Kejar Daku Kau Kupantau

2 dibaca

A

Sekarang tujuh tahun telah berlalu, dan aku masih belum juga menambatkan hati pada lelaki lain. Bukan karena tak laku, aku hanya takut terluka untuk kedua kalinya.

Selama itu pula aku menikmati kesenderian. Kata menikmati mungkin tak selalu relevan, sebab ada kalanya aku juga merasa jenuh dengan pekerjaan tapi tidak punya tempat untuk bermanja sambil berceloteh tentang segala hal di hari itu. Rasa iri seringkali menelusup tiba-tiba saat melihat keharmonisan sebuah keluarga, tapi trauma masa lalu membuat langkahku sering meragu.

Keraguan itulah yang membuatku betah melajang hingga kerap menjadi sasaran buaya-buaya kampus. Selain dikenal karena prestasiku mendampingi mahasiswa dalam berbagai kompetisi matematika tingkat nasional, aku juga dikenal hingga jurusan lain karena status yang masih single.

Tak hanya itu, aku pernah dilamar oleh salah satu universitas untuk menjadi pengajar di sana, namun kutolak karena tidak ingin kerepotan membagi waktu antara kafe dan dua kampus berbeda. Alasan lain adalah tidak ingin menambah daftar buaya yang harus dimata-matai adikku untuk dicari titik lemahnya. Tidak usah menyebutku GR, sebab itu memang fakta.

Usai menyelesaikan tugas sebagai dosen, aku biasanya menghabiskan waktu di kafe.

Jangan kira kafe milikku seperti pada umumnya. Tempat ini kuberi nama Kafe Santun, di mana adab lebih utama dibanding laba. Kami menawarkan harga miring untuk tiap menu tapi rasanya tidak murahan. Mau cari musik berdentum dengan pelayan memesona? Jangan datang ke kafeku!

Alih-alih memanjakan pengunjung dengan kesan glamor dan estetik, aku lebih suka menawarkan cita rasa yang menggoyang lidah dengan harga bersahabat.

Penghasilanku sebagai manager sekaligus owner tak jauh beda dibanding karyawan. Bahkan, ketika pemasukan sedang seret, aku tak ragu mengurangi gajiku hingga nol rupiah demi memastikan keluarga karyawan tetap bisa makan. Itu membuat mereka loyal dan bekerja sepenuh hati.

Ada untungnya aku dan Hasan terlahir berdarah Rasyid Wibawa. Meski bukan pengusaha sukses, Ayah mewariskan rumah untuk kami di atas lahan yang lumayan luas.

Sejak kuliah semester tiga, lahan kosong di samping rumah sudah kusulap jadi indekos khusus putri. Lumayan menambah tabungan untuk biaya pendidikan Hasan dan impian ke tanah suci, dua prioritas utamaku saat ini.

Lahir dari ibu yatim piatu, membuat jiwa sosialku tumbuh subur. Sebuah bangunan sederhana berdiri tepat di samping indekos, di mana aku dan para relawan meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak tidak mampu dengan gratis.

Profesi sebagai dosen cukup membantu. Hampir seluruh relawan adalah mahasiswa di tempatku mengajar. Mereka bahkan dengan senang hati memenuhi ruangan dengan berbagai buku bacaan dan mainan edukatif yang menarik.

Kakak Dosen Cantik, begitu biasa aku disapa oleh anak-anak bimbingan gratis kami. Mereka adalah hiburan di sela kesibukan mengajar dan mengelola kafe.

Ah, ya. Ada satu anak yang menolak memanggilku dengan sebutan itu. Farel, bocah berusia tiga tahun itu lebih suka memanggilku dengan sebutan Bunda, lebih tepatnya Bunda Lala. Dia cadel, membuatnya kesulitan menyebut namaku dengan benar.

Farel itu tidak seharusnya ada di tempat kami. Rumah belajar yang aku bangun bukan untuk anak orang kaya sepertinya. Bocah tampan itu hanyalah korban modus seorang pria yang selalu mengantar jemputnya ke tempat kami.

“Bos, pelanggan istimewa kita datang. Minta dilayani sama Bos.”

Tuh, kan. Baru juga diomongin, orangnya sudah muncul.

“Kamu saja, Rin,” kataku pada Rina, single parent beranak dua. Korban nikah muda karena dibutakan cinta, bercerai karena suaminya kepincut janda kembang kaya raya.

“Dia gak mau, Bos.”

“Ish, ngerepotin aja.” Aku menggerutu sambil berjalan meninggalkan ruang manager, melewati Rina yang terbahak.

“Ketawa dipecat,” kataku lagi tanpa menoleh padanya. Eh, dia malah cekikikan.


Uncle Lomi, begitu Farel memanggilnya. Lelaki parlente yang selalu tampil rapi dan fresh dengan gaya rambut ala cover boy dan kulit sawo matang, kini tersenyum ceria melihat kedatanganku dengan nampan berisi secangkir kopi dan sepiring sandwich pesanannya.

“Selamat datang di kafe kami, Pak Romi. Silakan nikmati pesanan Anda,” sapaku ramah.

“Terima kasih, Lala.”

Aku selalu ingin tertawa jika dia memanggilku dengan nama itu. Satu-satunya orang dewasa yang tertipu oleh kecadelan Farel, ya, dia.

Seperti biasa, usai mengantar pesanannya, aku akan meninggalkannya sendiri.

“Eh, Lala.”

Aku urung memutar tubuh ketika dia memanggil.

“Bisa mengobrol sebentar?”

“Maaf, saya banyak kerjaan.” Kutolak dia dengan tetap berusaha tersenyum walau merasa dongkol. Bagaimanapun juga dia adalah pelanggan yang harus diambil hatinya.

“Sebentar saja, Lala. Aku bisa membayar waktumu cuma buat ngobrol.” PD sekali.

“Terima kasih atas kemurahan hati Anda. Tapi maaf, saya benar-benar tidak punya waktu dan tidak bisa menemani Anda mengobrol. Lagipula, kafe kami menjual produk, bukan jasa mengobrol,” jawabku sambil menyelipkan sedikit sindiran. Jelas sekali, tempat ini tidak menyediakan pelayan yang bisa di-booking sesuka hati. Aku bukan wanita penghibur.

“Bagaimana kalau satu bulan gajimu setara dengan satu jam mengobrol denganku? Hanya di sini, aku janji nggak macam-macam.”

Aku tertawa. Berani sekali dia.

“Kalau begitu, sampaikan saja pada manager di sini.”

Dia tersenyum senang. Mungkin merasa menang tawar menawar. Sesekali menipu orang sepertinya cukup menyenangkan.

Dia berdiri dari kursinya dan berjalan melewatiku, menuju ruangan dengan tulisan manager di atas pintu. Aku menunggu, siap melihat ekspresinya saat tahu siapa sebenarnya pemilik tempat ini.

Tak sampai lima menit kemudian, dia sudah kembali ke mejanya semula sambil tersenyum salah tingkah dan menggaruk kepala. “Aku mengaku kalah,” katanya.


“Mestinya tadi kita foto aja orangnya, Bos.” Jihan menggerutu sambil memelototi monitor yang menampilkan rekaman kamera CCTV.

Aku menyuruhnya mencari visual paling jelas saat Romi berkunjung ke kafe. Itu artinya dia perlu menyisir setidaknya dari rentang waktu tiga minggu ke belakang.

“Nah, ini dia!” Gadis itu berhenti pada rekaman tiga hari lalu. Romi duduk sendirian sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Mungkin dia mencariku. Wajahnya tampak jelas ketika bersandar pada kursi sambil mendongak, sesekali memejamkan mata.

“Bagus, potong bagian itu. Kirimkan ke nomorku.”

“Ya ampun, menyeleksi calon suami aja seribet ini.”

Kupukul pelan kepalanya dengan sebuah pena. “Sembarangan.”

Gadis dengan gigi gingsul itu tertawa. Dia karyawan paling cerewet tapi super rajin. Urusan kebersihan adalah tanggung jawabnya. Dia tidak akan pulang sebelum memastikan lantai, meja kursi hingga kaca jendela kafe mengkilat. Walau begitu, disuruh apa saja dia kerjakan, meski sesekali menggerutu.

“Bos, kalau dia gak lolos seleksi, bilang, ya. Aku siap jadi makmumnya.” Dia cekikikan sendiri. Dipikirnya itu lucu?

Ini bukan pertama kalinya kusuruh dia memelototi rekaman CCTV. Tiap kali ada lelaki yang kupastikan datang dengan tujuan tertentu, wajib menjadi subyek spionase oleh Hasan. Aku hanya perlu memberi adikku itu foto, lalu biarkan dia menjalankan tugasnya. Dia akan mencari tahu apa saja tentang lelaki itu. Terutama apakah statusnya lajang atau bahkan duda.

Aku tak pernah mempermasalahkan status pria. Selama dia tak beristri dan layak dijadikan imam, aku tak keberatan menjadi makmumnya. Pernah menjadi korban penipuan lelaki brengsek, membuatku sangat selektif dalam memilih pendamping hidup. Aku juga berjanji untuk hanya mencintai lelaki yang berstatus suamiku. Karenanya, sebelum melangkah jauh, proses seleksi harus berjalan ketat.

Jihan menyenggol lenganku. “Bos, ngelamun aja. Lagi mikirin Pak Romi, ya?” tanyanya sambil tersenyum meledek.

“Sok tau.”

Dia tertawa lebar sampai menampakkan gigi gingsul di sudut kiri bibirnya. “Mukanya nggak bisa bohong, Bos. Tuh, sampai bersemu merah gitu.”

Refleks kupegang pipiku. Bodoh, harusnya itu tak kulakukan.

Kuturunkan tangan dengan salah tingkah.

“Duh, ada yang lagi jatuh cintrong,” godanya sambil terus tertawa dan mencolek lenganku.

Jihan menutup mulutnya dengan tangan kanan karena melihatku melotot. Namun, itu hanya bertahan satu detik.

“Aku ngalah deh, demi Bos.”

Sialan. Karyawan satu itu memang sulit dibungkam.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk