05. Empty Seat

1 dibaca

A

──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──


Senin pagi.

Seperti biasa, Kelly melangkah menyusuri jalan setapak yang dinaungi guguran bunga sakura menuju Central Café. Udara pagi masih menyisakan dingin yang lembut, membuatnya tanpa sadar merapatkan cardigan tipis yang membalut tubuhnya sebelum perlahan mendorong pintu kaca kafe itu.

“Selamat pagi.” Sapaan ramah dari barista yang kini mulai akrab dengannya menyambut begitu ia masuk. “Seperti biasa?” sahutnya lagi.

Kelly mengangguk kecil. “Iya, satu cappuccino.” Kelly menjawabnya dengan senyum.

“Baik. Segera saya siapkan.”

Sembari menunggu pesanannya, pandangan Kelly berkelana tanpa tujuan yang jelas.

Meja di dekat rak majalah... kosong.

Meja di sisi air mancur kecil ditempati oleh dua mahasiswa yang tengah bercakap pelan.

Dan meja di sudut itu... kosong.

Kelly mengernyit tipis. “Belum datang mungkin,” gumamnya lirih.

Tak lama kemudian ia menerima cappuccinonya, lalu melangkah menuju meja dekat jendela yang hampir selalu dipilihnya setiap pagi. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan... Tak ada samar aroma americano yang biasa tercium dari beberapa meja di belakangnya.

Dua puluh menit berlalu.

Kelly tenggelam dalam sketsa sebuah paviliun kayu bergaya tradisional Jepang yang memenuhi halaman buku sketsanya. Sesekali ia mengangkat kepala, mendengar bunyi lonceng kecil di pintu kafe yang terus berbunyi setiap kali seseorang datang dan pergi.

Mahasiswa silih berganti memenuhi ruangan.

Namun...

Tak satu pun adalah orang yang tanpa sadar tengah ditunggunya.

Mungkin ada kelas pagi, pikirnya, sebelum kembali menunduk dan melanjutkan gambarnya.

Kelly berusaha untuk tidak terlalu larut pada pikirannya akan pria itu.

Bzz...Bzz...

Inoue-san Calling

Kelly mengangkat dengan semangat dan berbicara dalam bahasa Inggris.

“Halo, selamat pagi. Ada apa?”

“Sore nanti, aku mau pergi ke onsen baru dekat Daejo Park. Mau ikut nggak?” tanya Inoue di ujung ponselnya.

“Hmm.. boleh deh. Aku belum pernah.” Kelly menjawab dengan semangat.

“Oke deh. Nanti bareng ya.”

Mereka kemudian mengakhiri panggilan telponnya.

Hari ini begitu cerah. Kelly mengangkat wajahnya dan tersenyum, seolah menikmati keindahan pagi ini.

Namun, entah mengapa, hatinya terasa sedikit tidak tenang. Pandangannya sempat tertuju pada kursi di sudut kafe yang hari itu kosong. Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Hari ini, Kelly hanya memiliki dua kelas saja––pukul setengah sebelas dan pada pukul tiga sore. Setelah selesai kelas, seperti perjanjian pagi tadi, ia menemui Inoue di depan gerbang kampus untuk bersepeda ke onsen baru bernama Zen Onsen.

“Sudah siap?” tanya Inoue dalam bahasa Inggris.

“Siap!” jawab Kelly singkat.

Mereka bersepeda kurang lebih dua puluh menit hingga akhirnya sampai di Zen Onsen.

“Ah... aku tidak sabar,” kata Inoue dengan senyum lebarnya.

“Aku juga!”

Mereka kemudian berjalan menuju lobi. Nuansa kayu yang hangat menghiasa area lobi onsen itu. Samar lampu yang memantul di lantai kayu menambahkan nuansa alam yang sejuk dan memenangkan.

“Ah... aku suka tempat ini,” gumam Kelly lirih.

Sementara Inoue sibuk berbahasa Jepang dengan kasir.

“Hari ini aku yang traktir!” Inoue bersemangat.

“Eh, tidak usah.” Kelly kemudian merogoh dompetnya.

“Jangan. In ikan pertama kalinya buatmu. Jadi, ini hadiah,” jelasnya lagi.

“Ah... terima kasih banyak ya.” Kelly tersenyum.

Mereka kemudian berjalan menuju sisi kanan bangunan, area yang menandakan bagian untuk wanita. Sementara itu, sisi kanan digunakan sebagai kiri untuk pria.

Begitu masuk, Kelly menemukan sebuah lorong panjang yang dipenuhi loker. Ruangan itu memiliki nuansa cokelat muda yang hangat, dengan deretan loker yang tertata rapi di sepanjang dinding.

Sebelum masuk, masing-masing dari mereka telah menerima sebuah karet gelang dengan kunci loker yang tergantung di salah satu ujungnya. Selain digunakan untuk mengikat rambut, karet itu juga berfungsi sebagai kunci untuk membuka loker mereka. Tujuannya, agar kunci dapat terus tergantung di tangan atau rambut mereka. Menurut Kelly, ini adalah ide yang cerdas.

Inoue menunjukkan loker milik Kelly. “Ini loker kamu.”

Kelly mengangguk kecil. Ia lalu memasukkan kunci ke dalam lubang loker dan membukanya.

Di dalamnya terdapat dua buah handuk. Satu berukuran besar dan satu lagi berukuran lebih kecil.

Kelly baru saja hendak mengambil salah satu handuk ketika Inoue berkata,

“Lepas semua bajumu di sini. Kemudian masukkan ke dalam loker.”

Kelly langsung menoleh. “Apa?”

“Bajumu,” Inoue memajukan dagunya, seolah ingin menunjuk pakaian Kelly.

Kelly menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. “Semua?”

Inoue mengangguk. “Iya. Kamu tidak boleh masuk ke dalam onsen dengan pakaian apa pun.”

Kelly terdiam. “Oh.”

Baru sekarang ia benar-benar memahami aturan tempat itu.

Di belakangnya, dua orang wanita perlahan mulai melepaskan pakaian mereka. Semua pakaian mereka.

Mata Kelly langsung melebar.

Oh... oke...

Ia sama sekali tidak menyangka dengan aturan ini. Namun, karena sudah terlanjur datang, Kelly akhirnya mengikuti instruksi Inoue.

Dengan sedikit malu, ia menggunakan handuk besar untuk menutupi tubuhnya. Namun, setelah melihat ukurannya, Kelly segera menyadari bahwa handuk itu ternyata tidak sebesar yang ia bayangkan.

Hah? ini tidak cukup besar untuk menutupi semuanya..., wajah Inoue seketika bingung. Namun, ia buru-buru berjalan mengikuti Inoue menuju area pemandian air panas itu.

“Handuk besar ini digunakan setelah mandi,” jelas Inoue. “Kalau sudah masuk ke area pemandian, kamu tidak boleh membawanya. Letakkan di keranjang itu.”

Kelly menatapnya dengan wajah semakin bingung. “Jadi... aku harus benar-benar masuk tanpa membawa apa pun?”

Inoue mengangguk. “Betul sekali.”

Kelly menarik napas panjang. “Ini benar-benar berbeda dari yang kubayangkan.”

Inoue tertawa kecil. “Tenang saja. Semua orang di sini juga melakukan hal yang sama.”

Setelah sampai di area mandi, Inoue menunjukkan tempat untuk membersihkan tubuh.

Sebelum masuk ke kolam air panas, mereka harus membersihkan tubuh terlebih dahulu. Di sepanjang area tersebut terdapat beberapa tempat duduk dan pancuran yang tertata rapi. Tersedia juga semua perlengkapan mandi di setiap area mandi dekat kursi.

Kelly duduk dan mulai membersihkan tubuhnya seperti yang diarahkan Inoue.

Setelah selesai, mereka membilas tubuh masing-masing sebelum akhirnya berjalan menuju kolam air panas.

Begitu tubuhnya perlahan masuk ke dalam air, Kelly mengembuskan napas panjang. “Astaga...”

Inoue melirik puas, seolah ia tahu bahwa teman yang perlahan menjadi teman dekatnya ini akan menyukainya.

Rasa hangat langsung menyelimuti tubuhnya.

Tanpa disadarinya, seluruh tubuhnya yang selama ini terasa tegang perlahan menjadi lebih rileks.

Ia tidak menyangka bahwa air panas dapat membuat tubuhnya terasa seringan ini.

“Bagaimana?” tanya Inoue.

Kelly menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. “Ini... lebih enak dari yang kubayangkan.”

Inoue tersenyum. “Sudah kubilang.”

Mereka tidak banyak berbicara setelah itu. Mereka hanya duduk dengan tenang, menikmati air panas yang menyelimuti tubuh mereka.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu terakhir dipenuhi kelas, tugas, studio, dan berbagai hal baru yang harus ia sesuaikan, Kelly merasa pikirannya benar-benar kosong.

Tidak ada tugas.

Tidak ada presentasi.

Tidak ada deadline.

Hanya air hangat dan suasana tenang.

Setelah selesai, Kelly kembali ke ruang loker dan mengenakan pakaiannya.

Saat keluar, Inoue sudah menunggunya sambil membawa dua botol susu dingin.

“Ini,” katanya sambil menyerahkan salah satunya kepada Kelly.

Kelly menerima botol itu. “Apa ini?”

“Susu dingin setelah onsen.”

Kelly menatap botol susu tersebut. “Oh...”

“Aku selalu meminumnya setelah onsen. Rasanya lebih enak setelah berendam di air panas.”

Kelly tertawa kecil. “Baiklah. Aku akan percaya padamu.”

Ia membuka botol tersebut dan menyesapnya.

Beberapa detik kemudian, Kelly mengangguk. “Oke... ini memang enak.”

Inoue tersenyum puas. “Aku bilang juga apa.”

Setelah puas dengan kegiatan mandi air panas, mereka memutuskan untuk makan ramen bersama.

“Satu ramen ayam dengan kuah shoyu, ya.” Inoue berkata dalam bahasa Jepang kepada pelayan itu.

“Satu ramen ayam dengan kuah miso.” Kelly juga berkata dalam bahasa Jepang.

“Wah, kamu sepertinya sudah belajar banyak ya.”

“Iya dong, aku ikut kelas bahasa Jepang gratis yang diadakan oleh kampus setiap hari Rabu dan Jumat.” Kelly menjelaskan.

“Oh, aku baru tau ada program itu.”

“Sangat membantu sekali,” kata Kelly lagi.

Kampus Kelly memiliki program Internasional yang cukup terbuka bagi mahasiswa asing. Karena itu, mereka tidak diwajibkan untuk menguasai bahasa Jepang atau memiliki sertifikat kemampuan bahasa Jepang ketika ingin mendaftarkan diri. Selama nilai TOEFL atau IELTS mereka memenuhi persyaratan, mereka tetap dapat diterima di universitas tersebut.

Hal yang sama juga berlaku bagi mahasiswa lokal. Mereka diwajibkan untuk melampirkan sertifikat TOEFL atau IELTS sebagai salah satu persyaratan, terutama untuk mendukung proses pembelajaran ketika terdapat dosen asing yang mengajar dalam bahasa Inggris.

Selain itu, kampus juga menyediakan kelas bahasa Jepang secara gratis untuk membantu para mahasiswa asing mengembangkan kemampuan bahasa mereka, terutama agar dapat berkomunikasi dengan lebih lancar dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.

Setelah makanan mereka datang, percakapan mereka perlahan mengalir dengan lebih santai.

Itadakimasu.” Inoue berkata sambil merapatkan tangannya.

Itadakimasu.” Kelly mengikutinya.

“Bagaimana dengan tesismu?” tanya Inoue.

Kelly mengembuskan napas panjang. “Masih banyak yang harus kulakukan. Aku harus mulai membuat desain awal dan menghitung beberapa hal untuk mendapatkan estimasi biaya.”

Pasti karena Sensei ya?” tanya Inoue.

“Iyaa.” Kelly melengkungkan bibirnya ke bawah.

Inoue tertawa. “Bilang saja kalau butuh bantuan.”

“Baiklah. Terima kasih ya.” Senyum Kelly terangkat.

Tidak lama, pelayan datang membawa tagihan, Kelly langsung mengambil struknya. “Kali ini, giliran aku yang bayar.”

Inoue segera menatapnya. “Tidak perlu.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku yang mengajakmu makan,” kata Inoue.

Kelly menggeleng. “Gantian. Kamu sudah mengajakku ke onsen. Jadi, setidaknya biarkan aku membayar makan malam ini.”

Inoue terkekeh kecil dan menggeleng kepalanya. “Baiklah. Kalau begitu, kali ini aku akan membiarkanmu membayar.”

Kelly tersenyum puas.

Setelah makan malam, mereka mengambil sepeda masing-masing dan mulai bersepeda menuju rumah.

Kebetulan, arah rumah mereka sama.

Rumah Inoue berada tidak jauh dari kampus, sementara rumah Kelly hanya berjarak beberapa blok dari rumah Inoue.

Malam itu cukup tenang.

Lampu-lampu jalan menerangi jalanan yang mereka lewati, sementara angin malam terasa sejuk setelah tubuh mereka menghabiskan waktu di dalam air panas.

Kelly dan Inoue mengayuh sepedanya dengan santai. Mereka terus bersepeda berdampingan.

Tidak ada percakapan yang terlalu serius. Tidak ada hal besar yang terjadi.

Namun, malam itu terasa menyenangkan bagi Kelly.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Jepang, ia merasa memiliki seseorang yang bisa ia ajak berbicara tanpa harus terlalu banyak berpikir.

☕️☕️☕️

Keesokan harinya, rutinitas itu kembali berulang.

“Seperti biasa?”

“Ya.”

Kelly menerima cappuccinonya dengan senyum singkat. Namun seperti kemarin, matanya kembali menyapu seluruh sudut kafe secara refleks. Meja itu... masih kosong.

Baru kali itu Kelly menyadari bahwa pria tersebut rupanya selalu memilih tempat yang sama setiap pagi. Ia menggeleng pelan, seolah menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku sampai memperhatikan begitu, sih...”

Tawa kecil lolos dari bibirnya sebelum ia kembali membuka buku sketsa.

Hari demi hari berlalu. Tiga hari. Lima hari. Satu minggu.

Central Café tetaplah sama seperti biasanya. Barista yang sama. Aroma kopi yang sama. Percakapan para mahasiswa yang memenuhi udara dengan suara-suara samar yang akrab. Hanya satu hal yang berubah. Lee Min-woo tidak lagi ada di sana.

“Kelly.” Suara Yui membuatnya mendongak dari buku sketsa. “Kamu melamun?” tambahnya lagi.

“Hah?”

Yui tersenyum kecil. “Dari tadi kamu terus lihat ke arah pintu.”

Refleks, Kelly menoleh ke pintu masuk. “Eh... oh..” Ia segera tertawa canggung. “Nggak kok,” terangnya lagi.

“Mungkin kamu kecapekan.” Yui menyahut dengan nada lembut.

“Ya.. Mungkin.” Kelly menjawab dengan ragu.

Yui mengangguk ringan sebelum kembali membahas tugas studio mereka. Namun setelah sahabatnya itu pergi, Kelly justru terdiam cukup lama sambil memandangi cangkir cappuccino di hadapannya. “Aneh...” batinnya.

Padahal aku bahkan tidak mengenalnya, pikirnya lagi. Lalu kenapa rasanya seperti ada yang kurang?

Seolah pikirannya sedang berperang akan rasa bingung yang ia rasakan.

Cepat-cepat ia menggelengkan kepala, seolah hendak mengusir pikiran itu. “Kelly, fokus! Masih banyak tugas yang harus diselesaikan.” Ia tidak punya waktu untuk memikirkan seseorang yang bahkan hanyalah orang asing.

Di sisi lain...

Pintu kedatangan internasional Bandara Adi Sutjipto perlahan terbuka. Lee Min-woo melangkah keluar sambil menarik koper hitam berukuran sedang. Di belakangnya, Dong-min meregangkan tubuh dengan wajah lelah. “Udara Indonesia panas juga.”

Min-ju tertawa kecil. “Baru keluar bandara.”

Min-woo tidak menanggapi. Ia hanya mendongakkan kepala, memandang langit beberapa detik lamanya. Negara yang sama sekali asing baginya. Namun untuk tiga bulan ke depan, tempat ini akan menjadi rumah sementara.

Ponselnya bergetar pelan. Sebuah notifikasi kalender muncul di layar.

08:15.

Entah mengapa, pada saat itu pula terlintas di benaknya bayangan seorang perempuan yang hampir setiap pagi duduk di dekat jendela Central Café. Menyibakkan rambut ke belakang telinga. Membuka buku sketsanya. Lalu menyeruput cappuccino perlahan dalam diam.

Min-woo mengembuskan napas panjang.

Mungkin...

Mulai esok hari, pemandangan itu tak lebih dari sekadar bagian kecil dari rutinitas yang telah ia tinggalkan di Jepang.

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Ayo kita pergi.”

Mobil yang menjemput mereka perlahan meninggalkan area bandara.

Sementara ribuan kilometer dari sana...

Seorang perempuan masih duduk di meja dekat jendela Central Café, ditemani secangkir cappuccino yang mulai kehilangan hangatnya. Tanpa pernah mengetahui, bahwa pria yang beberapa minggu terakhir diam-diam menjadi bagian dari rutinitas paginya—kini telah berada di negeri yang sama dengan tempat ia dilahirkan.



--

✦ Note: Onsen: bak permandian air panas tradisional di Jepang. Itadakimasu: kalimat yang diucapkan sebagai bentuk rasa syukur sebelum makan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk