Malam itu, suasana kamar tidur yang hening terasa sangat menyesakkan. Ariftan duduk di tepi kasur, memegang pena suntik modern yang bergetar pelan di tangannya yang besar.
Meski sudah membaca petunjuknya belasan kali, jantungnya tetap berdegup kencang. Dia mencubit tebal lipatan kulit di perut bawah Novelia, tapi rasa gugup menguasai dirinya.
Tangannya tergelincir. Tergelincir di detik yang krusial. Alih-alih masuk dengan mulus tegak lurus sembilan puluh derajat, jarum suntik itu justru masuk secara canggung dan miring, menancap terlalu dalam sebelum akhirnya ia cabut dengan reflek spontan.
Novelia tersentak dan meringis saat rasa sakit yang tajam dan menyengat menjalar di perutnya. Dalam hitungan menit, darah merah pekat mulai keluar dari bekas suntikan, entah bagaimana sulit membeku, dan rasa nyeri yang hebat mencengkeram perut bawahnya.
Dosis hormon pekat yang terlanjur masuk secara mendadak membuat tubuhnya kaget, memicu kram hebat dan rasa pusing.
Panik, Ariftan langsung membungkus Novelia dengan selimut, membopongnya ke mobil, dan menancap gas membelah jalanan tengah malam menuju rumah sakit.
Saat dokter di ruang gawat darurat berhasil menstabilkan kondisinya, Novelia sudah terpasang infus, tampak pucat dan lelah. Dokter spesialis menjelaskan bahwa suntikan yang salah sasaran itu menyebabkan trauma jaringan lokal dan lonjakan hormon yang tak bisa diukur. Dia harus dirawat inap di bawah pengawasan ketat selama beberapa hari sampai kondisinya benar-benar stabil.
Keesokan paginya, Ariftan berdiri di koridor rumah sakit yang remang-remang di luar kamar Novelia, mengusap wajahnya yang lelah. Dia menelepon Maya.
“Pak Ariftan? Ada apa, Pak? Semua baik-baik aja?” tanya Maya langsung begitu mengangkat telepon.
“Novelia masuk rumah sakit, May,” kata Ariftan dengan suara serak karena kurang tidur. “Semalam ada kejadian pas aku gagal nyuntik. Sekarang kondisinya udah stabil sih, tapi dia harus dirawat beberapa hari di sini.” Dia menghela napas berat. “Gue nanya soal kerjaan dulu. Gue mikir mau minta dia berhenti sekalian aja. Gue nggak tega liat dia makin stres mikirin kerjaan kantor di tengah kondisi kayak gini.”
Maya terdiam sejenak di seberang telepon, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Pak... jujur ya, Novelia itu sebenernya seneng banget karena ngerasa punya kegiatan di kantor. Tapi ya... gosip kantin soal pernikahan kalian lama-lama emang bisa bikin mentalnya capek juga kalau dia bertahan di sana. Cuma, menurut saya, Bapak jangan ngambil keputusan ini sendirian. Mending ngobrol dulu, biar dia sendiri yang milih apa yang dia mau.”
Ariftan menarik napas dalam-dalam, mengangguk pelan. “Iya, gue paham. Makasih ya, May.”
Saat dia kembali ke kamar, Novelia sudah terbangun dan menatap langit-langit ruangan dalam diam. Ariftan duduk di samping tempat tidurnya, lalu menggenggam lembut tangan istrinya.
“Nov,” panggilnya pelan. “Kita perlu ngobrol soal kerjaan kamu. Tadi aku sempat diskusi sama Maya soal jadwal kamu, tapi ya balik lagi, semua keputusan ada di kamu. Kamu beneran masih mau balik kerja ngurusin dokumen hukum lagi?”
“Iya,” jawab Novelia tanpa ragu sedikit pun. Dia menoleh menatap Ariftan, suaranya terdengar lemah tapi gigih. “Aku masih mau kerja, Kak. Aku pengen punya penghasilan sendiri. Aku nggak mau cuma diam di rumah dan ngerasa nggak berguna.”
Ariftan menatapnya, antara merasa terhibur sekaligus patah hati melihat tekad istrinya yang begitu kuat. Dia membungkuk, menangkupkan tangannya yang hangat dan kokoh di atas tangan Novelia.
“Batalin aja niat kamu itu,” ujar Ariftan pelan tapi tegas, tanpa memberi ruang untuk dibantah. “Kamu nggak perlu ngebuktiin apa-apa ke siapa pun sampe harus memaksakan diri kerja di kantor.”
Sebelum Novelia sempat memprotes, suster masuk untuk memasukkan cairan infus hormon dosis tinggi berikutnya. Dalam kurun waktu tiga puluh menit, reaksi kimia itu menghantam tubuhnya dengan keras, memicu semua efek samping yang sempat diperingatkan oleh dokter.
Suasana hatinya mendadak anjlok drastis. Rasa sakit fisik yang hebat di perutnya berpadu dengan gejolak hormon membuat napasnya terengah-engah. Air mata menetes tak terkendali di pipinya yang pucat saat rasa panas dan mual melanda tubuhnya. Dokter memberi tahu bahwa dia membutuhkan setidaknya dua hari lagi untuk istirahat total di kamar rawat.
Selama empat puluh delapan jam berikutnya, berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian istrinya dari rasa sakit, dia terus menggoda Novelia dengan lembut sambil mengusap rambutnya ke belakang.
“Sakit banget ya sayang,” bisiknya sambil memaksa senyum tipis. “Aku bingung harus bagaimana”
“Udah gapapa” Novelia terisak, menarik selimut untuk menutupi wajahnya saat gelombang kesedihan dan kram perut kembali menghantamnya tanpa alasan yang jelas. “Sakit banget... semuanya kerasa sakit...”
Melihat istrinya merintih kesakitan dengan kondisi tubuh yang berantakan akibat gejolak hormon yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri, ketahanan emosional Ariftan akhirnya runtuh juga.
Senyum godaan di wajahnya langsung hilang. Air mata memenuhi mata gelapnya lalu menetes membasahi pipi. Dia membungkuk di atas tempat tidur, membenamkan wajahnya di bahu Novelia.
“Maafin aku ya, Sayang,” tangis Ariftan pelan sambil memeluk tubuh istrinya yang gemetar selembut mungkin, suaranya serak menahan rasa bersalah yang luar biasa. “Maaf Nov... aku yang bikin kamu kayak gini. Maafin aku...”
Jam 9:30 pagi, Maya keluar dari ruang kerja sambil memegang tablet putih. Dia berjalan santai ke tengah area terbuka lalu mengetukkan penanya ke sekat kaca.
”Bisa minta waktunya sebentar, lima menit aja?” Suara Maya yang jernih dan tegas langsung memotong keriuhan halus dari komputer-komputer kantor.
Semua karyawan—mulai dari staf junior sampai analis senior—langsung memutar kursi mereka. Para karyawan kelihatan sangat pucat, duduk tegak kayak prajurit lagi nunggu perintah.
”Mohon perhatiannya,” buka Maya dengan nada profesional tapi lugas, “Saya mau memperjelas status administratif dari Ibu Novelia supaya ke depannya nggak ada salah paham lagi.”
Dia jeda sejenak, menatap mata orang-orang di ruangan itu satu per satu.
”Sesuai yang diomongin Pak Ariftan hari Jumat lalu, Novelia memang istri beliau. Tapi saya mau perjelas gimana struktur perusahaan kita bekerja, supaya nggak ada lagi anggapan miring soal anak emas atau pelanggaran aturan.”
Maya mengusap layar tabletnya, menampilkan bagan organisasi resmi di layar monitor besar yang menempel di dinding utama.
”Berdasarkan tata kelola perusahaan dan kebijakan anti-nepotisme kita, pasangan dari seorang eksekutif nggak boleh melapor langsung ke pasangannya, dan nggak boleh berada di bawah naungan HRD langsung kalau ada potensi benturan kepentingan,” jelas Maya detail. “Demi transparansi dan kepatuhan penuh, status pernikahan Ariftan dan Novelia sebenarnya udah dilaporkan secara resmi ke HRD dan Dewan Direksi sebelum dia mulai kerja di lantai ini.”
Gumam paham langsung terdengar saling sahut di ruangan itu.
”Ibu Novelia ditempatkan langsung di bawah pengawasan saya di HR & Legal,” lanjut Maya sambil bersedekap tangan. “Proses rekrutmen, penilaian kinerja, tugas harian, sampai gajinya murni diatur sama saya—bukan Pak Ariftan. Semua pencapaian yang dia dapat itu murni hasil kerja kerasnya, padahal di balik itu beliau bisa aja santai di rumah”
Maya menurunkan tangannya, raut wajahnya melunak jadi senyum bangga yang protektif saat menatap wajah-wajah stafnya yang masih terpaku.
”Novelia Diaz milih kerja di sini karena dia beneran bisa berkontribusi secara profesional dan mandiri. Beliau nggak minta perlakuan khusus”
Mata Maya agak mengeras saat melirik ke arah meja manajer senior yang kemarin jadi dalang biang gosip di kantin.
”Siang ini HRD bakal ngirim undangan rapat buat evaluasi individu terkait etika kerja,” tambah Maya dingin. “Ke depannya Ibu Novelia bakal tetap ngejalanin tugasnya di bawah departemen saya seperti biasa. Saya minta semua orang di lantai ini berikan rasa hormat dan perlakuan profesional yang sama persis seperti ke rekan kerja lainnya. Paham semuanya?”
”Paham, Bu Maya,” sahut seisi lantai kompak, merasa lega karena akhirnya tahu kebenaran yang sebenarnya.
Saat Maya balik badan mau menuju ruangannya, matanya sempat beradu pandang dengan Novelia dari kejauhan. Novelia memberikan anggukan pelan yang penuh rasa terima kasih. Maya membalasnya dengan kedipan mata hangat sebelum menutup pintu ruangannya, meninggalkan lantai 12 dalam suasana yang akhirnya tenang kembali.
Sekitar jam dua siang, tampilan dua monitor di meja Novelia mulai kelihatan kabur.
Dia menekan pangkal telapak tangannya ke mata, berusaha maksain fokusnya balik ke dokumen spreadsheet di depannya. Tapi efek obat hormon dosis siang—ditambah rasa lelah emosional seminggu terakhir—bener-bener bikin tubuhnya tumbang.
Rasa nyeri yang dalam dan menyiksa menjalar dari perut bawah sampai ke pahanya, bikin dia hampir nggak bisa duduk nyaman. Tubuhnya kerasa panas nggak menentu, tapi sedetik kemudian berubah jadi dingin dan berkeringat.
Gelombang kesedihan yang mendadak dan tanpa alasan jelas tiba-tiba membuncah di dadanya—ciri khas dari badai hormon yang udah diwanti-wanti dokter dahulu.
Novelia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata hangat yang mulai menggenang di matanya.
Nggak boleh di sini. Nggak boleh di meja kerja. Dia nggak mau ada orang yang mikir dia lemah atau manfaatin statusnya sebagai istri Ariftan buat bermalas-malasan.
“Nov?”
Suara lembut Maya bikin dia kaget. Novelia mendongak dan liat Maya udah berdiri di samping mejanya sambil megang secangkir teh pepermint hangat. Begitu liat wajah Novelia yang pucat, dahi yang berkeringat, dan mata yang berkaca-kaca, sikap profesional Maya langsung berubah jadi kepedulian yang protektif.
“Udah, cukup. Kamu pulang aja sekarang,” kata Maya pelan sambil meletakkan tehnya dan mengusap lembut bahu Novelia.
“Aku bisa... aku bisa selesaikan rekap ini kok, Mbak Maya,” bisik Novelia pelan, suaranya agak bergetar pas rasa kram hebat kembali menyerang perutnya. “Aku cuma butuh waktu sebentar...”
“Novelia, udah... kamu udah nggak kuat,” ujar Maya lembut sambil menarik kursi kerja di sampingnya. “Kesehatan dan tubuh kamu itu yang paling utama.”
Sebelum Novelia sempat menolak, Maya udah menekan beberapa tombol di HP-nya. “Aku telepon suami kamu ya.”
“Jangan, Mbak, jangan ganggu dia yang lagi rapat—“
Udah terlambat. Ariftan langsung mengagkat telepon di dering kedua. Maya bahkan nggak pakai basi-basi lagi. “Ariftan, cepat turun ke lantai 12 sekarang. Tolong, Novelia lagi kesakitan.”
Kurang dari sembilan puluh detik, pintu lift khusus eksekutif terbuka.
Ariftan melangkah lebar melintasi area kerja terbuka, bener-bener nggak peduli sama tatapan kaget para karyawan di sekitarnya. Jasnya nggak dikancingkan, dasinya agak longgar, dan raut wajahnya kelihatan panik dan khawatir setengah mati.
Begitu matanya tertuju ke Novelia—yang duduk meringkuk di kursinya sambil memegang perut bawahnya—jantung Ariftan serasa anjlok.
“Nov!” panggil Ariftan sambil berlutut tepat di samping meja kerjanya. Dia nggak peduli lagi kalau semua staf di lantai itu memperhatikan mereka. Dia merengkuh wajah pucat istrinya dengan kedua tangan besarnya yang hangat, ibu jarinya mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Novelia. “Hei... Apa yg sakit?”
“Kak... aku udah nahan-nahan,” cicit Novelia pelan. Lonjakan hormon bener-bener meruntuhkan pertahanan dirinya sampai dia menyandarkan dahinya ke dada Ariftan. “Tapi hari ini rasanya sakit banget...”
“Ssst, iya, aku tahu,” gumam Ariftan dengan suara yang berat menahan emosi. Dia menyelimutkan jas ke bahu Novelia dengan lembut, lalu dengan sigap menyusupkan satu tangannya di bawah lutut dan tangan satunya lagi di punggung Novelia, menggendongnya dalam satu gerakan.
Dia melirik ke arah Maya. “Cancel semua jadwalku siang ini.”
“Noted,” sahut Maya hangat sambil menyerahkan tas tangan Novelia ke Ariftan.
Ariftan menggendong Novelia menyusuri koridor. Bersandar aman di dada bidang suaminya, Novelia memejamkan mata dan menghela napas panjang yang gemetar saat kehangatan tubuh Ariftan melindunginya dari rasa sakit dan keriuhan dunia luar.
Dua puluh menit kemudian, mereka udah balik ke ketenangan kamar utama mereka.
Dengan hati-hati, Ariftan mengganti baju Novelia pakai piyama dan menyelimutinya pakai selimut yang tebal dan hangat. Dia membawa botol kompres air hangat yang dibungkus handuk tipis lembut, meletakkannya perlahan di atas perut Novelia yang nyeri, sebelum akhirnya ikut berbaring di sampingnya.
Dia merengkuh Novelia erat ke dadanya, menyanggah kepala istrinya di bahunya sementara tangan besarnya mengusap punggung Novelia dengan gerakan melingkar yang menenangkan.
“Udah mendingan?” bisik Ariftan sambil mencium lembut rambutnya lama.
“Lumayan,” gumam Novelia lemah, membenamkan wajahnya di leher Ariftan sambil meremas kemejanya. “Maaf ya, aku jadi ngacauin kerjaan kamu siang ini...”
Ariftan terkekeh pelan dan hangat, makin mempererat pelukannya. “Novelia, kalau kamu minta maaf sekali lagi cuma gara-gara sakit pas lagi berjuang demi calon anak kita, tak pecat kamu beneran ya. Nggak ada hal di gedung itu yang lebih penting daripada kamu. Titik.”
Sinar matahari pagi mulai masuk ke kamar utama saat Novelia duduk bersandar di tumpukan bantal dengan laptop di pangkuannya. Dia merasa jauh lebih baik setelah istirahat semalaman, tapi sifat keras kepalanya jelas udah balik lagi.
Ariftan masuk membawa baki berisi secangkir teh kamomil hangat dan sepiring potongan buah. Liat istrinya lagi sibuk mengetik balasan email kantor, dia menghela napas berat dan gemas.
“Novelia,” tegur Ariftan dengan nada campuran antara tegas dan capek saat menaruh baki di atas meja samping tempat tidur. “Perasaan kemarin kita udah sepakat kamu bakal istirahat hari ini.”
“Aku emang lagi istirahat kok, Kak,” sahut Novelia tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. “Kan aku duduk di kasur. Tapi aku mau meriksa-meriksa”
Ariftan membungkuk, menutup layar laptop Novelia secara perlahan meskipun ada protes dari istrinya. Dia bersedekah tangan, bersandar di tiang tempat tidur dengan dahi berkerut protektif.
“Aku lagi mikir mau mencabut status karyawan kamu aja deh,” ujar Ariftan datar, berusaha berakting tegas kayak boss galak di kantor. “Hari ini aku minta HRD bikin surat pemutusan hubungan kerja kamu. Supaya kamu nggak punya pilihan selain diam di rumah dan fokus sama kesehatan kamu.”
Ketikannya terhenti, Novelia mendongak menatap Ariftan sambil menaikkan sebelah alisnya heran. Bukannya takut, senyum tipis yang penuh arti justru terukir di bibirnya.
“Bapak lagi mengancam mau pecat saya nih?” tanya Novelia santai sambil melipat tangan di dada, menirukan gaya Ariftan.
“Aku lagi ngelindungi istri” balas Ariftan dengan rahang mengetat tegas. “Aku ada jabatan lumayan di PT. Kalau aku bilang kamu nggak kerja di sana lagi, ya kamu nggak kerja di sana.”
Novelia terkekeh pelan dan geli sambil menyandarkan punggungnya ke bantal.
“Pak Ariftan, mending aku ingetin secara halus ya soal beberapa detail kecil di Undang-Undang Ketenagakerjaan Indonesia sama buku panduan perusahaan kita sendiri—yang sering selalu aku audit tiap minggu.”
Ariftan mengedipkan mata, agak kaget mendengar nada bicaranya yang tenang khas seorang ahli hukum.
“Pertama,” ujar Novelia mulai mengangkat satu jarinya, “menurut peraturan ketenagakerjaan nasional, perusahaan nggak bisa memutus hubungan kerja karyawan secara sepihak cuma gara-gara hamil, lagi menjalani perawatan medis atau IVF, ataupun izin sakit yang ada surat dokternya. Kalau Bapak nekat, itu jelas pelanggaran hukum atas diskriminasi.”
Dia mengangkat jari kedua. “Kedua, atasan langsung aku itu Mbak Maya, bukan Bapak. Memecat karyawan—apalagi istri sendiri—tanpa ada surat peringatan kinerja, alasan yang sah, atau prosedur resmi, itu bakal jadi skandal administratif yang parah banget.”
Novelia maju sedikit, mata gelapnya berbinar penuh kecerdasan.
“Kalau Bapak memecat aku cuma gara-gara aku sakit akibat program IVF, Bapak sama aja membuka celah buat perusahaan kena gugatan hukum pemecatan sepihak bernilai miliaran rupiah. Dan sebagai Legal Compliance Associate, udah jadi tugasku buat melaporkan ke Dewan Direksi kalau boss mereka bikin perusahaan terancam masalah hukum berat cuma gara-gara dia lagi jadi suami yang terlalu emosional.”
Ariftan mendadak mematung selama tiga detik penuh.
Dia menatap istrinya yang sekarang lagi menyesap teh dengan sangat anggun. Kepintaran Novelia yang manfaatin pengetahuan hukum—dan kebijakan perusahaan Ariftan sendiri—buat membalikkan serangannya bener-bener meruntuhkan sikap tegasnya.
Tawa renyah dan berat akhirnya lepas dari dada Ariftan. Dia menggelengkan kepala, berjalan muter ke sisi tempat tidur Novelia lalu ikut menyusup masuk ke balik selimut.
“Buset” gumam Ariftan pelan sambil merengkuh Novelia ke pelukannya dan mencium pelipisnya. “Aku malah mempekerjakan orang hukum yang jago banget”
“Bukan Bapak yang mempekerjakan aku, tapi Mbak Maya,” ralat Novelia dengan nada manis sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ariftan. “Aku tahu kok kamu cuma khawatir sama aku. Tapi pekerjaanku ini bikin aku merasa punya tujuan hidup, apalagi pas tubuhku rasanya lagi digempur sama hormon-hormon ini.”
Ariftan melingkarkan tangannya dengan mantap di pinggang Novelia, menghembuskan napas pasrah yang lembut. “Oke deh. Kamu menang debat hukumnya, Nov. Tapi tetap ya, sisa hari ini kamu wajib istirahat.”
“Iye-iye,” senyum Novelia hangat, memejamkan mata sambil makin merapatkan tubuhnya ke dada Ariftan. “Makasih ya, Bos.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!