07. You?

1 dibaca

A

──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──


Kamis siang di Yogyakarta terasa lebih hidup dari biasanya. Deretan kafe di sekitar kawasan kampus dipenuhi mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman mereka. Suara tawa, denting gelas, dan aroma kopi bercampur menjadi suasana yang begitu akrab bagi siapa pun yang datang.

Kelly mendorong pintu kaca sebuah kafe bergaya industrial yang sudah sangat dikenalnya. Begitu masuk, ia langsung menemukan empat wajah yang telah lama tidak ditemuinya.

“Kelly!” Sam melambaikan tangan tinggi-tinggi dari sudut ruangan.

Kelly tersenyum lebar. “Maaf ya, aku telat.”

“Masih lima menit,” jawab David sambil terkekeh. Allysa bahkan langsung berlari kecil menghampirinya sebelum memeluk Kelly erat. “Ah... kangen!” seru Allysa.

“Kangen juga!” balas Kelly sambil tertawa. Tak lama kemudian, Mita datang menyusul.

Lengkap sudah. Rasanya seperti kembali ke masa-masa SMA yang dulu.

Obrolan mereka mengalir tanpa jeda—tentang dosen-dosen lama yang masih sama menyebalkannya, tugas yang tidak pernah ada habisnya, hingga kehidupan Kelly selama tinggal di Jepang.

“Serius, studio arsitektur segila itu?” tanya Mita dengan mata membesar.

Kelly mengembuskan napas panjang secara dramatis. “Kalau lagi banyak revisi, tidur empat jam aja rasanya udah bersyukur.”

Sontak semuanya tertawa.

Di tengah suasana riuh itu, ponsel Sam bergetar. Ia melirik layarnya sekilas sebelum berdiri. “Nah, dia udah sampai.”

“Siapa?” tanya David.

“Temenku,” jawab Sam santai. “Dia lagi nunggu di depan.” Sam mengambil ponselnya lalu berjalan menjauh. “Aku jemput dulu, ya. Takut salah masuk.”

Kelly hanya mengangguk kecil sambil menyeruput es cappuccino pesanannya.

Beberapa menit kemudian, pintu kaca kafe kembali terbuka. Sam masuk lebih dulu. Di belakangnya, seorang pria tampan bertubuh tinggi mengikuti langkahnya dengan tenang.

Kelly yang tengah berbicara dengan Allysa refleks menoleh. Tangannya langsung terdiam di udara.

Lee Min-woo.

Pria itu pun berhenti melangkah sesaat. Tatapan mereka bertemu meski hanya beberapa detik. Namun, tatapan singkat yang saling mengunci itu cukup untuk menghadirkan keterkejutan yang sama di mata keduanya. Sam yang sama sekali tidak menyadari perubahan suasana itu tersenyum lebar.

”Guys,” ujarnya santai. “Kenalin. Ini Lee Min-woo.”

“Dia lagi penelitian di Universitas Wijaya Madya,” tambahnya lagi.

Min-woo membungkukkan badan sopan. “Halo.”

Kelly ikut berdiri. “Oh.. Senang bertemu denganmu.”

“Senang bertemu.” Min-woo menjawab kembali dengan sopan.

Tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan bahwa itu bukan pertama kalinya mereka saling melihat.

Oh... ternyata selama ini dia di Indonesia. Pantes, udah lama nggak kelihatan. Desir hangat perlahan menjalar di dalam hati Kelly, membawa perasaan yang sulit ia mengerti.

Oh... ternyata dia orang Indonesia. Jadi yang aku dengar itu Bahasa Indonesia. Min-woo terdiam sejenak.

Sam segera mempersilakan Min-woo duduk. Kebetulan, kursi kosong yang tersisa tepat berada di depan Kelly.

“Loh...” Sam tiba-tiba memandang Kelly dan Min-woo bergantian. “Eh bentar,” tambahnya.

“Kelly kan kuliah di Jepang,” katanya lagi.

Kelly mengangguk. “Iya.”

Sam menoleh ke arah Min-woo. “Kamu juga, kan?”

“Iya.” Min-woo menjawab dengan singkat.

“Hoshizora University, kan?” tanya Sam sedikit ragu.

“Iya.” Jawaban mereka keluar hampir bersamaan.

Kelly sedikit terkejut.

Universitas Wijaya Madya adalah kampus tempat Kelly menempuh pendidikan Sarjana Arsitektur. Setelah lulus dan bekerja kurang lebih selama satu tahun, Kelly mendapatkan rekomendasi dari salah satu dosennya untuk melanjutkan pendidikan di Hoshizora University, yang merupakan kampus partner Universitas Wijaya Madya.

“Oh...” Sam tertawa kecil. “Lah, kalian satu kampus, loh.”

Kelly menoleh ke arah Min-woo. “Jurusan apa?”

”Clinical Laboratory Science.” Min-woo menjawab dengan tenang.

Kelly mengangguk pelan. “Pantas...”

“Pantas apa?” tanya Sam penasaran. Rupanya ia mendengar suara lirih Kelly di sebelahnya.

Kelly tersenyum kecil. “Oh... nggak, wajahnya familiar. Kan satu gedung hehe...”

Min-woo menatap Kelly beberapa saat. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

Sam masih tampak belum puas. “Jadi... kalian pernah ketemu?”

Kelly terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan. “Sekadar familiar aja.”

Semua mata langsung beralih kepada Min-woo.

Pria itu membalas tatapan Kelly beberapa detik. Kemudian mengangguk kecil. “Iya... aku juga.”

Hening singkat tercipta di antara mereka. David menjadi orang pertama yang tertawa. “Ohh... pernah ketemu. Bisa sadar gitu ya, padahal nggak kenal.”

“Mungkin karena terlalu sering papasan,” sahut Mita santai.

“Iya kali,” tambah Allysa. Kedua wanita ini mencoba membuat suasana menjadi lebih tenang untuk Kelly yang sudah terlihat canggung.

Sam akhirnya mengangkat bahu. “Yaudah. Berarti sekarang resmi kenalan.”

Obrolan di antara mereka pun kembali mengalir seperti semula, seolah tidak ada sesuatu yang istimewa baru saja terjadi. Percakapan sederhana itu kembali melebur dengan suara-suara di sekitar mereka.

Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa dua kalimat singkat tadi sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.

Cerita yang bermula dari pagi-pagi sederhana di Central Café. Dari sebuah percakapan yang menarik untuk Min-woo, dari sebuah tatapan yang mengganggu Kelly, dari sebuah kafe yang perlahan menjadi tempat yang terasa familiar, dari secangkir cappuccino yang hampir selalu menemani pagi Kelly, dan dari segelas americano tanpa gula yang selalu menjadi pilihan Min-woo.

Dari sapaan singkat, tatapan yang sesekali bertemu, dan percakapan-percakapan kecil yang pada awalnya mungkin tidak berarti apa-apa. Mereka hanyalah dua insan asing yang kebetulan memiliki rutinitas di tempat yang sama.

Namun tanpa mereka sadari, hari demi hari, kehadiran satu sama lain mulai menjadi bagian dari kebiasaan dan kehilangan yang tidak pernah mereka rencanakan.

Dan kali ini, semesta seolah mengintervensi ruang dan waktu di antara mereka, kembali mempertemukan untuk menjadi lebih dekat.


════════ ☕️ ════════

Important encounters are planned
by the souls long before the bodies see each other.

—
Paulo Coelho
════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk