KEBANGKITAN SANG KEPALA KERBAU

2 dibaca

A

KEBANGKITAN SANG KEPALA KERBAU

DUM!

Tanah di bawah hutan Weningjati kembali berguncang.

Sekar kehilangan keseimbangan.

Raka segera menarik lengannya.

“Sekar, jangan berdiri terlalu dekat dengan Watu Wening!”

Namun Sekar tidak menjawab.

Tatapannya terpaku pada batu besar di tengah hutan.

Retakan yang sebelumnya hanya sebesar garis kini membelah Watu Wening dari atas sampai ke bawah.

Dari dalamnya keluar cahaya merah gelap.

DUM!

Sekali lagi.

Pepohonan bergoyang.

Burung-burung beterbangan meninggalkan sarangnya.

Kabut yang menyelimuti hutan berubah semakin tebal.

Darmo berdiri di belakang pasukannya dengan wajah penuh kemenangan.

“Bertahun-tahun…”

Ia memandang Watu Wening.

“Bertahun-tahun aku menunggu malam ini.”

Laras menatapnya dengan kebencian.

“Kau tidak tahu apa yang sedang kau bangunkan.”

Darmo tertawa.

“Aku tahu persis.”

“Kau hanya tahu apa yang dijanjikan kepadamu.”

Senyum Darmo perlahan menghilang.

Laras melanjutkan,

“Kekayaan.”

“Kekuasaan.”

“Jabatan.”

“Semua itu hanya umpan.”

Darmo mengepalkan tangannya.

“Diam!”

Suara dari dalam Watu Wening tiba-tiba terdengar.

GRAAAAAHHHH!

Semua orang terdiam.

Bahkan Darmo menundukkan kepala.


Sesuatu di Bawah Tanah

Tanah di sekitar Watu Wening terangkat.

Batu-batu kecil melayang di udara.

Kemudian dari retakan muncul dua tangan besar.

Tangan itu berwarna hitam kemerahan.

Kuku-kukunya panjang.

Jari-jarinya mencengkeram batu seolah hendak menarik dirinya keluar dari dunia yang telah mengurungnya selama ratusan tahun.

Sekar mundur.

“Itu…”

Raka berdiri di depannya.

“Jangan lihat terlalu lama.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin dia juga sedang melihatmu.”

Sekar menatap Raka.

“Kalau aku tidak melihatnya, apa yang terjadi?”

Raka tidak menjawab.

Karena saat itu…

dua mata merah menyala di dalam retakan Watu Wening.

Makhluk tersebut membuka matanya.

“Darah…”

Suara itu begitu berat hingga tanah bergetar.

“Aku mencium darah kalian.”

Mahendra mengangkat Wulang Geni.

Api merah menyala di seluruh bilah keris.

“Kita harus menghentikannya.”

Laras menggeleng.

“Belum waktunya.”

Mahendra menatapnya.

“Kalau bukan sekarang, kapan?”

“Kalau ia keluar sepenuhnya…”

Laras menatap Watu Wening.

“…tidak seorang pun di tempat ini akan mampu menghentikannya.”


Empat Darah

Taling sukmo Sekar tiba-tiba terangkat.

Cahayanya membentuk lingkaran.

Simbol pertama muncul di udara.

Kemudian simbol kedua.

Simbol ketiga.

Dan simbol keempat.

Sekar memandangnya.

“Kenapa semuanya muncul?”

Kinasih tiba-tiba muncul di antara kabut.

“Karena empat darah sudah berkumpul.”

Sekar terkejut.

“Kinasih!”

Kinasih menatap keempat orang itu.

Sekar.

Mahendra.

Laras.

Raka.

“Selama ini mereka mengejar kalian satu per satu.”

Kinasih berkata,

“Tapi mereka tidak pernah memahami satu hal.”

Darmo berteriak dari kejauhan.

“Apa?”

Kinasih menoleh kepadanya.

“Empat darah bukan untuk membangkitkan makhluk itu.”

Darmo terdiam.

Kinasih tersenyum tipis.

“Empat darah adalah kunci untuk mengurungnya kembali.”

Wajah Darmo berubah.

“Bohong!”

“Leluhurmu telah berbohong kepadamu.”

“Tidak!”

Darmo mengangkat tangannya.

“Ambil mereka!”

Pasukannya langsung bergerak.


Pertempuran di Hutan

Suara langkah kaki berlari memenuhi hutan.

Mahendra maju.

Wulang Geni menebas udara.

FWOOSH!

Api merah melesat dan menghantam tanah di depan para pengejar.

Mereka berhenti mendadak.

Raka bergerak ke sisi Sekar.

“Sekar, tetap di belakangku!”

Laras mengangkat kedua tangannya.

Kabut putih berputar seperti pusaran.

Beberapa orang Darmo kehilangan arah.

“Di mana mereka?”

“Jangan terpisah!”

Sekar melihat semuanya dengan mata batinnya.

Namun yang membuatnya takut bukan pasukan Darmo.

Melainkan sesuatu yang berdiri di belakang mereka.

Bayangan kepala kerbau itu semakin besar.

Tanduknya hampir menyentuh pepohonan.

Sekar berbisik,

“Dia sudah keluar…”

Raka menoleh.

“Belum.”

“Tapi aku bisa melihat tubuhnya.”

Raka menggeleng.

“Itu baru bayangannya.”

Sekar menatap Watu Wening.

“Kalau begitu tubuh aslinya ada di mana?”

Kinasih menjawab dari belakangnya.

“Di bawah kita.”


Keserakahan Darmo

Darmo berjalan mendekati Watu Wening.

“Paduka!”

Ia berlutut.

“Aku telah membawa mereka.”

Makhluk itu diam.

Darmo mengangkat wajah.

“Empat darah.”

“Seperti yang dijanjikan.”

Makhluk tersebut menunduk.

Mata merahnya menatap Darmo.

Kemudian suara berat terdengar.

“Kau menginginkan kekayaan.”

Darmo mengangguk.

“Ya.”

“Kekuasaan.”

“Ya.”

“Kehidupan tanpa batas.”

Darmo tersenyum.

“Ya.”

Makhluk itu tertawa.

Suara tawanya mengguncang hutan.

“Manusia…”

Darmo terdiam.

“Selalu meminta lebih banyak.”

Darmo mulai ragu.

“Paduka?”

Makhluk itu mendekat.

“Dan selalu lupa harga yang harus dibayar.”

Darmo menatapnya.

“Aku sudah memberikan persembahan.”

“Belum.”

Suara itu berubah menjadi geraman.

“Kau baru memberikan jalan.”

Darmo mulai mundur.

“Apa maksudmu?”

Makhluk itu menatap tepat ke arahnya.

“Empat darah bukan persembahan.”

“Mereka adalah pintu.”


Pengkhianatan

Kinasih memandang Sekar.

“Sekarang.”

“Apa?”

“Satukan taling sukmo dengan Wulang Geni.”

Sekar terkejut.

“Tapi Wulang Geni milik Mahendra.”

Mahendra menyerahkan keris itu kepadanya.

“Ambil.”

Sekar menggenggam gagangnya.

Api merah menyentuh cahaya putih dari tubuhnya.

WUUUUM!

Cahaya besar menyebar.

Raka dan Laras ikut mendekat.

Empat simbol menyala bersamaan.

Untuk sesaat, seluruh hutan menjadi terang.

Darmo berteriak,

“Jangan!”

Ia berlari ke arah mereka.

Namun terlambat.

Empat cahaya membentuk lingkaran mengelilingi Watu Wening.

Makhluk berkepala kerbau meraung.

GRAAAAAAAHHHH!

Tanah pecah.

Pohon tumbang.

Pasukan Darmo berlarian ketakutan.

“Pak!”

“Makhluk itu menyerang!”

Darmo menatapnya dengan wajah pucat.

Ia baru menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira dirinya sedang mengendalikan makhluk tersebut.

Ternyata…

dialah yang sedang digunakan.


Penguasa yang Tidak Bisa Dikendalikan

Makhluk itu akhirnya mengangkat tubuhnya dari dalam Watu Wening.

Sebagian tubuhnya muncul di dunia manusia.

Tubuhnya sangat besar.

Kepalanya benar-benar seperti kepala kerbau.

Tanduknya hitam.

Matanya merah menyala.

Dari mulutnya keluar asap hitam.

Namun sebelum ia keluar sepenuhnya—

empat cahaya menghantam tubuhnya.

BRAAAAAK!

Makhluk itu meraung.

Sekar jatuh berlutut.

Mahendra ikut terhuyung.

Laras memejamkan mata.

Raka berteriak,

“Jangan lepaskan tangan kalian!”

Keempatnya membentuk lingkaran.

Makhluk itu terus melawan.

“AKU AKAN KELUAR!”

Sekar menggigit bibirnya.

“Kami tidak akan membiarkanmu!”

Makhluk itu menatap Sekar.

“Kau…”

Suara itu tiba-tiba melembut.

“Darah pertama.”

Sekar menatapnya.

Makhluk itu tersenyum.

“Kau belum tahu siapa yang sebenarnya mengkhianati keluargamu.”

Sekar terdiam.

“Siapa?”

Makhluk itu menatap Raka.

Kemudian Mahendra.

Kemudian Laras.

Terakhir kembali kepada Sekar.

“Salah satu dari mereka.”

Cahaya lingkaran tiba-tiba melemah.

Sekar menatap ketiganya.

Raka terlihat terkejut.

Mahendra menggenggam keris.

Laras menundukkan wajah.

Kinasih berteriak,

“Jangan percaya perkataannya!”

Namun keraguan sudah masuk ke hati Sekar.

Makhluk itu tertawa.

“Aku tidak perlu menghancurkan kalian.”

“Cukup membuat kalian saling curiga.”

Sekar menggenggam taling sukmo lebih erat.

Dan tiba-tiba…

salah satu dari empat simbol padam.

Semua terkejut.

Raka menatap Sekar.

“Siapa yang melepaskan?”

Tidak ada yang menjawab.

Kabut hitam mulai menelan Watu Wening.

Darmo perlahan berdiri.

Senyum kembali muncul di wajahnya.

“Kalau begitu…”

Ia menatap keempat darah.

“…biarkan mereka saling menghancurkan.”

Di tengah kegelapan, suara makhluk berkepala kerbau terdengar sekali lagi:

“PENGKHIANAT ADA DI ANTARA KALIAN.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk