Ruang dapur ditutup dengan papan dan dipaku dari luar pada sore itu juga.
Bukan karena ada sesuatu di dalam. Karena yang pernah ada di dalam sudah tidak perlu lagi bersembunyi, dan paku itu bukan untuk mengurungnya, melainkan untuk mengingatkan setiap orang yang lewat bahwa dinding itu pernah berisi seseorang yang menghitung hari-harinya sendiri.
Oh Seung-tae memaku papan terakhir dan tidak berdiri setelah selesai.
“Empat bulan,” katanya.
Tidak ada yang menjawab.
“Empat bulan dia ada di sini, di antara kita, dan kita minum dari satu sumur dengannya.”
“Dia tidak minum,” kata Min-jae.
Seung-tae menoleh.
“Dari mana kamu tahu.”
Min-jae menatapnya lama.
“Karena tidak ada yang pernah kehilangan air,” katanya. “Cuma makanan. Cuma kedelai.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Dan semua orang di dapur itu, kecuali satu, baru memahami pada detik yang sama bahwa Min-jae baru saja menyelesaikan persoalan yang tidak pernah mereka selesaikan.
Kim Dae-hyun menoleh ke arah Seung-tae.
“Berapa jatah yang kamu bawa keluar,” katanya.
Seung-tae tidak menjawab.
Han Seo-yeon menggelar lima lembar kertas di atas meja ruang makan malam itu, dan dia tidak duduk, karena dia tahu kalau dia duduk dia akan kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang akan dikatakannya.
“Aku sudah memeriksa enam belas orang,” katanya. “Dan aku menemukan enam.”
“Enam apa,” kata Dae-hyun.
“Enam orang yang kehilangan sesuatu dalam enam minggu terakhir, dan tidak ada satu pun yang melapor, karena tidak ada satu pun yang menyadarinya sebagai penyakit.”
Dia meletakkan satu jari di kertas pertama.
“Perawat Im. Tiga minggu lalu dia salah menyebut nama obat yang sudah dipakainya sembilan tahun. Kita tertawa. Dia bilang dia lelah.”
Kertas kedua.
“Pak Choi. Dua minggu lalu dia lupa di mana dia menanam lobak musim gugur. Dia menggali tiga petak sebelum menemukannya. Kita bilang dia tua.”
Kertas ketiga.
“Penjaga Gil. Sepekan lalu dia lupa urutan jaga malam. Dia datang dua jam lebih awal. Seung-tae memarahinya.”
Seung-tae tidak mengangkat wajah.
Kertas keempat.
“Ibu Jeon. Dia lupa nama anaknya sendiri selama hampir satu menit penuh di depan pintu asrama. Lalu dia menangis dan menyalahkan demamnya tahun lalu.”
Kertas kelima.
“Anak perempuan di Asrama B, delapan tahun. Dia lupa lagu yang dinyanyikan ibunya. Dia bilang dia lupa karena sudah lama tidak dinyanyikan.”
Kertas keenam.
Seo-yeon berhenti.
“Dan yang keenam,” kata Dae-hyun.
Seo-yeon menatap kertas itu tanpa membaliknya.
“Yang keenam adalah aku,” katanya. “Aku lupa di mana aku menyimpan buku induk. Tiga hari. Aku mencarinya di klinik, di asrama, di gudang. Lalu aku menemukannya di dalam laci meja kerjaku, di tempat aku selalu menyimpannya sejak enam tahun lalu.”
Hening di ruang makan itu.
Lalu Ji-ho berkata, “Kapan kamu menemukannya.”
“Dua hari lalu.”
“Dan kamu tidak bilang.”
“Aku tidak menghubungkannya.”
“Karena kamu tidak ingat bahwa kamu pernah lupa,” kata Ji-ho.
Seo-yeon mengangguk, dan gerakan itu adalah gerakan paling menakutkan yang pernah dilihat Ji-ho pada wajah perempuan itu, karena itu adalah gerakan seorang dokter yang baru saja menyadari bahwa alat ukurnya sendiri rusak.
“Ya,” katanya.
Aturan itu dikeluarkan pada malam itu juga, dan dibacakan di aula di depan seratus tiga puluh sembilan orang, dan tidak ada yang tertawa, karena Dae-hyun yang membacakannya.
Mulai sekarang, tidak ada seorang pun di dalam Guryong yang menyebut nama orang lain dengan suara keras.
Gunakan nomor. Yang punya nomor, catat nomornya.
Kalau kamu mendengar seseorang memanggil namamu, jangan jawab.
Kalau kamu mendengar seseorang memanggil namamu dengan suara yang kamu kenal, terutama jangan jawab.
Seung-tae berdiri di belakang aula dan berkata, “Kita mulai memanggil satu sama lain dengan angka seperti penjara.”
“Kita memang penjara,” kata Dae-hyun. “Cuma selama ini kita tidak tahu sipirnya.”
Pembagian nomor dilakukan malam itu juga, dengan pena dan kertas, oleh Perawat Im yang menulis tanpa bertanya.
Nomor satu untuk Park Sun-ja, karena dia yang paling tua, dan Nenek Park menerimanya tanpa komentar, lalu menulisnya di kertas kecil dan menyematkannya di daster dengan jarum pentul, karena dia tidak percaya pada kertas yang tidak menempel pada sesuatu.
Nomor seratus tiga puluh sembilan untuk Jeong Ha-neul, karena dia yang paling muda, dan anak itu meminta nomornya ditulis di telapak tangannya, bukan di kertas, supaya tidak bisa hilang.
Dan Yoon Ji-ho mendapat nomor sebelas.
Dia menatap angka itu lama, lalu bertanya kepada Perawat Im, “Kenapa sebelas.”
“Karena urutan daftar,” kata perempuan itu. “Dari buku Bapak Dae-hyun.”
Ji-ho tidak bertanya lagi. Tapi malam itu dia membuka halaman yang dia tulis sendiri dan menambahkan satu kalimat di bagian paling bawah.
Aku nomor sebelas. Kalau aku lupa nomorku, aku juga lupa namaku.
Ia mendengar suara itu pada pukul dua pagi, dalam perjalanan dari pos jaga Utara ke asrama.
Koridor gelap. Tidak ada orang. Dan dari ujung koridor, dari balik pintu ruang kelas yang tidak dipakai sejak kebakaran, ada seorang perempuan yang memanggil,
“지호야.”
Satu kata, diucapkan dengan nada yang dipakai ibunya setiap kali Ji-ho terlambat pulang, dengan vokal terakhir yang dipanjangkan, dengan sebagian kecil kesal dan sebagian besar lega.
Ji-ho berhenti.
Sepuluh tahun. Ibunya mati pada hari pertama, di aula, di baris ketiga, dan Ji-ho tidak pernah mendengar suaranya lagi, dan selama sepuluh tahun dia tidak pernah sekali pun berkhayal mendengarnya, karena Ji-ho bukan orang yang berkhayal.
Dan yang paling mengerikan bukanlah suaranya.
Yang paling mengerikan adalah bahwa suara itu benar.
Nada yang dipakainya benar. Tempat jedanya benar. Cara vokal terakhir itu dipanjangkan benar, dan itu adalah detail yang tidak bisa dikarang oleh apa pun, karena itu bukan detail yang diingat oleh anak laki-laki berumur tujuh tahun. Itu detail yang hanya diketahui oleh ibunya.
Ji-ho berdiri di koridor itu selama yang terasa seperti satu jam dan tidak menjawab.
Lalu dia berjalan terus ke asrama, dan dia tidak tidur, dan sebelum fajar dia menulis satu baris di bukunya.
Hari ini aku dipanggil oleh suara ibuku. Ibuku sudah mati sepuluh tahun. Aku tidak menjawab. Besok mungkin aku tidak akan sekuat itu.
Malam itu Ji-ho menemui Dae-hyun di ruang kepala sekolah, dan untuk pertama kalinya dia mengetuk pintu sebelum masuk.
Dae-hyun sedang duduk di balik mejanya dengan buku tebal di depannya.
“Arsip,” kata Ji-ho.
Dae-hyun tidak mendongak.
“Sepuluh tahun kamu bilang ruang bawah itu arsip. Dan sepuluh tahun aku mengira kamu berbohong.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu kamu tidak berbohong. Cuma yang kamu simpan bukan arsip sekolah.”
Dae-hyun menutup buku itu.
Lalu dia mendorongnya ke seberang meja.
Ji-ho membukanya.
Dua ratus empat belas nama. Ditulis dengan tinta yang memudar berbeda-beda, satu per satu, dengan tanggal di sebelahnya. Dua ratus empat belas orang yang pernah berdiri di dalam tembok Guryong sejak hari pertama. Seratus tiga puluh sembilan di antaranya masih hidup, ditandai dengan satu titik yang diperbarui setiap bulan. Tujuh puluh lima sisanya ditandai dengan satu garis.
Dan di halaman paling belakang, ada satu halaman yang tidak berisi nama.
Halaman itu hanya berisi satu judul, ditulis dengan tangan Dae-hyun sepuluh tahun lalu, dengan tinta yang ditekan begitu keras sampai kertasnya robek di satu sudut.
Yang Tidak Boleh Disebut
Ji-ho menunduk untuk membaca baris di bawahnya.
Dae-hyun menutup buku itu dengan satu gerakan.
“Tidak,” katanya.
“Bapak...”
“Aku akan menyebutnya,” kata Dae-hyun. “Besok. Di depan semua orang. Karena kalau aku menyebutnya sendirian kepadamu malam ini, besok kamu bisa mengira kamu yang mengarangnya.”
Ji-ho menatap pria itu.
“Berapa lama Bapak tahu.”
Dae-hyun menatap buku di atas mejanya.
“Sepuluh tahun,” katanya. “Aku tahu namanya sejak hari pertama. Dan selama sepuluh tahun aku menolak mengucapkannya, karena mengucapkan nama orang yang sudah mati berarti menerima bahwa dia tidak akan menjawab.”
Ji-ho mulai menulis bukunya sendiri pada malam itu.
Dia duduk di pos jaga Utara dengan lentera kecil, dan dia menulis di halaman pertama, dengan huruf yang dibuatnya setebal mungkin,
Nama-nama yang harus diingat kalau aku tidak bisa mengingatnya sendiri.
Lalu dia menulis.
Kim Dae-hyun. Kepala sekolah. Punya anak perempuan. Menyimpan dua ratus empat belas nama.
Han Seo-yeon. Dokter. Menemukan enam. Menjadi yang ketujuh.
Oh Seung-tae. Penjaga. Membawa jatah keluar. Belum menjawab pertanyaan.
Park Min-jae. Ikut keluar. Tidak punya siapa-siapa. Berbohong tentang itu.
Jeong Ha-neul. Urutan siram. Memberikan mobil-mobilannya.
Pak Choi. Empat sendok. Yang terakhir diberikan.
Park Sun-ja. Membuat bubur. Tidak pernah pikun.
Kim Su-a. Tujuh belas tahun. Suhu 31,2. Jari manis kiri patah.
Dan di bagian bawah halaman, dengan tangan yang berbeda karena tangannya gemetar,
Yoon Ji-hwan. Kakakku. Tinggi dua meter. Masih ingat wajahku. Tidak ingat namaku.
Dia menutup buku itu dan meniup lentera, dan dalam gelap dia berkata keras-keras ke udara kosong,
“Aku ingat.”
Hanya untuk mendengar bunyinya.
Tiga barang itu ada di atas meja kecil di samping ranjang klinik, disusun sejajar.
Jepit rambut biru. Mobil-mobilan kayu beroda patah. Sendok bergores K.
Kim Su-a duduk di ranjang dengan kedua tangan di pangkuan, menatapnya, dan tidak menyentuhnya.
Ji-ho berdiri di ambang pintu.
“Siapa yang mengembalikannya,” katanya.
Su-a tidak menoleh.
“Dia.”
“Yang kedelapan.”
“Ya.”
“Kapan.”
“Tadi malam. Waktu kalian di dapur.”
“Dan kamu tidak berteriak.”
Su-a menoleh, dan matanya menangkap cahaya lentera dengan cara yang selalu membuat Ji-ho merasa sedang menatap sesuatu yang lebih tua daripada wajah di depannya.
“Dia tidak datang untuk menyakitiku,” katanya.
“Empat bulan,” kata Ji-ho. “Empat bulan dia ada di sini. Dan kamu tidak bilang.”
“Aku tidak bilang.”
“Kenapa.”
Su-a menunduk, menatap sendok bergores K itu.
“Karena kalau aku bilang, kalian akan memburunya. Dan kalau kalian memburunya, tidak ada yang tersisa yang bisa melakukan apa yang harus dilakukan.”
Ji-ho melangkah masuk.
“Apa yang harus dilakukan.”
Su-a mengangkat wajahnya.
“Kakakmu sudah selesai besok,” katanya. “Atau lusa. Dan waktu dia selesai, tidak ada yang menahan mereka. Tidak ada yang memanggil mereka menjauh.”
Ji-ho menahan napas.
“Kamu bisa melakukannya,” katanya.
“Aku bisa.”
“Sejak kapan.”
Su-a menatapnya, dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Sejak kapan,” ulang Ji-ho.
Su-a menunduk lagi.
“Empat bulan,” katanya. “Dia datang setiap malam. Dan setiap malam dia bertanya apakah aku sudah siap.”
Ji-ho menatapnya.
Dan dia bertanya dengan suara yang sudah dia ketahui jawabannya bahkan sebelum suaranya keluar,
“Siap untuk apa.”
Su-a mengangkat wajahnya.
“Untuk menggantikan kakakmu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!