Sol sepatu Cakra menyapu tanah berpasir pangkalan truk, jejaknya memanjang tertinggal di belakangnya. Dua cengkeraman di bawah ketiaknya mengendur, tubuhnya meluncur jatuh, mendarat di atas bangku kayu panjang. Lembaran terpal biru di atas kepalanya bergerak naik turun, diikat tali rafia.
Joni melangkah melewati batas terpal paling ujung, menarik kursi plastik hijau, lalu duduk. Kedua kakinya menjulur lurus ke depan. Di sampingnya, Baron mengulurkan tangan lebar yang dipenuhi bulu-bulu lebat ke dalam etalase kaca berkabut minyak, mengambil dua potong bakwan goreng.
Juki menyandarkan punggungnya di tiang bambu penyangga warkop, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. “Kopi empat ya.” Ia menoleh ke pria paruh baya di belakang meja warung.
Cakra duduk diantara mereka bertiga, bahunya menegang. Sisa keringat di wajahnya mengering oleh embusan angin, bercampur dengan debu semen yang beterbangan dari roda-roda truk.
Mata Cakra bergerak lambat, menyisir permukaan meja, lalu menoleh ke punggung tangan Joni yang dipenuhi tato naga hitam.
“Bang.” Suara Cakra bergetar di antara deru mesin kompresor dari bengkel ban di sebelah warkop. “Ini gue beneran disuruh bayarin utang si Bayu?”
“Lo denger kata Bos tadi kan?” Ibu jari Juki bergerak naik di atas layar. Pantulan cahaya putih menyinari janggut dan kumis tipisnya. “Dan lo tahu siapa dia kan?”
Truk kontainer beroda sepuluh melintas di depan warkop, tiang bambu bergetar pelan, suara gemuruh dan benturan keras roda memotong pembicaraan.
Cakra menatap bergantian jari-jari Juki lalu menoleh ke arah wajah Joni. “Enggak, Bang. Kan baru ketemu tadi. Mana gue tahu dia siapa.”
Joni menyipitkan mata, menatap keramaian pangkalan di depan warung kopi.
Baron menyambar pisang goreng dari balik etalase, ia menggigit separuh bagian. “Ntar juga lo tahu.” Suara kunyahan terdengar samar. Jari telunjuknya mengarah ke arah dada Cakra. “Sekarang lo kerja dulu. Bayar utang lo.”
Cakra mengangkat tangan kanannya. “Utang apa, Bang? Dari tadi di kamar kan gue udah bilang... gue bukan Bayu.”
Ibu jari Juki menekan tombol power ponselnya. Ia berdiri, menoleh ke arah Cakra. “Bos enggak mau tahu.”
Kepala Cakra menunduk, ia menatap bayangan tubuhnya memanjang di atas lantai warkop. Cahaya jingga di langit luar mulai tertutup kepulan asap hitam tebal dari knalpot truk yang sedang melakukan tes mesin.
“Ini beneran bang?” Cakra mendongak lagi.
Joni meraba saku kemeja flanelnya, ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek, menarik sebatang dengan bibirnya, lalu memantik api dari korek gas. Lidah api membakar ujung tembakau. “Menurut lo tadi kita ajak jalan-jalan?” Ia mengembuskan asap pertamanya lewat hidung. “Lo diculik naik bagasi, goblok. Gak usah nanya yang jelas-jelas kelihatan.”
Cakra memutar lehernya, menatap Baron membersihkan sisa tepung gorengan dari sela-sela kuku jarinya. “Bang, masa iya sih? Lima ratus juta?”
Baron mengunyah sisa pisang goreng terakhirnya, jakunnya bergerak naik-turun. “Iya. Lo sekarang miskin lima ratus juta.”
Cakra terdiam. Matanya menatap lurus ke arah kaleng kerupuk putih yang sudah berkarat di sudut meja.
“Gue baru dateng dari kampung udah punya utang lima ratus juta.” bisik Cakra.
Dari balik tirai kain lusuh yang membatasi area dapur kecil warkop, seorang pria paruh baya bertubuh kurus keluar membawa selembar nampan logam. Empat gelas kopi berdiri di atas nampan, asap putih terbal mengepul dari dalam gelas. Tumpukan pisang goreng baru tertata di atas piring kecil.
Pria itu meletakkan gelas pertama di depan Joni, lalu berturut-turut di depan Baron, Juki, dan terakhir di depan Cakra. Ia meletakkan nampan di bawah kolong meja, lalu berbalik melangkah masuk ke balik meja warung.
Cakra mengulurkan jari-jarinya, melingkari bagian tengah gelas kaca di depannya.
“Bang.” Matanya menatap permukaan kopi hitam yang bergetar setiap kali ada truk melintas di jalan utama. “Kerjaannya halal kan?”
Joni baru saja menarik napas untuk hisapan rokok berikutnya ketika kalimat Cakra selesai. Asap putih mendadak keluar berantakan dari mulut dan hidungnya bersamaan dengan suara batuk kering yang tertahan. Ia menepuk dadanya dua kali, lalu menatap Cakra, matanya sedikit berair.
“Goblok.” Joni mematikan ujung rokoknya yang masih panjang ke dalam asbak kaleng. “Orang yang mau matahin sepuluh jari lo emang bakal ngasih kerjaan halal?”
Cakra mengangkat tangan kirinya, menunjuk lurus-lurus menembus celah terpal ke arah atap seng hanggar raksasa milik Nicholas yang terlihat mencolok di antara bangunan liar sekitarnya. “Ya... kali aja. Siapa tahu bisnis ekspedisi pengiriman barang.”
Tangan Baron terhenti di udara, Ia menoleh lambat ke arah Cakra, alisnya mengernyit. “Ekspedisi apaan? Ekspedisi jari?”
Cakra membuka telapak tangan kanannya lebar-lebar di atas meja. “Kan tadi kata Bos lo di dalam, mau dikirim satu-satu kalau gue gak ingat kuncinya.”
Suara tawa pendek keluar dari hidung Baron. Di sudut lain, Juki yang sejak tadi menempel di tiang bambu ikut menyeringai. Joni menggelengkan kepala, mengambil gelas kopinya lalu meniup permukaannya hingga uap panasnya terbagi dua.
Baron kembali mengambil tahu isi lalu mencelupkannya ke dalam mangkuk kecil berisi sambal kacang. “Gua laper banget, asli.” Ia mengunyah, lalu menoleh ke Joni. “Dari kemarin siang belum ketemu nasi. Gara-gara nungguin nih bocah di parkiran Sentra Jaya, gua cuma ganjal roti kempes dari minimarket.”
Juki mendengus, meletakkan ponselnya di atas meja. “Lo mending. Motor gua jatuh tempo besok Senin. Kalau duit insentif dari server barat belum cair malam ini, ya siap-siap aja orang lising datang ke kosan.”
Cakra menoleh cepat ke arah Juki. “Lo masih dikejar kolektor lising bang?” Satu alis Cakra terangkat. “Kalian kan tukang tagih juga.”
Juki menoleh ke Cakra, mata mereka bertemu, lalu beralih ke gelas kopi. “Iya juga ya.”
“Sama aja lo.” Joni menyandarkan kedua sikunya ke meja, asap dari batang rokok baru merayap di antara jari-jarinya. “Anak buah baru masuk tiap minggu, tapi kelakuannya makin lama makin enggak ada yang bener. Si Bayu kabur, sekarang gua harus jagain nih bocah biar gak ikutan ilang.”
Mata Cakra bergerak mengikuti arah gerak tangan Baron mengambil sebatang rokok dari bungkus milik Joni. Ia menarik selembar tisu putih murah dari dalam kotak plastik di tengah meja. Ia meraba saku celana jinsnya, menarik pulpen kecil.
Ia meletakkan lembaran tisu di atas meja. Pulpen bergerak pelan di atas tisu, menulis deretan angka. “Kalau gaji gue lima juta sebulan...”
Juki melirik dari samping, sebelah alisnya terangkat melihat ujung pulpen Cakra. “Terus?”
“Seratus bulan.” Cakra menarik satu garis lurus di bawah angka tersebut. “Delapan tahun lebih.”
Baron menyeruput kopi hitamnya dari bibir gelas, bunyi slurp panjang memenuhi jeda obrolan. Ia meletakkan gelas lalu mengusap bibirnya. “Belum bunga.”
Gerakan pulpen Cakra berhenti. Ujung tinta hitamnya menekan satu titik tisu hingga bolong. “Hah?”
Joni mengangkat jari telunjuk kanannya yang menguning, lalu mengarah tepat ke wajah Cakra. “Belum makan.”
“Belum pajak.” Juki menambahkan dari sudut.
“Belum mati,” timpal Baron pendek, lalu kembali meraih gorengan berikutnya dari piring.
Cakra menatap lubang kecil di atas tisu kasarnya beberapa detik. Tetes keringat dari pelipisnya jatuh di atas angka yang ia tulis, coretan tinta di atas tisu melebar. Ia meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke bilah bambu di belakang bangku kayu.
“Bang...” Cakra memandang wajah Baron yang sibuk mengunyah. “Gue boleh milih dipatahin jarinya aja sekarang?”
Baron melepaskan sisa gorengannya kembali ke piring. Ia tertawa keras, suaranya menggema menembus terpal biru. Beberapa supir truk yang berjalan di luar warkop menoleh sekilas.
Telapak tangan Joni memukul permukaan meja, gelas-gelas kopi di atasnya bergetar, cairan hitam tumpah sedikit ke atas taplak meja.
Tawa joni merendah, lalu menarik kursi plastiknya mendekat ke meja. Matanya menyipit, menatap ke arah rahang Cakra. “Lo asli mana sih?”
Cakra menegakkan posisi duduknya, menarik napas panjang, lalu meringis. “Jawa Tengah, Bang. Baru turun dari bus ekonomi tadi siang di terminal pulo gadung. Langsung naik angkot ke Sentra Jaya karena dapet info kamar murah dari internet.” Tangannya menekan perutnya.
Baron menggelengkan kepala, tangannya bergerak meraih korek gas. “Berarti rekor hidup lo aman di kota ini cuma berapa jam, hah?” Ia memantik api, bara merah menyala di ujung rokoknya.
Cakra menoleh ke langit luar matanya menatap awan abu-abu gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, cahaya kuning pudar memotong kabut debu pangkalan. “Kurang dari dua jam, Bang. Belum sempat buka isi tas, pintu kamar udah jebol.”
Juki menyandarkan kepala ke tiang bambu, Ia melipat kedua tangannya di depan dada jaket kulitnya yang kaku. “Lumayan. Biasanya orang baru kena masalah pas udah sebulan di sini. Entah kecopetan, atau ketipu calo kerjaan. Lo sejam udah langsung punya utang setengah miliar.”
Cakra tersenyum tipis, ia mengangkat gelas kopinya yang sudah menghangat, meneguk sisa kopi hingga menyisakan endapan bubuk hitam di dasar kaca. Ia memejamkan mata. “Ahhh bang, lo nggak kasih gula kopinya?” Ia menoleh ke pria paruh baya di belakang meja warung.
Pria paruh baya mengangkat bahunya. “Gulanya kaya biasa yang diminum bang Joni, Bang.”
“Pahit, bang.” Cakra meraih botol mineral di atas meja warung.
Aroma sate kambing dari gerobak yang baru buka di seberang jalan merayap masuk, menyamarkan bau solar dan cengkeh. Di atas bangku kayu, bahu Cakra bergerak naik-turun mengikuti napasnya yang mulai stabil.
Bzzzz... Bzzzz...
Dengung keras memotong sisa tawa Baron. Ponsel Joni bergetar, bergerak memutar beberapa derajat.
Asap putih mengepul pelan dari mulut Baron, bergerak pelan di depan wajahnya. Juki menegakkan posisi berdirinya dari tiang bambu. Tangan Joni bergerak cepat meraih ponselnya.
Joni menempelkan ponselnya ke telinga kanan, kepalanya sedikit menunduk. “Iya, Bos.”
Suara samar terdengar dari balik speaker ponsel. Joni mengangguk pelan mengikuti suara dari seberang telepon.
“Siap, Bos. Dimengerti.” Rahang Joni mengeras, ia menatap Baron, lalu beralih ke Juki, berhenti di Cakra.
Jemari Joni menggegam erat ponselnya, lalu memasukkan ke saku kemeja. “Udah selesai ngopi?” tanya Joni.
Baron menurunkan korek gasnya, memasukkannya kembali ke saku celana. “Kenapa?”
“Bos manggil.” Joni berdiri dari kursi plastiknya.
Juki mengangkat kepala, matanya melirik sekilas ke arah Cakra yang masih duduk di bangku kayu. “Buat bocah ini?”
“Iya,” sahut Joni pendek.
Cakra menunduk, menatap dasar gelas kacanya. Uap tipis di atas permukaan kopi hitam hilang sepenuhnya, cairan dingin memantulkan bayangan lampu neon warkop berkedip di atas kepala mereka.
Ia menoleh ke tiga orang yang berdiri di depannya, merapikan jaket dan sabuk celana mereka. Baron mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram bahu Cakra.
Cakra berdiri mengikuti tarikan Baron. Mereka melangkah keluar dari warung kopi, menembus kabut asap sore Jakarta yang mulai turun menyelimuti pangkalan truk.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!