04. Central Café

0 dibaca

A

𓆩𓆪


Tiga minggu berlalu sejak hari pertama Kelly menginjakkan kaki di Universitas Hoshizora.

Perlahan, ritme hidupnya mulai terbentuk. Hari-harinya diisi oleh kelas studio yang padat, tumpukan tugas desain, malam-malam yang dihabiskan di perpustakaan, dan satu kebiasaan baru yang tidak pernah ia rencanakan: Central Café.

Setiap pagi sebelum kelas dimulai, Kelly selalu menyempatkan diri membeli secangkir cappuccino. Entah karena kopinya memang enak atau karena suasana kafe itu membuat pikirannya jauh lebih tenang.

Pagi itu, seperti biasa, ia tiba beberapa menit lewat pukul delapan.

Barista yang sudah mulai mengenalnya tersenyum ramah. “Seperti biasanya, kan?”

Kelly terkekeh pelan, “Rupanya kamu masih mengingatnya, ya?”

“Ya, satu cappuccino ya.” Kelly menambahkan.

“Tentu saja. Satu cappuccino akan segera siap.” Barista itu tersenyum ramah sambil mulai menyiapkan pesanannya.

Kelly mengangguk kecil sembari menunggu pesanannya selesai dibuat. Baru saja ia hendak mengambil dompet, bel pintu kafe kembali berbunyi.

Barista yang sama kembali tersenyum. “Selamat pagi, Min-woo.”

“Selamat pagi.” Min-woo kembali menjawab barista itu dengan senyum yang minim.

“Yang biasanya, kan? Americano tanpa gula,” katanya dengan ramah.

“Ya, tentu saja.” Min-woo kembali menjawab. Matanya mulai menyisir sudut tempat ia biasa bekerja.

Di sisi yang lain, Kelly yang berdiri tak jauh dari meja kasir tanpa sadar menoleh. Jadi, Namanya memang Min-woo, pikirnya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan digulung hingga siku. Sebuah ransel hitam tergantung di bahu kirinya, sementara tangan kanannya membawa beberapa lembar jurnal penelitian.

Tampilannya terlihat sederhana, namun selalu tampak rapi dan elegan. Kelly segera mengalihkan pandangan ketika Min-woo mulai berjalan menuju meja favoritnya. Kenapa aku malah memperhatikan...

Ia membawa americano-nya dan berjalan menuju meja dekat jendela. Tak lama kemudian, aroma khas americano mulai tercium. Kelly tidak perlu melihat. Ia tahu siapa yang baru saja duduk beberapa meja di belakangnya.

Di sisi lain ruangan, Kang Dong-min menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang. “Aku serius capek.”

Sedangkan, Lee Min-jun meletakkan nampan berisi roti dan kopi di atas meja dengan tenang. “Ya.. Profesor Mori benar-benar tidak kenal waktu.”

Min-woo hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jurnal di depannya.

Dong-min mengernyit. “Kau senyum?” memecah lamunan Min-woo.

“Hm?” jawab Min-woo

“Aneh.” Dong-min kembali menjawab dengan perasaan bingung. Min-jun ikut menatap sepupunya. “Belakangan ini kau sering datang paling pagi,” tambah Min-jun.

“Kebetulan.” Min-woo menjawab dengan singkat seolah tidak ada hal yang mengganggunya.

“Hampir setiap hari?” tanya Min-jun lagi.

“Kebetulan,” jawabnya lagi.

Dong-min menggeleng pelan. “Aku nggak percaya, pasti ada sesuatu yang membuatmu terus menerus datang ke café ini,”

Min-woo menyesap kopinya. “Terserah.”

Jawaban singkat itu justru membuat kedua sepupunya semakin curiga. Namun, mereka memilih mengalihkan pembicaraan ke hal lain—tentang penelitian, jadwal presentasi, hingga kemungkinan mereka dikirim ke luar negeri bulan depan.

Kelly yang sedang menggambar hanya menangkap beberapa potongan percakapan.

“...Indonesia...”

“...tiga bulan...”

“...kolaborasi laboratorium...”

Ia tidak terlalu memedulikannya. Baginya, itu hanyalah obrolan mahasiswa pascasarjana yang sama sekali tidak berkaitan dengannya.

Hari-hari berikutnya berlalu hampir dengan pola yang sama. Kelly datang. Min-woo datang. Mereka duduk di meja masing-masing. Sesekali saling melihat. Sesekali berpura-pura tidak melihat. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan.

Namun, anehnya, ketika salah satu datang sedikit lebih lambat dari biasanya, yang lain akan tanpa sadar melirik ke arah pintu masuk.

Hanya sekilas, sebelum ia kembali berpura-pura sibuk.


☕️☕️☕️

Suatu pagi, Kelly datang lebih awal. Jam baru menunjukkan pukul delapan lewat lima. Central Café masih cukup lengang. Ia memilih meja dekat jendela seperti biasa, lalu membuka buku sketsa di hadapannya.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Pensil di tangannya mulai bergerak perlahan. Mungkin hari ini dia tidak datang. Kelly berpikir dalam lamunannya. Namun, baru saja ia hendak melanjutkan gambar, bel pintu kembali berbunyi.

Refleks Kelly mengangkat kepala. Lee Min-woo masuk sambil sedikit membungkukkan badan kepada barista. Tanpa sadar, Kelly mengembuskan napas pelan. Oh... ternyata datang. Ia langsung mengerutkan kening. Astaga, kenapa aku malah memperhatikan dia?

Kelly buru-buru kembali fokus pada buku sketsanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu, Min-woo yang baru menerima kopinya sempat melirik ke arah meja dekat jendela. Perempuan itu sudah lebih dulu datang. Entah mengapa, sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Hanya sesaat, nyaris tidak terlihat.

Sekitar pukul setengah sepuluh, ponsel Min-woo bergetar. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah serius.

Professor Mori.

Ia segera mengangkat telepon. “Ya, Profesor,” jawabnya. “Baik, saya mengerti,” sahutnya lagi. “Terima kasih,” kata terakhir sebelum ia mengakhiri telponnya.

Min-woo terdiam beberapa saat.

Dong-min menoleh. “Ada apa?”

Min-woo menatap cangkir kopinya selama beberapa detik sebelum menjawab, “Penelitian di Indonesia dimajukan.”

“Kapan berangkat?” tanya Min-jun yang duduk di hadapannya.

“Minggu depan.” Min-woo menjawab dengan datar. Suasana meja mereka mendadak hening. Min-woo mengangguk pelan.

Lalu.. tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju ke meja dekat jendela. Ia masih melihat Wanita itu hanyut dalam gambarnya.

Sama sekali tidak menyadari, bahwa minggu depan, seseorang yang hampir setiap pagi berada di Central Café itu tidak akan datang lagi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk