PEMBURU DARAH: PASUKAN DARMO
Malam semakin pekat ketika Sekar, Raka, dan Mahendra berlari menembus hutan Weningjati.
Kabut menggantung rendah di antara pepohonan.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang mereka.
Banyak.
Bukan satu atau dua orang.
Puluhan.
Raka menoleh.
“Cepat!”
Sekar terengah-engah.
“Mereka mengejar kita?”
“Bukan cuma mengejar.”
Mahendra menjawab sambil menggenggam Wulang Geni.
“Mereka mengepung hutan.”
Sekar berhenti sejenak.
“Mereka tahu kita menuju Watu Wening?”
Raka menatapnya.
“Darmo memang menginginkan kita ke sana.”
“Kenapa?”
“Karena dia tahu pintunya sudah terbuka.”
Mahendra mengangkat kerisnya.
“Dan dia ingin kita yang membukanya lebih lebar.”
Sekar terdiam.
Kini semuanya mulai masuk akal.
Darmo tidak perlu menangkap mereka dengan paksa.
Ia hanya perlu membuat mereka datang ke Watu Wening.
Pasukan Pemburu
Di belakang mereka, cahaya senter bergerak di antara pepohonan.
“Cari mereka!”
“Jangan biarkan lolos!”
“Periksa sebelah kiri!”
Beberapa orang bergerak membawa senjata dan perlengkapan.
Mereka bukan warga desa.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja langsung untuk Darmo.
Di tengah rombongan, seorang pria menerima pesan melalui alat komunikasi.
“Target bergerak menuju Watu Wening.”
Suara Darmo terdengar dari alat itu.
“Jangan serang.”
Pria tersebut terkejut.
“Pak?”
“Biarkan mereka sampai.”
“Kalau mereka kabur?”
“Mereka tidak akan kabur.”
Darmo tertawa kecil.
“Karena Watu Wening akan memanggil mereka.”
Hutan yang Berubah
Sekar mulai merasakan sesuatu.
Langkahnya melambat.
“Berhenti.”
Raka menoleh.
“Ada apa?”
Sekar melihat ke sekeliling.
“Hutannya…”
Mahendra bertanya,
“Kenapa?”
“Ini bukan jalan yang tadi.”
Raka mengamati pepohonan.
Mereka telah berjalan lurus.
Namun kini pohon besar dengan akar yang menyerupai tangan manusia berdiri di depan mereka.
Raka menggeleng.
“Kita tidak mungkin sampai sini.”
Sekar memegang taling sukmo.
Benda itu bergetar.
Kemudian menunjuk ke sebuah jalan kecil yang tertutup kabut.
“Ke sana.”
Raka menatap jalan tersebut.
“Itu bukan jalan.”
Sekar menjawab,
“Sekarang sudah.”
Mereka bertiga berjalan masuk.
Beberapa langkah kemudian…
suara pengejar di belakang mereka menghilang.
Tidak ada lagi suara senter.
Tidak ada lagi teriakan.
Hanya suara angin.
Mahendra berbisik,
“Kita lolos.”
Raka menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena bukan kita yang keluar dari pengepungan.”
Raka menatap kabut.
“Justru hutan yang memisahkan kita dari mereka.”
Penjaga yang Tidak Terlihat
Tiba-tiba terdengar suara perempuan.
“Raka…”
Raka berhenti.
Sekar menatapnya.
“Kau dengar?”
Raka mengangguk.
Suara itu terdengar lagi.
“Raka…”
Raka memejamkan mata.
“Itu suara ibuku.”
Mahendra bertanya,
“Kau yakin?”
“Tidak.”
Raka membuka mata.
“Tapi suara itu tahu sesuatu yang hanya diketahui ibuku.”
Sekar melihat sosok samar di balik kabut.
Seorang perempuan berdiri di antara pohon.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya putih.
Wajahnya tidak terlihat.
Perempuan itu mengangkat tangan.
“Raka…”
Raka hendak melangkah.
Sekar menahannya.
“Jangan.”
Raka menatap Sekar.
“Dia mungkin ibuku.”
Sekar menggeleng.
“Kalau benar ibumu…”
Ia menunjuk sosok itu.
“…kenapa dia tidak mau menunjukkan wajahnya?”
Perempuan tersebut perlahan mengangkat kepala.
Rambutnya tersibak.
Wajahnya kosong.
Tidak ada mata.
Tidak ada hidung.
Tidak ada mulut.
Mahendra langsung mengangkat Wulang Geni.
“Bukan manusia.”
Sosok itu tersenyum.
Meski tidak memiliki mulut.
Kemudian kabut di sekeliling mereka berubah hitam.
Darah Ketiga
Sebuah suara perempuan terdengar dari balik kabut.
“Sudah waktunya…”
Sekar menggenggam taling sukmo.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
Namun tubuh Mahendra tiba-tiba terhuyung.
Wulang Geni bergetar keras.
TING!
Api merah menyala.
Mahendra memegang kepalanya.
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Seorang perempuan.”
Sekar mendekat.
“Siapa?”
Mahendra memejamkan mata.
“Dia berdiri di depan rumahku ketika aku kecil.”
Raka menatapnya.
“Kenal?”
Mahendra menggeleng.
“Tapi dia membawa simbol yang sama.”
Sekar terdiam.
“Simbol empat warisan?”
Mahendra mengangguk.
“Tapi miliknya berbeda.”
“Bagaimana?”
Mahendra membuka mata.
“Simbol perempuan.”
Sekar memandang kabut.
“Berarti dia darah ketiga.”
Tiba-tiba suara perempuan itu terdengar sangat dekat.
“Akhirnya…”
Mereka bertiga menoleh.
Sosok perempuan bermata putih muncul hanya beberapa langkah di depan mereka.
“Darah ketiga telah menemukan jalan pulang.”
Mahendra mengangkat keris.
“Siapa kau?”
Perempuan itu tersenyum.
“Aku bukan musuhmu.”
“Lalu apa?”
“Aku adalah orang yang selama ini kalian cari.”
Sekar bertanya,
“Namamu?”
Perempuan itu menatap Sekar.
“Laras.”
Kabut langsung berputar.
Sebuah cahaya muncul di dada perempuan tersebut.
Simbol ketiga menyala.
Darah ketiga telah terbangun.
Laras
Laras berjalan mendekat.
Namun Raka tetap waspada.
“Jangan dekat-dekat.”
Laras berhenti.
“Aku tahu kau tidak percaya.”
“Kau tahu terlalu banyak.”
“Aku memang harus tahu.”
Sekar bertanya,
“Siapa Darmo?”
Ekspresi Laras berubah.
“Orang yang memburu kita.”
“Dan makhluk kepala kerbau?”
Laras menunduk.
“Bukan sekadar makhluk.”
Sekar menunggu.
“Itu adalah sesuatu yang dahulu disembah oleh orang-orang yang haus kekuasaan.”
“Apakah bisa dibangkitkan?”
Laras mengangguk.
“Bisa.”
Mahendra menggenggam Wulang Geni.
“Dengan empat darah?”
“Ya.”
Raka bertanya,
“Kalau begitu kenapa mereka belum melakukannya?”
Laras menatapnya.
“Karena satu hal belum lengkap.”
“Apa?”
Laras menatap Sekar.
“Kesediaan darah pertama untuk membuka pintu.”
Sekar terdiam.
Jantungnya berdegup kencang.
“Jadi aku…”
“Kau kuncinya.”
Darmo Datang
Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar.
Tepuk.
Tepuk.
Tepuk.
Semua menoleh.
Darmo keluar dari balik pepohonan.
Di belakangnya berdiri pasukannya.
Namun kali ini Darmo tidak membawa senjata.
Ia hanya tersenyum.
“Bagus.”
Sekar mundur.
“Kau sengaja membiarkan kami sampai sini.”
Darmo mengangguk.
“Benar.”
Mahendra maju.
“Kau menghancurkan keluargaku.”
Darmo menatapnya.
“Dan sekarang kau sudah menemukan darahmu.”
Raka bertanya,
“Apa tujuanmu?”
Darmo menatap mereka satu per satu.
“Tujuan?”
Ia tertawa.
“Aku ingin dunia yang tidak bisa menolak perintahku.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku sudah punya jabatan.”
“Sudah punya kekuasaan.”
“Tapi kekuasaan manusia selalu memiliki batas.”
Tatapannya berubah dingin.
“Karena itu aku membutuhkan kekuasaan yang tidak berasal dari manusia.”
Laras berbisik,
“Darmo…”
Darmo menatapnya.
“Darah ketiga.”
Kemudian matanya berpindah kepada Raka.
“Darah keempat.”
Terakhir kepada Sekar.
“Dan darah pertama.”
Darmo tersenyum.
“Lengkap.”
Sekar melihat sekeliling.
“Mana darah kedua?”
Darmo tertawa.
“Kau lupa…”
Dari balik pepohonan terdengar suara langkah.
Mahendra menoleh.
Api merah muncul di tangannya.
Namun suara itu bukan milik manusia.
GRAAAAHHH!
Tanah bergetar.
Pohon-pohon berguncang.
Di belakang Darmo muncul bayangan raksasa.
Kepala kerbau.
Tanduk panjang.
Mata merah.
Darmo berbalik dan menatapnya dengan penuh hormat.
“Paduka…”
Makhluk itu menatap empat orang di depannya.
Kemudian suara beratnya menggema di seluruh hutan:
“BUKA PINTUNYA.”
Sekar menggenggam taling sukmo.
“Aku tidak akan melakukannya.”
Darmo tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia mengangkat tangannya.
Pasukannya maju.
“Karena kalau kau tidak mau membuka pintu…”
Darmo menatap Mahendra.
“…kami akan menggunakan darahmu untuk memaksanya.”
Mahendra mengangkat Wulang Geni.
Api merah membesar.
Raka berdiri di samping Sekar.
Laras mengangkat tangannya.
Kabut hitam dan cahaya putih bertabrakan.
Dan dari dalam hutan…
terdengar suara sesuatu yang sangat besar mulai bangun.
DUM…
DUM…
DUM…
Watu Wening mulai retak.
Darmo tersenyum.
“Bangkitlah…”
“Penguasa yang telah kami tunggu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!