KIDUNG KINASIH: SUKMA NGELALANA

1 dibaca

A

KIDUNG KINASIH: SUKMA NGELALANA

Suara itu masih terdengar.

“Sekar... waktunya pulang.”

Sekar berdiri terpaku di depan pintu batu.

Suara itu tidak mungkin salah.

Suara seorang lelaki yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam ingatannya.

Ayahnya.

“Ayah...?”

Suaranya bergetar.

Raka langsung memegang lengannya.

“Jangan masuk.”

Sekar menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kita tidak tahu apa yang ada di balik pintu itu.”

“Tapi itu suara ayahku.”

Raka menggeleng.

“Justru itu yang membuatku takut.”

Sekar terdiam.

Mahendra masih menggenggam keris Wulang Geni. Tatapannya tertuju pada pintu batu.

“Suara bisa ditiru.”

Sekar menatapnya.

“Maksudmu?”

“Di tempat seperti ini, suara orang yang paling kita rindukan bisa digunakan untuk menarik kita masuk.”

Ibu Sekar menangis.

“Mahendra benar.”

Sekar menoleh kepada ibunya.

“Jadi itu bukan Ayah?”

Ibunya tidak menjawab.

Dan ketidakmampuan ibunya untuk menjawab membuat hati Sekar semakin tidak tenang.

Tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara lain.

Bukan suara ayahnya.

Suara perempuan.

Lembut.

Jauh.

Seperti seseorang sedang melantunkan tembang Jawa kuno.

“Sukma lunga tanpa raga...

ngambah dalan tanpa jejak...

yen wengi wis tumeka...

elinga marang asalmu...”

Sekar merinding.

“Kidung apa itu?”

Mahendra menatap pintu dengan serius.

“Kidung Kinasih.”

Raka menoleh.

“Kamu tahu?”

Mahendra mengangguk.

“Dulu nenekku pernah menceritakannya.”

Sekar mendekat.

“Artinya apa?”

Mahendra menjawab perlahan.

“Kurang lebih... tentang sukma yang mengembara tanpa tubuh.”

Sekar terdiam.

Sukma ngelalana.

Sukma yang berjalan.

Sukma yang mencari jalan pulang.


KINASIH DAN SUKMA NGELALANA

Kidung itu terdengar semakin jelas.

“Sukma lunga...

sukma ngelalana...

aja kesasar ing peteng wengi...”

Api kecil di ujung keris Wulang Geni tiba-tiba menyala.

Mahendra terkejut.

“Jangan!”

Namun api itu tidak membakar.

Cahayanya justru membentuk bayangan seorang perempuan.

Kinasih.

Ia berdiri di tengah ruangan.

Kali ini wajahnya terlihat jelas.

Tidak menyeramkan.

Tidak pula seperti roh yang hendak menyerang.

Wajahnya justru terlihat sedih.

“Sekar...”

Sekar menatapnya.

“Kinasih.”

Kinasih mengangguk.

“Akhirnya kamu mendengar kidung itu lagi.”

“Kenapa kamu menyanyikannya?”

Kinasih tersenyum.

“Karena ada sukma yang belum menemukan jalan pulang.”

Sekar mengerutkan kening.

“Sukma siapa?”

Kinasih tidak menjawab.

Ia menatap ke arah pintu batu.

Kemudian berkata,

“Kadang manusia meninggal, tetapi sukma tidak langsung pergi.”

“Kenapa?”

“Karena masih ada janji yang belum selesai.”

Sekar menatapnya.

“Apakah itu sukma ayahku?”

Kinasih diam.

Sekar semakin mendesak.

“Jawab aku!”

Kinasih akhirnya berkata,

“Jangan mencari orang yang belum siap ditemukan.”

Air mata Sekar jatuh.

“Aku cuma ingin tahu apakah ayahku masih hidup.”

Kinasih memandangnya dengan penuh iba.

“Pertanyaan itu akan membawamu pada jalan yang panjang.”

“Tidak masalah.”

“Jalan itu dipenuhi kebohongan.”

“Aku siap.”

Kinasih menggeleng.

“Belum.”


MALAM PERTAMA SUKMA NGELALANA

Kinasih mengangkat tangannya.

Ruangan berubah.

Dinding batu menghilang.

Sekar melihat sebuah rumah tua.

Hujan turun deras.

Seorang perempuan muda berdiri di depan rumah.

Perempuan itu adalah Kinasih ketika masih hidup.

Di tangannya terdapat sebuah bayi.

Seorang lelaki berdiri di belakangnya.

“Jangan bawa anak itu ke Watu Wening.”

Kinasih menoleh.

“Kalau tidak dibawa, mereka akan menemukannya.”

“Siapa?”

“Orang-orang yang menginginkan warisan.”

Lelaki itu diam.

Kemudian terdengar suara dari luar.

“Kinasih!”

Wajah Kinasih berubah.

Ia memeluk bayi tersebut.

“Kita harus pergi.”

Mereka berlari ke dalam hutan.

Sekar memperhatikan semuanya seperti berada di dalam mimpi.

“Siapa bayi itu?”

Tidak ada jawaban.

Kinasih membawa bayi tersebut menuju Watu Wening.

Di depan batu besar, ia melantunkan kidung.

“Sukma ngelalana...

bali marang asal...

aja nganti getih suci...

dijupuk wong kang salah...”

Batu Watu Wening terbuka.

Kinasih membawa bayi itu masuk.

Kemudian pintu tertutup.

Sekar terkejut.

“Kenapa dia membawa bayi?”

Kinasih yang berdiri di samping Sekar berkata,

“Karena bayi itu adalah salah satu dari empat garis keturunan.”

Sekar menoleh.

“Siapa?”

Kinasih hanya tersenyum.

Penglihatan berubah lagi.

Kini terlihat seorang anak perempuan berusia tujuh tahun.

Sekar.

Ia berdiri di depan Watu Wening.

Di sampingnya ada seorang anak laki-laki.

Wening.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Di belakang mereka berdiri seorang lelaki dewasa.

Wajahnya samar.

Sekar memperhatikan.

“Siapa lelaki itu?”

Kinasih menjawab pelan,

“Orang yang membuka jalan untukmu.”

Sekar menatap sosok tersebut.

“Ayah?”

Kinasih tidak menjawab.


KIDUNG YANG DILARANG

Tiba-tiba penglihatan menghilang.

Sekar kembali berada di ruangan bawah tanah.

Namun suara kidung masih terdengar.

“Sukma ngelalana...”

Ibu Sekar mendadak jatuh berlutut.

“Cukup...”

Kinasih menoleh kepadanya.

“Adikmu masih menyimpan kidung itu?”

Ibu Sekar menangis.

“Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah menyanyikannya.”

“Karena takut?”

“Karena aku tahu akibatnya.”

Sekar menatap ibunya.

“Akibat apa?”

Ibunya berdiri.

“Dulu, nenekmu pernah menggunakan kidung itu untuk memanggil sukma seseorang.”

“Dan berhasil?”

Ibunya mengangguk.

“Tapi sukma yang datang bukan sukma yang dipanggil.”

Ruangan menjadi hening.

“Lalu siapa?”

Ibunya menatap kegelapan.

“Sesuatu yang sudah lama mencari jalan untuk masuk ke dunia manusia.”

Sekar teringat sosok tanpa wajah.

“Yang tadi?”

Ibunya mengangguk.

“Mungkin.”


RAKA MEMBUKA RAHASIA

Raka sejak tadi diam.

Sekar menatapnya.

“Kamu tahu lebih banyak daripada yang kamu katakan.”

Raka tidak membantah.

“Aku memang tahu.”

“Seberapa banyak?”

Raka menunduk.

“Cukup untuk tahu bahwa keluargaku pernah berhubungan dengan Kinasih.”

Sekar terkejut.

“Keluargamu?”

Raka mengangguk.

“Wening bukan sekadar nama dari cerita lama.”

“Lalu siapa dia?”

Raka menarik napas panjang.

“Wening adalah anak dari penjaga Watu Wening.”

Sekar terdiam.

“Jadi dia manusia?”

“Dulu.”

Sekar mengerutkan kening.

“Dulu?”

Raka memandang Kinasih.

“Setelah malam ketika pintu pertama terbuka, Wening tidak pernah kembali seperti manusia biasa.”

Kinasih berkata,

“Karena sukma Wening terpisah dari raganya.”

Sekar membeku.

“Jadi selama ini...”

“Yang kamu temui adalah sukmanya.”


SUKMA YANG TIDAK PULANG

Sekar memandang lorong gelap.

“Berarti Wening sudah meninggal?”

Kinasih menjawab,

“Tubuhnya tidak lagi berada di dunia ini.”

“Tapi sukmanya?”

“Masih mengembara.”

Sekar merasa sedih.

“Kenapa tidak pulang?”

Kinasih menatapnya.

“Karena ada satu tugas yang belum selesai.”

“Apa?”

“Menjagamu.”

Sekar terdiam.

“Menjagaku?”

Kinasih mengangguk.

“Sejak kamu berusia tujuh tahun.”

Sekar mengingat kembali malam itu.

Anak laki-laki yang menggenggam tangannya.

Anak yang selalu muncul dalam mimpinya.

Anak yang membawanya pulang.

“Jadi Wening yang selama ini menjagaku?”

“Ya.”

Sekar menahan air mata.

“Kenapa dia tidak pernah mengatakan?”

“Karena jika dia mengatakannya, ingatanmu akan terbuka terlalu cepat.”

Raka bertanya,

“Lalu kenapa sekarang semuanya mulai terbuka?”

Kinasih menatap empat simbol di dinding.

“Karena salah satu dari empat warisan telah bangun.”

Tatapan Kinasih jatuh kepada Sekar.

“Dan tiga lainnya mulai mendekat.”


MAHENDRA DAN WULANG GENI

Mahendra memperhatikan keris di tangannya.

“Kalau begitu... kenapa keris ini memanggilku?”

Kinasih menoleh.

“Karena api mengenal darahnya.”

Mahendra mengangkat kepala.

“Berarti aku memang salah satu dari empat?”

Kinasih tidak menjawab langsung.

“Belum waktunya kamu mengetahui semuanya.”

Mahendra tersenyum pahit.

“Semua orang selalu mengatakan begitu.”

Sekar menatapnya.

“Kamu juga punya masa lalu yang disembunyikan?”

Mahendra mengangguk.

“Setiap keluarga memiliki rahasia.”

Ia melihat keris Wulang Geni.

“Namun keluargaku kehilangan banyak hal karena benda ini.”

“Apa?”

Mahendra mengusap gagang keris.

“Orang tuaku.”

Sekar terdiam.

“Mereka meninggal karena mencari asal-usul Wulang Geni.”

Kinasih berkata,

“Bukan keris yang membunuh mereka.”

Mahendra menatapnya.

“Lalu siapa?”

“Manusia.”

Kinasih memandang ke arah atas.

“Manusia yang menginginkan kekuatan.”

Sekar langsung teringat satu nama.

Adi Laksana.


ADI LAKSANA

Jauh di atas mereka, Adi berdiri di dalam rumah Sekar.

Ia tidak sendiri.

Di hadapannya terdapat sebuah meja tua.

Di atas meja terdapat foto lama keluarga Sekar.

Adi membuka sebuah map.

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen tua.

Salah satunya bertuliskan:

WATU WENING — EMPAT PENJAGA

Adi tersenyum.

“Sekar sudah menemukan pintu.”

Seorang lelaki di belakangnya bertanya,

“Apakah kita masuk sekarang?”

Adi menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena pintu tidak akan terbuka untuk kita.”

“Lalu?”

Adi mengambil sebuah benda kecil dari sakunya.

Sebuah pecahan batu dengan simbol kuno.

“Kita gunakan darah yang lain.”

Lelaki itu terdiam.

“Darah siapa?”

Adi menatapnya.

“Cari pemuda bernama Mahendra Angkasa.”


KEMBALI KE BAWAH TANAH

Sekar tiba-tiba merasakan taling sukmo bergetar.

Kinasih menatapnya.

“Mereka sudah bergerak.”

“Siapa?”

“Orang-orang Adi.”

Raka langsung berdiri.

“Kita harus pergi.”

Sekar menggeleng.

“Belum.”

“Sekar.”

“Aku ingin tahu satu hal.”

Ia menatap Kinasih.

“Kenapa namamu menjadi bagian dari keluargaku?”

Kinasih tersenyum.

“Karena aku adalah awal dari semua ini.”

“Awal?”

“Empat garis keturunan itu pernah bersatu.”

Sekar menunggu.

“Lalu terjadi pengkhianatan.”

“Siapa yang berkhianat?”

Kinasih menatap Sekar dalam-dalam.

“Seseorang dari dalam keluarga sendiri.”

Sekar terdiam.

“Siapa?”

Kinasih mendekat.

“Orang yang paling kamu percaya.”

Sekar merasa jantungnya berhenti sesaat.

“Ibu?”

Kinasih menggeleng.

“Bukan.”

“Raka?”

“Bukan.”

“Mahendra?”

“Bukan.”

Sekar semakin bingung.

“Lalu siapa?”

Kinasih berbisik:

“Orang yang selama ini kamu tunggu.”

Sekar terdiam.

“Ayah...?”

Kinasih tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mulai melantunkan kidung kembali.

“Sukma ngelalana...

sukma ngudi dalan...

yen getih wis nyawiji...

lawang bakal kabuka...”

Taling sukmo Sekar bercahaya.

Keempat simbol di dinding kembali menyala.

Namun kali ini hanya simbol pertama yang benar-benar bersinar.

Kinasih mundur.

“Sekar, dengarkan aku.”

“Apa?”

“Jangan pernah melantunkan kidung ini sendirian.”

“Kenapa?”

“Karena kidung ini bukan hanya memanggil sukma.”

Kinasih menatap kegelapan.

“Kidung ini juga bisa membuka jalan bagi sesuatu yang tidak memiliki sukma.”

Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar.

Dari lorong terdengar langkah kaki.

Duk...

Duk...

Duk...

Raka mengangkat senjata seadanya.

Mahendra menggenggam Wulang Geni.

Ibu Sekar menarik anaknya ke belakang.

Sekar menatap lorong.

Seseorang muncul dari kegelapan.

Bukan Adi.

Bukan Wening.

Bukan Kinasih.

Seorang lelaki dengan pakaian basah berdiri di sana.

Wajahnya tertutup bayangan.

Ia mengangkat kepala.

Sekar langsung menangis.

“Ayah...?”

Lelaki itu tersenyum.

Namun Kinasih tiba-tiba berteriak:

“JANGAN DEKATI DIA!”

Sekar berhenti.

Lelaki itu menatap Kinasih.

Kemudian berkata:

“Sudah lama sekali, Kinasih.”

Kinasih terlihat ketakutan.

“Tidak mungkin...”

Lelaki itu tersenyum.

“Aku sudah pulang.”

Sekar menatapnya.

“Siapa kamu?”

Lelaki itu tidak menjawab.

Ia hanya menatap Sekar.

Kemudian berkata dengan suara yang sangat lembut:

“Anakku... kamu sudah tumbuh besar.”

Sekar menangis.

“Ayah?”

Kinasih memejamkan mata.

“Bukan.”

Sekar menoleh.

Kinasih berbisik:

“Itu bukan ayahmu.”

Lelaki tersebut tersenyum semakin lebar.

Dan di belakang tubuhnya...

muncul bayangan hitam tanpa wajah.

Kidung Kinasih berhenti.

Semua lampu padam.

Kemudian suara dari kegelapan terdengar:

“Sukma ngelalana telah selesai.”

“Sekarang giliran raga yang pulang.”

Sekar menggenggam taling sukmo.

Cahayanya menyala untuk terakhir kalinya.

Dan di dinding Watu Wening muncul tulisan baru:

“WARISAN PERTAMA TELAH MEMILIH.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk