10. An Extra Bowl

1 dibaca

A

──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──


Pagi hari di Villa.

Suara burung terdengar samar dari balik pepohonan, sementara angin pagi masuk perlahan melalui jendela ruang bersama yang masih terbuka setengah. Kelly duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang perut pelan.

Ia mengembuskan napas kecil. “Apa ya...”

Akhirnya ia berdiri dan teringat akan mie instan yang tadi ia masukkan ke dalam lemari kabinet yang berada di dapur.

Namun ketika hendak melewati ruang bersama menuju dapur, langkah Kelly mendadak terhenti.

Lee Min-woo

Ia sudah lebih dulu berada di sana. Duduk di sofa dengan laptop yang terbuka. Tangannya sibuk mengetik, sementara beberapa lembar catatan berserakan di sisi meja.

Kelly sempat ragu. Masuk atau kembali ke kamar. Namun perutnya ternyata lebih jujur daripada pikirannya.

Ia berjalan pelan menuju lemari dapur dan mengambil sebungkus mie instan goreng. Min-woo sekilas meliriknya, namun ia tampak tidak peduli. Ia tidak bertanya, hanya sibuk membuka-buka catatannya.

Berusaha bergerak setenang mungkin agar tidak mengganggu Min-woo, ia mulai mencari mangkuk. Sayangnya, mangkuk yang diinginkannya berada di rak paling atas.

Kelly sedikit berjinjit. Namun, masih kurang. Tangannya seolah melayang-layang di udara, berusaha meraih mangkuk di rak tinggi itu.

Di ruang bersama, Min-woo masih duduk di depan laptopnya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard hingga akhirnya gerakan kecil Kelly di sudut pandangnya membuatnya berhenti.

Pria itu menoleh.

Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju dapur sebelum mengambil mangkuk dari rak paling atas lalu menyerahkannya kepada Kelly.

Kelly menoleh. “Oh... terima kasih.”

Min-woo hanya mengangguk kecil.

Saat pria itu hendak kembali ke tempatnya, Kelly mengangkat bungkus mie di tangannya. “Mau?”

Tidak ada jawaban.

Kelly baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ya ampun... mulutku kenapa sih?

Min-woo melirik sekilas sebelum menggeleng. “Nggak,” sahutnya singkat.

Kelly mengangkat sebelah alis. “Enak, lho.” Nada suaranya tetap datar.

Dan Min-woo menjawab dengan nada yang tak kalah datar. “Nggak lapar.”

“Oh... oke.” Kelly mengangguk pelan.

Min-woo kembali ke mejanya sementara Kelly mulai membuka bungkus mie instan itu.

Beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia bergumam kecil sambil menuang bumbu ke dalam mangkuk.

“Ih... yaudah.” Untung saja suara air panas yang mulai mengalir segera menelan gumaman pelannya.

Tak lama, mie instan Kelly sudah jadi dan ia tidak sabar untuk menyantapnya.

Kelly memutar garpu perlahan. Aroma mie hangat segera memenuhi dapur kecil itu.

Ia baru saja mengangkat suapan pertama ketika langkah kaki memecah keheningan dapur. Kelly refleks mengangkat kepala. Min-woo berjalan masuk dengan langkah tenang.

Kelly hanya melirik sekilas. Pria itu berjalan menuju dispenser, hendak mengambil minum.

Tanpa mempedulikan keberadaan Min-woo, Kelly kembali meniup mie di mangkuknya.

Uap hangat mengepul pelan dan membuat aroma mie menyebar ke seluruh ruangan, membuat Min-woo berhenti beberapa detik. Matanya tanpa sadar melirik mangkuk di tangan Kelly.

Grrrkkkk...

Suara perut yang berbunyi, memecah keheningan.

“...”

“...”

Kelly yang sudah mengangkat garpu ke arah bibirnya, seketika berhenti. Garpu itu menggantung di udara. Perlahan, ia menoleh.

Min-woo masih berdiri membelakanginya. Bahunya tampak sedikit menegang. Beberapa detik kemudian, pria itu menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu.

Namun, dengan ekspresi yang tidak berubah, tangannya mendorong masuk mie yang sudah terlilit pada garpu.

Sluurppp...

Matanya kembali fokus kepada makanan di hadapannya. Ia berpura-pura sibuk menyeruput mie seolah tidak mendengar apa pun.

Hening kembali memenuhi ruangan beberapa saat. Lalu Kelly berdeham kecil. “Aku bisa buatin.”

Min-woo yang tidak bergerak akibat perasaan ragu di dadanya, kemudian menoleh lagi.

“Kalau kamu lapar.” Kelly menambahkan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

“Biar nggak bunyi lagi.” Ia menambahkan dengan nada sedikit mengejek.

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Min-woo sedikit terangkat. “Hm. Nggak usah...”

“Aku bisa buat sendiri,” ia melanjutkan.

Kelly mengangkat bahu kecil. “Oke.” Ia kembali menikmati mienya.

Tak lama kemudian...

Kresskk...

Suara bungkus mie yang sedang dibuka terdengar jelas. Kelly tidak menoleh. Namun bunyi plastik yang begitu familiar itu cukup membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Katanya nggak lapar.

Beberapa menit kemudian, Min-woo kembali dengan semangkuk mi goreng hangat. Ia duduk di sisi berlawanan kitchen island, sedikit menyerong dari Kelly, seolah tetap menjaga jarak yang nyaman di antara mereka.

Tak ada percakapan dan tak ada tatapan panjang. Hanya dua orang yang menikmati sarapan sederhana di pagi yang tenang.

Dari lantai dua, Kang Dong-min yang baru turun menghentikan langkahnya. Pandangannya bergantian antara Kelly dan Min-woo. Lalu perlahan senyumnya mengembang.

“Hm... okay.” Kedua alisnya menyatu. Ia berdiri cukup lama dengan tubuh sedikit membungkuk. Matanya sedikit menyipit dengan sorot mata yang cenderung tajam.

Tanpa mengganggu keduanya, ia berbalik dan mengendap pelan kembali ke lantai atas.

Meninggalkan dua orang yang bahkan belum menyadari bahwa pagi itu mereka baru saja membagikan sarapan pertama mereka, meski tanpa saling berbagi semangkuk mie.


════════ ☕️ ════════

Terima kasih sudah membaca bab ini! 🤍

Aku harap, kalian menikmati novel ini hingga akhir ya.

Jangan lupa baca sambil minum kopi, tak lupa memberi vote dan komentar juga. Supaya author semakin semangat nulis buat kalian ☕️

See you in the next chapter!

— Martha Han
@marutanova ♡

════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk