⋆༺𓆩✿𓆪༻⋆
Seminggu berlalu, Kelly mulai terbiasa dengan ritme kehidupannya di Jepang. Hari-harinya dipenuhi kuliah, studio desain, perpustakaan, dan Central Café. Entah kenapa, tempat itu perlahan menjadi favoritnya. Selain kopinya yang enak, suasananya selalu berhasil membuatnya lebih mudah menemukan inspirasi saat menggambar.
Pagi itu, Kelly datang sekitar pukul delapan lewat lima belas menit. Seperti biasa, ia memesan secangkir cappuccino, lalu memilih duduk di dekat jendela. Baru beberapa menit membuka buku sketsa, Kelly merasakan seseorang melewati mejanya.
Ia mendongak.
Pria itu lagi, pikirnya
Orang yang minggu lalu terus memandanginya. Kebetulan? Namun, Kelly memilih mengabaikannya.
Di sisi lain, pria itu juga sempat terdiam sesaat.
Dia lagi.
Tanpa banyak berpikir, ia mengambil tempat duduk yang sama seperti minggu lalu. Kemudian ia memesan americano tanpa gula kemudian mengeluarkan Jurnal penelitiannya. Sebuah rutinitas yang nyaris tidak pernah berubah.
Kelly kembali menggambar sambil sesekali menyeruput cappuccino. Beberapa kali ia merasa ada tatapan yang mengarah kepadanya. Namun setiap kali menoleh, pria itu selalu tampak sibuk membaca jurnal di hadapannya.
Perasaanku saja mungkin.
Sekitar lima belas menit kemudian, dua pria lain datang menghampiri meja pria tersebut.
“Kau di sini lagi?” pria berkacamata itu langsung duduk tanpa permisi.
Sementara salah seorang pria lain dengan rambut cepak hanya terkekeh kecil. “Min-woo, akhir-akhir ini kau rajin sekali ke kafe,”
Kelly yang sedang membalik halaman buku sketsa tanpa sengaja mendengar nama itu.
Min-woo. Jadi, itu namanya.
Meski terkadang mereka berbicara dalam bahasa Korea, Kelly menangkap nama pria itu dengan cukup mudah.
Di antara ketiganya, Lee Min-woo memiliki penampilan yang paling sulit untuk diabaikan. Tubuhnya tinggi dengan bahu yang lebar dan postur yang tegap. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara garis wajahnya terlihat tegas dan tajam.
Tatapannya memiliki kesan dingin. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan fitur wajahnya begitu seimbang hingga membuatnya terlihat tampan bahkan ketika ekspresinya nyaris tidak berubah.
Ada aura dingin dan elegan yang melekat pada dirinya. Min-woo bukan tipe pria yang perlu berusaha untuk menarik perhatian. Bahkan ketika hanya mengenakan kemeja putih sederhana, ia tetap mudah terlihat di antara kerumunan.
Namun, ketampanannya juga membuatnya terlihat sedikit sulit didekati.
Tanpa bermaksud mendengarkan, Kelly menangkap sebuah nama dari pria yang ia temui hampir seminggu hari ini.
“Americano di sini memang seenak itu?” goda pria dengan rambut cepak itu.
“Aku rasa bukan itu alasannya. Dia sedang menyembunyikan sesuatu,” kata pria berkacamata itu.
Kedua pria itu adalah sepupu Lee Min-woo.
Pria berkacamata itu bernama Lee Min-jun. Tingginya tidak setara dengan Min-woo, meskipun ia tetap tergolong tinggi untuk ukuran pria. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara kacamata dengan bingkai tipis dan bentuk bulat membingkai wajahnya.
Min-jun memiliki wajah yang tampan dengan fitur yang lebih lembut. Ia tidak terlihat feminin, tetapi memiliki aura soft yang membuatnya tampak lebih muda dan mudah didekati. Senyumnya juga lebih mudah muncul, membuatnya terlihat jauh lebih hangat dibandingkan Min-woo.
Sementara itu, pria dengan rambut cepak di sampingnya adalah Kang Dong-min.
Dong-min memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan kedua sepupunya, dengan bahu yang lebar dan postur yang lebih berisi. Rambutnya dipotong sangat pendek dan rapi, hampir menyerupai potongan rambut seorang tentara.
Wajahnya terlihat lebih tegas dan sedikit garang. Dengan alis yang kuat dan tatapan yang tajam, Dong-min bisa memberikan kesan seperti seseorang yang tidak mudah diajak mencari masalah.
Namun, kesan itu akan segera berubah ketika ia tersenyum. Matanya akan ikut tersenyum, membuat wajahnya yang semula terlihat garang tiba-tiba memiliki sisi yang sedikit lucu dan lebih mudah didekati.
Di antara ketiganya, Min-woo memiliki aura yang paling dingin dan elegan. Min-jun terlihat lebih lembut, sementara Dong-min memiliki penampilan paling maskulin dan kuat. Meskipun memiliki karakteristik yang berbeda, ketiganya sama-sama memiliki wajah yang sulit untuk tidak diperhatikan.
Min-woo menyesap kopinya sebentar sebelum kemudian menjawab, “lumayan.”
Kedua pria itu saling bertukar pandang. Mereka jelas tidak percaya.
Lee Min-woo tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan, bukan kopinya yang membuat Lee Min-woo kembali ke kafe itu.
Melainkan rasa penasarannya pada bahasa yang diucapkan seorang perempuan Indonesia beberapa hari lalu.
Waktu menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima menit.
Tidak lama, Kelly membereskan buku-buku dan memasukkan tabletnya ke dalam tas selempangnya yang berwarna cokelat.
Ia kemudian berdiri untuk meninggalkan kafe.
Tanpa disadarinya, sepasang mata terus mengikuti langkahnya.
Hari itu, langit tampak cerah. Hangatnya sinar matahari seolah berpadu dengan angin yang berembus sepoi-sepoi. Kelly berjalan menuju ruang pertemuan seminar dengan senyum yang terukir cantik pada wajahnya.
Ia sudah siap dengan presentasi hari ini.
Beberapa hari sebelumnya, ia berkali-kali membuka dan menutup laptopnya, mencari berbagai sumber untuk tesisnya. Namun, kali ini, ia siap menghadapi presentasi pertamanya di Universitas Hoshizora.
Sesampainya di ruangan, ia langsung mempersiapkan materi presentasinya dan meminta bantuan beberapa temannya untuk menyalakan proyektor. Sambil menunggu Sensei datang, ia mengikat semua rambutnya ke belakang, lalu mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri sejenak.
Presentasi dimulai.
“Selamat pagi semuanya.” Kelly menyapa dengan bahasa Inggris.
“Terima kasih atas waktunya. Judul yang saya persiapkan untuk tesis saya adalah Strategi Arsitektural dalam Perancangan Hunian Tahan Bencana di Kawasan Rawan Gempa,” jelasnya.
Gambar demi gamba ria lampirkan, teori demi teori ia sampaikan. Tidak terasa, dua puluh menit sudah berlalu.
“Baik, apakah ada pertanyaan?”
“Mungkin ada yang ingin bertanya lebih dulu?” tanya Sensei.
Yamakoto mengangkat tangannya.
“Apakah Anda sudah mempertimbangkan software yang akan digunakan dalam perancangan ini?”
“Untuk saat ini, saya masih mencoba mempertimbangkan dua software berdasarkan rekomendasi Sensei, PALMA software dan ATEBS software,” jelasnya.
Beberapa murid bertanya dengan rasa ingin tau yang tinggi. Kelly berhasil menjawab semua pertanyaan yang diberikan dengan baik dan cermat.
“Baik, apakah sudah tidak ada pertanyaan?” tanya Sensei.
Semua orang mengangguk kecil. Tanpaknya, sudah tidak ada pertanyaan dari mereka.
“Karena sudah tidak ada pertanyaan. Saya akan mengajukan satu pertanyaan.” Sensei menoleh kapada Kelly. “Jika strategi yang anda tawarkan membutuhkan biaya konstruksi yang lebih tinggi, bagaimana Anda memastikan bahwa desain tersebut tetap dapat diterapkan pada masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas?” tanya Sensei.
Kelly sempat hening beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab, “untuk saat ini, saya perlu merancang setidaknya satu bangunan untuk dapat mendapatkan estimasi biaya terendah. Setelah itu, baru saya dapat memberikan jawabannya.”
Irikawa Sensei mengangguk kecil, ia memainkan pena yang ada di tangannya dengan lembut. “Baik, kalau begitu silakan persiapkan terlebih dahulu, kemudian temui saya apabila sudah ada hasilnya.” Sensei tersenyum. “Kerja bagus, Kelly-san.”
“Terima kasih, Irikawa Sensei.” Kelly menjawab dengan puas.
“Untuk minggu kamis besok, giliran presentasi dari Yamakoto-san.”
Semua orang mereggangkan tubuh. Inoue berjalan ke arah Kelly.
“Kerja bagus!” kata Inoue dengan senyumnya.
“Ah… terima kasih Inoue-san, aku lelah sekali,” kata Kelly.
“Kita makan siang di kantin?” tanya Imamura memotong.
“Boleh!” Kelly semangat.
Waktu menunjukkan dua belas kurang lima tujuh belas menit. Mereka kembali ke lab untuk kemudian beristirahat sejenak. Tak lama, Kelly, Inoue, Imamura, Yamakoto, Jose, dan Ahmed berjalan menuju kantin untuk makan bersama.
Selain Central Café, kantin merupakan salah satu tempat yang paling disukai Kelly di Universitas Hoshizora. Bukan hanya karena pilihan makanannya yang beragam, tetapi juga karena hampir semua yang ia butuhkan tersedia di sana––hidangan pembuka, hidangan utama baik itu mie mau pun nasi dengan berbagai macam lauk, hingga beragam hidangan penutup seperti es krim, pudding, dan buah-buahan.
Semuanya tersusun rapi dan terlihat begitu bersih, membuat Kelly selalu membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan pilihannya.
Salah satu hal yang paling ia sukai adalah ocha dan the lemon dingin yang bisa diisi ulang secara gratis. Bagi Kelly, itu adalah alasan sederhana yang cukup untuk membuatnya betah berlama-lama di sana.
Dengan pilihan makanan yang begitu banyak, suasana yang bersih, dan the lemon dingin yang bisa diminum sepuasnya, kantin itu perlahan menjadi salah satu tempat favorit Kelly di kampus.
Melihat Kelly tersenyum manis sembari menikmati hidangan di hadapannya, tatapan tajam seorang pria yang duduk di sudut kantin perlahan melunak. Tanpa disadari, sudut bibirnya pun terangkat tipis.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!