──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──
Dua bulan kemudian.
Musim gugur perlahan meninggalkan Tokyo, membawa pergi semburat merah, jingga, dan ke-emasan yang selama berminggu-minggu menghiasi pepohonan di seluruh penjuru kota. Sementara itu, di Indonesia, matahari sore menumpahkan cahayanya di atas landasan Bandara Adi Sutjipto yang sibuk oleh lalu lalang manusia.
Kelly melepaskan headphone dari telinganya tepat ketika suara pilot terdengar melalui pengeras suara.
“Selamat datang di Yogyakarta.” Senyum kecil terbit di wajahnya.
Rumah... pikir Kelly
Udara di Yogyakarta terasa berbeda dari udara yang selama ini ia hirup di Jepang. Lebih hangat, lebih akrab, dan entah mengapa, terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia rindukan.
Selama tiga bulan terakhir, ia memang terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Ia sudah memiliki rutinitas, tempat-tempat yang ia sukai, dan orang-orang yang perlahan mulai ia kenal.
Namun, tidak ada satu pun dari semua itu yang bisa menggantikan perasaan ketika akhirnya kembali ke rumah.
Setelah mengambil koper, Kelly melangkah menuju pintu kedatangan. Belum sempat matanya mencari sosok yang dikenalnya, sebuah suara telah lebih dulu memanggil dengan nyaring. “KEELLLYYY!”
Kelly langsung tertawa kecil. “Mama...”
Wanita paruh baya itu segera memeluk putrinya erat-erat, seolah hendak mengganti rindu yang tertahan selama berbulan-bulan.
“Kamu kurusan, sayang,” sahut Mama dengan nada penasaran. Kelly mengembuskan napas panjang sambil tersenyum geli. “Baru ketemu lima detik, Ma.”
“Ya memang kurusan,” sahutnya kembali.
Dari belakang, Papanya dengan berkacamata yang terpasang di wajahnya, hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis di wajahnya. “Biarkan anaknya tarik napas dulu.”
Kelly pun beralih memeluk sang ayah. “Hai, Pa.”
“Selamat datang di rumah ya putri kesayangan Papa.” Kalimat sederhana itu selalu memiliki caranya sendiri untuk menenangkan hati Kelly.
Perjalanan pulang dipenuhi percakapan yang saling bertumpuk satu sama lain. Tentang kehidupan Kelly di Jepang. Tentang tugas-tugas kuliah yang tak ada habisnya. Tentang makanan. Tentang kastil terkenal di kotanya yang bahkan belum sempat ia datangi.
“Kamu makan dengan baik di sana?” tanya Mamanya dari kursi depan.
Kelly yang duduk di belakang hanya menghela napas. “Aku makan dengan baik, Ma.”
“Benar?”
“Benar.”
“Tidak hanya makan roti dan kopi?” Mama kembali bertanya.
Kelly tidak menjawab pertanyaan itu. Mulutnya sempat terbuka, sebelum kembali mengatup.
Mendengar tidak adanya jawaban, Mama seketika menoleh. “Kelly.”
“Aku makan makanan lain juga.”
Papa hanya terkekeh pelan. “Mama kamu hanya ingin memastikan kamu tidak hidup hanya dengan kopi selama di Jepang.”
“Aku tidak seperti itu,” jawab Kelly cepat.
Namun, beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa ia memang cukup sering memulai paginya dengan cappuccino.
Tak lama...
Mama yang masih belum menyerah kembali membicarakan soal perjodohan. “Mama cuma kasih ide,” ujar wanita itu santai.
Kelly langsung memijat pelipisnya. “Ma...”
Papa Kelly terkekeh pelan sambil tetap fokus menyetir. “Sudahlah. Kelly baru pulang.” Mama hanya mendengus kecil, meski senyumnya tidak hilang.
☕️☕️☕️
Rumah keluarga Kelly berdiri di kawasan tenang dan elite di Kota Yogyakarta. Bangunannya bergaya modern tropis, didominasi kaca-kaca lebar, batu alam, serta sentuhan kayu yang memberi kesan hangat dan hidup.
Setiap kali melihat rumah itu, Kelly selalu merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena rumah itu megah. Melainkan karena rumah itu adalah karya pertama ayahnya yang benar-benar dibangun sesuai impiannya sendiri.
“Aku kangen rumah ini...” gumam Kelly lirih sambil mengusap pagar kayu di teras.
Papa tersenyum kecil. “Masih sama seperti waktu kamu berangkat.”
Kelly mengangguk pelan. “Tapi tetap terasa baru.”
“Karena sekarang kamu melihatnya dengan sudut pandang arsitek.” Ayah Kelly melirik sambil menarik kopernya.
Kelly tertawa kecil. “Mungkin.”
Hari berikutnya berlalu dengan tenang. Kelly membantu Mamanya memilih gaun untuk menghadiri pernikahan keluarga, menghabiskan malam panjang bersama Papanya membicarakan desain bangunan, dan menikmati tidur siang tanpa dihantui deadline ataupun revisi studio.
Sudah lama sekali rasanya ia tidak hidup setenang ini. Sampai suatu sore, ponselnya bergetar.
Sam.
Kelly langsung tersenyum begitu menerima panggilan itu. “Halooo?”
“Hei, Anak Jepang!” Sam menggoda dari balik ponsel.
Kelly tertawa. “Apaan sih, bikin malu deh.”
“Sampai kapan di Indonesia?” tanya Sam dengan penasaran.
“Aku libur dua minggu, nih. Ya.. Lebih tepatnya meliburkan diri sih,” sahut Kelly, disambut oleh tawa kecil di bibirnya.
“Nah, pas. Besok nongkrong.” Seperti biasa, Sam si anak pesta tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk kembali berpesta.
Kelly berpikir sebentar sebelum mengangguk kecil meski lawan bicaranya tak bisa melihat.
“Boleh, siapa aja yang datang?” tanya Kelly dengan penuh rasa penasaran.
“David sama Mita juga datang nih katanya.” Sam menjawab sambil melihat pesan di ponselnya.
“Allysa?” tanya Kelly lagi.
“Datang juga dong!” Sam menjawab dengan penuh antusias.
Senyum Kelly semakin lebar. “Wah... lengkap dong.”
“Oh iya,” lanjut Sam santai. “Aku izin bawa satu teman ya.”
“Siapa?” tanya Kelly sambil lalu.
“Teman penelitian,” jawabnya singkat.
Kelly mengangkat bahu. “Boleh aja.”
“Orangnya asik kok,” tambahnya lagi.
“Yaudah. Besok jam dua ya. Hmm.. Nama kafenya menyusul.”
“Oke deh. Sampai besok.” Tak lama Kelly menutup telponnya.
Kelly meletakkan ponselnya di atas nakas dekat tempat tidur, sementara senyumnya belum juga memudar. Sudah lama sekali ia tidak berkumpul lengkap bersama teman-temannya.
Besok pasti menyenangkan, pikirnya.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa seseorang yang akan diperkenalkan Sam besok hari bukanlah orang yang benar-benar asing untuknya.
════════ ☕️ ════════
Home is not merely a place to rest,
but a sanctuary where feelings settle.
— Martha Han
@marutanova ♡
════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!