Ariftan dan Novelia berada di kamar mereka. Rumah itu besar, tapi sepi. Estetik dan rapi dengan nuansa shabby chic yang diatur sedemikian rupa.
“Ngomong-ngomong... jadwal program bayi tabung kita minggu depan udah konfirm, kosongin jadwal kamu yaa”
Tubuh Ariftan agak menegang, helaan napas berat keluar dari bibirnya saat dia menatap ke arah langit-langit. “Siap! Nov... kita tapi bisa ganti klinik enggak?”
Novelia mengangkat kepalanya, menatap Ariftan kaget. “Ganti rumah sakit? Kenapa? dokternya dokter senior, padahal udah bagus banget. Ganti rumah sakit mah ulang lagi dari awal.”
“Bukan dokternya,” gerutu Ariftan, raut wajahnya yang tegas mendadak kelihatan frustrasi dan serba salah—sesuatu yang jarang sekali ekspresif seperti itu.
“Jujur... ruang pengambilan sampel untuk Lab-nya. Aku bener-bener benci ruangan itu. Masuk ke ruangan dingin dengan tumpukan majalah porno apa itu, terus pegang wadah plastik... Dan tahu ada paramedik di luar pintu yang lagi nungguin... Engga banget. Rasanya malu aja dan bikin risih.”
Novelia menatapnya sebentar sebelum senyum lembut yang penuh pengertian terbit di bibirnya.
“Kalau gitu, kali ini aku ikut masuk bareng kamu.”
Ariftan menoleh, alisnya terangkat kaget. “Eh?”
“Aku bakal ikut masuk ke ruangan itu bareng kamu,” ulang Novelia pelan, matanya menatap tulus. “Kamu enggak usah sendirian lagi untuk setoran sampel untuk Labnya. Aku bantuin.”
Kilatan nakal yang familier kembali ke mata gelap Ariftan begitu dia mencerna kata-kata istrinya. Dia menarik tubuh istrinya naik sampai wanita itu menatap tepat ke arahnya.
“Kamu serius?” tanya Ariftan, suaranya berubah jadi lebih berat dan menggoda. “Soalnya kalau kamu ikut masuk, aku enggak cuma bakal nyuruh kamu berdiri doang. Aku bakal nyuruh kamu buka baju sampai telanjang bulat, berlutut, dan usaha pakai mulut sama tangan kamu sampai selesai.”
Novelia tersenyum jahil terukir di wajahnya saat dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Ariftan. “Siap, Bos,” bisiknya, hembusan napasnya menggelitik kulit Ariftan. “Janji. Nanti aku yang urus semuanya..”
Ruang tunggu pusat fertilitas yang baru itu terasa sepi -hanya beberapa orang pasien dan satu atau dua perawat yang berlalu lalang- dan bau obat khas suasana klinik, ketidaknyamanan itu bertambah-tambah saat dingin dari AC sentral, membuat otomatis tidak bisa diset suhunya. Berbeda sekali dengan kenyamanan rumah mereka yang hangat atau hiruk-pikuk kantor kerja Ariftan yang ramai, sungguh ruang konsultasi ini terasa dingin dan sepi. Rasanya selalu tidak nyaman dan membosankan untuk keduanya.
Di balik meja kayu jati yang lebar, duduk seorang dokter spesialis senior—seorang pria tua membalik-balik rekam medis Novelia dengan cepat dan acuh tak acuh, sedari tadi ia bicara memakai istilah medis yang blak-blakan.
“Dosis baru ini jauh lebih tinggi,” kata dokter itu datar sambil mengeluarkan alat suntik berbentuk pena dan meletakkan bantalan peraga di atas meja. “Efek hormonnya akan kencang sekali. Akan ada perubahan suasana hati yang drastis, emosi enggak stabil, lemas, sama nyeri di tubuh. Semuanya enggak bisa ditebak, ya seperti itu.”
Dia memindahkan pandangannya ke Ariftan. “Pak Ariftan, karena pemicu hormon ini butuh waktu yang presisi, Bapak sendiri yang harus nyuntik bagian bawah kulit perutnya setiap malam di jam yang sama persis.”
Bayangan harus menyakitin Novelia—nancapin jarum ke kulitnya tiap malam—membuatnya tidak tega. Mata gelapnya beralih dari jarum suntik di meja ke istrinya, dadanya mendadak sesak karena rasa grogi yang muncul tiba-tiba.
“Saya contohin tekniknya sekali ya,” lanjut dokter itu sambil mengambil jarum peraga. “Jepit lipatan kulitnya, tusuk dengan sudut sembilan puluh derajat, terus tekan pendorongnya pelan-pelan. Jangan ragu atau takut sudutnya salah, sebelumnya dibuat presisi ya Pak ya”
Ariftan maju sedikit, tangannya terkepal erat di atas paha. “Enggak ada suster atau layanan klinik harian buat nyuntik? Kalau ngerjain sendiri di rumah—saya jujur ngga siap”
“Ini udah prosedur standar,” potong dokter itu santai tanpa mendongak. “Kecuali kalau Bapak mau bawa dia ke UGD jam 10 malam tiap malam.”
Suasana suram di ruangan Sperm Collection Room itu rasanya makin menekan. Ariftan menatap Novelia dengan raut cemas yang sangat jelas.
Dia benci situasi ini. Dia benci ruangan serba dingin ini, dokternya yang cuek, dan kenyataan kalau istrinya harus nahan gempuran hormon yang enggak stabil cuma demi memperjuangkan impian mereka.
Novelia mengulurkan tangan melintasi meja, menyisipkan jemarinya ke dalam genggaman tangan Ariftan yang besar dan dingin, lalu meremasnya erat.
“Enggak apa-apa, Kak,” kata Novelia pelan, suaranya tenang dan mantap menembus kesunyian ruangan yang suram itu.
Dia menoleh ke dokter dan mengangguk tanpa ragu sedikit pun. “Saya setuju sama rencana terapinya.”
“Nov..” gumam Ariftan pelan, suaranya terdengar penuh berat hati. “Dokter baru aja bilang perubahan hormonnya bakal berat. Kamu bakal lemas, kesakitan—“
“Ga papa,” potong Novelia lembut, memberikan senyum kecil yang menenangkan yang seketika mencairkan suasana kaku di ruangan itu. Dia menatap tepat ke mata Ariftan dengan rasa percaya penuh. “Aku janji sama kamu, aku bakal baik-baik aja.”
Ariftan mengangguk, merasakan gelombang yang menyapu rasa cemasnya. Perlahan, jemarinya menggenggam tangan Novelia lebih erat, menerima tanggung jawab itu.
“Ya udah,” kata Ariftan pelan, kembali menatap dokter dengan fokus penuh. “Ajarin saya cara nyuntik yang bener.”
Lalu terlewati acara belajar menyuntik, dilanjutkan tindakan pengambilan sampel sperma di Specimen Collection Room.
Ariftan mengunci pintu kecil yang berat di belakang mereka, suara klak kunci terdengar nyaring di tengah ruangan yang sepi. Dia berbalik menghadap Novelia, merasa agak canggung di tengah ruangan medis itu saat menatap kursi sofa kulit polos dan wadah plastik kaku di atas meja.
Niat mencairkan suasana yang canggung, Ariftan mendekat, matanya meredup dengan kilatan nakal dan dominan. “Kalau mau pakai cara aku... aku mau kamu lepas baju kamu. Satu per satu. Pelan-pelan.”
Novelia tertawa terkejut, tawanya pecah di tengah ruangan yang putih dan kaku itu.
“Di sini? Kak, ruangan ini dingin banget! AC-nya kencang abis.” Dia menyilangkan tangan berlagak membela diri, matanya berbinar nakal. “Kalau aku harus telanjang bulat, ya harus adil. Kamu juga harus lepas semua baju kamu. Semuanya hahaha”
Ariftan terkekeh pelan, tawa berat yang seketika mencairkan suasana ruangan yang kaku. “Oke. Sesuai kesepakatan.”
Acara lepas baju yang rusuh dan penuh tawa pun terjadi di tengah-tengah klinik fertilitas berteknologi tinggi itu. Novelia membuka kancing kardigannya dengan gaya heboh yang dibuat-buat lalu melemparnya ke kursi, sementara Ariftan melepas sabuk dan menendang celananya ke samping sambil tersenyum lebar. Mereka saling goda sambil merinding kedinginan, sebentar-sebentar saling berpelukan dan cekikikan setiap kali mendengar langkah kaki yang terdengar dari koridor luar.
Dalam hitungan menit, mereka berdua sudah tanpa selembar benang pun di ruangan itu. Rasa gugup di awal telah benar-benar menguap, berganti dengan kehangatan dan rasa gairah.
Novelia mendekat, tangannya mulai mengelus.
“Oke, Pak Ariftan.. Mari kita mulai.”
Sentuhan tangannya menyapu Ariftan—mantap, hangat, dan paham betul setiap titik yang disukai suaminya. Kontras antara sentuhan lembut Novelia dan ritmenya yang pas bikin napas Ariftan mendadak tertahan. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding, erangan pelan lolos dari bibirnya.
“Nov.. damn,” desah Ariftan serak, “kamu... kamu bahkan enggak perlu pakai mulut. Tangan kamu aja udah lebih dari cukup...”
Novelia mendongak menatapnya, matanya berbinar dan sedikit rasa puas.
Dipenuhi kehangatan istrinya, Ariftan sampai lupa sama rutinitas medis yang kaku tadi. Sisa ketegangan meleleh jadi kenikmatan, dan dalam beberapa menit yang intens, sampel berhasil terkumpul masuk ke dalam wadah.
Satu jam kemudian, mereka sudah kembali ke dalam mobil yang tenang, berkendara pulang saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Hambatan canggung di ruangan sampel tadi sudah lewat, tapi kenyataan yang lebih berat mulai membayangi.
Duduk di kursi penumpang, ada kantong kertas putih berisi alat suntik berbentuk pena dan botol-botol bening berisi obat hormon harian.
Novelia menatap pangkuannya, jemarinya mengusap pelan perut bagian bawah tempat suntikan bakal dimulai malam ini. Dia udah bisa merasakan beban berat yang bakal datang—gelombang emosi yang bakal enggak menentu, rasa lelah yang luar biasa, dan gejolak hormon yang udah diperingatkan dokter tadi.
Ariftan mengulurkan tangan melintasi konsol tengah, tangannya yang besar dan hangat menggenggam tangan Novelia, meremas jemarinya dengan lembut. Canda tawa di klinik tadi udah hilang, berganti dengan rasa saling mendukung yang tenang dan kokoh.
“Alhamdulillah kita udah berhasil lewati hari ini,” kata Ariftan pelan tapi mantap sambil tetap fokus menyusuri jalanan malam yang padat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!