ROGO SUKMA
Sekar membuka matanya dengan susah payah.
Hal pertama yang dirasakannya adalah dingin.
Bukan dingin akibat hujan atau angin malam, melainkan dingin yang merayap dari dalam tulang. Tubuhnya terasa ringan, seolah-olah tidak lagi berpijak di tanah. Di sekelilingnya hanya ada kabut putih yang bergerak perlahan.
Tidak ada Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening.
Tidak ada suara hujan.
Tidak ada Ki Kusumo, Gus Rahman, Mahendra, Laras, atau Raka.
Hanya sebuah ruangan tua yang diterangi cahaya kebiruan.
Di hadapannya berdiri empat altar batu.
Altar pertama memancarkan cahaya putih.
Altar kedua menyala merah seperti bara.
Altar ketiga berkilauan keemasan.
Altar keempat masih tertutup kegelapan.
Di tengah keempat altar itu tumbuh sebuah tanaman aneh dari celah lantai batu.
Batangnya hitam.
Daunnya berwarna hijau gelap.
Namun bunga yang mekar di ujungnya berwarna putih bersih, dengan kelopak yang tampak seperti terbuat dari cahaya bulan.
Bunga itu bergerak perlahan.
Padahal tidak ada angin di dalam ruangan.
Sekar menatapnya dengan dada berdebar.
“Ini tempat apa?”
Dari balik kabut terdengar suara perempuan.
“Tempat antara tubuh dan sukma.”
Sekar berbalik.
Di ujung ruangan berdiri seorang perempuan mengenakan kebaya putih. Rambutnya terurai panjang hingga menyentuh lantai. Wajahnya tampak pucat, tetapi matanya memancarkan kesedihan yang dalam.
Sekar mengenal sosok itu.
“Kinasih…”
Perempuan tersebut berjalan mendekati empat altar.
“Di sinilah ilmu Rogo Sukma pertama kali digunakan.”
Sekar menatap sekelilingnya.
“Rogo Sukma?”
Kinasih mengangguk.
“Ilmu yang dapat memisahkan tubuh dan sukma. Ilmu yang dapat memanggil kembali sukma yang tersesat. Ilmu yang mampu menyatukan kembali sesuatu yang telah tercerai-berai.”
Sekar memandang bunga putih yang tumbuh di tengah ruangan.
“Apakah bunga itu bagian dari Rogo Sukma?”
“Bukan bunga itu yang memiliki kekuatan,” jawab Kinasih. “Kekuatan sebenarnya berasal dari sukma yang terikat di dalamnya.”
Tiba-tiba bunga tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
Dari setiap kelopaknya muncul bayangan wajah manusia.
Ada wajah lelaki tua.
Wajah perempuan muda.
Wajah anak kecil.
Wajah para prajurit.
Wajah orang-orang yang tidak dikenal Sekar.
Semuanya tampak menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.
Sekar mundur.
“Apa yang terjadi pada mereka?”
“Mereka adalah sukma yang dipisahkan dari tubuhnya.”
“Siapa yang memisahkan mereka?”
Kinasih menundukkan wajah.
“Orang-orang yang menggunakan Rogo Sukma tanpa memahami akibatnya.”
Suasana ruangan berubah semakin dingin.
Dari balik altar keempat terdengar suara langkah kaki.
Satu langkah.
Berhenti.
Kemudian satu langkah lagi.
Kabut hitam perlahan memenuhi sudut ruangan. Di dalam kabut itu muncul sosok seorang laki-laki berjubah hitam.
Wajahnya tertutup kain gelap.
Sekar langsung teringat pada penglihatannya di Watu Wening.
Laki-laki yang membuka pintu.
Laki-laki yang pernah membawa dirinya ketika masih kecil.
Laki-laki yang wajahnya menyerupai ayahnya.
“Siapa dia?” tanya Sekar.
Kinasih menjawab dengan suara pelan.
“Orang yang dahulu menggunakan Rogo Sukma untuk memindahkan sukma manusia.”
Sosok itu berhenti di depan altar keempat.
Kemudian ia mengangkat tangannya.
Bunga putih di tengah ruangan bergetar.
Satu kelopaknya berubah menjadi hitam.
Sekar menahan napas.
“Kenapa kelopaknya berubah warna?”
“Karena setiap sukma yang dipaksa keluar dari tubuhnya akan meninggalkan bekas.”
Laki-laki berjubah hitam itu tertawa kecil.
“Sekar…”
Sekar menatapnya dengan waspada.
“Jangan panggil namaku!”
“Kenapa?” jawab sosok itu. “Bukankah tubuhmu telah mengenali sukmaku sejak malam pertama?”
“Aku tidak mengenalmu.”
“Tubuhmu mungkin tidak mengenaliku.” Sosok itu melangkah maju. “Namun darahmu mengenali darahku.”
Ia menarik kain hitam yang menutupi wajahnya.
Sekar kembali melihat wajah ayahnya.
Wajah yang selama ini hanya muncul dalam mimpi dan bayangan masa lalu.
Namun kali ini, wajah tersebut tidak tampak seperti manusia sepenuhnya. Di bagian lehernya terdapat garis hitam yang bergerak seperti urat hidup. Kedua matanya kosong, dan di belakang tubuhnya berdiri bayangan kepala kerbau.
Sekar mundur beberapa langkah.
“Bukan ayahku…”
Sosok itu tersenyum.
“Benar. Aku bukan ayahmu.”
Kinasih mengangkat tangannya. Cahaya putih memancar dari tubuhnya dan membentuk dinding di antara Sekar dan sosok tersebut.
“Jangan biarkan dia menyentuhmu, Sekar!”
Sosok berjubah hitam menoleh kepada Kinasih.
“Masih saja kau menghalangi jalanku.”
“Kau sudah mengambil terlalu banyak sukma.”
“Aku hanya memindahkan mereka.”
“Kau memisahkan mereka dari tubuhnya secara paksa!”
“Tubuh hanyalah wadah,” jawab sosok itu. “Sukma adalah sumber kekuatan.”
Kinasih menatapnya dengan marah.
“Rogo Sukma diciptakan untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk memperbudak mereka.”
Sosok itu tertawa.
“Semua ilmu yang kuat akan berubah menjadi alat kekuasaan di tangan manusia yang tamak.”
Sekar menatap empat altar.
“Apakah empat darah juga berkaitan dengan ilmu ini?”
Kinasih mengangguk.
“Dahulu, para penjaga menemukan bahwa iblis berkepala kerbau tidak dapat dihancurkan. Ia hanya dapat dipisahkan dari sumber kekuatannya. Untuk melakukan pemisahan itu, empat darah digunakan sebagai penyangga.”
“Sekar, Mahendra, Laras, dan Raka?”
“Benar.”
“Lalu apa hubungannya Rogo Sukma dengan Raka?”
Kinasih menatap altar keempat.
“Raka bukan hanya menjadi penjaga darah keempat. Ia juga menjadi tempat tertahannya sukma iblis yang gagal dipisahkan.”
Sekar menatapnya dengan wajah pucat.
“Jadi selama ini, Raka…”
“Tubuhnya menjadi penjara.”
Sosok berjubah hitam menyela:
“Dan penjara itu mulai retak.”
Tiba-tiba altar keempat mengeluarkan cahaya merah gelap.
Suara Raka terdengar dari balik altar.
“Sekar…”
Sekar langsung berbalik.
Di antara kabut, Raka berdiri dengan tubuh penuh luka. Kedua tangannya terikat oleh benang putih yang menancap ke lantai. Wajahnya pucat, sementara bayangan kepala kerbau bergerak di belakang tubuhnya.
“Raka!”
Sekar berlari ke arahnya.
Kinasih segera berteriak:
“Jangan mendekat!”
Namun Sekar tidak berhenti.
Ketika ia hampir menyentuh Raka, lantai di bawah kakinya berubah menjadi lumpur hitam. Tangan-tangan kurus muncul dan berusaha menarik tubuhnya ke bawah.
Raka menatapnya dengan panik.
“Sekar, jangan datang!”
“Aku akan membebaskanmu!”
“Tidak bisa!”
“Kenapa?”
“Karena sesuatu itu sudah menyatu dengan sukmaku.”
Sekar berdiri di depan lumpur hitam.
“Kalau begitu, aku akan memisahkannya.”
Raka menggeleng.
“Jika kau menggunakan Rogo Sukma tanpa pengendalian, iblis itu akan berpindah ke tubuhmu.”
Sosok berjubah hitam tertawa.
“Sekarang kau mengerti, Sekar.”
Ia mengangkat tangannya.
Bunga putih di tengah ruangan mengeluarkan cahaya yang sangat kuat. Empat altar menyala bersamaan.
Dari dalam bunga terdengar suara ribuan sukma yang berbisik:
“Pulang…”
“Pulang…”
“Pulang…”
Sekar merasakan sesuatu menarik dadanya.
Taling sukmo di pergelangan tangannya terbuka sendiri. Benang hitam dari benda itu menjulur menuju bunga, lalu terhubung dengan kelopak-kelopaknya.
Sekar tiba-tiba melihat rangkaian kejadian masa lalu.
Ia melihat sebuah desa yang terbakar.
Ia melihat orang-orang berlari sambil membawa obor.
Ia melihat para penjaga berdiri mengelilingi Watu Wening.
Ia melihat seorang laki-laki berjubah hitam membawa bayi.
Bayi itu adalah Raka.
Di belakangnya, seorang perempuan menggendong anak kecil yang tertidur.
Anak itu adalah Sekar.
Laki-laki berjubah hitam tersebut berjalan menuju bunga putih yang tumbuh di tengah altar.
Kemudian ia mengangkat tangannya dan mengucapkan mantra.
“Rogo Sukma…”
Bunga itu mekar.
Cahaya putih menyelimuti seluruh ruangan.
Sukma Sekar, Mahendra, Laras, dan Raka terpisah dari tubuh mereka selama beberapa saat. Empat cahaya berputar di udara, lalu masuk kembali ke tubuh masing-masing.
Namun di antara keempat cahaya itu, ada bayangan hitam yang ikut menyusup ke tubuh Raka.
Sekar tersentak.
“Bayangan itu masuk ketika ritual dilakukan…”
Kinasih mengangguk.
“Benar.”
“Jadi Raka bukan pengkhianat?”
“Belum tentu,” jawab Kinasih. “Tetapi ia bukan orang yang memilih untuk menjadi wadah.”
Raka menunduk.
“Aku hanya ingin menyelamatkanmu malam itu.”
Sekar menatapnya.
“Raka…”
“Aku melihat laki-laki itu membawa sesuatu dari dalam pintu. Ketika ia mencoba menarikmu, aku berdiri di depanmu.”
“Lalu?”
“Aku tidak ingat apa-apa lagi.”
Raka memegangi dadanya.
“Ketika sadar, aku sudah berada di dekat Watu Wening. Ki Kusumo ada di sana. Dan sesuatu telah tinggal di dalam tubuhku.”
Sekar memandang benang putih yang mengikat Raka.
“Apakah Ki Kusumo yang membuat ikatan itu?”
Raka mengangguk perlahan.
“Ki Kusumo mengikatku agar bayangan itu tidak keluar. Tetapi aku tidak pernah tahu bahwa ikatan itu juga menjadikan darahku sebagai bagian dari segel.”
Sosok berjubah hitam tersenyum.
“Sekarang kau tahu mengapa aku datang.”
Sekar menatapnya.
“Kau ingin mengambil sukma Raka?”
“Bukan hanya sukma Raka.”
Ia menunjuk empat altar.
“Aku ingin menyatukan seluruh sukma empat darah ke dalam satu tubuh.”
“Tubuh siapa?”
Sosok itu menatap Sekar.
“Tentu saja tubuhmu.”
Kinasih langsung mengangkat kedua tangannya.
Cahaya putih membentuk lingkaran pelindung di sekitar Sekar.
“Sekar, jangan dengarkan perkataannya!”
Sosok berjubah hitam menghantam dinding cahaya itu.
BRAAAK!
Retakan muncul di permukaan pelindung.
Kinasih terhuyung.
Sekar segera memegang lengannya.
“Kinasih!”
“Jangan khawatirkan aku.”
“Bagaimana cara menghentikannya?”
Kinasih memandang empat altar.
“Gunakan Rogo Sukma.”
Sekar terkejut.
“Aku tidak tahu caranya.”
“Tubuhmu sudah mengetahui. Darahmu telah membawanya sejak lahir.”
“Kalau aku gagal?”
“Jika kau gagal, sukma empat darah akan terlepas dari tubuhnya.”
“Dan apa yang terjadi pada mereka?”
Kinasih menatap Sekar dengan sedih.
“Mereka mungkin tidak akan pernah bisa kembali.”
Sekar memandang altar kedua.
Ia melihat Mahendra sedang berlutut di halaman pesantren. Wulang Geni tergeletak di sampingnya. Tubuhnya dikelilingi api merah, sementara para pengikut Darmo menyerangnya.
Altar ketiga memperlihatkan Laras terbaring di dalam masjid. Bayangan hitam merayap dari punggungnya. Gus Rahman berusaha menahan sesuatu yang keluar dari tubuh Laras.
Altar pertama memperlihatkan tubuh Sekar yang terbaring di halaman pesantren.
Sementara altar keempat memperlihatkan Raka yang masih terikat.
Sekar menarik napas panjang.
“Aku harus mengembalikan sukma mereka.”
Kinasih mengangguk.
“Jangan memanggil mereka dengan suara.”
“Lalu bagaimana?”
“Panggil melalui ikatan darah.”
Sekar menutup mata.
Ia mencoba merasakan keberadaan Mahendra.
Panas seperti api mengalir ke dalam pikirannya.
Mahendra sedang berjuang melawan kekuatan yang membakar tubuhnya.
Sekar kemudian merasakan Laras.
Cahaya keemasan bergetar seperti nyala lampu yang hampir padam.
Lalu ia merasakan Raka.
Dingin.
Gelap.
Penuh luka.
Tetapi di balik kegelapan itu masih ada cahaya kecil yang berusaha bertahan.
Sekar mengulurkan kedua tangannya.
“Mahendra…”
Altar kedua menyala lebih terang.
“Laras…”
Altar ketiga bergetar.
“Raka…”
Altar keempat mengeluarkan cahaya putih.
Sosok berjubah hitam menjerit.
“Berhenti!”
Bayangan kepala kerbau di belakangnya mengamuk. Tanduknya menghantam dinding ruang ingatan hingga retak.
Ki Kusumo tiba-tiba muncul dari balik cahaya biru.
Tubuhnya penuh luka. Jubahnya robek. Tongkat kayunya hampir patah, tetapi sisa energi Ajian Guntur Saketi masih mengelilinginya.
“Sekar!” teriak Ki Kusumo. “Jangan gunakan Rogo Sukma untuk menyatukan mereka di tempat ini!”
Sekar menoleh.
“Kenapa, Ki?”
“Karena ruang ini telah dikuasai oleh iblis!”
Sosok berjubah hitam tertawa.
“Ki Kusumo… kau masih saja datang terlambat.”
Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.
“Selama masih ada guntur di langit, tidak ada ruang yang benar-benar tertutup.”
Cahaya biru menyambar dari langit-langit ruang ingatan.
Sosok berjubah hitam menahan serangan itu dengan satu tangan. Tubuhnya terbakar cahaya biru, tetapi ia tidak jatuh.
“Ajian Guntur Saketi tidak akan mampu menghancurkan sukma yang telah menyatu dengan kegelapan.”
“Memang bukan untuk menghancurkanmu,” jawab Ki Kusumo. “Tetapi untuk memutus jalanmu.”
Ki Kusumo menghentakkan tongkatnya.
“Ajian Guntur Saketi!”
Kilat menyambar lantai.
Sosok berjubah hitam terdorong mundur. Benang hitam yang menghubungkan dirinya dengan bunga Wijaya Kusuma terputus.
Sekar melihat kesempatan itu.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya putih mengalir dari tubuhnya menuju empat altar.
“Dengan darah pertama…”
Cahaya putih menyala.
“Dengan api kedua…”
Api merah membesar.
“Dengan cahaya ketiga…”
Cahaya keemasan berputar.
“Dengan penjaga keempat…”
Raka mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya, kedua matanya kembali normal.
“Sekar…”
Sekar menatapnya.
“Aku di sini.”
“Jangan biarkan dia memakai tubuhku.”
“Aku tidak akan membiarkannya.”
“Kalau aku kehilangan kendali…”
“Aku akan menarikmu kembali.”
Raka tersenyum lemah.
“Kalau aku menyerangmu…”
“Aku akan tetap memanggil namamu.”
Bayangan kepala kerbau menggeram.
“JANGAN!”
Cahaya dari keempat altar mulai menyatu.
Namun tiba-tiba altar ketiga padam.
Laras menjerit dari kejauhan.
Sekar membuka matanya.
“Ada yang terjadi pada Laras!”
Kinasih menatap altar ketiga.
“Bukan Laras yang memadamkannya.”
“Lalu siapa?”
Kinasih mengarahkan pandangan ke arah Ki Kusumo.
Ki Kusumo berdiri diam.
Di belakang tubuhnya, benang putih kembali muncul.
Benang itu menjulur menuju altar ketiga, lalu masuk ke dalam cahaya Laras.
Sekar membeku.
“Ki…”
Ki Kusumo menatapnya.
“Jangan percaya apa yang kau lihat.”
“Benang itu menghubungkan Ki dengan Laras.”
“Aku sedang menahannya.”
“Kenapa cahayanya padam?”
Ki Kusumo tidak menjawab.
Sosok berjubah hitam tertawa keras.
“Lihatlah, Sekar! Penjaga yang kalian percaya telah menyimpan rahasia.”
Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.
“Darmo ingin memecah kalian dengan kebohongan.”
“Namun benang itu nyata!” balas Sekar.
Raka tiba-tiba memegangi kepalanya.
“Sekar…”
“Apa?”
“Jangan lihat benang itu.”
“Kenapa?”
“Karena benang itu bukan milik Ki Kusumo.”
Raka menatap Ki Kusumo.
“Itu milik orang yang mengikatku sejak kecil.”
Ki Kusumo terkejut.
“Raka…”
Raka berteriak:
“Benang itu berasal dari tubuhku!”
Seketika benang putih yang menghubungkan Ki Kusumo dengan altar ketiga berubah menjadi hitam.
Ki Kusumo terhuyung.
Dari dalam tubuhnya keluar asap gelap.
Gus Rahman yang muncul di balik cahaya langsung mengangkat tongkatnya.
“Ki Kusumo!”
Ki Kusumo jatuh berlutut.
Dari belakang tubuhnya muncul bayangan seorang laki-laki berjubah hitam.
Bayangan itu perlahan memisahkan diri dari tubuh Ki Kusumo.
Sekar menatapnya dengan ketakutan.
“Selama ini… ada sesuatu di dalam tubuh Ki?”
Ki Kusumo menundukkan kepala.
“Bukan sesuatu…”
Bayangan itu mengangkat wajah.
“Melainkan seseorang.”
Sosok berjubah hitam yang sejak tadi berdiri di dekat altar keempat tersenyum.
“Sudah waktunya kau kembali, saudaraku.”
Ki Kusumo menggenggam tongkatnya.
“Tidak…”
Sekar menatap kedua sosok tersebut.
“Saudara?”
Sosok berjubah hitam membuka kain yang menutupi wajahnya.
Wajahnya sama dengan wajah Ki Kusumo.
Namun wajah itu lebih muda, lebih dingin, dan dipenuhi garis hitam.
Kinasih mundur dengan wajah pucat.
“Tidak mungkin…”
Ki Kusumo menatap sosok tersebut.
“Adikmu telah mati puluhan tahun lalu.”
Sosok itu tertawa.
“Tubuhku memang mati.”
Ia menatap bunga putih di tengah ruangan.
“Tetapi sukmaku diselamatkan oleh Rogo Sukma.”
Sekar merasa napasnya tercekat.
“Jadi… dia memindahkan sukmanya ke tubuh orang lain?”
“Bukan hanya satu tubuh,” jawab Kinasih. “Selama puluhan tahun, ia berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya.”
Sosok itu menatap Sekar.
“Dan sekarang aku membutuhkan tubuh yang sempurna.”
Bayangan kepala kerbau muncul di belakangnya.
“Tubuh darah pertama.”
Sekar mundur.
Ki Kusumo berusaha bangkit, tetapi tubuhnya kembali jatuh.
“Sekar, jangan biarkan dia menyentuhmu!”
Sosok itu mengangkat tangannya.
Akar-akar hitam muncul dari lantai dan melilit kaki Sekar.
Mahendra berteriak dari dunia nyata.
“SEKAR!”
Laras menangis.
“Jangan biarkan dia mengambil sukma kita!”
Raka mengerahkan seluruh tenaganya untuk memutus benang yang mengikatnya.
“Sekar, gunakan Rogo Sukma!”
Sekar memejamkan mata.
“Aku tidak tahu caranya!”
“Rasakan tubuhmu sendiri!”
Sekar menahan napas.
Ia merasakan jantungnya.
Denyut pertama.
Denyut kedua.
Kemudian ia merasakan sesuatu yang lebih dalam daripada darah dan tulang.
Sukma.
Cahaya putih muncul dari tengah dadanya.
Sosok berjubah hitam terkejut.
“Tidak…”
Sekar membuka mata.
Satu matanya memancarkan cahaya putih.
Satu matanya berwarna merah.
Ia mengangkat kedua tangannya.
“Jika tubuh adalah tempat sukma berdiam…”
Cahaya putih menyebar ke seluruh ruangan.
“…maka sukma bukan milik siapa pun.”
Akar hitam yang melilit tubuhnya mulai terbakar.
Sekar menarik napas dalam-dalam.
“Dengan darahku…”
Empat altar menyala.
“Dengan napasku…”
Benang-benang putih muncul di udara.
“Dengan kehendakku…”
Sukma Mahendra, Laras, dan Raka mulai tertarik menuju cahaya masing-masing.
“Rogo Sukma… kembali kepada ragamu!”
Ledakan cahaya putih memenuhi ruang ingatan.
Di dunia nyata, tubuh Mahendra tersentak. Api merah yang mengelilinginya padam. Ia jatuh berlutut sambil terengah-engah.
Laras membuka matanya dan menangis. Bayangan hitam yang merayap di punggungnya terlepas, lalu menguap menjadi asap.
Raka menjerit.
Bayangan kepala kerbau keluar dari tubuhnya, tetapi belum sepenuhnya terpisah. Sebagian masih menancap di punggungnya seperti akar.
Sekar merasakan tubuhnya sendiri ditarik kembali.
Namun sebelum ia meninggalkan ruang ingatan, sosok berjubah hitam menerjangnya.
Ki Kusumo mengerahkan sisa kekuatan Ajian Guntur Saketi.
“GUNTUR SAKETI!”
Kilat menghantam sosok itu.
Tetapi kali ini, sosok tersebut tidak terpental.
Ia justru meraih tangan Sekar.
Jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Sekar.
Taling sukmo langsung retak.
Sekar menjerit.
Sosok itu mendekatkan wajahnya.
“Rogo Sukma bukan hanya untuk mengembalikan sukma…”
Ia tersenyum.
“Ilmu itu juga dapat digunakan untuk mencuri tubuh.”
Cahaya putih di tubuh Sekar mendadak padam.
Sosok itu mulai menarik sesuatu dari dalam dada Sekar.
Kinasih berteriak:
“SEKAR, PUTUSKAN IKATANNYA!”
“Aku tidak bisa!”
“Gunakan nama aslimu!”
Sekar terkejut.
“Nama asliku?”
“Nama yang diberikan leluhurmu sebelum kau lahir!”
Sosok berjubah hitam semakin kuat menarik sukmanya.
“Tidak ada gunanya!”
Sekar merasakan tubuhnya semakin lemah.
Ia melihat bayangan masa kecilnya.
Ibunya.
Ayahnya.
Watu Wening.
Raka.
Mahendra.
Laras.
Semua kenangan berputar di dalam pikirannya.
Kemudian ia mendengar suara ibunya dari masa lalu.
“Sekar Kinasih Pratiwi…”
Suara itu lembut.
Namun di balik kelembutan itu terdapat kekuatan.
Sekar membuka matanya.
“Namaku…”
Cahaya putih mulai muncul kembali.
Sosok berjubah hitam mundur.
Sekar menggenggam tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya.
“Namaku adalah Sekar Kinasih Pratiwi.”
Lantai ruangan bergetar.
Empat altar menyala bersamaan.
“Tubuhku bukan milikmu.”
Cahaya putih meledak dari dadanya.
“Sukmaku bukan milikmu.”
Sosok berjubah hitam menjerit.
“Tidak!”
Sekar menarik tangannya dengan kuat.
“Dan darahku tidak akan pernah menjadi jalan bagi kegelapan!”
Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan suara menggelegar:
“ROGO SUKMA… PISAHKAN YANG BUKAN MILIKNYA!”
Ledakan cahaya menghantam seluruh ruangan.
Bayangan kepala kerbau terlepas dari tubuh Raka.
Sosok berjubah hitam terpental ke arah altar keempat.
Ki Kusumo jatuh tak sadarkan diri.
Kinasih berteriak memanggil nama Sekar.
Kemudian ruang ingatan mulai runtuh.
Dinding-dinding batu retak.
Empat altar pecah.
Bunga putih di tengah ruangan layu dalam sekejap.
Namun sebelum seluruh tempat itu hancur, Sekar melihat sesuatu di balik bunga tersebut.
Sebuah pintu kecil.
Pintu yang terbuat dari tulang.
Di atasnya terdapat ukiran empat lambang darah.
Dan di tengah pintu itu, terukir nama yang membuat Sekar merasa seluruh darahnya berhenti mengalir:
WIRA ANGKARA
Sosok berjubah hitam yang terlempar ke altar keempat perlahan bangkit.
Wajahnya berubah.
Bukan lagi wajah laki-laki yang menyerupai Ki Kusumo.
Melainkan wajah ayah Sekar.
Ia tersenyum kepada Sekar.
“Sekarang kau telah membangunkan Rogo Sukma.”
Sekar menatapnya dengan penuh kemarahan.
“Aku akan menghentikanmu.”
“Tidak, anakku.”
Sosok itu mengangkat tangannya.
Pintu tulang di belakang bunga mulai terbuka.
“Karena setelah Rogo Sukma bangun…”
Dari balik pintu terdengar suara lenguhan raksasa.
“…tubuh yang selama ini kami cari akhirnya telah ditemukan.”
Sekar menoleh.
Di balik pintu berdiri bayangan kepala kerbau yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Namun kali ini, di antara kedua tanduknya terdapat sosok manusia.
Sosok itu mengenakan pakaian putih.
Wajahnya tertunduk.
Ketika perlahan mengangkat kepalanya, Sekar melihat wajah yang sangat dikenalnya.
Wajah ibunya.
Sekar menjerit:
“Ibu!”
Perempuan itu tersenyum dari balik pintu.
Tetapi suaranya bukan suara manusia.
“Sekar… pulangkan sukma ibumu.”
Pintu tulang terbuka semakin lebar.
Dan sebelum ruang ingatan runtuh sepenuhnya, sosok berjubah hitam berbisik:
“Karena ibumu… tidak pernah mati.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!