──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──
Pagi di Dlingo terasa lebih dingin daripada biasanya. Kabut masih menggantung rendah di sela-sela pepohonan ketika mobil pertama berhenti di depan villa kayu yang berdiri tenang di lereng perbukitan itu. Sam turun lebih dulu, lalu membuka pagar kecil yang berderit pelan.
“Wah... masih sama,” gumamnya sambil memandang bangunan di hadapannya.
Mita, Kelly, dan Allysa ikut turun sambil mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi. Tawa mereka bahkan sudah pecah sebelum sempat memasuki rumah.
“Dingin ya,” ujar Kelly pelan sambil memeluk lengannya sendiri.
Sam hanya mengangguk santai. “Enak, kan?”
Kelly tersenyum kecil sambil menggenggam koper di tangannya.
Tanah masih terasa lembap sisa hujan malam sebelumnya. Aroma kayu basah langsung menyambut begitu angin pagi bergerak perlahan melewati halaman villa.
Dan pada saat itulah, mobil kedua berhenti. Lebih lambat. Lebih sunyi.
Kelly tidak langsung menoleh. Namun entah mengapa, langkahnya tertahan sepersekian detik lebih lama dari biasanya.
Pintu mobil itu terbuka, menampakkan sosok tinggi seorang pria yang melangkah keluar dari sebuah Mazda putih dengan pelek hitam pekat yang membuatnya tampak semakin gagah.
Lee Min-woo.
Tak ada perubahan berarti dari terakhir kali Kelly melihatnya. Namun tetap saja ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan dari cara pria itu berdiri. Melainkan dari jarak yang kini ada di antara mereka.
Min-woo menutup pintu mobil dengan tenang sebelum mengangkat pandangan. Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di kafe, mata keduanya kembali bertemu.
Tidak terlalu lama, tidak pula dengan tatapan dramatis. Namun cukup untuk membuat Kelly mengalihkan pandangan lebih dulu.
“Ah, akhirnya mereka datang juga.” Suara Sam terdengar dari samping, terlalu santai untuk suasana yang sebenarnya tidak sesantai itu.
Kelly hanya mengangguk kecil.
Min-woo melangkah perlahan melewati mereka tanpa berhenti. Tanpa menyapa lebih dulu. Hanya angin pagi yang terasa sedikit lebih dingin saat Pria itu melintas.
Tak lama kemudian, David, Dong-min, dan Min-jun ikut turun dari mobil. Sam langsung menyambut mereka dari depan villa.
“Bro, lama banget.”
Min-woo menoleh singkat.
“Macet.” Jawabannya pendek. Tidak memberi ruang untuk percakapan lebih panjang.
Kelly sendiri sudah berjalan lebih dulu memasuki halaman villa. Namun langkahnya terasa tidak benar-benar sampai. Seolah tubuhnya berada di sana, sementara pikirannya masih tertinggal di depan pagar tadi.
Sam menyenggol pelan bahunya.
“Capek?” tanya Sam kepada Kelly.
Kelly segera menggeleng.
“Nggak ah... Asik kok.” Namun matanya tidak mampu berbohong.
Di dalam villa, suasana perlahan mulai hidup. Tas-tas diletakkan sembarangan. Seseorang membuka kulkas. Mita sudah sibuk memilih kamar. Allysa tertawa karena ranjang yang didapatnya terlalu kecil.
Segalanya berjalan seperti liburan biasa. Kecuali dua orang yang diam-diam tidak benar-benar berada di tempat yang sama seperti yang lain.
Min-woo berdiri di dekat jendela dapur. Tangan kanannya memegang segelas air yang bahkan belum benar-benar diminumnya.
Di luar, Kelly mencoba memisahkan barang-barang bersama untuk dimasukkan ke kulkas dan lemari makanan.
Gerakannya ringan. Namun setiap kali perempuan itu lewat, sesuatu di dalam ruangan seolah ikut bergeser perlahan.
Min-woo menatapnya sesekali, kemudian menatapnya lagi lebih lama untuk yang ketiga kalinya. Sampai akhirnya Sam muncul di sampingnya.
“Lagi ngapain, bro?”
Min-woo tidak langsung menjawab, “Nggak ngapa-ngapain.”
Sam tersenyum tipis.
“Iya. Itu masalahnya,” sahutnya lagi.
Seketika Min-woo melirik Sam, “butuh bantuan?”
“Loh, memang nggak keluarin barang ke kamar?” tanya Sam.
“Sudah selesai.” Min-woo menjawab singkat sembari meneguk minumnya.
☕️☕️☕️
Menjelang malam, aroma masakan mulai memenuhi seluruh vila. Sejak sore, para perempuan memilih menghabiskan waktu di dapur. Allysa dan Mita membantu menyiapkan bahan, sementara Kelly mengambil alih memasak.
Menu malam itu sederhana. spaghetti dengan saus jamur disajikan dengan ikan dori yang dipanggang dengan lemon.
Beberapa waktu berselang, seluruh penghuni vila berkumpul di meja makan panjang.
“Wah...” David langsung menarik kursinya. “Baunya aja udah bikin lapar,” tambahnya lagi.
Sam mengambil suapan pertama. Beberapa detik kemudian matanya langsung membesar. “Serius?”
Kelly menoleh.
“Kenapa?” sahutnya dengan kedua alis yang terangkat.
Sam menggeleng pelan sambil menunjuk piringnya. “Ini enak banget, woy!”
“Banget,” sambung Allysa.
“Salmonnya juga pas,” ujar Mita setelah mencicipi salmon miliknya.
David yang sejak tadi sibuk makan bahkan tidak sempat mengangkat kepala. “Kalau begini, besok masak lagi aja.”
“Enak aja,” Kelly terkekeh. Tawa kecil langsung memenuhi ruang makan.
Di seberang meja, sedikit menyerong dari tempat Kelly duduk, Min-woo menikmati makan malamnya dalam diam. Ia tidak ikut bercanda. Tidak banyak berkomentar.
Namun setelah mencicipi sepotong salmon, gerakannya berhenti sesaat. Pandangannya tanpa sadar terangkat ke arah Kelly.
Pintar masak.
Hanya satu kalimat singkat yang melintas di kepalanya. Lalu ia kembali menyuap makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Canda tawa kembali terdengar, denting piring dan sendok kembali beradu di udara. Hari itu, perjalanan jauh membuat tubuh mereka begitu lelah. Namun, interaksi-interaksi kecil di antara mereka begitu menghangatkan hati.
Makan malam berakhir hampir satu jam kemudian. Setelah mencuci piring dan peralatan makannya masing-masing, sebagian dari mereka sudah berpindah ke ruang bersama untuk mengobrol. Sebagian lagi sibuk membereskan barang bawaan yang belum sempat dibuka. Kelly memilih tinggal sedikit lebih lama di dapur.
Ia adalah orang terakhir yang mencuci piring dan peralatan makannya. Selain itu, ia juga memastikan semuanya kembali bersih sebelum ikut bergabung dengan yang lain. Suara keran mengalir pelan memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar mendekat. Seorang Pria berjalan menuju dispenser untuk mengisi segelas air putih. Wajahnya terlihat ragu, seolah ada yang ingin ia katakan, namun enggan untuk ia lakukan.
Kelly baru menyadari keberadaannya ketika pria itu berdiri beberapa langkah di sampingnya. Namun, masih dengan menjaga jarak aman di antara mereka.
“Terima kasih untuk makan malamnya.” Min-woo mengatakan dengan suara tenang dan pelan.
Kelly menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke belakang. Namun, belum sempat Kelly mengatakan sesuatu, Min-woo sudah lebih dulu mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Pria itu berbalik dan berjalan keluar dari dapur.
Kelly hanya bisa memandang punggungnya yang melangkah jauh.
“Sama-sama,” sahutnya. Jawabannya begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara air yang masih mengalir.
Tanpa ia sadari, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Ada perasaan bangga atas pujian yang ia terima hari ini. Namun lebih dari itu, ada kehangatan yang ia terima dari seseorang yang selama ini asing untuknya.
Pria yang sudah lama membuatnya penasaran.
Pria yang tanpa sadar ia cari keberadaannya.
Pria yang ia anggap begitu asing beberapa bulan yang lalu. Namun, kini berada di bawah atap yang sama dengannya.
Malam dingin itu akhirnya ditutup dengan keheningan. Perjalanan panjang sejak pagi membuat semua orang memilih untuk beristirahat lebih awal.
Karena keesokan harinya, petualangan mereka di Dlingo baru benar-benar baru akan dimulai.
════════ ☕️ ════════
Terima kasih sudah membaca bab ini! 🤍
Aku harap, kalian menikmati novel ini hingga akhir ya.
Jangan lupa baca sambil minum kopi, tak lupa memberi vote dan komentar juga. Supaya author semakin semangat nulis buat kalian ☕️
See you in the next chapter!
— Martha Han
@marutanova ♡
════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!