunyikan.”

“Disembunyikan dari siapa?”

Kinasih menjawab,

“Dari mereka yang menyembah makhluk berkepala kerbau.”

Ruangan langsung terasa dingin.

Mahendra berdiri.

“Jadi cerita itu benar?”

Kinasih mengangguk.

“Mereka bukan sekadar kelompok rahasia.”

“Mereka telah ada jauh sebelum Darmo memiliki jabatan.”

“Dan selama bertahun-tahun…”

“Mereka mencari empat darah.”


Persembahan

Darmo memasuki sebuah bangunan tua di pinggir hutan.

Di bawah bangunan itu terdapat ruangan besar.

Puluhan lilin menyala.

Di tengah ruangan terdapat altar batu.

Di atasnya berdiri patung makhluk berkepala kerbau.

Kali ini patung itu tidak lagi terlihat seperti benda mati.

Retakan di tubuhnya bergerak.

Seolah sesuatu di dalamnya sedang bernapas.

Darmo berdiri di hadapannya.

“Dua sudah bangun.”

Ia meletakkan sebuah wadah kecil di altar.

“Yang ketiga akan segera ditemukan.”

Kemudian Darmo tersenyum.

“Dan yang keempat…”

Ia menoleh ke arah pintu.

“…akan datang kepada kita.”

Salah seorang pengikut bertanya,

“Kalau keempat darah berhasil dikumpulkan, apa yang terjadi?”

Darmo menjawab,

“Pintu akan terbuka.”

“Dan setelah itu?”

Darmo menatap patung tersebut.

“Dia akan bangkit.”

“Lalu?”

“Dia akan memberikan apa yang dijanjikan kepada leluhur kita.”

“Kekayaan?”

“Ya.”

“Kekuasaan?”

“Ya.”

“Keabadian?”

Darmo tersenyum.

“Kalau persembahannya cukup…”

“Bahkan kematian tidak akan menjadi akhir.”


Sekar Memilih

Di rumah, suara langkah kaki terdengar semakin dekat.

Raka melihat keluar jendela.

“Mereka sudah datang.”

Mahendra menggenggam Wulang Geni.

“Kita lawan?”

Raka menggeleng.

“Tidak.”

Sekar bertanya,

“Lalu?”

“Kita harus pergi ke Watu Wening.”

Sekar menatapnya.

“Kenapa?”

Raka menunjuk taling sukmo.

Karena benda itu kini bergerak sendiri.

Menunjuk ke arah hutan.

“Pintu sudah terbuka.”

Kinasih mengangguk.

“Dan kalau kita terlambat…”

Ia menatap Sekar.

“…Darmo akan mendapatkan apa yang selama ini dia cari.”

Sekar menarik napas.

“Aku tidak akan membiarkannya.”

Mahendra berdiri di sampingnya.

“Aku ikut.”

Raka menatap keduanya.

“Kalau begitu kita pergi sekarang.”

Namun sebelum mereka keluar—

TOK… TOK… TOK…

Seseorang mengetuk pintu rumah.

Semua diam.

Ketukan terdengar lagi.

TOK… TOK… TOK…

Kemudian suara seorang laki-laki terdengar dari luar.

“Sekar.”

Sekar membeku.

Suara itu…

suara ayahnya.

“Sekar, buka pintunya.”

Raka langsung menggeleng.

“Itu bukan manusia.”

Suara dari luar kembali terdengar.

“Anakku…”

Sekar menatap pintu.

Air matanya jatuh.

Namun kali ini ia tidak takut.

Ia menggenggam taling sukmo.

“Kalau kau benar ayahku…”

Sekar berkata dengan suara tegas.

“Jawab satu pertanyaan.”

Hening.

“Di mana kau menguburkan sesuatu milik ibuku?”

Tidak ada jawaban.

Sekar tersenyum pahit.

“Ayahku tahu jawabannya.”

Tiba-tiba suara di luar berubah menjadi geraman.

GRAAAHHH!

Pintu bergetar keras.

BRAK!

Raka menarik Sekar.

Mahendra mengangkat Wulang Geni.

Api merah menyambar pintu.

Dari luar terdengar teriakan para anak buah Darmo.

“Masuk!”

“Jangan sampai mereka kabur!”

Kinasih menatap Sekar.

“Sekarang!”

Mereka berlari menuju pintu belakang.

Namun ketika Sekar melewati halaman…

ia berhenti.

Di kejauhan, di antara kabut dan pepohonan…

berdiri sosok berkepala kerbau.

Tanduknya menjulang.

Matanya merah.

Tubuhnya jauh lebih besar daripada manusia.

Makhluk itu menatap Sekar.

Kemudian perlahan mengangkat tangannya.

Dan menunjuk tepat ke arah dada Sekar.

Suara berat menggema di seluruh desa:

“DARAH PERTAMA…”

Sekar menggigil.

Makhluk itu melanjutkan.

“…KAU AKAN MEMBUKAKAN JALANKU.”

Raka menarik tangan Sekar.

“Jangan dengarkan!”

Mereka berlari menuju hutan.

Di belakang mereka, Darmo muncul dari balik kabut.

Ia tidak mengejar.

Ia hanya berdiri sambil tersenyum.

“Lari saja.”

Tatapannya tertuju pada Watu Wening.

“Karena pada akhirnya…”

“…kalian semua akan datang kepadaku.”

Di belakang Darmo, patung kepala kerbau yang seharusnya berada di altar tiba-tiba muncul sebagai bayangan raksasa di langit.

Empat cahaya menyala di tubuhnya.

Satu putih.

Satu merah.

Satu masih samar.

Dan satu lagi—

gelap pekat.

Darmo menatap cahaya terakhir itu.

“Darah keempat…”

Ia tersenyum.

“Sudah waktunya mengingat siapa dirinya.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk