Sekolah

5 dibaca

A

Guryong terlihat dari jalan aspal seperti gigi yang tersisa di rahang yang sudah membusuk.

Beton kelabu empat lantai, pagar besi setinggi empat meter, gerbang ganda yang dilas dari rangka tempat tidur asrama. Di atas gerbang ada papan nama yang masih terbaca sebagian, hurufnya sudah kehilangan cat: 구룡고등학교. Sekolah Menengah Atas Guryong. Sembilan Naga.

Nama yang dulu terdengar megah. Sekarang terdengar seperti lelucon yang tidak lucu.

“Sembilan naga,” gumam Min-jae. “Naganya cuma satu, dan dia sudah mati sepuluh tahun.”

“Dua,” kata Ha-neul pelan.

Mereka bertiga berhenti di titik yang sudah ditentukan, dua puluh langkah dari gerbang. Ada prosedur untuk ini. Prosedur yang ditulis Kim Dae-hyun sendiri dengan tinta dan ditempel di pintu pos jaga, dan prosedur itu tidak pernah diubah sejak Tahun Ketiga.

Satu: identifikasi diri.

Dua: hitung jumlah.

Tiga: buka jaket, putar badan, tunjukkan tidak ada luka gigitan.

Empat: tunggu.

Lima: masuk.

Oh Seung-tae yang berdiri di atas menara jaga. Dia tidak melambai. Dia tidak pernah melambai. Dia hanya menurunkan teropong, menghitung, lalu mengangkat satu tangan.

Gerbang terbuka selebar badan.

“Lima detik,” kata Seung-tae dari atas. Suaranya seperti suara orang yang sedang menahan amarah terhadap dunia. “Kalian lambat dua jam.”

“Ketemu Penyeret di apotek,” kata Ji-ho.

“Berapa ekor.”

“Satu.”

“Hanya satu, lalu kenapa dua jam?”

“Karena kami harus menunggu sampai satu ekor itu lewat.”

Seung-tae menatapnya dari atas menara selama tiga detak. Mata pria itu tidak pernah berkedip cepat. Mantan tentara, kepala jaga Tembok Utara, tiga puluhan, dan Ji-ho sudah lama menyimpulkan bahwa Oh Seung-tae adalah tipe orang yang tidak membunuh karena benci. Dia membunuh karena itu bagian dari pekerjaan, dan pekerjaan harus selesai sebelum makan malam.

“Lain kali bunuh saja,” kata Seung-tae. “Menunggu lebih berbahaya daripada berisik.”

“Di ruang tertutup, menunggu lebih aman.”

Seung-tae tidak menyetujui, tapi dia juga tidak membantah. Dia hanya menurunkan tangan, dan gerbang menutup di belakang mereka dengan bunyi besi yang membuat Ha-neul melompat.

Mereka sudah di dalam.


Dapur umum berada di bekas kantin. Bau bawang goreng dan asap kayu mengalir keluar dari jendela yang separuh ditutup tripleks, dan bagi Ji-ho, bau itu selalu menjadi satu-satunya alasan sekolah ini pantas dipertahankan.

Bukan temboknya. Bukan senjatanya. Baunya.

“Kalian berempat!” teriak Park Sun-ja dari balik panci. “Aku sudah hitung mangkuknya, jadi jangan bilang kalian bawa orang asing!”

“Kami bertiga, Nenek,” kata Min-jae.

“Aku tidak butuh kamu mengajariku berhitung, anak bodoh. Aku menghitung mangkuk sejak kamu masih mengompol.”

Nenek Park berusia tujuh puluhan, tingginya tidak sampai bahu Ji-ho, dan rambutnya diikat dengan karet gelang yang sama selama dia bisa mengingat. Dia mengurus dapur dengan tangan yang bergetar dan mulut yang tidak. Sepuluh tahun lebih tua dari wabah, dan dia masih memanggil semua orang yang berusia di bawah empat puluh dengan sebutan “anak bodoh”.

Ji-ho meletakkan karung di atas meja. “Antibiotik,” katanya. “Tiga kotak.”

Nenek Park mendengus. “Bagus. Mungkin dengan obat itu anak-anak berhenti batuk sampai aku tidak bisa tidur.”

“Batuk itu bukan infeksi, Nenek. Itu debu.”

“Debu tidak membuat orang demam.”

Ji-ho tidak menjawab. Dia mengambil satu mangkuk, mengisi nasi, dan duduk di bangku yang paling dekat dengan pintu. Kebiasaan lama. Duduk yang paling dekat dengan jalan keluar, menghadap pintu, punggung menempel dinding.

Min-jae duduk di sebelahnya dan langsung mencomot dua potong kimchi dari piring Ha-neul.

“Hey.”

“Kamu makan terlalu pelan. Itu mengundang kelaparan.”

“Itu namanya mencuri.”

“Itu namanya distribusi ulang.”

Ha-neul menatap piringnya dengan duka yang terlalu dalam untuk ukuran kimchi dua potong. Lalu dia menatap Ji-ho, mencari pembelaan.

Ji-ho menatap piringnya sendiri. “Kalau kamu protes, kamu kehilangan tiga potong berikutnya. Makan.”

Anak itu makan.

Momen-momen seperti ini, Ji-ho tahu, adalah alasan mengapa mereka masih waras. Bukan harapan. Bukan pidato. Kimchi yang direbut dan nenek galak yang berteriak tentang mangkuk. Dunia luar bisa dipenuhi tiga ratus mayat hidup yang sedang belajar cara memanjat, tetapi asalkan masih ada orang yang marah karena kehilangan dua potong kimchi, maka masih ada sesuatu yang tersisa untuk diperjuangkan.

Dia makan tanpa menatap saku jaketnya.

Gelang itu masih di sana. Dia bisa merasakannya melalui kain.


Klinik berada di bekas ruang kelas 2-A. Meja-meja sudah disingkirkan, diganti empat ranjang lipat dan satu lemari obat yang dikunci dengan rantai sepeda. Dua lampu minyak menyala di sudut.

Han Seo-yeon sedang menulis sesuatu di buku tulis ketika Ji-ho masuk.

Dia delapan belas tahun, dan dia adalah orang yang paling tidak bisa dibohongi di seluruh Guryong. Bukan karena dia pintar membaca kebohongan, tapi karena dia tidak pernah bertanya dua kali. Dia bertanya sekali, menunggu jawaban, dan kalau jawabannya bohong, dia hanya mencatatnya dan membiarkan kebohongan itu hidup sendirian sampai mati dengan sendirinya.

“Antibiotik,” kata Ji-ho, meletakkan tiga kotak di meja.

Seo-yeon menoleh. Tangannya masih memegang pensil.

“Berapa lama kamu mencarinya?”

“Tiga jam.”

“Kamu bilang dua jam kepada Seung-tae.”

“Kepada Seung-tae aku bilang apa yang perlu dia dengar.”

Seo-yeon menurunkan pensilnya. Lalu dia berdiri, mengambil kotak itu, memeriksa tanggal kedaluwarsa dengan hati-hati di bawah lampu, dan menyusunnya di rak paling atas.

“Cefixime,” katanya. “Dua kotak masih bisa dipakai. Yang satu sudah lewat tiga tahun.”

“Buang.”

“Tidak bisa dibuang. Nanti aku pakai untuk yang paling parah.”

“Seo-yeon.”

“Ji-ho.” Dia menoleh, dan matanya tidak sedang membicarakan obat. “Kamu pucat.”

“Aku selalu pucat.”

“Kamu pucat berbeda hari ini.”

Ji-ho diam. Perawat Im sedang tertidur di ranjang paling ujung, mulutnya terbuka, dan Ji-ho tahu perempuan tua itu bisa bangun kapan saja dan mendengarkan tanpa terdengar bangun.

“Pelari di apotek,” kata Ji-ho akhirnya. “Dia tidak menyerangku.”

Seo-yeon menunggu. Dia tidak terkejut. Dia tidak mengerutkan kening. Dia hanya menunggu, dan itu membuat Ji-ho lebih gugup daripada kalau dia berteriak.

“Dia berhenti,” lanjut Ji-ho. “Melihat wajahku. Lima belas detik. Lalu pergi.”

“Mungkin dia tidak lapar.”

“Pelari selalu lapar.”

“Mungkin kamu tidak berbau seperti mangsa.”

“Seo-yeon.”

Dia meletakkan pensilnya sejajar dengan tepi meja. Rapinya menyebalkan.

“Aku belajar dari Perawat Im bahwa kalau ada sesuatu yang melanggar aturan, ada tiga kemungkinan,” katanya. “Satu, aturannya salah. Dua, pengamatannya salah. Tiga, sesuatu yang baru sedang terjadi dan belum punya nama.”

“Mana yang menurutmu?”

“Yang ketiga. Dan itu yang paling menakutkan.”

Dia menatap Ji-ho, dan untuk sesaat yang sangat pendek, dia mengulurkan tangan dan menyentuh pergelangan Ji-ho. Hanya dua jari, hanya untuk mengukur denyut, profesional, tidak lebih dari dua detik.

“Denyutmu delapan puluh empat,” katanya. “Kamu tidak terluka. Tapi kamu ketakutan.”

“Aku tidak ketakutan.”

“Kamu ketakutan, dan kamu tidak mau bilang kenapa.”

Dia menarik tangannya kembali. Tidak ada yang lain. Tidak ada yang diucapkan. Tidak ada yang dijanjikan. Hanya denyut delapan puluh empat yang sudah dicatat, dan itu, Ji-ho sadari, adalah bentuk perhatian yang paling berat yang pernah diterimanya.

“Tidur yang cukup,” kata Seo-yeon, kembali ke bukunya. “Besok kamu giliran jaga.”


Ruang Kepala Sekolah ada di lantai dua. Pintunya dari kayu solid, satu-satunya pintu kayu utuh yang tersisa di gedung ini.

Kim Dae-hyun duduk di balik meja dengan lampu minyak yang sumbunya dipangkas pendek karena minyaknya harus dihemat. Dia lima puluhan, rambutnya sudah kelabu di pelipis, kacamatanya diikat dengan isolasi di jembatan hidungnya. Dulu dia wakil kepala sekolah. Sekarang dia memegang hidup seratus empat puluh orang di tangannya, dan dia melakukannya dengan cara yang sama seperti dulu dia memegang kedisiplinan: dengan kertas, aturan, dan hukuman yang dijatuhkan tanpa naik nada.

“Laporan,” katanya tanpa mendongak.

Ji-ho melaporkan. Obat, rute, jumlah Penyeret, tidak ada korban, tidak ada luka.

“Satu Pelari,” tambahnya.

Dae-hyun mendongak.

“Kalian bertemu Pelari dan tidak ada yang mati.”

“Tidak ada yang mati.”

Dae-hyun meletakkan penanya. “Jelaskan.”

“Kami bersembunyi. Dia lewat.”

“Itu bukan kebiasaan Pelari.”

“Tidak.”

Dae-hyun menatapnya lama. “Dan menurutmu kenapa?”

Ji-ho sudah menyiapkan jawaban ini sejak tadi sore di apotek. Dia memilih kalimatnya dengan hati-hati, karena kalimat yang salah akan membuatnya tidak boleh keluar tembok lagi selama sebulan, dan kalimat yang terlalu jujur akan membuatnya dipindahkan ke dapur sampai umur dua puluh.

“Gerombolan di lembah bergerak berpola,” katanya. “Bukan mengelompok. Berbaris. Aku melihatnya tiga hari berturut-turut dari tembok.”

Dae-hyun tidak menyentuh kertas di depannya. “Banyak hal bergerak berpola. Air mengalir berpola.”

“Air tidak berhenti bersamaan.”

Ruangan itu diam.

Di luar, seorang anak berlari melewati koridor, tertawa tentang sesuatu. Suara itu terasa asing di gedung ini, seperti burung yang tersesat ke dalam gua.

“Sudah sepuluh tahun, Yoon Ji-ho,” kata Dae-hyun pelan. “Sepuluh tahun kita bertahan karena kita tidak mengarang cerita tentang mereka. Mereka mengejar. Mereka menggigit. Mereka mati kalau otaknya hancur. Itu saja. Kalau kita mulai mengarang, orang-orang mulai berharap, atau mulai panik. Dua-duanya membunuh lebih cepat daripada gigitan.”

“Ya.”

“Kamu tidak setuju.”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Kamu tidak perlu bilang. Wajahmu bicara, dan itu salah satu kebiasaan burukmu.”

Dae-hyun membuka laci, mengeluarkan selembar kertas, membubuhkan tanda tangan yang tidak bisa dibaca, dan menyodorkannya.

“Jatah besok untuk rombonganmu ditambah setengah. Karena obatnya. Dan karena kamu membawa Ha-neul.”

Ji-ho mengambil kertas itu. Kertas itu adalah mata uang tertinggi di Guryong: selembar tanda tangan yang bisa ditukar dengan nasi.

“Terima kasih.”

“Pergi tidur.”

Ji-ho berbalik, lalu berhenti di ambang pintu.

“Satu hal lagi.”

Dae-hyun sudah menunduk lagi.

“Guru Baek,” kata Ji-ho. “Guru Fisika. Dulu.”

“Kenapa dia?”

“Tidak ada. Cuma ingat.”

Dae-hyun tetap tidak mendongak. Tetapi pensil di tangannya berhenti di tengah satu huruf, dan tidak bergerak selama Ji-ho menutup pintu.


Koridor bawah lebih gelap daripada koridor atas karena lampu minyak di sana hanya dinyalakan selama dua jam setiap malam.

Ji-ho melewatinya dalam keadaan menyala, jarang sekali. Malam ini lampu itu menyala, dan itulah sebabnya dia melihatnya.

Pintu Ruang Bawah.

Pintu baja, dicat ulang tiga kali, dengan gembok baru yang dipasang setiap enam bulan. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi yang terlihat. Dan di bawah pintu itu ada celah selebar jari, gelap, tanpa cahaya apa pun dari dalam.

Ji-ho berhenti dua meter darinya.

Dia sudah berhenti di titik yang sama sejak umur sembilan tahun. Tidak pernah lebih dekat.

Dari balik pintu, dia mendengar napas.

Bukan angin. Bukan tikus. Napas. Pelan, dalam, teratur, dan terlalu besar untuk manusia.

Ji-ho mundur satu langkah.

“Yoon Ji-ho.”

Dae-hyun berdiri di ujung koridor. Tidak tahu sejak kapan.

“Ruang bawah terlarang,” kata Dae-hyun. Suaranya datar, tanpa marah, dan justru itu yang membuatnya menakutkan. “Isinya arsip lama. Nilai ujian sepuluh tahun, buku pelajaran, dan jamur. Tidak ada yang boleh masuk karena jamurnya beracun, dan tidak ada yang perlu masuk karena tidak ada yang berguna di sana.”

“Ya.”

“Ulangi.”

“Ruang bawah terlarang. Isinya arsip lama.”

“Bagus.”

Dae-hyun berjalan mendekat, berhenti di depan pintu itu, dan meletakkan telapak tangannya di atas baja. Tangannya tidak gemetar. Dan dia tidak menoleh ketika dia berkata, “Sekarang pergi tidur.”

Ji-ho pergi.

Tetapi dia berhenti di tikungan, di luar pandangan, dan menunggu.

Dia mendengar langkah Dae-hyun menjauh. Lalu berhenti. Lalu kembali.

Lalu dia mendengar suara yang lain.

Bukan napas dari balik pintu. Suara ini berbeda. Suara laki-laki paruh baya yang berbicara terlalu pelan untuk ditangkap kata-katanya, dengan nada yang tidak pernah Ji-ho dengar dari mulut Kim Dae-hyun.

Nada memohon.


Tembok Utara pada jam dua dini hari adalah tempat paling sepi di dunia.

Ji-ho naik tanpa izin. Dia melakukannya dengan cara yang dia pelajari pada umur sebelas: lewat tangga darurat luar, melompati dua anak tangga yang berderit, mendarat dengan tumit lebih dulu.

Seung-tae tidak ada di menara. Gilirannya sudah selesai. Yang ada hanya lentera yang dibiarkan menyala, dan Min-jae yang tertidur dengan mulut terbuka di bangku kayu.

Ji-ho membiarkannya tidur.

Dia berjalan ke tepi tembok, meletakkan siku di atas beton, dan memandang ke lembah.

Biasanya lembah itu berisi kekacauan. Penyeret bergerak lambat tanpa arah, menabrak satu sama lain, menumpuk di parit, membusuk di tempat mereka berdiri. Itu pemandangan yang sudah sepuluh tahun ia lihat, dan pemandangan itu selalu memberinya rasa aman yang aneh, karena kekacauan tidak punya rencana.

Malam ini lembah itu tidak kacau.

Mereka berbaris.

Satu baris panjang yang mengular mengikuti kontur lembah, dari jalan aspal di timur sampai ke kaki bukit di barat. Jarak antar mereka seragam. Arah hadap mereka seragam. Dan barisan itu tidak bergerak.

Ji-ho menghitung. Dua ratus. Tiga ratus. Lebih.

Lalu, tanpa perintah yang bisa ia lihat, tanpa bunyi apa pun, barisan itu berhenti sepenuhnya. Serentak.

Tiga ratus kepala menoleh ke utara.

Ke arah sekolah.

Ke arah Tembok Utara.

Ke arah titik tempat Ji-ho berdiri.

Ji-ho tidak bergerak. Dia sudah belajar pada umur delapan bahwa bergerak adalah kesalahan paling mahal di dunia ini.

Lalu dari tengah barisan, sesuatu mengangkat satu lengan.

Dan tiga ratus mayat hidup itu duduk.

Bukan jatuh. Bukan merosot. Duduk. Punggung tegak, tangan di pangkuan, kepala mendongak, dalam keheningan total yang tidak pernah Ji-ho dengar dari gerombolan mana pun.

Seperti jemaat yang menunggu khotbah.

Ji-ho berdiri di sana sampai lentera di sebelahnya padam sendiri karena minyaknya habis.

Di sakunya, gelang perak itu sudah dingin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk