Dengung pendingin udara tersengar sama di lobi apartemen Sentra Jaya. memotong udara sore yang lengket dan berbau asap knalpot. Cakra berdiri di depan meja lobi, ia menempelkan ponsel ke telinga kanan. Suara bising dari jalan raya di depan Apartemen Sentra Jaya menenggelamkan nada sambung dari speaker ponsel.
“Halo? Pak Edi?” Cakra meninggikan suara ketika sambungan terhubung. Jari telunjuknya menutupi lubang telinga kiri. “Saya sudah di depan minimarket lobi. Ya. Kaus hitam.
“Ya, ya, tunggu lima menit. Saya jalan dari parkiran belakang.” Suara seorang pria paruh baya menyahut dari balik speaker ponsel di antara batuk kering dan deru sepeda motor
Cakra menurunkan ponsel. Layarnya meredup, sepasang mata dan rambut hitam yang sedikit berantakan terpantul di layar ponselnya.
Seorang pria perut buncit yang dibungkus kemeja batik berjalan tergesa-gesa membelah lobi. Langkah sepatunya bergema di lantai keramik. Tangannya memegang seikat kunci dengan gantungan plastik merah berbentuk angka 412.
“Mas Cakra?” Pria itu berhenti di depan Cakra, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. “Maaf, agak lama. Tadi ngurus meteran air di lantai dua dulu.”
Cakra mengangguk, menyalami tangan pria itu. “Enggak apa-apa, Pak.”
“Yuk, langsung naik aja. Liftnya cuma satu yang jalan, yang sebelah kiri mati dari minggu lalu.” Edi berbalik, memberi isyarat dengan kepalanya.
Cakra menyelipkan ponsel ke saku celana jins. Langkahnya berjalan pelan di belakang Edi.
Pintu lift terbuka, aroma parfum dan bau karat bercampur di udara. Edi menekan tombol angka 4.
“Unit 412 ini sebenarnya masih atas nama penyewa lama, Mas. Namanya Bayu.” Edi berbicara tanpa menoleh, matanya menatap angka digital merah di atas pintu yang merayap naik lambat. “Udah seminggu dia nggak ada kabar. Katanya sih kabur ke kampung karena ada masalah.” Ia menoleh ke Cakra. “Tapi uang sewa bulan ini sudah dibayar lunas sampai akhir bulan. Makanya, begitu Mas Cakra nyari kamar yang bisa langsung ditempati hari ini dengan harga miring, saya langsung kepikiran unit ini. Sisa uang sewa tinggal dioper ke saya aja, buat jaminan.”
Lift berdenting. Pintu bergeser lambat. Cahaya lampu neon putih di ujung lorong berkedip setiap beberapa detik.
Mereka melewati deretan pintu hijau tua. Suara televisi yang menyiarkan berita sore terdengar samar menembus dari salah satu unit.
Edi berhenti di depan pintu bernomor 412. Ia memasukkan kunci, memutarnya dua kali.
“Nah, silakan masuk.” Edi mendorong pintu, lalu melangkah mundur. “Kunci cadangannya cuma ada satu ini. Kalau hilang, Mas harus ganti slot sendiri ya. Listrik pakai token, sisa sekitar sepuluh ribu di dalam. Air lancar.
Cakra melangkah melewati ambang pintu. Matanya menatap kasur busa diletakkan di atas lantai sudut ruangan. Di dekat jendela, sebuah meja kayu kecil bersandar pada dinding.
“Ya sudah, saya tinggal dulu ya, Mas. Kalau ada apa-apa, telepon aja.” Edi menepuk bahu Cakra sekali, lalu berjalan kembali menuju lorong.
Suara langkah kaki Edi perlahan menghilang dari koridor.
Cakra berjalan ke arah jendela tunggal yang menghadap ke area parkir belakang dan deretan jemuran kain penghuni lain. Ia melepas kaus hitamnya yang mulai lembap oleh keringat, melemparkannya ke atas kasur, lalu berjalan menuju kamar mandi di sudut dekat pintu masuk.
Sepuluh menit kemudian, Cakra keluar mengenakan celana jins panjangnya kembali. Air menetes pelan ke bahunya dari ujung rambutnya.
Matanya menyusuri setiap sudut kamar. Asbak kaca penuh puntung rokok dan korek api kosong tergeletak di atas meja. Kakinya bergerak ke arah lemari. Tangannya menarik pintu lemari. Ia menarik selembar kertas dari bawah tumpukan pakaian. Pupil matanya bergerak membaca tagihan hutang atas nama Bayu yang sudah jatuh tempo satu bulan lalu.
Brak!
Pintu apartemen terbuka paksa dari luar, membentur dinding bagian dalam dengan suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan. Tiga pria melangkah masuk membelah debu yang beterbangan.
Cakra menoleh cepat ke arah pintu, pupil matanya membesar menatap pria pendek paling depan. Kemeja flanel terbuka, tato naga hitam tergambar di dada. Dua pria di belakangnya lebih besar, mengenakan jaket kulit hitam dengan ekspresi wajah yang datar seperti batu.
Pria bertato melangkah maju, matanya menyapu tubuh Cakra dari atas ke bawah. “Bayu. Bagus. Lo gak kemana-mana.”
Alis Cakra mengernyit, menatap pria itu, lalu beralih ke pintu yang kini menggantung rusak. “Kalian salah kamar. Nama gue Cakra.”
Pria bertato itu terkekeh. Ia melangkah mendekati meja kayu, mengambil asbak kaca, lalu menjatuhkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. “Gue gak peduli nama lo siapa di KTP palsu lo. Nicholas nyari lo dari kemarin. Duit lima ratus juta dari putaran malam Rabu kemarin mana?”
“Gue baru pindah ke sini satu jam yang lalu.” Jari telunjuk Cakra menunjuk tas di atas kasur. “Cek agen properti di bawah kalau nggak percaya.”
Salah satu pria berjaket kulit di belakang melangkah maju, meraih tas di atas kasur. Tangannya masuk ke dalam tas. Beberapa helai pakaian bersih Cakra jatuh di atas pecahan asbak dan debu semen.
“Woy, apa-apaan ini.” Cakra melangkah maju.
“Lo diem aja!” Pria besar kedua menahan langkah Cakra.
“Gak ada duit di sini, Bang,” Pria besar pertama menoleh ke pria bertato setelah membongkar pakaian dari dalam tas.
“Ya nggak ada duitlah bang. udah gue bilang baru pindah.” Tangan kanan Cakra bergerak ke belakang pinggangnya.
“Mau ngambil apaan lo?” Tangan pria besar menahan lengan Cakra.
“Ngambil dompet bang.” Cakra menoleh ke pria besar di sampingnya. “Lo liat aja KTP sama SIM gue.”
Pria besar kedua menarik dompet dari saku belakang celana Cakra. Ia mengeluarkan kartu identitas dan SIM lalu menyerahkan ke pria bertato.
“Bagus juga KTP palsu lo.” Pria bertato membalik kartu identitas Cakra. “Mirip KTP asli.” Ia melempar dua kartu itu ke depan kaki Cakra.
“Emang asli bang. Sumpah demi apapun nama gue Cakra bukan bayu.”
“Bacot lo.” Pria bertato kembali menatap Cakra. Kerutan di dahinya mengencang. “Gua udah ngintai apartemen ini dari dua hari lalu, bajingan. Enggak ada orang lain yang masuk atau keluar dari kamar ini selain lo hari ini. Lo pikir gua bisa lo kibulin pake cerita pindahan?”
“Tapi gue beneran bukan Bayu.”
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di perut Cakra, tubuhnya membungkuk. Cakra terhuyung ke belakang, punggungnya membentur meja kayu hingga kaki meja itu patah.
Cakra berbaring di lantai, tangan kanannya menyentuh perutnya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. “Sumpah bang gue bukan Bayu.”
“Bawa dia,” perintah pria bertato, berbalik menuju pintu yang rusak. “Kalau dia masih mau akting bego, biar orang-orang di kantor Nicholas yang bikin dia inget namanya sendiri.”
Dua pria besar mencengkeram ketiak Cakra, menyeret tubuhnya melewati pintu dan koridor apartemen. Ujung celana Cakra menyapu pecahan kaca asbak, meninggalkan goresan tipis di kulit pergelangan kakinya.
Mereka menyeret Cakra turun lewat tangga darurat yang gelap. Kepala Cakra terkulai ke bawah. Suara langkah tiga pasang sepatu bot bergema, bercampur dengan suara kereta komuter di luar gedung.
Cakra mengangkat kepalanya sedikit, matanya menatap minibus hitam dengan kaca film pekat di area parkir belakang gedung. Dua pria itu melepar tubuh Cakra ke dalam ruang sempit yang berbau karpet karet lembap dan bensin oli.
Bruk.
Pintu bagasi dibanting menutup dari luar. Kegelapan mengurung Cakra. Di dalam sana, di antara guncangan mobil yang mulai melaju kasar meninggalkan kompleks apartemen, Cakra memejamkan mata, mendengarkan detak jantungnya sendiri di balik kegelapan.
Mobil berhenti setelah satu jam perjalanan, melalui guncangan jalanan yang berlubang.
Pintu bagasi dibuka kembali secara kasar. Cahaya putih dari lampu lampu sorot neon menusuk mata Cakra. Ia ditarik keluar. Aroma kabel terbakar dan bau besi bercampur di udara.
Cakra diseret melewati deretan meja panjang. Ia mengangkat kepalanya, belasan anak muda duduk di depan layar monitor komputer, headset tersemat di atas kepala. Grafik angka hijau dan diagram berputar di layar monitor. Suara ketukan keyboard yang cepat mengisi ruangan, bersahutan dengan dengung mesin pendingin server raksasa di sudut ruangan.
Mereka mendorong Cakra hingga berlutut di tengah ruangan berlantai karpet merah tebal. Di depan Cakra, sebuah meja kerja mahoni besar berdiri dengan tiga monitor melengkung yang menyala.
Seorang pria muda berusia akhir dua puluhan duduk di kursi kulit. Ia mengenakan kemeja putih tanpa dasi, lengan kemejanya digulung rapi sampai siku.
Nicholas Mahardika menatap tablet di tangannya, memeriksa barisan angka transaksi digital yang masuk ke sistem payment gateway miliknya.
“Jadi ini orangnya?” tanya Nicholas tanpa menoleh.
Pria bertato yang membawa Cakra maju satu langkah. “Iya, Bos. Kita tangkap di unit 412 Sentra Jaya. Dia sempat ngaku-ngaku namanya Cakra dan pura-pura baru sewa kamar.”
Nicholas menurunkan tabletnya. Ia menoleh ke Cakra. “Bayu. Dua hari lalu sistem gateway kita bocor di server lapak judol wilayah barat. Tiga puluh akun premium ditarik saldonya ke rekening penampung tak dikenal. Dan lo, sebagai operator teknis, hilang di malam yang sama.”
Cakra menatap balik mata Nicholas. “Harus berapa kali gue bilang si. Gue bukan Bayu.”
Nicholas menghela napas pendek, ia menoleh ke arah salah satu pria berjaket kulit di dekat pintu. “Dia masih punya sepuluh jari.” Ia meraih kembali tabletnya. “Patahin satu per satu sampai dia ingat di mana dia menyembunyikan kunci enkripsi rekening penampung itu.”
Sepuluh jari Cakra bergetar di atas lututnya. Kepala Cakra menunduk menatap serat karpet. Keringatnya menetes dari kening, melewati pipi, jatuh di bahunya.
Nicholas masih menatap tabletnya, jemarinya menggulir pelan di atas layar. “Kalian tunggu apa lagi? bawa dia keluar.” Ia menoleh ke arah Joni, pria bertato berdiri di belakang Cakra. Tangannya bertumpu pada sabuk celana. Bayangan tubuh Baron dan Juki melebar dari belakang.
Cakra mengangkat kepala. “Bang... gue beneran bukan Bayu.” Suara Cakra tertahan di tenggorokan, bahunya turun beberapa sentimeter lebih rendah. “Sepuluh jari gue dipatahin pun, gue nggak akan bisa kasih tahu di mana si Bayu atau... apa tadi? Penadah enkripsi? Gue nggak ngerti, Bang. Sumpah.”
Nicholas beralih ke tablet di tangan kirinya. Jari telunjuknya bergerak perlahan di atas permukaan kaca. Deretan baris transaksi digital terpantul dari kacamata lebarnya.
“Lo udah periksa omongan nih bocah, Jon?” tanya Nicholas, nadanya datar.
Joni maju setengah langkah, matanya menatap sudut meja mahoni tempat ponsel Nicholas tergeletak. “Kalo dari KTP sama SIM-nya sih namanya Cakra, Bos. Alamatnya dari luar kota.”
Nicholas meletakkan tablet di atas meja, ia menoleh ke Cakra yang membungkuk di lantai, matanya menyipit. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghela napas panjang.
“Bawa dia. Bikin dia ngaku.” Nicholas mengangkat dagunya pelan. “Dan kalo dia beneran bukan Bayu... dia yang harus bayar utang si Bayu. Lima ratus juta, plus bunga keterlambatan minggu ini.”
Kelopak mata Cakra melebar, pupil matanya membesar. “Eh, ntar dulu, Bang! Kok jadi gue yang bayar utang si Bayu? Kenal juga nggak! Ini salah paham, Bang!”
Telapak tangan Baron menghantam bagian belakang kepala Cakra, Kepala Cakra tersentak ke depan, dahinya hampir menyentuh ujung sepatu Joni.
“Diem lo! Atau mau sepuluh jari lo patah sekarang di sini?” Baron mendesis dari belakang telinga Cakra.
Cakra memejamkan mata, rahang kirinya bergetar. Bahunya merosot. “I... iya Bang, iya.” Suaranya mengecil, bergetar tipis di ujung kalimat. “Tapi gimana caranya gue bayar utang lima ratus juta? Gue baru pindah ke kota ini, Bang. Belum kerja. Uang di dompet gue tadi aja cuma sisa seratus ribu...”
Nicholas menatap Cakra yang gemetar. Sudut bibir kanannya terangkat. Tangannya terulur, meraih kembali tablet dari atas meja kerja. “Kasih dia kerjaan. Biar dia bisa bayar utangnya. Bawa dia keluar.”
“Siap, Bos,” sahut Baron, Joni, dan Juki hampir bersamaan.
Baron dan Joki mencengkram erat ketiak Cakra. Joni menggeser pintu kaca, deru mesin pendingin server raksasa dan kepulan asap rokok dari belasan operator muda bercampur di udara.
Cakra menatap jemari operator bergerak cepat di atas keyboard. Ia melangkah pelan diapit Baron dan Juki, ujung kakinya sesekali menumbuk kaki meja operator.
Mereka keluar dari ruang server. Cakra mendongak, menatap menatap kamera pengawas di sudut langit-langit koridor. Pintu besi bagian belakang hanggar didorong kasar dari dalam. Aroma solar dan debu semen bercampur di udara. Mata Cakra menyipit, ia mengangkat tangannya, menghalangi cahaya matahari yang menyinari wajahnya.
Di seberang kompleks gudang, di balik lindungan bayangan daun pohon beringin tua yang menjulur ke aspal, sebuah minibus abu-abu gelap terparkir. Di dalam kabin yang dingin oleh embusan AC, Kirana Putri duduk tegak di balik kemudi. Topi baseball hitamnya ditarik rendah hingga batas alis, menyembunyikan lilitan rambutnya yang terikat rapi di belakang leher. Matanya menatap lurus jendela bidik kamera DSLR yang bertumpu di bantalan dasboard mobil.
Kirana menoleh ke layar tablet di atas paha kirinya. Cahaya biru redup dari layar tablet menyinari wajah putihnya. Ia menatap halaman log data internal milik Unit Siber Mahardika Group yang telah diunduh dua jam lalu.
Pintu besi di ujung gang belakang terbuka. Kirana beralih ke kamera DSLR. Joni melangkah keluar lebih dulu, Baron dan Juki menyusul di belakangnya, mengapit tubuh Cakra.
Ibu jari Kirana memutar cincin fokus lensa. Gambar di jendela bidik menajam, ia menekan tombol shutter.
Kirana menurunkan kamera dari dasbor mobil. Matanya menatap rambut hitam basah Cakra lalu beralih ke tanda lahir di tulang selangka di layar tangkapan kamera. Mata Cakra menatap permukaan jalanan.
Kirana meraih tablet di paha kirinya. Jari telunjuknya bergerak cepat, menggulir barisan foto wajah dari daftar operator hingga tim logistik malam hari. Alis Kirana mengernyit, lalu mengangkat kepalanya. Mata menyipit menatap Cakra dari kejauhan.
Rombongan Joni bergerak menembus celah pagar kawat yang rusak, menggiringnya menyusuri jalan setapak menuju warung kopi semi permanen. Bangunan semen beratap terpal biru di pojok pangkalan truk.
Kirana meletakkan tabletnya di kursi menumpang. Tangannya bergerak turun ke laci dasbor mobil, mengeluarkan perangkat HT hitam. Ibu jarinya menekan tombol Push-to-Talk di sisi kiri badan alat hingga lampu indikator kecil di atasnya menyala merah konstan.
“Ada orang baru masuk ke wilayah Nicholas,” bisik Kirana, suaranya rendah di dalam kabin mobil yang senyap. “Segera pantau.”
Suara statis berkerisik pendek memotong sunyi sebelum sebuah suara berat menyahut dari balik speaker kecil. ”Laksanakan, Ndan.”
Kirana memasukkan kembali HT ke dalam laci dasboard mobil. Ia memutar kunci kontak mobil ke posisi off. Tangannya bergerak naik, membetulkan letak lidah topinya.
“Kamu siapa?” Kirana menatap lurus ke arah Cakra.
Dari balik kegelapan kaca film, Kirana menatap Cakra didorong hingga terduduk di atas bangku kayu panjang di bawah terpal warkop. Juki berdiri di dekat tiang penyangga, Joni mengulurkan selembar uang kertas kepada pria paruh baya di balik termos es besar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!