RAHASIA DI BAWAH RUMAH

2 dibaca

A

RAHASIA DI BAWAH RUMAH

Kegelapan menelan seluruh ruangan.

Sekar tidak dapat melihat apa pun.

Ponselnya telah mati.

Bukan sekadar kehabisan baterai. Beberapa saat sebelumnya baterainya masih cukup, tetapi sekarang layar benar-benar tidak merespons.

Ia berdiri diam.

Napasnya terdengar jelas di tengah kesunyian.

Hah... hah...

Di sampingnya, Raka berbisik.

“Sekar, jangan bergerak.”

“Aku di sini.”

“Jangan bicara terlalu keras.”

Sekar menggenggam taling sukmo di lehernya.

Benda itu masih terasa hangat.

Kemudian suara tawa kembali terdengar.

Pelan.

Jauh.

Namun seolah-olah berasal dari setiap sudut ruangan.

“Akhirnya... aku menemukanmu.”

Sekar merinding.

“Siapa kamu?”

Tidak ada jawaban.

Raka mengangkat tangannya, mencoba meraba dinding.

“Sekar, kita harus keluar.”

“Tapi Kinasih...”

“Kita tidak tahu apakah dia masih ada di sini.”

Sekar menoleh ke arah tempat Kinasih berdiri sebelumnya.

“Kinasih?”

Tidak ada jawaban.

Sosok perempuan itu telah menghilang.

Tiba-tiba tangan seseorang menyentuh bahu Sekar.

Sekar menjerit.

“AH!”

Raka langsung menariknya.

“Tenang! Aku.”

Sekar memegang dadanya.

“Kukira...”

“Aku tahu.”

Raka menyalakan korek api kecil yang disimpannya di saku.

Cahaya api hanya menerangi ruangan beberapa detik.

Namun cukup untuk membuat mereka melihat sesuatu.

Di dinding belakang terdapat sebuah tulisan baru.

Tulisan yang sebelumnya tidak ada.

“JANGAN PERCAYA KINASIH.”

Api korek mati.

Sekar terdiam.

“Raka...”

“Aku melihatnya.”

“Jadi siapa yang harus dipercaya?”

Raka tidak menjawab.

Karena dari atas tangga terdengar suara langkah kaki.

Tok... tok... tok...

Seseorang sedang turun.


ORANG YANG DATANG DARI ATAS

Cahaya senter tiba-tiba menerobos kegelapan.

Sekar menutup mata.

“Siapa?”

Suara seorang lelaki terdengar.

“Sekar.”

Raka langsung bersiap.

“Adi.”

Cahaya senter bergerak.

Adi Laksana berdiri di tangga.

Pakaiannya kotor terkena tanah, tetapi wajahnya tetap tenang.

Ia melihat ruangan itu.

Kemudian tersenyum.

“Jadi ini tempatnya.”

Raka maju.

“Kamu tidak boleh berada di sini.”

Adi mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena tempat ini bukan milikmu.”

Adi tertawa.

“Tidak ada tempat yang benar-benar tidak bisa dimiliki.”

Sekar menatapnya.

“Kamu mencari apa?”

Adi menyorotkan senter ke empat tiang batu.

“Aku mencari jawaban.”

“Untuk apa?”

“Untuk mendapatkan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”

Sekar menggeleng.

“Warisan itu bukan milikmu.”

Adi menatapnya.

“Kamu masih terlalu muda untuk memahami bagaimana dunia bekerja.”

“Aku tidak peduli.”

Sekar berdiri tegak.

“Kalau sesuatu harus direbut dengan menyakiti orang lain, berarti itu bukan hakmu.”

Senyum Adi menghilang.

“Ucapanmu mirip ayahmu.”

Sekar membeku.

“Kamu kenal ayahku?”

Adi terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab,

“Lebih dari yang kamu kira.”

Sekar melangkah mendekat.

“Apa yang kamu tahu tentang ayahku?”

Adi tidak menjawab.

Ia justru mengarahkan senter ke dinding.

Di sana terdapat ukiran empat simbol.

“Dulu ayahmu datang ke sini bersama tiga orang lainnya.”

“Siapa?”

“Orang-orang yang percaya mereka bisa mengendalikan warisan.”

Raka bertanya,

“Lalu apa yang terjadi?”

Adi tersenyum.

“Mereka gagal.”

Sekar mengepalkan tangannya.

“Ayahku masih hidup?”

Adi menatapnya.

Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.

“Kalau aku menjawab ya?”

Sekar terdiam.

“Kalau aku menjawab tidak?”

Air mata mulai menggenang di mata Sekar.

“Kamu tahu di mana ayahku?”

Adi menjawab pelan,

“Yang aku tahu... ayahmu meninggalkan sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Jalan menuju pintu kedua.”


PULANG

Ibu Sekar masih menunggu di atas.

Ketika melihat mereka keluar dari lorong bawah tanah, ia langsung berlari.

“Sekar!”

Ia memeluk anaknya erat.

Sekar membalas pelukan itu.

“Bu...”

“Ibu kira kamu tidak akan kembali.”

Sekar melepaskan pelukan.

“Ada sesuatu di bawah rumah kita.”

Ibunya langsung terdiam.

Sekar menatap wajahnya.

“Kinasih bilang pintu kedua ada di bawah rumah.”

Wajah ibunya berubah.

Raka memperhatikan.

“Jadi benar.”

Ibu Sekar menggeleng.

“Tidak.”

Sekar menatapnya.

“Bu.”

“Jangan percaya apa yang kamu lihat di bawah sana.”

“Tapi Ibu tahu.”

“Tidak.”

“Ibu tahu!”

Sekar akhirnya meninggikan suara.

“Ibu selalu bilang ingin melindungiku. Tapi setiap kali aku bertanya, Ibu selalu menyembunyikan semuanya.”

Ibunya menangis.

“Karena Ibu takut kehilangan kamu.”

Sekar terdiam.

“Apa yang terjadi malam aku hilang?”

Ibunya menunduk.

“Ketika kamu ditemukan di Watu Wening, kamu tidak sendiri.”

Sekar menahan napas.

“Ada siapa?”

“Seorang anak laki-laki.”

“Wening.”

Ibunya mengangguk.

“Tapi bukan hanya Wening.”

Sekar mengerutkan kening.

“Siapa lagi?”

Ibunya memejamkan mata.

“Seorang perempuan.”

“Siapa?”

“Namanya Kinasih.”

Sekar terdiam.

“Tapi bagaimana mungkin? Kinasih adalah leluhur kita.”

“Begitulah masalahnya.”

Ibunya memandang Sekar.

“Karena Kinasih seharusnya sudah meninggal jauh sebelum kamu lahir.”


RAHASIA DI BAWAH RUMAH

Malam kembali datang.

Rumah Sekar terlihat tenang dari luar.

Tetapi di dalamnya tidak ada seorang pun yang benar-benar tenang.

Sekar duduk di ruang tengah.

Foto lama yang ditemukan di dalam kotak berada di atas meja.

Ia memperhatikannya.

Sekar kecil.

Wening kecil.

Dan Kinasih.

Tiga sosok dalam satu malam yang seharusnya tidak mungkin terjadi.

Raka duduk di seberangnya.

“Ada yang aneh.”

“Apa?”

“Foto itu.”

Sekar melihatnya.

“Kenapa?”

“Perhatikan latar belakangnya.”

Sekar mendekatkan foto ke lampu.

Di belakang mereka terlihat sebuah rumah tua.

Sekar terkejut.

“Itu...”

“Rumahmu.”

Sekar menatap Raka.

“Tidak mungkin.”

Raka menunjuk bagian belakang foto.

“Lihat.”

Rumah itu memang sangat mirip dengan rumah Sekar.

Namun ada satu perbedaan.

Dalam foto, rumah tersebut memiliki sebuah pintu kecil di bawah lantai depan.

Sekar menoleh ke arah ruang tamu.

“Di rumahku tidak ada pintu seperti itu.”

Ibunya yang mendengar percakapan mereka langsung datang.

Begitu melihat foto tersebut, wajahnya pucat.

“Dari mana kalian mendapatkan itu?”

“Dari kotak Watu Wening.”

Ibunya mengambil foto tersebut.

Tangannya gemetar.

“Ayahmu pernah menunjukkan foto ini kepadaku.”

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena aku berharap kamu tidak pernah menemukannya.”

Sekar berdiri.

“Pintu itu ada di mana?”

Ibunya diam.

“Bu.”

“Di bawah lantai.”

Sekar langsung melihat ke bawah.

“Di sini?”

Ibunya mengangguk.

“Dulu rumah ini memiliki ruang bawah tanah.”

“Dulu?”

“Ditutup oleh ayahmu.”

Raka berdiri.

“Kenapa?”

Ibunya menatap Raka.

“Karena malam kamu hilang, sesuatu keluar dari sana.”

Sekar merasakan dingin menjalar di tubuhnya.

“Apa?”

Ibunya berbisik,

“Suara tangisan anak kecil.”


TANGGA YANG TERKUBUR

Mereka memindahkan karpet tua di ruang tengah.

Di bawahnya terdapat lantai kayu.

Beberapa bagian terlihat lebih baru dibandingkan bagian lainnya.

Raka mengetuk lantai.

Tok.

Kemudian mengetuk lagi.

Tok... tok...

Suara yang keluar berbeda.

“Ada ruang kosong di bawah.”

Sekar menatap ibunya.

“Buka.”

“Sekar...”

“Buka, Bu.”

Ibunya mengambil sebuah kunci tua dari lemari.

Kunci itu berkarat.

Ia berlutut dan memasukkannya ke sebuah celah kecil di lantai.

Klik.

Papan lantai terbuka.

Di bawahnya terlihat tangga batu.

Udara dingin langsung keluar.

Sekar merinding.

Tangga itu sangat mirip dengan tangga di bawah Watu Wening.

Raka menyalakan senter.

“Ini bukan ruang bawah tanah biasa.”

Sekar turun perlahan.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

Ibunya mengikuti dari belakang.

Semakin ke bawah, dinding semakin tua.

Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan kecil.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu.

Di atasnya ada sebuah benda.

Keris Wulang Geni.

Sekar menatapnya.

“Ini apa?”

Raka terdiam.

“Jangan sentuh.”

“Kenapa?”

“Karena aku pernah melihat simbol itu.”

Sekar memperhatikan gagang keris.

Terdapat ukiran yang menyerupai api.

“Warisan ketiga?”

Raka mengangguk pelan.

“Mungkin.”

Namun ada sesuatu yang lebih aneh.

Di belakang meja batu terdapat tulisan:

“Yang pertama membuka mata.”

“Yang kedua menjaga jalan.”

“Yang ketiga membawa api.”

“Yang keempat membawa keseimbangan.”

Sekar membaca semuanya.

“Empat warisan...”

Raka menatap tulisan itu.

“Sepertinya.”

Sekar melihat keris tersebut.

“Kalau ini warisan ketiga, siapa pemiliknya?”

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Aku.”

Mereka bertiga menoleh.

Seorang pemuda berdiri di ujung ruangan.

Usianya sekitar dua puluhan.

Pakaiannya sederhana.

Tatapannya tajam.

Di tangannya terdapat bekas luka seperti terbakar.

Raka langsung berdiri di depan Sekar.

“Siapa kamu?”

Pemuda itu menjawab,

“Namaku Mahendra Angkasa.”

Sekar menatapnya.

“Bagaimana kamu bisa masuk?”

Mahendra tersenyum tipis.

“Karena pintu ini memanggilku.”

Ia melihat keris di atas meja.

“Dan itu seharusnya tidak berada di sini.”

Raka bertanya,

“Kamu salah satu dari empat?”

Mahendra tidak langsung menjawab.

Ia melihat Sekar.

Kemudian berkata,

“Kalau taling sukmo sudah memilihmu...”

Tatapannya turun ke tangan Sekar.

“...berarti memang waktunya sudah dekat.”

“Waktunya apa?”

Mahendra menatap mereka satu per satu.

“Waktunya empat warisan kembali bertemu.”


SUARA DARI BAWAH TANAH

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh—

DUUM!

Seluruh ruangan bergetar.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Ibunya Sekar berteriak.

“Keluar!”

Namun Mahendra justru menatap lantai.

“Ada sesuatu di bawah kita.”

Sekar menatapnya.

“Lebih bawah lagi?”

Mahendra mengangguk.

“Kalian baru menemukan ruang pertama.”

Raka mendekati dinding.

“Berarti masih ada ruang lain?”

Mahendra menunjuk ke lantai.

“Di bawah sana.”

Sekar mendengar suara.

Pelan.

Sangat pelan.

Tangisan anak kecil.

“Jangan...”

Sekar menutup telinga.

Suara itu semakin jelas.

“Ibu... aku takut...”

Sekar menangis.

“Aku mengenal suara itu.”

Mahendra menatapnya.

“Karena itu suara dirimu sendiri.”

Sekar terdiam.

Kemudian lantai di bawah mereka retak.

KRAAAK!

Sebuah lubang terbuka.

Dari dalamnya keluar kabut hitam.

Dan di tengah kabut itu terlihat seorang anak perempuan kecil.

Sekar kecil.

Usianya tujuh tahun.

Ia sedang menangis.

Anak itu menatap Sekar dewasa.

Kemudian berkata:

“Kak... kenapa kamu meninggalkanku di sini?”

Sekar tidak mampu bergerak.

“Itu... aku.”

Anak kecil itu mengangguk.

“Iya.”

“Apa yang terjadi padamu?”

Anak kecil itu tersenyum sedih.

“Bukan aku yang tertinggal.”

Sekar bingung.

“Lalu siapa?”

Anak kecil itu menunjuk ke belakang Sekar.

Sekar perlahan menoleh.

Di sana berdiri seorang perempuan berpakaian putih.

Kinasih.

Namun kali ini wajah Kinasih tidak lagi lembut.

Matanya hitam.

Dan di belakangnya berdiri sosok tinggi yang tidak memiliki wajah.

Kinasih berbisik:

“Sekar... jangan biarkan dia keluar.”

Sekar menatap sosok tanpa wajah itu.

“Siapa dia?”

Kinasih mundur.

Sosok itu mulai berjalan mendekat.

Duk...

Duk...

Duk...

Mahendra mencabut keris Wulang Geni.

Raka berdiri di samping Sekar.

Ibu Sekar menggenggam tangan anaknya.

Kemudian terdengar suara dari sosok tersebut.

Bukan suara manusia.

“Sudah terlalu lama aku menunggu darah Kinasih kembali ke rumah ini.”

Sekar menggigil.

Sosok itu mengangkat tangannya.

Taling sukmo di leher Sekar menyala terang.

Empat simbol di dinding menyala satu demi satu.

Mahendra menatap Sekar.

“Sekar.”

“Apa?”

“Jangan melawannya.”

“Kenapa?”

“Karena dia bukan datang untuk menyerangmu.”

Sosok itu semakin dekat.

Mahendra menatapnya dengan wajah tegang.

“Dia datang untuk mengambil kembali sesuatu yang pernah kamu bawa keluar dari pintu itu tujuh tahun lalu.”

Sekar membeku.

“Apa?”

Sosok tanpa wajah itu berhenti tepat di depannya.

Kemudian menunjuk ke dada Sekar.

Dan untuk pertama kalinya...

Sekar merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.

Sebuah cahaya kecil muncul dari dadanya.

Kinasih berteriak:

“JANGAN BIARKAN DIA MENGAMBILNYA!”

Ruangan dipenuhi cahaya.

Keempat simbol menyala bersamaan.

Dan dari dalam dada Sekar terdengar suara detak yang bukan miliknya.

Dug...

Dug...

Dug...

Mahendra berbisik:

“Jadi selama ini... warisan itu memang ada di dalam dirinya.”

Sosok tanpa wajah mengulurkan tangan.

Sekar menjerit.

“AAAAHHH!”

Cahaya putih meledak memenuhi ruangan.

Ketika cahaya itu menghilang—

sosok tersebut sudah tidak ada.

Kinasih juga menghilang.

Namun anak kecil yang menyerupai Sekar masih berdiri di tengah ruangan.

Ia menatap Sekar.

Lalu tersenyum.

“Sekarang kamu sudah ingat.”

Sekar menangis.

“Apa yang harus kuingat?”

Anak kecil itu menunjuk ke arah pintu batu yang perlahan terbuka.

“Malam ketika kamu bertemu Wening bukanlah pertama kalinya kamu datang ke sini.”

Sekar terdiam.

Anak itu melanjutkan:

“Dan orang yang membawa kamu ke tempat ini...”

Ia menatap Raka.

“...bukan Wening.”

Raka langsung membeku.

Sekar menoleh kepadanya.

“Raka?”

Anak kecil itu tersenyum.

“Cari tahu siapa yang sebenarnya membuka pintu itu untukmu.”

Pintu batu terbuka sepenuhnya.

Di baliknya hanya ada kegelapan.

Lalu terdengar suara seorang lelaki dari dalam:

“Sekar... waktunya pulang.”

Sekar menatap kegelapan itu.

Wajahnya pucat.

Karena suara tersebut...

adalah suara ayahnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk