Kamar rawat inap itu kembali hening, namun keheningan kali ini terasa begitu dingin dan meremukkan hati.
Malam baru saja berganti dini hari. Novelia akhirnya tertidur pulas setelah dokter memberikan suntikan pereda nyeri dan penenang. Wajahnya yang pucat pasi terlihat pasrah di bawah pendar lampu tidur yang temaram. Selang infus dan bekas luka memar di kulit perutnya menjadi saksi bisu lemahnya fisik Novelia akibat rangkaian prosedur medis yang tak kunjung membuahkan hasil.
Ariftan duduk di kursi samping tempat tidur, membungkuk dengan kedua siku bertumpu di lutut dan jemari menyatu menyangga dahinya. Matanya merah, kering, dan panas.
Di atas meja kecil di sampingnya, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal dari laboratorium medis yang baru saja diserahkan dokter sejam lalu—berisi hasil pemeriksaan menyeluruh usai komplikasi malam itu. Dokter telah menjelaskan situasinya dengan raut wajah prihatin yang amat sangat: rahim Novelia mengalami trauma berat dan penolakan hormon yang ekstrem. Melanjutkan program kehamilan apa pun, dalam bentuk apa pun, tidak hanya berisiko gagal, tapi secara langsung mengancam nyawa Novelia.
Ariftan memandangi amplop itu, lalu beralih menatap wajah istrinya.
Memori beberapa bulan terakhir berputar cepat di kepalanya seperti mimpi buruk. Dia mengingat betapa gigihnya ia bertahan—menahan rasa sakit dari puluhan jarum suntik, menelan luapan emosi akibat hempasan hormon, menangis sesenggukan di kamar mandi agar tidak terdengar olehnya, hingga tubuhnya berkali-kali ambruk dan berakhir di ruang gawat darurat.
Dan semua penderitaan itu Novelia tanggung hanya demi satu hal: memberikan seorang anak untuk Ariftan. Demi menjaga rasa bangga Ariftan. Demi memenuhi ekspektasi keluarga dan orang-orang di luar sana.
Ariftan mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai buku-buku jarinya memutih. Dada terasa sesak luar biasa, seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis.
Ia sadar, selama Novelia masih berstatus sebagai istrinya, Novelia tidak akan pernah berhenti memaksakan diri. Perempuan itu terlalu tangguh, terlalu keras kepala, dan terlalu mencintainya sampai rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk memuaskan rasa bersalah yang tidak seharusnya ia panggul.
“Aku mau punya anak buat kamu, Kak... Aku nggak mau ngerasa gagal jadi istri...”
Kalimat yang diucapkan Novelia dengan suara bergetar tempo hari mendadak berngiang keras di telinga Ariftan.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes, jatuh membasahi lantai rumah sakit yang dingin. Rahangnya mengetat keras saat kesadaran yang pahit dan menusuk itu akhirnya menghantam dirinya: Satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup Novelia adalah dengan melepaskannya.
Selama Novelia masih terikat pernikahan dengannya, rasa tanggung jawab dan tekanan untuk memberikan keturunan akan terus membakar tubuh dan mental istrinya sampai tak tersisa. Novelia tidak akan pernah mau berhenti. Maka, dialah yang harus menjadi ‘orang jahat’ yang menghentikannya.
Ariftan bangkit berdiri perlahan, kakinya terasa sangat berat. Dia mendekat ke sisi tempat tidur, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap lembut helai rambut di dahi Novelia, lalu mencium pelipis istrinya dengan sapuan bibir yang lama dan dalam.
”Maafin aku, Nov...” bisik Ariftan, suaranya pecah dan nyaris tak terdengar, tenggelam dalam tenggorokannya yang tersekat tangis. “Aku sayang banget sama kamu... tapi aku lebih nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu selamanya.”
Ariftan menarik tangannya kembali, melangkah mundur perlahan. Matanya menatap wajah Novelia untuk yang terakhir kalinya dalam keheningan malam itu, menetapkan keputusan paling berdarah dalam hidupnya: dia akan mengajukan perceraian. Dialah yang akan menanggung semua beban kebencian, tuduhan, dan cemoohan orang-orang—asal Novelia bisa bebas dari penderitaan ini dan bertahan hidup.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!