Penyatuan yang rapuh

1 dibaca

A

Ruang tamu rumah mereka terasa mendadak asing. Setelah kalimat talak itu mengudara dari mulut Ariftan dengan nada yang terlalu tenang namun penuh ketegasan yang dingin, Novelia membeku. Air matanya bahkan belum sempat menetes karena otaknya menolak memproses ucapan suaminya.

“Kita selesaikan sampai di sini, Nov,” ujar Ariftan pelan, matanya menatap lurus ke arah Novelia dengan pendar rasa sakit yang disembunyikan rapat-rapat. “Aku mau kamu berhenti IVF. Dan satu-satunya cara supaya kamu berhenti merusak badan kamu sendiri demi program ini... adalah dengan kita berpisah.”

Mata Novelia membelalak lebar. Dada perempuan yang biasanya selalu manut dan menurut itu kini kembang kempis hebat. Selama ini, Novelia selalu menunduk, selalu mematuhi apa pun kata Ariftan. Tapi malam ini, alasan “demi kebaikannya” itu terdengar seperti kebohongan paling busuk yang pernah ia dengar.

“Bohong...” cicit Novelia. Suaranya gemetar, sebelum akhirnya meledak menjadi teriakan histeris yang belum pernah Ariftan dengar sebelumnya. “Kamu bohong, Kak! Jangan pakai alasan kesehatan aku buat nutupin borok kamu!”

Ariftan terkejut melihat respon istrinya. “Nov, aku jujur—”

“Jujur apa?!” potong Novelia, air matanya kini runtuh deras, tapi matanya memancarkan amarah yang liar. Dia melangkah maju dan memukul dada Ariftan dengan histeris. “Kamu cuma mau lepas dari aku, kan?! Kamu mau nikah lagi! Kamu capek punya istri yang nggak bisa ngasih kamu anak, makanya kamu mau cari perempuan lain yang bisa langsung hamil! Iya, kan? Ngaku, kamu!”

Ariftan membiarkan pukulan-pukulan lemah itu mendarat di dadanya. Dia tidak membalas, tidak juga menaikkan nada suaranya. Dia tahu Novelia sedang berada di puncak badai emosi dan pengaruh sisa hormon yang kacau. Berdebat sekarang hanya akan makin merusak akal sehat istrinya.

Tanpa mengiyakan tuduhan keji itu, Ariftan hanya menarik napas panjang, berbalik, dan berjalan keluar rumah.

Di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari rumah, Ariftan mengusap wajahnya. Dia menelpon Maya.

“May...” suara Ariftan parau terdengar di seberang telepon. “Tolongin gue. Novelia... dia udah gila karena emosi. Gue talak dia tadi biar dia mau stop IVF, tapi pikirannya malah makin liar”

Maya di seberang telepon menarik napas tajam. “Pak Ariftan! Bapak gila ya nyoba cara kayak gitu?!”

“Gue kehabisan cara, May!” potong Ariftan frustrasi. “Gue nggak beneran mau pisah sama dia! Tolong bujuk dia, omongin baik-baik. Bilang sama dia, kalau dia mau stop IVF-nya sekarang, kita nggak akan pernah cerai. Kita bakal tetap sama-sama terus. Gue cuma mau dia hidup, May...”

Maya menghela napas berat, berjanji akan mencoba bicara pada Novelia.

Begitu menerima telepon malam itu, keesokan paginya Maya langsung bergegas menuju rumah pasangan itu. Dia melangkah masuk ke dalam kamar dengan hati-hati, menemukan Novelia sedang duduk termenung di tepi tempat tidur. Tatapan mata Novelia kosong, napasnya naik-turun menahan sisa histeria yang belum sepenuhnya mereda.

​Maya duduk perlahan di sampingnya, mengusap bahu Novelia dengan lembut.

​“Nov... dengarin Mbak dulu ya,” buka Maya dengan nada sepelan mungkin. “Pak Ariftan itu nggak ada niat buat nikah lagi. Sama sekali nggak ada. Dia cuma panik dan kehabisan cara buat nyelamatkan kamu.”

​Novelia tidak menoleh, jemarinya meremas kain seprai rapat-rapat. “Bohong. Dia mau buang aku karena aku nggak berguna.”

​“Nggak, Nov! Dengar Mbak baik-baik,” Maya mencoba memegang kedua tangan Novelia yang gemetar, bermaksud meluruskan segalanya. Namun, logisnya cara berpikir Maya justru mengambil sudut pandang teknis yang keliru di mata Novelia.

“Satu-satunya alasan Pak Ariftan terlontar kata talak itu... karena dia tahu aturan hukum medis di Indonesia. Dalam regulasi IVF di negara kita, program bayi tabung stricto sensu hanya boleh diakses oleh pasangan suami istri yang sah secara hukum.”

​Maya menatap mata Novelia dalam-dalam, berusaha mengetuk kesadaran temannya. “Ariftan sengaja jatuhin talak itu supaya secara administratif status kalian terputus! Kalau status pernikahan kalian bermasalah atau bercerai, pihak rumah sakit dan tim medis wajib membatalkan seluruh proses siklus ini secara otomatis. Rumah sakit nggak akan berani ngelanjutin suntikan atau ovum pick-up ke perempuan yang nggak punya suami sah. Ariftan pakai celah hukum itu cuma demi memaksa kamu stop, Nov!”

​Niat Maya adalah membuktikan betapa nekatnya Ariftan memanfaatkan celah aturan demi menghentikan bahaya medis yang mengancam nyawa Novelia. Namun, di dalam kepala Novelia yang sudah terdistorsi oleh badai hormon dan rasa panik, penjelasan Maya justru diterjemahkan secara mengerikan.

​Pihak rumah sakit bakal membatalkan seluruh program...

​Kata-kata itu bergema liar di otaknya. Perjuangan berbulan-bulan, puluhan jarum yang menembus kulitnya, rasa sakit yang membakar perutnya—semuanya akan langsung dihancurkan dan dibuang ke tong sampah begitu saja cuma gara-gara satu kata talak dari Ariftan?

​Bukannya tersadar, mata Novelia justru membelalak penuh horor. Otaknya mati rasa, berganti menjadi kepanikan tingkat tinggi yang membuatnya makin kehilangan akal sehat.

​Nggak boleh... Program ini nggak boleh batal! Aku udah setengah jalan!

​Bukannya mereda, Novelia malah makin histeris. Dia melepaskan genggaman tangan Maya, bangkit berdiri dengan napas terengah-engah, dan menolak mendengarkan sepatah kata pun penjelasan Maya berikutnya. Dalam pikirannya, hanya ada satu jalan keluar agar program bayi tabungnya tidak dibatalkan oleh rumah sakit: Talak itu harus dibatalkan malam ini juga. Dia harus tetap punya suami.

​Malam itu, begitu Ariftan melangkah masuk ke kamar untuk mengecek kondisinya, Novelia menyapanya.

​“Kak, jangan cerai... Tolong, aku mohon, jangan batalin pernikahan kita,” tangis Novelia pecah, suaranya terdengar sangat lesu dan memilukan. “Cabut talak kamu, Kak... Kita balik kayak dulu lagi, ya? Aku janji bakal nurut, aku bakal jadi istri yang baik...”

​Ariftan mematung, dadanya berdenyut nyeri melihat istrinya tersungkur seperti itu. Dia berlutut, merengkuh tubuh Novelia dan membawanya ke dalam pelukan hangat.

​“Nov, bangun, Sayang... Udah jangan gini,” bisik Ariftan malu karena telah mengucapkan kata-kata terkutuk itu. “Aku nggak beneran mau pisah... Aku cuma takut kehilangan kamu.”

​Malam itu, Ariftan memboyong Novelia ke atas tempat tidur. Di bawah keheningan malam, Ariftan mencium dan menyentuh istrinya dengan segenap kelembutan yang ia miliki—sebuah penyatuan intim yang secara sadar dilakukan Ariftan untuk meruntuhkan talak tersebut dan mengikat Novelia kembali sebagai istrinya yang sah lagi.

​Namun, tepat setelah badai emosi itu mereda dan Ariftan mendekap tubuh Novelia yang menyandarkan kepala di dada bidangnya, Novelia perlahan membuka mata.

​Di dalam kegelapan kamar, tatapannya membeku. Logika Novelia yang sudah terobsesi menangkap bahwa situasi kini sudah ‘aman’ secara hukum. Mereka sudah berhubungan intim lagi, talak batal, dan status suaminya telah kembali.

​Dengan hati-hati ia memandang suaminya.

​“Kak...” bisik Novelia pelan, suaranya terdengar begitu datar dan mengerikan di tengah keheningan. “Untung kita nggak jadi cerai... Rumah sakit nggak akan batalin program kita.”

​Ariftan membeku seketika.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk