Pagi itu, aku memutuskan untuk melukis lagi.
Sudah beberapa hari sejak terakhir kali aku benar-benar menyentuh kanvas tanpa merasa pikiranku melayang ke tempat lain. Aku merindukan perasaan ketika warna-warna bercampur di atas palet, ketika setiap goresan memiliki tujuan, dan ketika aku bisa mempercayai tanganku untuk menerjemahkan sesuatu yang bahkan sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Cahaya matahari masuk melalui jendela studio, jatuh di atas lantai kayu dan menyentuh sudut kanvas yang kusandarkan pada easel. Aku sudah menyiapkan semuanya sejak setengah jam lalu, tetapi sampai sekarang, kuas di tanganku masih belum menyentuh permukaan kanvas.
Aku belum tahu apa yang ingin kulukis.
Akhirnya, aku memilih warna biru tua, mencampurnya dengan sedikit abu-abu, lalu mengangkat kuas. Entah mengapa, warna itu terasa tepat untuk pagi ini.
Goresan pertama berjalan mulus. Begitu pula goresan kedua dan ketiga. Perlahan, kecemasan kecil yang sejak tadi mengendap di dadaku mulai mereda. Aku membiarkan tanganku bergerak mengikuti intuisi, tanpa memikirkan hasil akhirnya terlalu jauh.
Lalu, entah pada goresan yang keberapa, semuanya terasa berbeda.
Aku tidak bisa menunjuk tepat kapan perubahan itu dimulai. Hanya ada perasaan ganjil, seperti ketika kau membaca sebuah kalimat berulang kali dan mendadak menyadari bahwa ada satu kata yang terasa asing, meskipun kau tahu kau pernah membacanya.
Kuas di tanganku berhenti.
Aku menatap kanvas, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang kubuat. Ada sesuatu pada bentuk-bentuk yang mulai muncul di sana yang membuatku merasa tidak nyaman. Bukan karena hasilnya buruk. Justru sebaliknya—setiap garis tampak begitu yakin, seolah seseorang tahu persis ke mana harus mengarahkannya.
Aku mengerjapkan mata.
Dan setelah itu.
Kosong.
Ketika kesadaranku kembali utuh, cahaya matahari sudah bergeser di lantai.
Tanganku masih menggenggam kuas. Leherku terasa kaku, dan ada rasa pegal di pergelangan tanganku yang tidak kuingat pernah kurasakan sebelumnya. Aku hanya berdiri, berusaha menyusun kembali apa yang terakhir kuingat.
Palet di meja. Warna biru tua. Goresan ketiga.
Itu yang kuingat.
Lalu aku menoleh ke kanvas.
Napas tertahan di tenggorokanku.
Lukisan di hadapanku sudah jauh berbeda dari apa yang kuingat pernah kubuat. Ada bentuk-bentuk yang tersusun begitu jelas, dengan detail yang terlalu spesifik untuk disebut sebagai goresan tanpa sengaja. Dan di salah satu sudut kanvas, ada sesuatu yang membuat jemariku perlahan mengendur di gagang kuas.
Aku mengenali cara garis-garis itu dibuat. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Aku hanya tidak ingat di mana. Atau siapa yang mengajariku melukis seperti itu.
Aku mendekat satu langkah ke arah kanvas.
Lalu satu langkah lagi.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kucari. Mungkin sebuah kesalahan, sesuatu yang bisa kubuktikan sebagai hasil tanganku sendiri—goresan yang terlalu miring, campuran warna yang tidak seimbang, atau detail kecil yang menunjukkan bahwa semua ini hanyalah bagian dari proses melukis yang tidak kuingat. Apa pun yang bisa membuatku percaya bahwa aku masih mengenali pekerjaanku sendiri.
Namun, semakin lama aku mengamati lukisan itu, semakin asing rasanya.
Warna biru gelap memenuhi sebagian besar permukaan kanvas, berpadu dengan abu-abu pucat dan semburat warna yang hampir menyerupai warna kulit. Ada lengkungan-lengkungan halus yang saling bertaut, membentuk sesuatu yang belum bisa kutangkap sebagai satu kesatuan. Setiap garis terasa disengaja. Setiap lapisan warna seolah memiliki alasan untuk berada di tempatnya.
Aku mengenali tekniknya. Aku tahu bagaimana kuas harus dimiringkan untuk menghasilkan garis setipis itu, bagaimana tekanan tangan perlu dikurangi di ujung lengkungan agar warnanya memudar secara alami.
Aku tahu semua itu.
Tapi aku tidak ingat pernah melakukannya.
Jemari tanganku terangkat, nyaris menyentuh permukaan kanvas, sebelum kuurungkan. Ada sesuatu pada lukisan itu yang membuatku enggan merusaknya, meskipun aku sendiri tidak tahu mengapa. Rasanya seperti berdiri di depan sebuah pintu yang pernah kubuka, tetapi tidak lagi kuingat apa yang ada di baliknya.
Aku menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan ke palet di atas meja. Kuas yang kugenggam masih basah. Warna biru tua melekat di ujung bulunya, bercampur dengan sedikit abu-abu yang sama persis dengan warna pada salah satu lengkungan di kanvas.
Aku memandang tanganku sendiri. Lalu kembali menatap lukisan itu.
Ini bukan lukisanku.
Kalimat itu muncul begitu saja di dalam kepalaku. Bukan sebagai dugaan, bukan pula sebagai pertanyaan. Untuk pertama kalinya sejak kembali sadar, aku merasakan keyakinan yang utuh—dan justru itulah yang membuat tengkukku terasa dingin.
Sebab jika lukisan ini bukan milikku, sementara tidak ada orang lain di studio pagi ini, maka aku harus menghadapi kemungkinan yang bahkan belum sanggup kuberi nama.
Pandangan mataku kembali menyusuri kanvas, kali ini lebih perlahan. Aku ingin menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya. Sebuah petunjuk. Sebuah tanda. Apa pun.
Dan di antara garis-garis yang tampak abstrak itu, aku akhirnya menyadari ada satu detail kecil yang belum kuperhatikan sebelumnya.
Di sudut bawah lukisan, hampir tersembunyi di balik lapisan warna gelap, terdapat sebuah bentuk yang menyerupai huruf.
A.
Hanya satu huruf. Dilukis dengan goresan tipis berwarna abu-abu, begitu menyatu dengan latar belakang hingga nyaris tak terlihat. Aku tidak pernah membubuhkan inisial pada lukisanku. Tidak pernah.
Aku masih menatap huruf kecil di sudut kanvas ketika sebuah suara menyela keheningan studio.
“Kamu melamun terlalu lama tadi,” katanya. “Aku lanjutkan saja.”
Suara itu tidak datang dari pintu, tidak pula dari sudut ruangan. Tidak ada langkah kaki, tidak ada bunyi apa pun yang mendahuluinya. Suara itu muncul begitu saja, begitu dekat hingga aku nyaris merasa seseorang sedang berdiri tepat di belakangku.
Aku mengenalinya.
Arka.
Ada sesuatu yang mengganggu dari caranya berbicara—santai, seolah-olah tidak ada yang aneh dengan apa yang baru saja terjadi. Seolah kehilangan beberapa menit dari pagi hariku, menemukan lukisan yang tidak kuingat pernah kubuat, dan melihat inisial yang tidak pernah kutuliskan adalah hal biasa yang bisa kami lewati begitu saja.
Kuas di tanganku terasa semakin berat.
Arka tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya menunggu, seakan-akan keputusan berikutnya sudah jelas baginya. Seakan-akan tanganku memang miliknya untuk digunakan kapan pun ia mau.
Aku menatap lukisan itu sekali lagi. Huruf A di sudut bawahnya masih ada di sana, kecil dan nyaris tenggelam dalam warna gelap. Lalu pandanganku turun ke jemariku yang menggenggam kuas. Aku tidak tahu apakah Arka benar-benar bisa mendengar pikiranku saat itu. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku membiarkannya melanjutkan.
Yang kutahu, untuk pertama kalinya pagi itu, aku tidak yakin siapa di antara kami yang sedang berdiri di depan kanvas.
Kata itu lolos dari bibirku sebelum aku sempat memikirkan kelanjutannya.
“Ka—”
Aku berhenti. Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi semuanya bertumpuk di belakang lidahku, saling mendahului tanpa satu pun berhasil keluar. Kau melakukan apa padaku? Sejak kapan kau bisa melakukan ini? Dan kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
Namun, sebelum aku sempat memilih pertanyaan mana yang harus kuucapkan lebih dulu, Arka sudah menjawab.
“Maaf… aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya tidak tahan melihat kediaman kaku-mu. Rasanya gatal.”
Aku kembali terbisu. Tentu saja. Bahkan setelah mengambil alih sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, Arka masih bisa berbicara seolah-olah akulah yang membuat keadaan menjadi merepotkan.
Ada sesuatu yang hampir menyerupai geli dalam nada suaranya, tetapi aku tidak yakin apakah itu benar-benar ada atau hanya caraku menerjemahkan suaranya. Ia selalu punya cara untuk membuat hal-hal yang tidak kupahami terdengar sederhana, seolah-olah aku hanya perlu berhenti memikirkannya terlalu keras.
Aku menurunkan pandangan ke kuas di tanganku.
“Aku tidak sedang melamun,” gumamku dalam hati—atau mungkin nyaris terucap. Aku sendiri tidak yakin.
Arka tidak langsung menjawab. Perhatianku justru tertarik pada jemariku yang perlahan mengendur, lalu kembali mencengkeram gagang kuas. Gerakan kecil itu terasa seperti pengingat bahwa tangan ini masih terhubung denganku. Bahwa, setidaknya untuk saat ini, aku masih bisa merasakan keberadaannya.
Namun, tatapanku kembali jatuh pada lukisan itu.
Ada sesuatu yang ingin diselesaikan Arka di sana. Aku bisa merasakannya dari caranya berbicara, dari keyakinan yang sama sekali tidak dimilikinya untuk meminta izin. Ia tidak sekadar ingin melukis. Ia tampak ingin kembali pada sesuatu yang telah ia mulai.
Dan untuk alasan yang belum kupahami, aku merasa bahwa membiarkannya melanjutkan mungkin akan memberiku jawaban—meskipun aku belum tahu apakah aku benar-benar siap melihatnya.
“Jadi?” suara Arka menyela pikiranku. “Boleh aku lanjutkan?”
Kali ini, ia benar-benar menunggu jawabanku.
Alih-alih memberikan izin, aku meletakkan kuas di atas meja, sedikit lebih keras daripada yang kumaksudkan. Bunyi kecil dari kayu yang beradu dengan gagang kuas terdengar jelas di tengah keheningan studio.
“Tidak.” Hanya itu yang kukatakan.
Aku mundur dari easel, lalu berbalik sebelum sempat memandangi lukisan itu sekali lagi. Aku tidak ingin tahu apa yang akan Arka lakukan jika kubiarkan dia melanjutkan. Aku juga tidak ingin mendengar alasan lain tentang betapa kaku atau membosankannya diriku. Untuk pagi ini, aku sudah cukup melihat sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Aku meninggalkan studio dan berjalan menuju dapur.
Apartemenku masih sunyi. Cahaya pagi menyentuh permukaan meja makan, sementara mesin pendingin di sudut ruangan berdengung pelan. Semua benda berada di tempatnya, persis seperti yang kuingat. Cangkir putih di rak kedua. Stoples kopi di sebelah ketel. Sendok kecil yang selalu kuselipkan di dalam wadah kaca.
Hal-hal sederhana yang tidak menuntutku untuk mempertanyakan ingatanku sendiri.
Aku mengambil cangkir, memasukkan sesendok kopi, lalu menuangkan air panas. Aroma pahitnya perlahan memenuhi dapur. Aku mengaduknya tanpa terburu-buru, memperhatikan pusaran gelap yang terbentuk di dalam cangkir seolah-olah ada sesuatu yang menarik untuk dipahami di sana.
Untuk sesaat, aku merasa sedikit lebih tenang.
Lalu suara Arka kembali terdengar di kepalaku.
“Kau tahu, menjauh tidak akan membuatku menghilang.”
Sendokku berhenti berputar.
Aku menatap permukaan kopi yang masih beriak kecil. Tidak ada yang berubah di sekelilingku. Tidak ada gerakan aneh, tidak ada suara dari studio, tidak ada tanda bahwa seseorang sedang berdiri di belakangku.
Hanya suaranya.
Dan kesadaran yang tidak nyaman bahwa ia benar.
Aku bisa meninggalkan lukisan itu. Aku bisa meninggalkan studio. Aku bahkan bisa menghabiskan seluruh pagi di dapur jika memang itu yang kuinginkan.
Tetapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Arka.
Aku mengangkat cangkir ke bibir, membiarkan panasnya menyentuh jemariku sebelum menyesap sedikit kopi.
“Aku tidak akan menyentuh lukisanmu,” katanya lagi setelah jeda singkat. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih ringan. “Untuk sekarang.”
Aku hampir tersedak.
Ponselku bergetar di atas meja dapur, memotong keheningan yang sejak tadi terasa terlalu penuh oleh suara Arka.
Aku menoleh. Layar ponsel menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan baru. Awalnya, aku hanya meliriknya sekilas, berniat membiarkannya sampai kopiku selesai. Namun, ketika melihat nama yang tertera di sana, perhatianku teralih sepenuhnya.
Elio.
Aku meletakkan cangkir, lalu meraih ponselku.
Pesannya singkat. Tidak ada sapaan panjang atau basa-basi yang berlebihan. Hanya sebuah pertanyaan sederhana, disampaikan dengan cara yang nyaris membuatku lupa bahwa kami baru bertemu belum lama ini.
Pagi, Aira. Aku kebetulan melewati tempat yang mungkin kamu suka hari ini. Ada kedai kecil dengan toko buku di sebelahnya. Entah kenapa, aku merasa tempat itu cocok denganmu.
Aku membaca pesan itu sekali lagi.
Beberapa detik kemudian, satu pesan baru masuk.
Kalau kamu sedang tidak sibuk, mungkin kita bisa mampir ke sana. Tapi tidak harus hari ini. Aku cuma penasaran apakah tebakanku benar.
Aku tidak langsung membalas.
Ada sesuatu yang khas dari cara Elio mengajakku bertemu. Ia tidak pernah benar-benar memaksakan ajakan, tetapi juga tidak menyamarkannya sampai aku harus menebak-nebak maksudnya. Ia memberiku ruang untuk menolak tanpa membuatku merasa bersalah karenanya.
Dan justru karena itulah, menolak terasa sedikit lebih sulit.
Aku menyandarkan pinggul ke tepi meja dapur, membiarkan kopi yang mulai mendingin terlupakan di sampingku. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, pikiranku tidak lagi tertuju pada kanvas, huruf kecil di sudutnya, atau jeda waktu yang hilang dari ingatanku.
Aku memikirkan Elio.
Aku teringat bagaimana ia memperhatikanku saat kami berbicara, seolah-olah ia tidak keberatan menunggu sampai aku selesai menyusun kalimat. Ia tidak berusaha mengisi setiap keheningan di antara kami. Anehnya, aku tidak merasa harus meminta maaf karena itu.
“Oh.” Suara Arka menyelinap ke dalam pikiranku. “Pria di galeri itu.”
Aku mengembuskan napas.
“Dia mengajakmu bertemu?” tanyanya, dengan nada yang sulit kutafsirkan. Ada sedikit keingintahuan di sana, tetapi aku tidak bisa memastikan apakah hanya itu yang ia rasakan.
Ponsel masih berada di tanganku. Pesan Elio menunggu jawaban, sementara suara Arka membuatku kembali sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian, bahkan ketika sedang mencoba memikirkan sesuatu yang sesederhana ini.
Aku menatap kolom balasan yang masih kosong. Aneh. Ajakan itu seharusnya menjadi hal yang mudah. Aku bisa menerima, menolak, atau mengatakan bahwa aku akan mempertimbangkannya nanti. Namun, ibu jariku tertahan di atas layar. Bukan karena aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan kepada Elio. Melainkan karena aku mulai bertanya-tanya mengapa aku begitu ingin menjawabnya.
Pesan itu terkirim sebelum aku sempat memutuskan apakah aku benar-benar ingin mengirimkannya.
Kenapa sebuah kedai kecil dengan toko buku cocok denganku?
Aku menatap kalimat itu, lalu mengerutkan kening. Bukan itu yang kupikirkan sebelumnya. Aku bahkan sudah membayangkan beberapa kemungkinan balasan lain yang jauh lebih sederhana, sesuatu seperti menerima ajakannya tanpa perlu membuka percakapan baru.
Namun, nyatanya, justru pertanyaan itulah yang kukirim.
“Hahaha.” Arka tertawa di dalam kepalaku. Bukan tawa keras yang mengganggu, melainkan kekehan pendek yang terdengar begitu puas, seolah-olah ia baru saja menyaksikan sesuatu yang sejak awal sudah ia ketahui akan terjadi.
Aku mengatupkan rahang. Entah mengapa, otot di sana menegang dengan sendirinya. Sensasi hangat merambat dari tulang pipiku, perlahan menyebar hingga ke telinga. Aku mengangkat tangan, menyentuh pipi dengan ujung jemari, lalu segera menurunkannya lagi begitu menyadari apa yang sedang kulakukan.
Apa ini rasa malu? Malu pada siapa? Elio, yang bahkan tidak berada di sini dan belum tentu membaca pesanku dengan cara yang kubayangkan? Atau Arka, yang seolah-olah bisa melihat setiap reaksi kecilku dari tempatnya bersembunyi di dalam pikiranku?
Aku tidak tahu.
Dan ketidaktahuan itu membuatku semakin kesal.
“Jangan mulai,” gumamku dalam hati.
“Aku belum bilang apa-apa.”
Nada suara Arka begitu polos hingga terdengar tidak masuk akal.
“Kau bahkan belum mendengar jawabannya, tapi lihat dirimu.”
Aku menarik napas panjang, berusaha mengabaikannya. Ponsel masih berada dalam genggamanku. Layar percakapan dengan Elio tetap terbuka, menampilkan pertanyaanku yang kini terasa jauh lebih berani daripada yang kuingat saat mengetiknya.
Lalu, ponselku bergetar. Balasan Elio muncul di layar.
“Karena kau terlihat seperti seseorang yang bisa menghabiskan satu jam di antara lukisan, lalu bilang tidak ada yang menarik hari itu. Aku membayangkan kau mungkin melakukan hal yang sama di antara rak buku.”
Aku membaca pesan itu dua kali. Kemudian satu pesan lagi masuk.
“Tapi aku bisa saja salah. Makanya aku ingin mengajakmu ke sana.”
Kali ini, aku tidak segera mengalihkan pandangan dari layar. Ada sesuatu dalam jawabannya yang membuatku terdiam. Elio tidak mengklaim bahwa ia mengenalku. Ia hanya mengamati, membentuk sebuah dugaan, lalu membiarkan kemungkinan bahwa ia keliru tetap terbuka. Sesederhana itu. Anehnya, aku justru ingin tahu lebih banyak tentang apa yang ia lihat ketika memandangku.
“Wah,” Arka berbisik, kali ini dengan nada yang sulit kuabaikan. “Dia memperhatikanmu juga, rupanya.”
Rahangku kembali mengencang. Aku membenci betapa mudahnya Arka menemukan hal-hal yang berusaha kusimpan rapat-rapat, bahkan sebelum aku sendiri sempat memahami apa artinya. Namun, sebelum aku bisa membalas komentarnya, sebuah pertanyaan lain muncul di benakku. Bagaimana jika Elio benar-benar sedang mencoba mengenalku? Dan bagaimana jika ada bagian dari diriku yang ingin membiarkannya?














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!