RAGA YANG SALAH

2 dibaca

A

RAGA YANG SALAH

Hujan masih mengguyur Desa Weningjati ketika Sekar berdiri terpaku di tengah jalan.

Di hadapannya, rumah yang sejak kecil ia kenal tampak berbeda.

Dinding kayunya terlihat lebih gelap. Atapnya diselimuti kabut tipis. Lampu teras yang biasanya berwarna kuning kini berkedip-kedip, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengganggu aliran listrik di dalam rumah.

Namun yang paling membuat Sekar sulit bernapas adalah sosok perempuan di bawah pohon.

Perempuan itu masih berdiri di sana.

Pakaiannya putih.

Rambutnya panjang.

Wajahnya menyerupai wajah ibu Sekar.

Senyumnya lembut, tetapi matanya kosong.

“Sekar…” panggil sosok itu. “Pulanglah, Nak.”

Sekar menggenggam taling sukmo di lehernya.

“Jangan dengarkan,” bisik Raka di belakangnya.

Sekar tidak menoleh.

“Itu wajah ibuku.”

“Wajahnya mungkin milik ibumu,” jawab Raka. “Tapi belum tentu sukma di dalamnya adalah ibumu.”

Sosok perempuan itu melangkah maju.

Setiap kali kakinya menyentuh tanah, genangan air di bawahnya berubah menjadi hitam. Rumput-rumput di sekitar pohon mengering. Udara mendadak dipenuhi bau tanah basah bercampur aroma bunga melati yang terlalu pekat.

Mahendra mengangkat tangannya. Api merah muncul di antara jari-jarinya.

“Kalau dia mendekat, aku akan—”

“Jangan,” potong Ki Kusumo.

Mahendra menoleh.

“Kenapa, Ki?”

“Api tidak akan membakar sesuatu yang tidak memiliki raga.”

Laras memandangi sosok itu dengan wajah tegang.

“Kalau begitu, apa yang sedang berdiri di sana?”

Ki Kusumo menjawab dengan suara rendah.

“Raga pinjaman.”

Sosok perempuan itu berhenti beberapa meter di depan Sekar.

Kepalanya miring perlahan.

Terlalu perlahan.

Lehernya mengeluarkan bunyi berderak seperti ranting patah.

Kemudian ia tersenyum lebih lebar.

“Sekar… ibu sudah menunggumu.”

Sekar melangkah maju.

Raka segera memegang bahunya.

“Jangan!”

Sekar menepis tangan Raka.

“Kalau itu bukan ibu, aku harus tahu siapa dia.”

“Justru itu yang dia inginkan.”

“Raka, aku tidak bisa terus bersembunyi!”

Sosok perempuan itu tiba-tiba tertawa.

Suara tawanya berubah-ubah.

Kadang terdengar seperti suara ibu Sekar.

Kadang seperti suara anak kecil.

Kadang seperti suara laki-laki tua.

Bahkan sesekali terdengar suara Sekar sendiri.

“Aku ibumu…”“Aku Kinasih…”“Aku Wening…”“Aku adalah darah yang pertama…”

Sekar mundur.

Taling sukmo di lehernya terasa panas.

Dari permukaan benda hitam itu muncul garis merah yang membentuk sebuah kalimat.

JANGAN MENYENTUH RAGA YANG SALAH.

Sosok perempuan itu menatap taling sukmo tersebut.

Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.

“Siapa yang memberimu benda itu?”

Sekar menjawab dengan tegas.

“Kinasih.”

Mendengar nama itu, tubuh sosok perempuan tersebut bergetar.

Rambutnya yang menutupi wajah bergerak sendiri, seolah tertiup angin dari arah yang berlawanan.

“Kinasih…” ulangnya.

Kemudian suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi suara ibu Sekar.

Suara itu berat dan dalam.

“Anak yang seharusnya sudah dilupakan.”

Ki Kusumo langsung mengangkat tongkatnya.

“Semua mundur!”

Sosok itu menoleh kepada Ki Kusumo.

“Penjaga tua…”

Ki Kusumo mengeraskan suaranya.

“Kau tidak memiliki hak untuk memakai raga itu.”

“Raga?” Sosok tersebut tertawa. “Raga ini diberikan kepadaku.”

“Dicuri.”

“Dipinjamkan.”

“Dipaksa.”

“Tidak ada perbedaan di antara ketiganya bagi sukma yang telah lama terkurung.”

Seketika, tubuh sosok perempuan itu membungkuk. Tulang punggungnya terlihat menonjol di balik pakaian putih. Kedua tangannya menjulur panjang hingga hampir menyentuh tanah.

Sekar menahan napas.

Wajah perempuan itu masih wajah ibunya.

Tetapi kulitnya mulai retak.

Dari celah-celah retakan tersebut keluar asap hitam.

Mahendra melangkah ke depan.

“Sekar, jangan lihat!”

Namun Sekar tidak dapat mengalihkan pandangan.

Retakan pada wajah itu semakin melebar.

Di balik kulit wajah ibunya, Sekar melihat wajah lain.

Wajah seorang laki-laki tua.

Kemudian wajah seorang perempuan.

Lalu wajah seorang anak kecil.

Wajah-wajah itu muncul dan menghilang seperti bayangan di permukaan air.

Laras berbisik dengan ketakutan.

“Banyak sukma…”

Ki Kusumo mengangguk.

“Raga itu telah digunakan terlalu lama.”

“Digunakan oleh siapa?” tanya Mahendra.

Ki Kusumo memandang rumah Sekar.

“Orang yang berada di dalam rumah.”

Sekar langsung berlari.

“Sekar!” teriak Raka.

Pintu pagar rumahnya terbuka sendiri ketika ia mendekat.

Engselnya berderit panjang.

Halaman rumah tampak kosong. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara peralatan dapur. Tidak ada suara ibunya memanggil dari dalam.

Hanya suara hujan yang jatuh di atas genting.

Sekar berhenti di depan pintu.

Pintu itu tidak terkunci.

Ia mendorongnya perlahan.

“Bu?”

Tidak ada jawaban.

Ruang tamu gelap.

Foto keluarga yang biasanya tergantung di dinding kini terbalik. Jam dinding berhenti pada pukul 02.17. Di atas meja terdapat sebuah mangkuk tanah liat berisi air keruh.

Sekar melangkah masuk.

Di permukaan air itu mengambang empat kelopak bunga putih.

Satu kelopak perlahan berubah menjadi merah.

Kelopak kedua berubah menjadi keemasan.

Kelopak ketiga berubah menjadi hitam.

Kelopak terakhir tetap putih.

Raka masuk menyusul.

“Jangan menyentuh apa pun.”

Sekar menoleh.

“Rumah ini sudah berubah.”

“Bukan rumahnya yang berubah,” ucap Raka. “Lapisan di antara dunia manusia dan dunia sukma sedang terbuka.”

Mahendra dan Laras masuk setelahnya. Ki Kusumo berdiri di ambang pintu, menatap bagian dalam rumah dengan wajah serius.

Gus Rahman yang baru tiba dari pesantren berhenti di halaman.

“Ki, apakah rumah ini aman?”

Ki Kusumo menggeleng.

“Tidak.”

Dari lantai atas terdengar suara langkah kaki.

Satu langkah.

Berhenti.

Kemudian dua langkah.

Berhenti lagi.

Sekar menatap tangga.

“Di atas ada seseorang.”

Raka mengangguk.

“Dan dia sedang menunggu kita.”

Sekar menaiki tangga.

Setiap anak tangga mengeluarkan suara berderit. Dinding di sebelah kiri dipenuhi foto-foto lama yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.

Ada foto ibunya ketika masih muda.

Ada foto ayahnya.

Ada foto Ki Kusumo.

Ada foto Kinasih.

Dan di ujung deretan foto itu terdapat sebuah foto yang membuat Sekar berhenti.

Foto tersebut memperlihatkan empat orang berdiri di depan Watu Wening.

Perempuan muda yang mirip ibunya.

Seorang laki-laki yang wajahnya tertutup bayangan.

Ki Kusumo dalam usia yang lebih muda.

Dan seorang anak laki-laki kecil yang memegang keris.

Di bawah foto tertulis:

MALAM PEMISAHAN RAGA DAN SUKMA.

Sekar menyentuh bingkai foto itu.

Tiba-tiba, suara ibunya terdengar dari belakang.

“Jangan lihat foto itu, Nak.”

Sekar berbalik.

Ibunya berdiri di ujung lorong.

Mengenakan pakaian rumah berwarna biru muda.

Rambutnya diikat sederhana.

Wajahnya tampak normal.

Tidak ada retakan.

Tidak ada mata kosong.

Tidak ada bayangan kerbau.

“Ibu?”

Perempuan itu tersenyum.

“Iya, Nak. Ini ibu.”

Sekar hampir berlari memeluknya.

Namun Raka menariknya kembali.

“Jangan!”

Perempuan itu menatap Raka.

Senyumnya menghilang.

“Kenapa kau menghalangi anakku?”

Raka tidak menjawab.

Sekar menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Bu… apakah ibu benar-benar ibu?”

Perempuan itu mengerutkan kening.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja.”

“Ibu yang melahirkanmu. Ibu yang membesarkanmu. Ibu yang menjagamu sejak kecil.”

“Kalau begitu, apa yang terjadi pada malam ketika aku berusia tujuh tahun?”

Perempuan itu terdiam.

Sekar maju satu langkah.

“Siapa yang membawaku ke Watu Wening?”

“Ibu tidak ingat.”

“Siapa laki-laki yang berdiri di belakangku?”

“Ibu tidak tahu.”

“Di mana tubuh ibu disimpan?”

Wajah perempuan itu mulai berubah.

Tidak banyak.

Hanya sedikit.

Senyumnya menjadi terlalu lebar.

“Ibu ada di sini.”

Sekar menggeleng.

“Bukan.”

Perempuan itu memiringkan kepala.

“Apa maksudmu?”

“Ibu yang asli tidak akan menjawab seperti itu.”

Laras menatap sosok perempuan tersebut dengan penuh perhatian.

“Sekar, lihat matanya.”

Sekar memandang mata perempuan itu.

Mata ibunya biasanya berwarna cokelat gelap.

Namun sekarang, di dalam irisnya terdapat lingkaran merah tipis.

Dan di tengah pupilnya, tampak bayangan kepala kerbau.

Sekar mundur.

“Kau bukan ibu.”

Perempuan itu menghela napas.

“Sayang sekali.”

Kulit wajahnya tiba-tiba mengendur.

Bibirnya terbuka terlalu lebar.

Suara yang keluar terdengar seperti puluhan orang berbicara bersamaan.

“Padahal kami sudah berusaha menjadi dirinya.”

Mahendra langsung melemparkan api merah.

Api itu melesat menuju sosok tersebut.

Namun sebelum menyentuh tubuhnya, perempuan itu mengangkat tangan.

Api merah berhenti di udara.

Kemudian padam.

Mahendra terkejut.

“Mustahil!”

Sosok itu tersenyum.

“Api hanya mengenal raga.”

Ia menjentikkan jarinya.

Tubuh Mahendra terlempar menghantam dinding.

“Mahendra!” teriak Laras.

Laras mengangkat kedua tangannya. Cahaya keemasan muncul di sekitar tubuhnya, membentuk lingkaran pelindung.

Sosok perempuan itu menoleh kepadanya.

“Darah ketiga…”

Cahaya di sekitar Laras bergetar.

“Jangan mendekat,” ucap Laras.

“Darahmu menyimpan jejak api lama.”

“Siapa kau?”

“Bukan siapa.”

Sosok itu melangkah turun satu anak tangga.

“Kami adalah mereka yang tidak pernah berhasil pulang.”

Dari tubuhnya keluar bayangan-bayangan hitam. Bayangan itu merangkak di dinding, melewati foto-foto lama, lalu bergerak menuju Sekar.

Raka berdiri di depan Sekar.

Bayangan kerbau kembali muncul di belakang tubuhnya.

“Jangan sentuh dia.”

Sosok perempuan itu menatap Raka.

“Anak Watu…”

Raka menggertakkan gigi.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kau masih membawa sukma yang bukan milikmu.”

“Aku tahu.”

“Kau masih berpikir dapat mengusir kami?”

Raka mengangkat tangannya.

“Aku tidak perlu mengusir kalian.”

Bayangan kerbau di belakang tubuhnya membuka mulut.

Raka menarik napas dalam-dalam.

“Aku hanya perlu mengingat siapa diriku.”

Untuk sesaat, bayangan hitam di belakang Raka bergetar.

Kemudian Raka berteriak:

“AKU RAKA WENING!”

Suara itu mengguncang seluruh rumah.

Jendela-jendela bergetar.

Foto-foto di dinding jatuh.

Bayangan kerbau di belakang tubuhnya terpecah menjadi dua. Sebagian masih menempel di tubuh Raka, tetapi sebagian lainnya terlepas dan menabrak dinding.

Sosok perempuan itu mundur.

“Tidak!”

Raka menatapnya.

“Aku bukan wadahmu.”

Sosok perempuan itu menggeram.

“Raga keempat sudah ditandai!”

“Ditandai bukan berarti dimiliki!”

Raka mengangkat tangan dan melepaskan gelombang hitam kebiruan.

Serangan itu menghantam sosok perempuan tersebut.

Tubuhnya terpelanting ke ujung lorong.

Namun bukannya terluka, ia justru tertawa.

“Bagus… sangat bagus…”

Ia berdiri kembali.

“Semakin kau melawan, semakin cepat sukma di dalam tubuhmu bangun.”

Raka tiba-tiba memegangi dadanya.

Wajahnya menegang.

Bayangan tanduk hitam muncul kembali di atas kepalanya.

Sekar segera menghampirinya.

“Raka!”

“Jangan dekat-dekat!”

“Aku bisa membantumu!”

“Tidak dengan Rogo Sukma!”

Sekar terdiam.

Sosok perempuan itu tersenyum.

“Ya… gunakan Rogo Sukma.”

Ia menatap Sekar.

“Pisahkan sukma Raka dari raganya. Bebaskan dia dari bayangan kerbau. Bukankah itu yang kau inginkan?”

Raka menoleh tajam.

“Jangan dengarkan dia!”

“Tetapi jika kau tidak melakukannya,” lanjut sosok itu, “sukma Raka akan ditelan sepenuhnya.”

Sekar memandang Raka.

Tubuh pemuda itu mulai gemetar. Urat hitam menjalar dari leher ke rahangnya. Napasnya terdengar berat.

“Sekar…” ucap Raka lirih. “Jangan gunakan Rogo Sukma.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu… sukma mana yang akan kembali.”

Sosok perempuan itu mendekat.

“Lihat? Ia takut.”

“Diam!” bentak Sekar.

“Rogo Sukma bukan hanya untuk memisahkan. Ia juga dapat mengganti pemilik raga.”

Sekar teringat penjelasan Kinasih.

Sukma dapat dipanggil.

Sukma dapat diikat.

Sukma dapat dipindahkan.

Dan raga dapat menjadi tempat bagi sesuatu yang bukan dirinya.

Sosok perempuan itu mengulurkan tangan.

“Jika kau ingin menyelamatkan ibumu, gunakan kekuatanmu.”

Sekar mengepalkan tangan.

“Aku tidak akan menggunakan Rogo Sukma untuk memenuhi keinginanmu.”

Sosok itu mendadak menjerit.

Jeritannya membuat seluruh rumah berguncang.

Dinding lorong mengeluarkan cairan hitam. Dari bawah lantai terdengar suara ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Tok.

Sekar menoleh ke lantai.

Ketukan itu berasal dari bawah mereka.

Dari bawah rumah.

Dari ruang yang belum pernah ia masuki.

“Ibu…” bisik Sekar.

Sosok perempuan itu memandang ke bawah.

“Tubuh yang asli sedang bangun.”

Ki Kusumo tiba-tiba muncul di ujung tangga.

“Sekar, jangan turun!”

Sekar menoleh.

“Ki, tubuh ibu ada di bawah rumah!”

“Aku tahu.”

“Kenapa Ki tidak pernah mengatakan?”

“Karena jika kau tahu terlalu cepat, mereka akan menggunakanmu untuk membukanya.”

“Siapa mereka?”

Ki Kusumo menatap sosok perempuan di lorong.

“Para pemelihara raga.”

Sosok itu tertawa.

“Nama yang bagus untuk orang-orang yang sebenarnya hanya penjaga penjara.”

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.

“Sekar, dengarkan aku. Raga ibumu memang ada di bawah rumah. Tetapi tubuh itu telah disegel dengan empat ikatan.”

“Empat ikatan?”

“Setiap ikatan terhubung dengan satu darah.”

Mahendra, yang masih bersandar di dinding, mengusap darah di sudut bibirnya.

“Berarti kita harus membuka keempatnya?”

“Tidak,” jawab Ki Kusumo. “Kita harus memastikan tidak ada satu pun yang terbuka.”

Laras menatap lantai.

“Kalau begitu, mengapa tubuh itu mulai bangun?”

Ki Kusumo tidak langsung menjawab.

Dari bawah rumah terdengar suara perempuan menangis.

Suara itu sangat pelan.

Namun Sekar mengenalinya.

“Ibu…”

Suara tersebut berubah menjadi bisikan.

“Sekar… jangan biarkan mereka mengambil tubuhku.”

Sosok perempuan di lorong mendesis.

“Dia mulai sadar.”

Kemudian dari lantai muncul retakan panjang.

Retakan itu membelah papan kayu, menjalar ke dinding, lalu berhenti tepat di bawah kaki Sekar.

Taling sukmo di leher Sekar kembali memanas.

Kali ini, tulisan merah muncul dengan cepat.

RAGA ASLI TERBANGUN.

Tulisan itu berubah.

PENJAGA PERTAMA TELAH GAGAL.

Kemudian berubah lagi.

DARAH PERTAMA HARUS MEMILIH: MENYELAMATKAN IBU ATAU MENUTUP PINTU.

Sekar menatap Ki Kusumo.

“Apa maksudnya?”

Ki Kusumo memejamkan mata.

“Jika tubuh ibumu bangun sepenuhnya, pintu di bawah rumah akan terbuka.”

“Dan jika pintu itu terbuka?”

“Wira Angkara akan mendapatkan jalan menuju dunia manusia.”

“Kalau aku menutupnya?”

Ki Kusumo menatap Sekar dengan wajah berat.

“Sebagian sukma ibumu akan tetap terkurung.”

Sekar menunduk.

Dari bawah lantai, suara ibunya terdengar lagi.

“Sekar… jangan tinggalkan ibu…”

Air mata mengalir di pipi Sekar.

Sosok perempuan palsu itu berdiri di ujung lorong, menatapnya dengan senyum dingin.

“Pilihlah, darah pertama.”

Bayangan kerbau muncul di belakangnya.

“Pilih ibumu…”

Lantai kembali retak.

“...atau pilih dunia.”

Sekar menggenggam taling sukmo hingga telapak tangannya terluka.

Raka berdiri di sampingnya, masih menahan sakit.

“Sekar, jangan biarkan mereka menentukan pilihanmu.”

Sekar menatapnya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Raka menjawab dengan suara lemah.

“Cari jalan ketiga.”

“Jalan ketiga?”

“Selamatkan ibumu… tanpa membuka pintu.”

Ki Kusumo menatap Raka.

Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

“Jalan ketiga itu sudah lama hilang.”

Raka menggeleng.

“Tidak, Ki.”

Bayangan kerbau di belakang tubuhnya bergetar.

“Jalan itu masih ada.”

Raka menatap lantai rumah.

“Di ruang bawah tanah.”

Sekar menoleh.

“Apa yang ada di sana?”

Raka memandangnya.

“Raga ibumu.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan sukma seseorang yang selama ini dianggap sudah mati.”

Tiba-tiba, dari bawah rumah terdengar suara laki-laki.

Suara yang membuat Sekar merasa seluruh tubuhnya membeku.

Suara ayahnya.

“Sekar… jangan percaya kepada Raka.”

Semua orang terd

iam.

Raka menatap lantai dengan wajah pucat.

Suara itu kembali terdengar.

“Anak itu bukan penyelamatmu.”

Retakan di lantai melebar.

Dari celah gelap di bawah papan kayu, muncul sepasang mata merah.

Kemudian suara itu berbisik:

“Dia adalah kunci terakhir untuk membangunkan Wira Angkara.”

Sekar menatap Raka.

Raka tidak membela diri.

Ia hanya berkata lirih:

“Sekar… apa pun yang kau dengar setelah ini…”

Bayangan kerbau di belakangnya perlahan membuka mulut.

“...jangan biarkan aku turun lebih dulu.”

Dari bawah rumah terdengar suara langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu suara seorang laki-laki tertawa.

“Akhirnya… darah pertama pulang.”

Papan lantai pecah.

Dan dari kegelapan di bawah rumah, sebuah tangan pucat meraih pergelangan kaki Sekar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk