Yang Tidak Menggigit

6 dibaca

A

Bunyi yang paling berbahaya di dunia ini bukan jeritan. Bukan raungan. Bukan besi yang dipukul.

Bunyi yang paling berbahaya adalah tidak ada bunyi sama sekali.

Yoon Ji-ho berhenti di tengah lorong apotek yang sudah sepuluh tahun ditinggalkan. Satu tangannya terangkat, telunjuk dan jari tengah rapat, telapak menghadap ke bawah. Di belakangnya Park Min-jae ikut membeku. Di belakang Min-jae, Jeong Ha-neul menabrak punggung Min-jae dan mengeluarkan suara seperti tikus yang terjepit pintu.

“Maaf,” bisik Ha-neul.

Ji-ho tidak menoleh. Dia menghitung dalam hati.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Pada hitungan ketujuh, bunyi itu datang lagi. Seretan sol sepatu di atas keramik retak, pelan, tidak berirama. Penyeret. Satu ekor. Masih jauh.

Ji-ho menurunkan tangan, lalu mengangkat dua jari dan menunjuk rak obat di ujung lorong. Min-jae mengangguk. Ha-neul tidak bergerak, jadi Ji-ho menoleh dan mengulangi isyarat itu dengan satu tambahan: telapak tangan ditekan ke bawah, pelan. Artinya diam, di sini, jangan bernapas keras-keras.

Anak dua belas tahun itu mengangguk dengan mata terlalu besar untuk wajahnya.

Mereka sudah belasan kali keluar dari tembok. Ha-neul baru tiga kali. Itu bukan kebetulan. Ji-ho sengaja membawanya karena anak itu mulai berjalan sambil menunduk, mulai tidur dengan sepatu, mulai menyimpan roti kering di bawah bantal. Tiga gejala yang sama yang dulu dimiliki Guru Bahasa Korea sebelum dia menggantung diri di kamar mandi lantai tiga pada Tahun Keempat.

Kalau Ha-neul dibiarkan di dalam, anak itu akan mati dengan cara yang lebih pelan daripada digigit.

Min-jae beringsut maju, memapah karung kanvas di punggungnya. Otot bahunya mengganjal kain sampai kainnya mengelupas. Dia sudah tujuh belas, sama seperti Ji-ho, tapi tubuhnya seperti dua tahun lebih tua. Ji-ho pernah bilang itu karena Min-jae terlalu banyak makan nasi dan terlalu sedikit makan pikiran. Min-jae membalas dengan menendang tulang keringnya. Itu minggu lalu.

Rak obat masih separuh utuh. Min-jae mengambil kotak demi kotak dengan dua tangan, memasukkannya ke karung tanpa membaca. Ji-ho menahan lengannya pada kotak ketiga.

“Bukan itu,” bisiknya.

Min-jae menoleh, bingung.

“Seo-yeon minta antibiotik. Bukan vitamin.”

“Mana aku tahu bedanya.”

“Yang tulisannya berakhan -mycin atau -cillin.”

Min-jae menatap kotak di tangannya. Lama. Lalu menyerahkannya begitu saja kepada Ji-ho.

“Kamu bisa baca bahasa asing?”

“Bisa baca hurufnya. Tidak perlu tahu artinya.”

Dari mulut lorong, bunyi seretan itu berhenti. Lalu berganti bunyi lain. Basah. Seperti kain yang diremas di atas lantai berdebu.

Ji-ho mematikan lampu senter dengan telapak tangan.

Gelap total.

Dia mendengar napas Min-jae berubah. Mendengar Ha-neul menahan sesuatu di kerongkongannya. Dan mendengar bunyi basah itu mendekat, melewati rak pertama, lalu rak kedua, tidak pernah lebih cepat, tidak pernah lebih lambat. Penyeret tidak pernah terburu-buru. Itu sebabnya mereka berbahaya. Mereka tidak mengejar. Mereka hanya tidak berhenti.

Ji-ho mengeluarkan pisau dari sarung di betis. Bilah pendek, dua belas senti, diasah sampai tidak mengilat. Senjata yang bagus tidak boleh memantulkan cahaya.

Penyeret itu muncul di ujung rak.

Laki-laki, dulu. Sekarang tinggal bentuknya. Kulitnya kelabu seperti kertas yang ditinggal di luar terlalu lama, bajunya tinggal serat yang menempel di tulang dada. Matanya putih seluruhnya, tanpa bola hitam, tanpa arah. Mulutnya terbuka separuh.

Ji-ho menghitung jaraknya. Dua meter delapan puluh.

Penyeret itu melewatinya.

Tidak berhenti. Tidak menoleh. Bau manusia tidak membuatnya menoleh, karena Penyeret mengejar bunyi, bukan bau, dan ketiga dari mereka tidak mengeluarkan bunyi.

Ji-ho menunggu sampai punggung itu berada sejajar dengan rak keempat, lalu melangkah dua langkah tanpa suara dan menusuk dari belakang. Ujung pisau masuk ke pelipis, menembus tulang yang sudah rapuh seperti kerupuk basah. Penyeret itu jatuh tanpa suara. Kakinya menendang sekali, pelan, seperti orang yang mengusir lalat dalam tidur.

Min-jae menghembuskan napas yang sepertinya ditahannya sejak tadi pagi.

“Selesai,” bisiknya.

Ji-ho tidak menjawab. Dia membersihkan bilah pisau ke baju si Penyeret, berdiri, dan berjalan menuju kasir.

Di situlah dia melihatnya.

Di lantai kasir, di tengah debu setebal jari, ada satu lingkaran kecil yang bersih.

Bukan bekas sapu. Bukan bekas tetesan air. Lingkaran sebesar telapak tangan, debunya tersingkir dengan rapi ke pinggiran, seolah-olah ada benda bundar yang diletakkan di sana, lalu diangkat lagi.

“Ji-ho,” panggil Min-jae pelan. “Ada apa?”

Ji-ho tidak menjawab karena pada saat itu dia melihat benda itu sendiri.

Tiga puluh senti dari lingkaran bersih itu, di atas meja kasir, tergantung seutas gelang.

Gelang perak tipis dengan pelat baja sebesar kuku kelingking.

Jantung Ji-ho berhenti selama satu detak penuh.

Dia mengenal benda itu.

Sepuluh tahun lalu, di tangga darurat gedung SMA, seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menggendongnya dengan satu lengan. Lengan yang satunya menggenggam besi pagar tangga. Lengan itu naik, dan gelang itu melorot, dan anak tujuh tahun di punggungnya melihat ada sesuatu yang terukir di pelat kecil itu.

Dia bertanya apa itu.

Laki-laki itu menurunkannya sebentar, menarik manset sampai menutupi pergelangan, dan berkata, “Jangan bilang Ibu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang Yoon Ji-hwan ucapkan kepada adiknya dengan suara yang masih utuh.

“Ji-ho,” ulang Min-jae. Suaranya mulai berubah. “Kita harus pergi. Sekarang.”

Ji-ho melangkah maju.

Gelang itu tergantung di gagang laci kasir, diikat dengan sehelai kain sobek. Bukan dijatuhkan. Bukan tercecer. Digantung. Seseorang memilih tempat ini, memilih ketinggian ini, memilih kain ini, lalu mengikatnya dengan simpul yang rapi.

Simpul yang dibuat oleh tangan yang masih tahu cara membuat simpul.

Di pelat kecil itu, goresan hurufnya masih bisa dibaca. 구룡. Guryong. Dan di sisi lainnya, lebih kecil, nyaris habis terkikis: 윤지환.

Yoon Ji-hwan.

Ji-ho mengulurkan tangan.

“Jangan,” kata Min-jae.

Tapi Ji-ho sudah menyentuhnya.

Logamnya hangat.

Bukan hangat karena matahari. Apotek ini menghadap utara, jendelanya tertutup tripleks, dan sudah tiga jam mereka tidak melihat cahaya langsung. Logam itu hangat karena baru saja dipegang sesuatu yang hidup, atau baru saja berada di dekat sesuatu yang hidup.

“Ini punya kakakmu,” bisik Min-jae. Dia tidak bertanya. Dia tahu.

Ji-ho membalik pelat itu.

Di bagian dalam, ada goresan baru.

Bukan karat. Bukan goresan karena jatuh. Goresan yang dibuat dengan sengaja, dengan ujung yang tajam, melintang di sisi dalam pelat, sejajar, satu per satu.

Ji-ho menghitungnya.

Tujuh.

Tujuh goresan. Lalu satu goresan lebih panjang yang memotong ketujuh goresan itu.

Seperti orang yang menghitung hari dan memberi tanda pada hari ketujuh.

“Ji-ho,” kata Min-jae lagi, dan kali ini suaranya pecah. “Ada yang datang.”

Ji-ho mendengarnya juga.

Bukan seretan. Bukan langkah berat. Bunyi itu datang dari luar, dari arah jalan aspal, dan bunyinya seperti kuku yang ditekan ke permukaan beton, berulang-ulang, ritmis, terlalu cepat untuk Penyeret.

Terlalu teratur.

Pelari.

Min-jae sudah mengangkat kapak. Ha-neul sudah berada di balik meja kasir, meringkuk dengan tangan menutup mulut.

Ji-ho memasukkan gelang itu ke saku dalam jaketnya. Jarinya tidak gemetar. Sudah sepuluh tahun sejak dia berhenti mengizinkan tangannya gemetar.

“Pegang posisi,” katanya. “Kalau dia masuk, kamu tidak melihatku. Kamu tidak melihat apa pun yang terjadi. Yang kamu lihat cuma pintunya.”

“Apa?”

“Lakukan.”

Bunyi kuku di beton itu semakin dekat.

Lalu berhenti.

Tepat di ambang pintu apotek.

Bayangan itu muncul lebih dulu, memanjang di atas lantai berdebu, lalu menyusul bentuknya. Tinggi. Lebih tinggi dari Ji-ho. Bahunya sempit, kepalanya miring ke satu sisi dengan cara yang salah, seolah lehernya pernah patah dan disambung oleh seseorang yang tidak pernah belajar menyambung leher.

Kulitnya tidak sekelabu Penyeret. Kelabunya masih ada warna di bawahnya. Matanya tidak putih seluruhnya. Masih ada sisa sesuatu yang gelap di tengahnya.

Pelari itu melangkah masuk.

Ji-ho tidak bernapas.

Aturan nomor dua: Pelari buta pada satu target. Kalau dia sudah mengunci seseorang, dia tidak akan mempedulikan yang lain sampai target itu mati. Otaknya tidak bisa menyimpan dua hal sekaligus.

Ji-ho berdiri paling dekat. Kapak Min-jae ada di sebelahnya. Napas Ha-neul ada di belakangnya.

Pelari itu seharusnya menerjang Ji-ho.

Dengan kecepatan yang membuat mereka berdua tidak sempat mengangkat senjata, Pelari itu menutup jarak lima meter dalam dua langkah, berhenti seperempat meter di depan wajah Ji-ho, dan menunduk.

Menunduk.

Wajah itu berjarak sejengkal dari wajah Ji-ho.

Ji-ho mencium baunya. Bukan bau bangkai. Bangkai berbau manis dan lembek. Bau ini berbeda: besi, tanah basah, dan sesuatu yang tajam seperti daun yang diremas.

Pelari itu menatapnya.

Bukan menatap ke arahnya. Bukan menatap titik di dekatnya seperti yang biasa dilakukan zombie. Mata itu bergerak. Mengikuti garis rahang Ji-ho, turun ke leher, naik lagi ke mata, berhenti, bergeser sedikit ke pelipis.

Seperti orang yang memeriksa wajah seseorang untuk memastikan dia mengenalnya.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Min-jae mengangkat kapaknya setinggi bahu.

Pelari itu tidak bereaksi.

Lalu makhluk itu menegakkan kepala, membalikkan badan, dan keluar dari apotek dengan langkah yang sama ritmisnya. Kuku-kukunya kembali berbunyi di atas beton. Makin pelan. Makin jauh.

Hilang.

Tiga orang di dalam apotek itu tidak ada yang bicara selama hampir satu menit.

Lalu Min-jae menurunkan kapak dan berkata, “Itu tadi tidak menggigitmu.”

“Tidak.”

“Pelari tidak pernah melewatkan mangsa. Pelari tidak pernah berhenti. Pelari tidak pernah...”

“Aku tahu.”

“Dia melihatmu, Ji-ho. Dia benar-benar melihatmu.”

Ji-ho tidak menjawab. Dia berjalan ke pintu, berdiri di ambangnya, dan memandang ke arah jalan aspal yang kosong. Melewatinya, di balik pepohonan di lereng yang menurun ke arah lembah, ada sesuatu yang berdiri.

Tegak.

Diam.

Terlalu jauh untuk dikenali wajahnya, tapi cukup dekat untuk mengetahui satu hal: benda itu lebih tinggi dari pohon remaja di sebelahnya, dan dia tidak bergerak meskipun angin sore mengguncang seluruh lereng itu.

Ji-ho berdiri di sana sampai matahari mulai turun.

Di sakunya, gelang itu masih hangat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk