SUKMA IBU YANG TERKURUNG

1 dibaca

A

SUKMA IBU YANG TERKURUNG

Suara itu masih menggema di dalam ruang gelap.

“Sekar… pulangkan sukma ibumu.”

Sekar berdiri membeku di hadapan pintu tulang yang menjulang tinggi. Permukaannya berwarna putih kusam, dipenuhi retakan hitam seperti urat yang menjalar di tubuh manusia. Pada bagian tengah pintu itu terukir empat lambang darah.

Lambang pertama berwarna putih.

Lambang kedua merah menyala.

Lambang ketiga keemasan.

Dan lambang keempat… hitam pekat.

Di atas keempat lambang tersebut tertulis sebuah nama.

WIRA ANGKARA.

Sekar menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Di balik pintu itu, bayangan berkepala kerbau bergerak perlahan. Dua tanduk besarnya menembus kabut hitam, sementara sepasang mata merah mengawasi dari kegelapan.

Namun bukan makhluk itu yang membuat Sekar ketakutan.

Di antara kedua tanduknya berdiri seseorang.

Seseorang yang wajahnya sangat ia kenal.

Wajah ibunya.

“Tidak…” bisik Sekar.

Bayangan itu mengangkat kepala.

Wajah perempuan tersebut tampak pucat. Rambutnya terurai panjang, menutupi sebagian wajah. Kedua tangannya terikat oleh tali hitam yang melilit tubuhnya. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Sekar melangkah maju.

“Ibu?”

Makhluk berkepala kerbau itu menggeram.

Suara geramannya membuat ruang di sekeliling Sekar bergetar. Lantai tulang di bawah kakinya mulai retak. Dari celah-celahnya muncul tangan-tangan pucat yang berusaha meraih pergelangan kakinya.

Sekar mundur.

“Ibu! Apa yang terjadi?”

Perempuan di antara tanduk makhluk itu kembali membuka mulut.

Kali ini suaranya terdengar.

“Jangan datang, Sekar…”

Sekar terdiam.

Itu benar-benar suara ibunya.

Suara yang selama ini ia dengar sejak kecil. Suara yang menenangkannya ketika demam. Suara yang memanggilnya saat pagi. Suara yang mengingatkannya agar tidak pulang terlalu malam.

“Ibu… Ibu masih hidup?”

Perempuan itu menundukkan kepala.

“Yang hidup bukan selalu berarti bebas.”

Tiba-tiba, tali hitam yang mengikat tubuhnya menegang. Tubuh perempuan itu tersentak ke belakang. Bayangan berkepala kerbau mengangkat kedua tangannya, lalu mencengkeram bahu perempuan tersebut.

Sekar berteriak.

“Lepaskan ibu!”

Ia mengangkat tangannya. Cahaya putih muncul dari telapak tangannya, tetapi sebelum sempat dilepaskan, suara lain terdengar dari belakang.

“Jangan gunakan kekuatanmu sembarangan!”

Sekar menoleh.

Ki Kusumo berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Namun ada sesuatu yang berbeda dari sosok itu.

Jubahnya basah oleh cairan hitam. Wajahnya tampak lebih tua daripada sebelumnya. Mata kirinya masih memancarkan ketegasan, tetapi mata kanannya berwarna gelap, seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di baliknya.

Sekar mundur satu langkah.

“Ki Kusumo?”

Ki Kusumo tidak langsung menjawab.

Ia menatap pintu tulang itu dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Pintu itu bukan sekadar penjara,” ucapnya pelan. “Itu adalah tempat penyimpanan sukma yang telah dipisahkan dari raganya.”

“Kalau begitu, ibu saya ada di dalam sana?”

“Sebagian.”

Jawaban itu membuat dada Sekar terasa semakin berat.

“Sebagian?”

Ki Kusumo mengangguk.

“Tubuh ibumu masih berada di dunia manusia. Namun sukmanya telah dipisahkan dan dikurung di balik pintu itu.”

“Siapa yang melakukan semua ini?”

Ki Kusumo menatap nama yang terukir di atas pintu.

WIRA ANGKARA.

“Orang yang namanya telah lama dikubur,” jawabnya.

Sekar memandangnya tajam.

“Wira Angkara itu siapa?”

Ki Kusumo menarik napas panjang.

“Orang pertama yang mencoba menguasai Rogo Sukma.”

Suara tawa terdengar dari balik pintu tulang.

Tawa itu tidak keras, tetapi menggema ke seluruh ruangan. Tawa seorang manusia yang telah kehilangan kewarasan.

Kemudian terdengar suara berat.

“Bukan menguasai, Ki Kusumo…”

Retakan pada pintu tulang melebar.

“Aku hanya ingin mengembalikan apa yang telah dirampas dunia.”

Ki Kusumo langsung mengangkat tangannya. Petir kecil berwarna biru berputar di sekitar lengannya.

“Wira Angkara!”

“Sudah lama sekali kau tidak menyebut namaku.”

Kabut hitam di depan pintu mulai berputar. Perlahan, muncul sosok laki-laki tinggi dengan tubuh kurus dan wajah yang tertutup setengah topeng tulang. Ia mengenakan pakaian kuno berwarna hitam, dengan kain panjang yang menjuntai hingga ke lantai.

Di lehernya tergantung rangkaian bunga putih yang telah mengering.

Kembang Wijaya Kusuma.

Namun bunga itu tidak lagi terlihat suci.

Kelopaknya menghitam, dan dari bagian tengahnya menetes cairan merah seperti darah.

Wira Angkara menatap Sekar.

“Jadi kau adalah darah pertama.”

Sekar mengepalkan tangan.

“Di mana ibuku?”

Wira Angkara tersenyum.

“Pertanyaan yang sederhana. Tetapi jawabannya akan menghancurkan seluruh keyakinanmu.”

“Jawab!”

“Perempuan yang kau panggil ibu bukan hanya seorang ibu.”

Sekar menggeleng.

“Jangan bicara teka-teki.”

“Dia adalah penjaga terakhir sebelum Watu Wening dibuka untuk pertama kalinya.”

Ki Kusumo melangkah ke depan.

“Jangan dengarkan dia, Sekar.”

Wira Angkara menoleh kepada Ki Kusumo.

“Masih saja kau berbohong.”

Petir di sekitar tangan Ki Kusumo bergetar.

“Cukup.”

“Apakah kau sudah menceritakan semuanya kepada mereka?” Wira Angkara bertanya. “Apakah kau sudah mengatakan bahwa ibunya Sekar bukan korban pertama?”

Sekar memandang Ki Kusumo.

“Apa maksudnya?”

Ki Kusumo terdiam.

Diamnya justru menjadi jawaban yang lebih menakutkan daripada kata-kata.

“Ki…” suara Sekar bergetar. “Apa yang dia maksud?”

Ki Kusumo memejamkan mata.

“Sekar, ada hal-hal yang belum waktunya kau ketahui.”

“Semua orang selalu mengatakan itu!” bentak Sekar. “Ibu menyembunyikan sesuatu. Raka menyembunyikan sesuatu. Mahendra, Laras, bahkan Ki Kusumo juga menyembunyikan sesuatu!”

Suara Sekar menggema.

“Sekarang ibu saya dikurung di balik pintu itu! Saya berhak tahu!”

Wira Angkara tertawa kecil.

“Darah pertama memang selalu memiliki keberanian. Tetapi keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menjadi jalan menuju kehancuran.”

Sekar menatapnya penuh amarah.

“Kalau kau tahu sesuatu tentang ibuku, katakan!”

Wira Angkara mengangkat satu tangan.

Seketika, pintu tulang itu menampilkan sebuah gambaran.

Sekar melihat sebuah rumah tua.

Rumahnya sendiri.

Namun rumah itu terlihat jauh lebih tua. Dindingnya masih terbuat dari kayu, halaman depannya dipenuhi sesajen, dan di tengah ruangan berdiri sebuah meja batu dengan empat lilin.

Di sana ada ibunya.

Masih muda.

Di hadapan ibunya berdiri seorang laki-laki yang wajahnya tidak terlihat jelas.

Laki-laki itu membawa sebuah mangkuk berisi cairan merah.

Di sampingnya terdapat Kembang Wijaya Kusuma yang masih putih bersih.

Sekar mendekat ke gambaran itu.

“Ibu…”

Dalam gambaran tersebut, ibunya tampak menangis.

“Aku tidak bisa melakukannya,” ucap ibunya.

Laki-laki itu menjawab dengan suara berat.

“Kalau kau tidak melakukannya, anakmu akan menjadi pintu.”

“Ia masih kecil.”

“Justru karena itu darahnya belum tercemar.”

Ibu Sekar menggeleng kuat.

“Tidak. Aku tidak akan menyerahkan anakku.”

Laki-laki itu mencengkeram lengannya.

“Kalau begitu, kau yang akan menggantikannya.”

Gambaran itu bergetar.

Sekar melihat ibunya berusaha melawan. Ia melihat cahaya putih keluar dari tubuh ibunya, lalu diserap oleh bunga putih di atas meja.

Ibunya menjerit.

“Ibu!”

Sekar mencoba menyentuh gambaran tersebut, tetapi tangannya menembus bayangan.

Pada saat yang sama, gambaran itu berubah.

Sekar kecil muncul di dalam ruangan. Usianya sekitar tujuh tahun. Ia berdiri di dekat pintu sambil memeluk boneka kain.

Di belakangnya berdiri seorang anak laki-laki.

Wening.

Wening kecil memegang tangannya.

“Sekar, jangan lihat,” bisiknya.

Namun Sekar kecil tetap melihat.

Ia melihat ibunya tergeletak di lantai.

Di atas tubuh perempuan itu, muncul bayangan hitam berbentuk kepala kerbau.

Sekar dewasa menutup mulutnya.

“Tidak mungkin…”

Wira Angkara berkata pelan.

“Ibumu tidak mati pada malam itu.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Tubuhnya tetap hidup. Tetapi sukmanya dipindahkan.”

“Dipindahkan ke mana?”

Wira Angkara mengangkat wajahnya ke arah bayangan berkepala kerbau.

“Ke dalam tempat yang selama ini kau sebut sebagai penjara.”

Sekar menatap perempuan di antara tanduk makhluk itu.

“Ibu…”

Perempuan itu menangis tanpa suara.

Kemudian ia mengangkat kepalanya.

“Sekar… jangan percaya kepada Wira Angkara.”

Wira Angkara tersenyum.

“Lihat? Bahkan sekarang ia masih berusaha melindungimu.”

Sekar menatap ibunya.

“Ibu, apakah yang dia katakan benar?”

Perempuan itu menggeleng.

“Tidak semuanya.”

“Lalu apa yang benar?”

“Aku memang pernah menjadi penjaga Watu Wening.”

Sekar terdiam.

“Aku memang pernah membantu menyembunyikan empat darah.”

Ki Kusumo menunduk.

“Dan aku memang pernah gagal menyelamatkanmu.”

Sekar menoleh kepada Ki Kusumo.

“Apa?”

Ki Kusumo memandangnya dengan wajah penuh penyesalan.

“Malam ketika kau berusia tujuh tahun… bukan Wening yang membawamu ke Watu Wening.”

Sekar merasa seluruh tubuhnya membeku.

“Kalau bukan Wening… siapa?”

Ki Kusumo tidak menjawab.

Wira Angkara menyelesaikan kalimat itu.

“Ibumu sendiri.”

Ruangan tiba-tiba menjadi sunyi.

Sekar memandang ibunya.

Perempuan itu menangis.

“Maafkan ibu…”

Sekar mundur beberapa langkah.

“Tidak…”

“Ibu tidak punya pilihan.”

“Tidak!”

“Mereka akan membunuhmu jika ibu menolak.”

Sekar menggeleng berulang kali.

“Jadi ibu yang membawaku ke sana?”

“Ibu hanya ingin menyembunyikan darahmu.”

“Dengan membawaku ke tempat itu?”

“Ibu pikir tidak ada yang akan menemukanmu di sana.”

Sekar memegang kepalanya. Potongan-potongan ingatan mulai muncul ,Tangga batu,Kabut putih,Suara ibunya Tangan kecil Wening.

Dan seorang laki-laki berdiri di belakang mereka.

Laki-laki itu bukan Ki Kusumo.

Bukan Wening.

Bukan pula Raka.

Sekar melihat tangan laki-laki tersebut memegang sebuah benda berwarna hitam.

Taling sukmo.

“Siapa laki-laki itu?” tanya Sekar.

Ibunya terdiam.

Ki Kusumo mengangkat wajahnya.

Wira Angkara justru tertawa.

“Orang yang mengawali semua ini.”

Sekar menatap pintu tulang.

“Siapa?”

Wira Angkara mendekatkan wajahnya ke celah pintu.

“Orang yang selama ini kau percaya sebagai ayahmu.”

Sekar terhuyung.

“Jangan bohong!”

“Ayahmu tidak sekadar mengetahui tentang empat darah. Ia adalah bagian dari perjanjian pertama.”

“Tidak!”

“Dia membantu memisahkan sukma ibumu.”

“Diam!”

“Dia juga membantu membuka jalan menuju Watu Wening.”

Sekar mengangkat tangan. Cahaya putih menyambar ke arah Wira Angkara.

Namun sebelum mengenai tubuhnya, bayangan berkepala kerbau mengangkat satu tangan.

Cahaya itu pecah menjadi serpihan kecil.

Ledakan energi mengguncang ruangan.

Sekar terlempar ke belakang dan jatuh di atas lantai tulang. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga kepalanya.

Ki Kusumo segera berdiri di depannya.

“Sekar! Jangan biarkan emosimu menguasai Rogo Sukma!”

Sekar berusaha bangkit.

“Dia berbohong…”

“Mungkin.”

Sekar menatap Ki Kusumo.

“Mungkin?”

Ki Kusumo menggenggam tongkat kayunya.

“Wira Angkara tidak pernah mengatakan kebohongan sepenuhnya. Ia mencampurkan kebenaran dengan kebohongan agar orang yang mendengarnya tidak mampu membedakan keduanya.”

Dari kejauhan, suara Mahendra terdengar samar.

“Sekar!”

Sekar menoleh.

Di balik kabut, muncul cahaya merah. Mahendra berdiri dengan tubuh penuh luka. Di sampingnya ada Laras, yang wajahnya tampak pucat. Raka berada beberapa langkah di belakang mereka.

Namun bayangan kerbau masih menempel di punggung Raka.

“Sekar!” Mahendra berteriak. “Kita harus keluar dari sini!”

Sekar berdiri.

“Ibuku masih di sana!”

Mahendra melihat pintu tulang dan wajah perempuan di antara tanduk makhluk itu.

Ia terdiam.

Laras memandangnya dengan mata melebar.

“Itu…”

“Apa?” tanya Sekar.

Laras menelan ludah.

“Aku pernah melihat wajah itu.”

Sekar menoleh.

“Di mana?”

“Dalam catatan lama keluargaku.”

Laras melangkah maju dengan hati-hati.

“Perempuan itu bukan hanya penjaga Watu Wening. Ia adalah orang yang dahulu menyatukan empat darah untuk pertama kalinya.”

Ki Kusumo menatap Laras tajam.

“Jangan lanjutkan.”

“Kenapa?” Laras membalas. “Sekar harus tahu.”

Raka tiba-tiba memegangi kepalanya.

“Jangan…”

Suara Raka terdengar berat, seolah ada suara lain yang berbicara bersamaan dengannya.

“Jangan buka semua ingatan itu.”

Bayangan kerbau di belakang tubuhnya semakin besar.

Dua tanduk hitam muncul di atas kepalanya.

Mahendra segera mengangkat tangannya. Api merah menyala di telapak tangannya.

“Raka, mundur!”

Raka menatap Mahendra.

“Aku tidak bisa.”

“Lawan!”

“Aku sedang melawannya!”

Tubuh Raka tersentak. Urat hitam menjalar dari lehernya. Matanya berubah merah.

Dari balik pintu tulang, makhluk berkepala kerbau menggeram.

“Darah keempat… jangan melawan.”

Raka menggertakkan gigi.

“Aku bukan milikmu!”

Bayangan kerbau itu menekan tubuhnya dari belakang. Raka berlutut, kedua tangannya mencengkeram lantai.

Sekar berlari ke arahnya.

“Raka!”

“Jangan mendekat!” teriak Raka.

Namun Sekar tetap maju.

Raka mengangkat wajahnya.

“Kalau kau mendekat, dia akan menggunakan darahmu untuk membuka pintu itu!”

Sekar berhenti.

Wira Angkara memandang mereka dengan senyum tipis.

“Benar. Darah pertama dan darah keempat harus bersatu.”

“Untuk apa?” tanya Sekar.

“Untuk memulangkan sukma ibumu.”

Sekar menatap perempuan di antara tanduk makhluk itu.

Wajah ibunya semakin pucat. Tali hitam yang mengikat tubuhnya mulai menembus kulit.

“Jangan lakukan, Sekar…”

“Tapi ibu masih di sana!”

“Kalau pintu itu dibuka, sesuatu yang lebih buruk akan keluar.”

Wira Angkara mengangkat tangannya.

“Dan jika pintu itu tidak dibuka, sukmanya akan hancur sedikit demi sedikit.”

Sekar melihat tubuh ibunya mulai retak seperti kaca.

“Ibu!”

“Sekar… dengarkan ibu.”

“Aku akan menyelamatkan ibu!”

“Tidak dengan membuka pintu itu.”

“Lalu bagaimana?”

Perempuan itu memandangnya.

“Temukan ragaku.”

Sekar terdiam.

“Raga ibu?”

“Tubuh ibu disembunyikan di tempat yang tidak pernah kau duga.”

“Di mana?”

Perempuan itu berusaha mengangkat tangan, tetapi tali hitam menariknya kembali.

“Di bawah rumah…”

Sekar membeku.

“Rumah kita?”

Ibunya mengangguk.

“Di ruang yang belum pernah kau masuki.”

Tiba-tiba, suara Wira Angkara berubah menjadi geraman.

“Cukup!”

Ia menghentakkan kakinya.

Pintu tulang terbuka sedikit.

Dari celah itu menyembur angin dingin yang membawa suara ribuan orang menangis. Cahaya hitam menyebar di lantai, bergerak menuju Sekar, Mahendra, Laras, dan Raka.

Ki Kusumo segera menancapkan tongkatnya.

“Semua mundur!”

Ia mengucapkan mantra dengan suara keras.

“Guntur Saketi… jagad kang peteng, bali marang petengmu!”

Petir biru menyambar dari langit-langit ruang gaib.

Ledakan besar menghantam pintu tulang.

Wira Angkara menjerit.

Bayangan berkepala kerbau mundur, tetapi tidak lenyap. Justru dari balik tubuhnya muncul ratusan tangan hitam yang mencengkeram pintu.

Ki Kusumo terhuyung.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Mahendra segera menopang tubuhnya.

“Ki, Anda terluka!”

“Ajian ini hanya mampu menutup celahnya sementara.”

Laras melihat retakan pada pintu semakin melebar.

“Kita harus pergi sekarang!”

Sekar masih menatap ibunya.

“Ibu!”

Perempuan itu memandangnya untuk terakhir kali.

“Jangan percaya kepada siapa pun yang mengaku mengetahui seluruh kebenaran.”

Kemudian tubuhnya ditarik mundur oleh bayangan berkepala kerbau.

Sekar berteriak.

“Ibu!”

Ia berusaha berlari, tetapi Raka menarik lengannya.

“Sekar, kita harus pergi!”

“Lepaskan aku!”

“Kalau kau tetap di sini, kau akan menjadi bagian dari penjara itu!”

Sekar meronta.

Namun dari balik pintu, ibunya kembali berteriak.

“Cari ruang bawah rumah!”

Pintu tulang menutup dengan suara menggelegar.

Seluruh ruangan mulai runtuh.

Lantai terbelah. Dinding-dinding tulang jatuh satu demi satu. Kabut hitam berputar seperti pusaran besar.

Ki Kusumo mengangkat tongkatnya.

“Pegang tangan satu sama lain!”

Mahendra menggenggam tangan Laras.

Raka meraih tangan Sekar.

Sekar merasakan telapak tangan Raka sangat dingin.

“Raka…”

“Apa?”

“Apakah kau tahu tentang ibuku?”

Raka menatapnya.

Untuk sesaat, mata Raka kembali normal.

“Aku tahu sedikit.”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan?”

“Karena setiap kali aku mengingatnya, sesuatu di dalam tubuhku ikut bangun.”

Bayangan kerbau di belakangnya menggeram.

Raka memejamkan mata.

“Aku takut kalau aku mengingat semuanya… aku akan menjadi seperti dia.”

“Seperti siapa?”

Raka membuka matanya.

“Seperti Wira Angkara.”

Sebelum Sekar sempat bertanya lebih jauh, Ki Kusumo menghantamkan tongkatnya ke lantai.

Cahaya biru menyelimuti mereka.

Dalam sekejap, tubuh mereka terlempar keluar dari ruang gaib.

Sekar jatuh di atas tanah basah.

Hujan turun dengan deras.

Ia terbatuk-batuk, lalu segera bangkit.

Di hadapannya berdiri bangunan Pondok Pesantren Al-Hikmah Wening. Beberapa bagian dindingnya runtuh. Para santri berlarian membawa lampu. Gus Rahman sedang membantu orang-orang yang terluka.

Mahendra dan Laras muncul beberapa meter dari Sekar.

Raka jatuh berlutut. Bayangan kerbau di belakangnya perlahan menghilang, tetapi bekas tanduk hitam masih terlihat di atas kepalanya.

Ki Kusumo muncul terakhir.

Ia jatuh dengan satu lutut menyentuh tanah.

Gus Rahman segera menghampirinya.

“Ki Kusumo!”

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya, meskipun wajahnya pucat.

Sekar tidak memedulikan siapa pun.

Ia langsung berlari menuju rumahnya.

Mahendra mengejarnya.

“Sekar! Tunggu!”

“Aku harus pulang!”

“Darmo masih mencari kita!”

“Aku harus menemukan tubuh ibuku!”

Laras menatap Sekar dengan cemas.

“Kalau yang dikatakan ibumu benar, ruang itu mungkin sudah disegel sejak bertahun-tahun lalu.”

“Kalau begitu aku akan membukanya.”

Raka berdiri dengan susah payah.

“Sekar, jangan pergi sendirian.”

Sekar menoleh.

“Kenapa?”

“Karena jika tubuh ibumu benar-benar disimpan di bawah rumahmu, berarti ada seseorang yang masih menjaganya.”

“Wira Angkara?”

Raka menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Raka memandang ke arah hutan Weningjati.

Dari kejauhan terdengar suara lonceng tua.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Raka berbisik:

“Orang yang selama ini tinggal di rumahmu.”

Sekar merasa darahnya berhenti mengalir.

“Tidak mungkin.”

Raka menatapnya dengan wajah serius.

“Sekar… sejak kapan kau yakin bahwa orang yang tinggal bersamamu setiap hari benar-benar ibumu?”

Hujan semakin deras.

Sekar menatap jalan menuju rumahnya.

Tiba-tiba, dari arah kejauhan, terlihat sosok perempuan berdiri di bawah pohon.

Perempuan itu mengenakan pakaian rumah berwarna putih.

Rambutnya terurai.

Wajahnya sangat mirip dengan ibu Sekar.

Sosok itu mengangkat tangan.

Lalu melambaikan tangan perlahan.

Sekar mundur satu langkah.

Di belakang sosok perempuan itu, muncul bayangan kepala kerbau.

Dan dari mulut perempuan tersebut terdengar suara yang sangat dikenalnya.

“Sekar… pulanglah, Nak.”

Namun suara itu tidak terdengar seperti suara ibu yang penuh kasih.

Suara itu terdengar kosong.

Dingin.

Dan bukan berasal dari satu mulut.

Melainkan dari banyak sukma yang berbicara bersamaan.

Sekar menggenggam taling sukmo di lehernya.

Tali hitam itu tiba-tiba bergerak sendiri.

Dari dalamnya muncul tulisan merah yang perlahan terbentuk di udara.

RAGA IBUMU ADA DI BAWAH RUMAH.

Tulisan itu berubah.

TETAPI YANG MENUNGGUMU DI SANA BUKAN IBUMU.

Sekar menatap rumahnya dari kejauhan.

Di salah satu jendela lantai atas, terlihat seorang laki-laki berdiri.

Wajahnya samar.

Namun di tangannya tergenggam sebuah taling sukmo hitam.

Laki-laki itu tersenyum.

Kemudian ia mengangkat satu jari ke bibirnya.

Seolah-olah meminta Sekar untuk diam.

Di belakangnya, pada dinding kamar, tertulis dengan cairan merah:

ROGO SUKMA TELAH MEMBANGUNKAN RAGA YANG SALAH.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk