“Siapa yang di dalam,” kata Ji-ho.
Yoon Ji-hwan menatap kedua telapak tangannya.
Lalu dia berkata, “Yang kedelapan bukan hitungan makhluk. Hitungannya hari. Delapan hari sejak aku tahu bahwa aku tidak akan sempat.”
“Sampai apa.”
“Sampai aku selesai.”
Ji-ho menahan napasnya. Di belakangnya, Min-jae berdiri tanpa bergerak, dan Ji-ho tahu pria itu pasti sudah mengangkat senapan lagi, dan Ji-ho dalam keadaan tidak peduli.
“Dan yang di dalam,” kata Ji-ho. “Dia sudah selesai.”
“Empat bulan yang lalu.”
“Empat bulan,” ulang Ji-ho. “Dia ada di dalam sekolah selama empat bulan.”
“Lebih lama dari itu.”
Ji-ho menatapnya.
“Berapa lama.”
Ji-hwan mengangkat wajahnya, dan ada sesuatu pada wajah itu yang membuat Ji-ho teringat pada Guru Baek Seung-ho, mayat yang terbaring di depan gerbang utama tanpa membusuk walau sudah mati sepuluh tahun.
“Bukan empat bulan di dalam,” kata Ji-hwan. “Empat bulan sejak dia selesai. Sebelum itu dia menghitung.”
“Menghitung apa.”
“Hari. Di balik dinding dapur kamu. Seratus sembilan hari.”
Min-jae mengeluarkan bunyi.
Ji-ho tidak menoleh. Dia tidak sanggup menoleh, karena kalau dia menoleh dan melihat wajah Min-jae, dia akan melihat wajahnya sendiri, dan wajahnya sendiri sedang berusaha tidak memahami apa yang baru saja dikatakan kepadanya.
Seratus sembilan goresan.
Ruang rahasia di balik dinding gudang dapur. Peta dengan koridor bawah dilingkari. Sepasang sepatu bot kedua. Semua itu mereka temukan pada hari keempat belas, dan mereka mengira itu tempat persembunyian.
Ternyata itu ruang tunggu.
“Dia menunggu apa,” kata Ji-ho.
“Waktunya.”
“Dia tahu kapan waktunya habis.”
“Dia menghitungnya.”
Ji-ho menutup mata.
“Dan waktu habis,” katanya, “dia keluar.”
“Dia keluar.”
“Dan selama empat bulan dia ada di dalam sekolah.”
“Ya.”
“Di mana.”
Ji-hwan menatapnya, dan kali ini jawabannya datang tanpa jeda.
“Di mana saja,” katanya. “Kamu mengira dia bersembunyi. Yang sudah selesai tidak bersembunyi. Yang sudah selesai berjalan di antara kalian, dan kalian tidak melihatnya, karena yang kalian cari adalah sesuatu yang menyerang.”
Ji-ho merasakan seluruh kulit kepalanya mengencang.
“Dia tidak membunuh.”
“Yang sudah selesai tidak membunuh.”
“Lalu dia melakukan apa.”
Ji-hwan menunduk, dan ketika dia menjawab, suaranya untuk pertama kalinya kehilangan ketenangannya.
“Dia berbicara.”
“Begini caranya,” kata Ji-hwan.
Dia berbicara seperti guru yang kehabisan waktu, cepat, tanpa jeda, seolah-olah dia tahu bahwa kalimat-kalimat ini akan hilang dari mulutnya sebelum selesai diucapkan.
“Kami yang digigit Alfa pertama tidak mati. Kami juga tidak menjadi mereka. Geom menulis ulang, dan pada kami penulisan ulang itu macet di tengah. Yang tertinggal ingatannya. Jadi kami ingat, dan selama ingatan itu ada, kami bukan mereka.”
“Dan kalau ingatannya habis.”
“Kalau ingatannya habis, yang tertinggal bukan kami. Yang tertinggal adalah ingatannya sendiri, berjalan tanpa orang yang memilikinya.”
Ji-ho menatapnya.
“Itu yang terjadi pada yang di kota,” katanya. “Yang tidak sempat dikurung.”
“Yang tidak sempat dikurung selama sepuluh tahun tidak menjadi Penyeret. Mereka menjadi sesuatu yang lebih buruk. Penyeret tidak ingat apa-apa. Mereka ingat segalanya, tetapi semuanya salah. Mereka ingat nama orang yang mereka sayangi, dan mereka mengejar nama itu. Mereka ingat jalan pulang, dan mereka berjalan ke sana berulang-ulang sampai mereka hancur.”
“Dan mereka menular.”
Ji-hwan mengangguk.
“Lewat suara. Bukan lewat gigitan. Kalau mereka memanggil dan kamu menjawab, kamu mulai lupa juga.”
“Berapa lama.”
“Bergantung pada berapa banyak yang kamu jawab.”
Hening di lembah itu.
Lalu Ji-ho berkata, dan suaranya terdengar seperti suara orang lain di telinganya sendiri,
“Jadi selama empat bulan, dia memanggil orang-orang di sekolahku.”
“Ya.”
“Dan ada yang menjawab.”
Ji-hwan tidak menjawab.
Dan ketidakmenjawaban itu adalah jawaban yang paling buruk.
Ji-ho melangkah maju.
“Kenapa kamu tidak masuk,” katanya. “Kamu bisa membuka pintu. Kamu sudah pernah mendobrak terowongan. Kenapa kamu tidak masuk dan menghentikan dia.”
Ji-hwan menatapnya.
Dan kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang membuat Ji-ho mengerti bahwa sepuluh tahun lamanya kakaknya berdiri di luar tembok bukan karena dia tidak bisa masuk.
“Karena kalau aku masuk,” kata Ji-hwan, “aku akan mulai mencari adikku.”
Ji-ho membeku.
“Dan kalau aku menemukannya, aku tidak akan ingat kenapa aku mencarinya. Dan kalau aku tidak ingat kenapa aku mencarinya, aku akan memanggil yang lain untuk membantuku mencari. Dan empat ratus di lembah ini akan masuk ke sekolahmu, pintu demi pintu, mencari anak laki-laki berumur tujuh tahun yang tidak ada lagi di sana.”
Ji-ho tidak bisa bernapas.
“Kamu menahan mereka dari luar,” katanya.
“Sepuluh tahun.”
“Dan malam pengepungan.”
“Itu hari aku kehilangan wajah ibu kita.”
Ji-ho menutup mata.
“Dan malam aula dikurung.”
“Malam itu aku paling tidak bisa menahan mereka. Jadi aku mengurung kalian di dalam, supaya tidak ada yang keluar.”
“Dan kau pikir itu menyelamatkan kami?”
“Aku tidak memikirkannya. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan dengan apa yang masih kuingat.”
Ji-ho membuka mata.
“Kak,” katanya. “Bunuh dia.”
Ji-hwan mengangguk.
“Ya.”
“Itu yang kamu minta dariku.”
“Itu yang kuminta.”
“Kenapa bukan kamu.”
Ji-hwan mengangkat kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya Ji-ho melihat bahwa tangan itu gemetar.
“Karena jarak antara aku dan dia empat bulan, dan jarak antara aku dan pintu gerbangmu seratus meter, dan aku tidak percaya aku bisa berjalan seratus meter tanpa lupa ke mana aku berjalan.”
Hening.
Lalu Ji-ho bertanya, “Bagaimana membunuhnya.”
“Besinya tidak bisa dibuka. Tapi kepalanya bisa.”
“Dia sebesar kamu.”
“Dia lebih besar.”
“Dan dia tidak akan melawan.”
Ji-hwan menatapnya lama.
“Dia akan berbicara,” katanya. “Sampai kamu selesai. Dan kamu harus tidak menjawab.”
Ji-ho mengeluarkan gelang kecil itu lagi.
“Kamu yang membuat goresannya,” katanya.
“Ya.”
“Satu setiap hari.”
“Satu setiap hari.”
“Bukan satu untuk setiap yang selesai.”
Ji-hwan menatapnya dengan cara yang membuat Ji-ho merasa ditilang sesuatu.
“Bukan,” kata Ji-hwan. “Aku tidak menghitung mereka. Aku menghitung sisa aku.”
Ji-ho menunduk, menatap tujuh goresan penuh dan satu setengah di pelat itu.
“Kak,” katanya. “Ada yang harus kutanyakan.”
“Tanyakan.”
“Kenapa kamu tidak pernah pulang.”
Ji-hwan menoleh ke arah sekolah.
Dan dia berkata, “Aku pernah berjanji sesuatu.”
“Aku tahu. 지켜.”
Ji-hwan menatapnya, dan matanya yang jernih itu berkedip satu kali, dan dia berkata,
“Aku tidak ingat isinya. Aku cuma tahu aku belum menepatinya.”
Ji-ho menunggu.
“Aku tahu itu janji tentang kamu. Karena setiap kali aku lupa sesuatu, yang terakhir hilang selalu yang berhubungan dengan kamu. Seolah-olah janji itu yang menahan segalanya, dan setelah janji itu habis, semuanya ikut.”
Ji-ho tidak bisa menjawab.
“Kembalikan gelang itu kepadanya,” kata Ji-hwan.
“Kepada siapa.”
Ji-hwan menatapnya, membuka mulut, dan berhenti.
Dia mencoba lagi.
“Kepada...”
Dan tidak ada yang keluar.
Dia menutup mata, dan menunduk, dan menggenggam kedua tangannya di pangkuannya seperti orang yang kehilangan sesuatu di atas meja dan masih mencarinya dengan tangan walaupun sudah tahu mejanya kosong.
Lalu dia berkata, tanpa mengangkat wajah,
“Tidak ada yang perlu disampaikan.”
Mereka kembali melewati lorong itu.
Kali ini rasanya lebih buruk, karena sekarang Ji-ho tahu apa yang sedang menunduk di kedua sisinya, dan tahu siapa yang menahannya, dan tahu berapa hari lagi.
Sampai di tengah lorong, dia menoleh.
“Besok aku datang lagi.”
“Jangan.”
“Kak...”
“Besok aku tidak akan mengenali wajahmu,” kata Ji-hwan. “Dan kalau kamu berdiri di depanku dan aku tidak mengenalimu, aku akan mulai mencari. Dan kalau aku mulai mencari, kamu tidak akan sempat sampai ke pintu.”
Ji-ho berdiri di sana tanpa bisa bergerak.
Lalu dia berkata, “Aku akan tetap datang.”
Ji-hwan menatapnya.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak disangka Ji-ho.
Dia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Ji-ho, dan berkata dalam bahasa yang sudah sepuluh tahun tidak didengar siapa pun,
“기억해.”
Ingatlah.
Lalu dia menarik tangannya, berpaling, dan menatap ke arah gunung.
Mereka sampai di gerbang kebun dalam keadaan tidak bicara.
Dan dari dalam tembok, terdengar teriakan.
Bukan teriakan minta tolong. Teriakan nama Ji-ho, dipanggil berulang-ulang dari arah dapur, dengan suara Seung-tae.
Ruang di balik dinding gudang dapur itu kosong.
Panel kayunya terbuka penuh, tidak ditutup seperti terakhir kali, dan udara di dalamnya berbau kapur dan kain lama, dan tidak ada apa pun di sana selamat dari debu yang tidak terusik.
Tidak ada sepatu bot.
Tidak ada peta.
Tidak ada selimut.
Tidak ada sisa makanan.
Dae-hyun berdiri di ambang dengan lentera di tangan, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang menghitung ulang sesuatu yang sudah dihitungnya berkali-kali dan tetap tidak mau menjadi benar.
“Seratus sembilan,” katanya.
Ji-ho melangkah masuk dan berjongkok di depan dinding.
Goresan-goresan itu masih di sana. Seratus sembilan garis arang, pendek-pendek, dikelompokkan sepuluh-sepuluh, berhenti pada kelompok kesebelas yang tidak genap.
Dan di bawahnya, ditulis dengan arang yang masih mengelupas, ada satu kata.
Tiga huruf Hangul.
Ji-ho tidak bisa membaca Hangul dengan lancar, tetapi dia mengenali bentuk itu karena sepuluh tahun lalu dia pernah melihatnya ditulis di punggung tangan seorang anak perempuan yang tidak pernah keluar dari ruang bawah.
“Apa ini,” kata Min-jae.
Dae-hyun menjawab tanpa suara.
“수아,” katanya.
Su-a.
Dan di sebelahnya, tertulis satu goresan baru.
Yang ke seratus sepuluh.
Yang tidak dibuat oleh tangan yang sama, karena goresannya panjang, dalam, dan menembus kapur sampai ke bata di baliknya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!